Senin, 26 Desember 2011

PR Sebelas dari Inggit Inggit Semut




Yah, ternyata aku kebagian PR berantai 11 dari Inggit Inggit Semut. Bagi blogger lain mungkin hal ini sudah basi. Tapi, berhubung baru kali ini aku ketiban PR ini, tentu bagiku bukan hal basi dan tentu harus kukerjakan.
Apa saja sebelas hal tentang diriku? Awalnya aku berpikir bahwa PR ini bisa digunakan untuk politik pencitraan sekaligus ajang narsis stadium akut. Bisa saja aku menyebutkan sebelas hal mulia tentang diriku. Misalnya:
  1. Wajahku cantik. Ini adalah salah satu aksioma, pernyataan yang tidak perlu dibuktikan karena sudah mutlak kebenarannya.
  2. Aku pintar. Ini juga aksioma.
  3. Aku baik hati. Ini juga aksioma.
  4. Aku punya banyak penggemar. Lagi-lagi ini aksioma.
  5. Suaraku merdu. Yah, sebagaimana sebelumnya, ini juga aksioma.
  6. Aku ini rajin. Jangan protes, ini juga aksioma.
  7. Aku ini jago olahraga. Pokoknya percaya saja, ini juga aksioma.
  8. Aku punya banyak uang. Sudahlah, cukup baca dan percaya. INI AKSIOMA.
  9. Aku dermawan. Ini juga AKSIOMA!
  10. Aku ramah. Sekali lagi, ini AKSIOMA!
  11. Aku termasuk wanita berkepribadian lembut dan santun. Pasti kamu sudah tahu kalau ini aksioma, kan?

Sebenarnya bisa saja, kan, aku menulis sebelas hal seperti di atas? Tapi, berhubung blog ini bukanlah blog pencitraan melainkan blog orang jujur (wah, ini justru bagian dari politik pencitraan), maka kuputuskan menuliskan sebelas hal yang lumayan jujur. Sebisa mungkin sebelas hal itu ditulis berdasarkan fakta yang ada, didukung oleh bukti-bukti yang kuat misalnya dokumen. Halaaah..
Baiklah, ini dia sebelas hal tentang aku:
  1. Namaku yang tertera di akta kelahiran, KTP, Karpeg, dan kartu identitas lainnya adalah Millati Indah. Kata abahku namaku berarti agama di sisi-Nya (millati: agama, ‘indahu: di sisi-Nya).
  2. Aku perempuan. Di berbagai kartu identitasku memang disebutkan kalau aku ini perempuan. Alhamdulillaah, ya, aku perempuan. Jangan sampai berkeinginan berubah jadi laki-laki, na'udzubillaaaah...
  3. Saat PR ini dibuat, umurku 25 tahun, berdasarkan cara penghitungan umur BPS yang mengacu pada ulang tahun terakhir.
  4. Golongan darahku O. Waktu tes darah zaman SMA dulu, sih, golongan darahku memang O. Tapi, tidak tahu juga kalau sekarang sudah berubah jadi M (sesuai inisial).
  5. IQ – ku 120. Waktu tes psikologi zaman SMA dulu, hasilnya menunjukkan kalau IQ – ku 120 (untuk nilai IQ rata-rata 90). Berhubung sekarang otakku sudah agak jarang digunakan aku tidak yakin IQ – ku masih di level itu. Jangan-jangan sudah turun. Semoga saja tidak.
  6. Aku termasuk penderita miopi (rabun jauh), Alhamdulillah tidak ditambah silindris. Minusku lebih dari 4, tapi untuk tepatnya biar jadi rahasia (sedih kalau ingat minusku). Tapi, biarpun mataku agak kurang jelas bila melihat tanpa menggunakan kacamata, aku masih bisa membedakan uang seratus rupiah dengan seratus ribu rupiah (yaiyalaaaah, yang satu uang logam, satunya lagi uang kertas).
  7. Aku bekerja sebagai PNS. Yah, sebenarnya hal ini seperti buah simalakama. Mengaku PNS itu ada untungnya dan ada ruginya. Bila mengaku pada seseorang yang menghargai PNS, maka sikap respect-nya membuatku bersyukur menjadi PNS. Tapi, bila mengaku pada seseorang yang antipati pada pemerintah dan pegawai pemerintah (PNS), yang terjadi adalah MAKAN HATI. PNS itu suka korupsi, PNS itu tidak melayani masyarakat, PNS begini, PNS begitu, semua komentarnya membuat panas telinga. Kok, jadi curhat, sih?
  8. Aku lahir di Brebes, Kota Bawang. Tapi, aku sendiri justru tidak suka bawang, hehehe...
  9. Aku orang Jawa. Tapi, sering dituduh bukan orang Jawa. Katanya, mukaku tidak seperti orang Jawa. Kalau bicara dalam bahasa Indonesia  juga katanya logatku nggak kelihatan jawanya. Aku pernah dituduh sebagai  orang Medan dan orang Sulawesi. Bahkan, sewaktu di Aceh ada seseorang yang mengira bahwa aku pribumi alias orang Aceh. Ckckck!
  10. Tinggi badanku antara 155-157 cm. Lho, kok? Yah, setelah beberapa kali mengikuti tes untuk mengukur ketinggian, ternyata hasilnya berbeda-beda. Ada yang hasilnya 155 cm, ada yang hasilnya 157 cm. Entah mana yang benar. Aku, sih, berharap yang benar yang 157 cm. Beda 2 cm itu cukup berarti, hehehe...
  11. Aku masih single alias belum menikah. Promosiiiiiiiii... Gubrak!!! Yah, maklum, sudah kehabisan fakta yang bisa diumbar kepada khalayak ramai, hehehe...

