Rabu, 22 Februari 2017

I'm Glad I Met You

Saat teringat teman yang selalu meringankan beban di hati saat masa-masa sulit datang, pernahkah terpikir, "I wish I met you earlier. My life will be much brighter."? Aku pernah. Seandainya aku mengenal kalian lebih awal, tentu masa-masa suram dulu tidak akan begitu terasa suram. Aku sempat berpikir begitu. Namun, setelah dipikir-pikir, sepertinya belum tentu hidupku akan lebih menyenangkan kalau bertemu mereka lebih awal. Bisa jadi, mereka belum menjadi seseorang yang pengertian seperti saat ini. Bisa jadi mereka belum mengalami episode hidup yang membuat mereka menjadi teman yang pengertian. Bisa jadi juga dulu aku belum menjadi orang yang bisa menerima berbagai perbedaan antara aku dengan mereka seperti saat ini. Bisa jadi saat ini aku merasa dekat dengan mereka dan bisa menghormati pendapat mereka yang berbeda dengan pendapatku. Dulu? Belum tentu. Kalau aku mengenal mereka di masa itu bisa jadi kami sudah saling sebal setengah mati.


Bisa jadi dulu mereka tidak tahan mendengar keluhan orang. Kalau mereka bertemu diriku di masa lalu, mungkin mereka akan menghindariku sejauh mungkin. Bisa jadi dulu kemampuanku dalam mengekspresikan perasaanku lebih buruk dari sekarang. Dan bisa jadi temanku belum cukup memahami bahwa di setiap ekspresi maupun tindakan seseorang ada alasan tertentu. Kalau kami bertemu di saat itu, mungkin dia akan membenciku dan menganggapku orang yang pemarah dan grumpy. Dan bisa jadi aku akan menganggapnya orang yang tidak peka pada suasana hatiku yang membuatku grumpy.

Kami bertemu di saat yang tepat. Kami bertemu saat sudah melewati berbagai episode dalam hidup yang membuat kami sedikit bisa mengerti perasaan dan pikiran orang lain. Pengalaman saat belum berjumpa itulah yang membuat aku dan mereka bisa saling mengerti sehingga bisa berjalan beriringan.

Ada juga teman yang semula mendapat tempat paling istimewa di hati, lambat laun menjadi orang yang asing. Membuatku sempat berpikir, "Kok dulu gue betah sih temenan sama dia?" Setelah dipikir-pikir, wajar saja dulu aku bisa bertahan berteman dengan orang-orang itu. Bisa jadi, dulu kami melihat dunia dengan sudut pandang yang sama sehingga bisa saling memahami. Lalu, masing-masing menghadapi masalah hidup yang mengubah cara kami memandang dunia. Bisa jadi pengalaman yang serupa memberi dampak yang berbeda, membentuk kami menjadi orang yang berbeda. Bisa jadi satu pengalaman yang sama, di satu sisi membuat temanku menjadi super positif dalam menjalani kehidupan dan hobi memberi nasihat, di sisi lain membuatku menjadi orang yang apatis dan bosan mendengar nasihat. Then, we're growing apart.

Atau bisa jadi masing-masing mengalami episode hidup yang berbeda yang mengubah cara berpikir. Bertemu dan berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda, mau tak mau pola pikir pun menjadi berbeda. Saat bertemu kembali, masing-masing sudah menjadi pribadi yang berbeda. Dan kadang, tak bisa saling memahami perbedaan tersebut. We're drifting apart.

Mereka yang kita anggap menyebalkan, cetusannya tak menyenangkan, status di media sosialnya tak menyenangkan sampai terpaksa kita mute atau unfollow, bisa jadi pernah menjadi teman berbagi suka dan duka. Mereka pernah membuat hidup kita terasa lebih mudah dan hati kita terasa ringan. Ini satu hal yang sering kulupakan, dan akhirnya lupa kusyukuri. Aku juga lupa berterima kasih pada mereka yang pernah jadi teman baikku. Aku memang bukan orang yang bisa mengatakan hal-hal seperti itu, sih. Bahkan, membuat tulisan ini pun rasanya aneh. Namun, tak apalah.

Untuk kalian yang pernah menjadi temanku atau yang masih menjadi temanku:
I'm glad I met you.

ARTIKEL TERKAIT



13 komentar:

  1. hi milati, udah lama gak mampir ke sini. apa kabar?
    samaa. aku juga kadang berpikir kaya gitu. dulu teman dekat, sekarang biasa aja. atau sebaliknya. dunia pertemanan ini emang rollercoaster banget ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. huum, emang rollercoaster banget. naik turunnya juga bisa drastis.

      Hapus
  2. Saya percaya setiap kli org2 melintas di kehidupan kita, pasti ada hikmahnya. Terlepas baik buruknya mereka, mungkin Tuhan sedang ingin qt belajar tenrang baik dan buruk, tentang apa yg bisa dikeep atau yg harus dibuang. Mereka warna yg setidaknya menjadikan kita dewasa. Hehee

    BalasHapus
  3. Namanya manusia ya Mil, bisa saja berubah.

    BalasHapus
  4. Kalau menurut saya sih, semua teman itu ada masanya. Bahkan yang sudah lama senasib sepenanggungan sekalipun, kalau tiba masanya akan jadi seolah tidak kenal. Sebaliknya, orang yang tidak disangka-sangka sekalipun, kalau tiba masanya bisa jadi teman dekat. Karena beda masa beda permasalahan, dan masalah hidup yang dialami bisa buat seseorang berubah.

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!