Selasa, 15 Agustus 2017

'Korban' Gimmick

Salah satu hal yang berbahaya bagi orang yang suka belanja adalah gimmick. Dan aku termasuk salah satu orang yang mudah tergoda gimmick. Bukan. Bukan gimmick yang dilakukan artis-artis untuk mendapatkan perhatian masyarakat seperti pura-pura pacaran dan sebagainya. Gimmick yang kumaksud di sini adalah gimmick dalam pemasaran (marketing). Kalau kata wikipedia, gimmick adalah perangkat atau ide baru yang dirancang untuk menarik perhatian atau meningkatkan daya tarik, seringkali dengan sedikit nilai intrinsik. Paham? Aku sendiri kurang paham dengan definisi tersebut. Namun, kalau melihat bentuk-bentuk gimmick yang disebutkan di artikel Om Wiki, aku jadi agak paham apa itu gimmick. Bentuk gimmick antara lain: fitur khusus (misalnya sikat gigi yang berubah warna kalau sudah waktunya diganti), kemasan yang baru (maksudnya berbeda dengan kemasan yang beredar sebelumnya, misalnya wadah yang dapat dipakai ulang untuk tempat penyimpanan barang lain), hadiah tambahan (misalnya hadiah mainan untuk pembelian paket makanan tertentu), dan promosi tak terduga.

Selasa, 01 Agustus 2017

Ternyata Mirip!

Salah satu dampak terlalu sering menonton drama Jepang dan Korea adalah jadi akrab dengan kosakata Bahasa Jepang dan Korea. Memang masih tidak paham artinya, sih, tetapi mendengar orang bicara dalam kedua bahasa tersebut sudah tidak terasa aneh lagi.

Selain tidak merasa asing lagi, aku juga jadi sering membandingkan kosakata kedua bahasa tersebut. Ada beberapa kata yang mirip. Aku lupa kata mana yang pertama kali memancing keisenganku untuk mengecek kata-kata yang mirip dari Bahasa Jepang dan Korea, entah kata yakusoku atau kazoku. Antara dua kata itu, lah. Aku sudah sering mendengar kata yaksok di drama Korea. Setelah mendengar lagu Jepang berjudul  Himawari no Yakusoku entah kenapa aku jadi teringat kata yaksok dalam Bahasa Korea. Dan ternyata artinya sama, yaitu janji. Saat mendengar kata kazoku dalam Bahasa Jepang aku juga teringat kata gajok dalam Bahasa Korea. Keduanya memiliki arti yang sama, yaitu keluarga. Semakin sering menonton tayangan dua negara tersebut, semakin banyak kata-kata yang kedengarannya mirip bagiku. Kalau sedang kumat isengnya, aku mengecek di kamus atau Google Translate dan mencatatnya. Setelah meng-install aplikasi Google Translate di ponsel, kegiatan tidak penting itu semakin terfasilitasi. Tinggal ketik kata dalam Bahasa Jepang lalu diterjemahkan ke Bahasa Korea. *Lama-lama post ini mirip iklan terselubung Google Translate, padahal mah dia nggak butuh diiklanin*

Minggu, 23 Juli 2017

Tentang Reach Out

Ada yang curhat di salah satu forum, tentang kesepian. Dia tidak nyaman berkumpul dengan teman-temannya tetapi kesepian saat sendirian. Apa komentar orang-orang? "Kamu harus membuka diri," kata mereka. Mereka juga bilang, "Kamu yang harus berubah. Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum itu mengubah dirinya sendiri."

Rabu, 12 Juli 2017

Komentar Lebaran

Lebaran harusnya jadi momen yang menyenangkan. Namun, kadang ada hal yang membuat lebaran jadi momen yang menyebalkan. Salah satunya adalah hal yang sudah kita ketahui bersama: komentar dan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Contohnya? Apa lagi kalau bukan soal pasangan dan berat badan?

Ingin Dimengerti

Ngapain, sih, pulang cepet-cepet? Nggak ada yang nungguin juga di rumah.

Para lajang sepertinya sering mendapat komentar seperti itu. Untuk apa cepat-cepat pulang padahal tidak ada yang menunggu? Ya istirahat lah. Kalau ada yang bilang, "Emang ada apa di rumah, cepet banget pulangnya?" jawabnya tentu saja "ADA KASUR!" Ada kalanya kasur di rumah/kos lebih menggiurkan dibanding internet di kantor.

Selasa, 06 Juni 2017

Kata-kataku Kembali Padaku

Beberapa minggu belakangan ini, aku membaca ulang tulisan di blog ini. Dan banyak sekali tulisan yang 'kembali' padaku. Aku membaca tulisanku tentang Gufi yang selalu memandang baik terhadap segala sesuatu. Meskipun semua yang dia kerjakan gagal dan berantakan di mata orang lain, di matanya dia cuma melihat sisi baik dari kegagalan itu. Saat aku sedang galau-galaunya karena berpikir semua yang kusentuh akan hancur berantakan, aku membaca cerita tentang Gufi itu. Dan sayangnya aku belum bisa berpikir positif seperti Gufi. Cih, lo nulis soal positive thinking tapi lo malah negative thinking mulu. Yah, memang bukan hal mudah, sih, melihat sisi baik dari segala sesuatu. Every cloud has silver lining. But, who the hell will really pay attention to find the silver lining? Halah, kenapa pikiranku jadi makin negatif begini?