Jumat, 23 Desember 2011

Ketika Sulit Memaafkan

Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui
Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan

Bagi orang yang tidak terlalu gengsi-an, meminta maaf itu bukanlah hal berat. Tapi, bagi orang yang paling tidak gengsi-an pun, memaafkan bisa jadi hal yang amat sulit. Ini bukan hanya tentang gengsi, tapi masalah hati. Time can heal every wound, but the scar would remain. Setelah beberapa hari, minggu, bulan, atau tahun, mungkin rasa sakit yang ditimbulkan akibat kesalahan seseorang mungkin bisa hilang. Namun, tetap saja kenangan buruk akan membekas. Sulit untuk dilupakan dalam waktu singkat. Kadang, hal itulah yang menghalangi untuk memaafkan.

Memaafkan adalah salah satu sikap mulia. Aku tahu itu. Namun, ternyata aku masih belum bisa mengaplikasikannya dalam hidupku. Rasa marah, rasa benci, rasa sakit di hati, semuanya membuatku enggan memaafkan seseorang. Sebuah pikiran, "Gue salah apa sama elo sampe elo sejahat itu sama gue?" membuatku begitu sakit hati, membuatku begitu membenci seseorang. Dan akhirnya, aku pun menjadi musuh yang teramat kejam bagi seseorang. Aku bukan seseorang yang berusaha selalu bersikap manis. Meskipun begitu, aku juga tak ingin bersikap kejam pada orang yang tak layak diperlakukan secara kejam. Dan anomali pun terjadi. Aku menjadi monster yang sangat kejam, judes, gemar mem-bully seseorang baik secara fisik maupun lisan dengan sepenuh hati. Memikirkannya pun sudah membuat begitu marah, apalagi melihat wajahnya.

Kalau aku mau berbesar hati, mungkin aku bisa bersikap lebih baik padanya. Tapi, rasa sakit sudah membuat hatiku tertutup. Semoga waktu akan menghapus kenangan burukku tentangnya sehingga aku bisa berhenti membencinya. Aku pun tak ingin hidup dalam rasa benci dan dendam. Itu hanya akan membuatku menderita. Aku pun tak ingin selamanya menjadi manusia kejam. Itu hanya akan membuatku sama buruknya dengannya. Aku tak ingin jadi manusia yang tak punya hati.

Selasa, 20 Desember 2011

Flashback

Kapan kali pertama nge-blog? Umm, LUPA!!! Mungkin sekitar tahun 2008, semasa aku masih gandrung dengan Friendster. Di Friendster 'kan ada menu blog-nya. Sepertinya itu kali pertama aku punya blog. Blog yang di Friendster itu sendiri sudah raib karena tak sempat di-backup sewaktu Friendster melakukan perombakan besar-besaran. Jadi, kalau aku ingin nostalgia mengenang tulisan-tulisan di masa lalu, aku cuma bisa mengintip blog-ku yang lain di Multiply, Blogger, dan Wordpress.

Beberapa hari yang lalu aku mengintip blog-ku yang di Multiply dan membaca-baca tulisanku di masa lalu sewaktu masa magang dan awal-awal penempatan. Ada beberapa tulisan yang menurutku lumayan bijaksana. Ada juga puisi-puisi yang menurut penilaianku lumayan oke. Aku jadi berpikir, "Kok bisa, ya, aku nulis kaya gitu?" Yah, mungkin agak sedikit narsis, tapi memang beberapa tulisanku (tidak semuanya) lumayan terkesan dewasa (bukan dewasa triple X, lho!). Semua orang memang punya sisi dewasa dan bijaksana, hanya saja frekuensi kedewasaan dan kebijaksanaan itu diaplikasikan dalam tindakan di kehidupan nyata berbeda-beda. Ada beberap orang yang kerap menunjukkan sikap dewasa, misalnya dalam menghadapi masalah ataupun menyikapi konflik. Ada sebagian orang yang sifat kekanakannya lebih dominan daripada sifat dewasanya, salah satunya AKU. Hehehe... Tapi, bukan berarti orang tersebut tidak punya sisi dewasa sama sekali. Kadang, ketika orang tersebut memunculkan sisi dewasanya, bisa membuat banyak orang terkejut dan berkomentar, "Kamu salah minum obat, ya?"