Kamis, 04 Mei 2017

Super Random di Bulan Mei

Tak terasa sudah lebih dari sebulan menelantarkan blog ini. Selama bulan Maret sampai menjelang akhir April aku tidak membuat post apapun. Berarti sudah lebih dari sebulan juga tidak blogwalking? Sepertinya begitu. Biasanya setiap menyalakan laptop dan menemukan jaringan internet, aku langsung membuka Facebook dan dashboard Blogger. Sekarang ... lebih sering membuka IDWS, Livejournal (LJ), dan Twitter, terutama di akun fangirling. Sebagai seorang sufi, suka film dan suka tifi (maksa!), IDWS adalah tempat berburu tontonan andalanku. Livejournal? Itu untuk memenuhi kebutuhan fangirling karena video acara variety show Arashi lebih banyak dibagikan di sana. Livejournal juga kubutuhkan untuk memenuhi kebutuhan menonton secara manusiawi karena banyak subber dorama tau film Jepang yang membagikan subtitle mereka di sana. Sebenarnya aku sudah tidak ingin membuat akun di media sosial manapun lagi. Namun, demi bisa menonton dengan khusyuk aku terpaksa membuat akun di LJ. Dan akhirnya malah lebih rajin mengecek friends feed di LJ dibanding membuka daftar bacaan di Blogger. Dan sekarang orang-orang di LJ bedol desa ke Dreamwidth. Terpaksa membuat akun baru lagi di sana. Huft.

Jumat, 28 April 2017

Drama Single I'll be There

Kupikir aku akan kapok berbelanja daring setelah pengalamanku yang kuceritakan di sini. Ternyata ... dugaanku salah. Aku masih beberapa kali berbelanja daring. Dan kali ini bukan berbelanja di toko daring lokal melainkan di toko daring di Jepang sana.

Waktu itu fans Arashi di Twitter sedang heboh tentang single terbaru mereka, I'll be there, yang sudah mulai dibuka preorder-nya. Ada yang membagikan tautan untuk pembeliannya di cdjapan.co.jp. Iseng-iseng aku mengunjungi tautan tersebut. Karena harganya tertera dalam yen, aku pun mencoba mencari web untuk mengonversi dari yen ke rupiah. Ternyata harganya lumayan mahal. Ongkos kirimnya seharga barangnya. Tapi, entah kenapa aku tetap ingin membelinya. Seolah uangku turah-turah.

Rabu, 22 Februari 2017

I'm Glad I Met You

Saat teringat teman yang selalu meringankan beban di hati saat masa-masa sulit datang, pernahkah terpikir, "I wish I met you earlier. My life will be much brighter."? Aku pernah. Seandainya aku mengenal kalian lebih awal, tentu masa-masa suram dulu tidak akan begitu terasa suram. Aku sempat berpikir begitu. Namun, setelah dipikir-pikir, sepertinya belum tentu hidupku akan lebih menyenangkan kalau bertemu mereka lebih awal. Bisa jadi, mereka belum menjadi seseorang yang pengertian seperti saat ini. Bisa jadi mereka belum mengalami episode hidup yang membuat mereka menjadi teman yang pengertian. Bisa jadi juga dulu aku belum menjadi orang yang bisa menerima berbagai perbedaan antara aku dengan mereka seperti saat ini. Bisa jadi saat ini aku merasa dekat dengan mereka dan bisa menghormati pendapat mereka yang berbeda dengan pendapatku. Dulu? Belum tentu. Kalau aku mengenal mereka di masa itu bisa jadi kami sudah saling sebal setengah mati.

Selasa, 07 Februari 2017

Ih, Nggak Pernah Belajar tapi Nilainya Bagus Terus

Ih, nggak adil banget, ya. Dia nggak pernah belajar tapi nilai ujiannya bagus terus. Gue belajar mati-matian tapi nilainya jeblok mulu.

Aku beberapa kali melihat meme yang mengekspresikan hal di atas. Ada murid yang "tidak pernah belajar" tapi nilainya bagus sedangkan murid yang rajin belajar, bahkan merasa sudah mati-matian belajar tapi nilainya masih tidak sesuai harapan.

Rabu, 25 Januari 2017

Melantur Gara-gara Arab

Masih ramaikah yang membahas perihal kearab-araban? Biasanya aku malas membahas topik sensitif seperti itu karena tidak ingin memperkeruh suasana. Perdebatan yang muncul pun tidak menyenangkan. Tidak semenyenangkan ketika melihat twitwar atau instawar para selebritis yang saling berseteru. Yang pro si pencuit yang menyindir perihal kearab-araban, membela membabi buta. Yang kontra, menghujatnya juga membabi buta. Nggak asik ditonton sambil makan popcorn (it rhymes!). Namun, berhubung saat ini aku sedang bosan, aku ingin ikut-ikutan membahasnya. Dan sepertinya tidak akan memperkeruh suasana karena pembaca blog ini cuma sedikit. The perks of being unpopular blogger: you don't need to be afraid of reader's reaction because you got no reader!

Senin, 23 Januari 2017

Bukan Bertemu Patrick Jane

Wah, sudah tahun 2017 dan aku belum membuat tulisan apapun di sini. Memang tidak membuat target untuk rajin mengisi blog, sih ... tapi setidaknya aku ingin ada satu tulisan setiap bulan. Dan Januari sudah hampir berakhir. Mau menulis apa? Hmm ... tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Bagaimana kalau aku menuliskan pengalaman ke psikiater? Baiklah. Kuceritakan saja.