Puisi-puisiku juga ternyata lumayan, setidaknya menurut penilaianku. Kalau sekarang aku disuruh membuat puisi seperti itu, sepertinya tidak bisa. Aku sudah mulai kehilangan sisi puitisku. Oh, bukan. Mungkin lebih tepatnya, saat ini sisi lugasku sedang dominan sehingga sisi putisku terkalahkan. Salah satu contoh puisiku yang kusuka adalah puisi yang ku-posting pada 2 Maret 2009 di blog-ku yang di Multiply, ketika aku benar-benar menjadi anak nakal (dan sampai sekarang masih nakal, hiks!). This is it!

Aku ingin hujan berderai
membasahi hatiku yang mulai kering
bukan karena terik matahari
tapi karena api kebodohan yang mengikis kesejukan hatiku
Aku ingin bumi ini bergoncang
bukan untuk menghancurkan dunia
tapi untuk meruntuhkan dinding-dinding keangkuhan yang dulu kubangun
dan kini menghalangiku melihat kebenaran
Aku ingin kembali
dari perjalanan jauh yang tak ada artinya
Aku ingin kembali
dari pelarian yang ternyata menyesatkanku
Aku ingin kembali
dari persembunyian yang justru tak menyelamatkanku
Aku ingin kembali
Dan jangan biarkan aku
pergi lagi

Sungguh aneh. Aku bisa menulis puisi seperti itu.

Kalau membaca-baca tulisan di blog lamaku di Blogger juga lucu. Banyak pengalaman lucu, ngawur, dan aneh. Kadang juga lebay. Sayangnya beberapa tulisan terakhir terlalu penuh kegalauan, membuatku malas meneruskannya sehingga membuat blog baru ini.

Ah, sudah cukup. Sudah cukup bernostalgia untuk kali ini.

Senin, 19 Desember 2011

Pantai Barat Aceh

I don't know how to say 'pantai barat Aceh' in English. West coast of Aceh, maybe?

View of Tapaktuan, Aceh Selatan, taken from helipad


Pantai Jilbab, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya

Rindu Alam, Tapaktuan, Aceh Selatan

Pantai Ujung Manggeng, Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya

Tapaktuan Harbor, Tapaktuan, Aceh Selatan

Ulee Lheue

Nowadays, it seems like I've lost my words. Today, I just wanna post my photos. These photos were taken on December 4th, 2011, in Ulee Lheue, Banda Aceh, Indonesia. I used my handphone to take these pictures, so maybe these don't look so good. Sea, blue sky, clouds, what a perfect combination! Subhanallaaaaah...
 




Sabtu, 10 Desember 2011

Kamus Brebes (D)

Berhubung blog multiply-ku sudah lama tidak terurus, lebih baik isinya yang penting kupindah di sini saja. Berikut adalah kamus Bahasa Brebes yang sudah kususun dan sudah pernah ku-post di blog tersebut.

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan.
Dage = gembus putih
Dalah = Doloh = taruh
       Ndalahe nang endi? = meletakkannya di mana?
Dami = bagian di sekitar daging buah nangka yang manis
Dampa = penyakit campak
Dampar → Dampar sepur = rel kereta api
Dandang = tempat memasak nasi
Daning = Ganing = kenapa, lho kok
       Daning kaya kue = kenapa begitu
Deke = ndeke = milik
       Ndekene sapa? = milik siapa?
Dèlèng = lihat
       Ndèlèng = melihat
Dèngaren = tumben
Dengklang = pincang
Dèsèp → Ndèsèp = (letaknya) tersembunyi
Dhasar = menggelar dagangan
Dhèmpes → Ndhèmpes = bersender (tapi biasanya sambil menjauh dari keramaian)
Dhempet = saling menempel
Dhèngak → Ndhèngak = mendongak = melihat ke atas
Dhondhang = tempat tidur bayi (ayunan bayi)
Dlenger → Ndlenger = meleng, tidak hati-hati, tidak memperhatikan (dalam berjalan, menyeberang, atau mengendarai)

Rabu, 07 Desember 2011

Do I Look So Desperate?

Pagi hari. Setelah berbincang-bincang mengenai masalah pekerjaan di rantau, kemudian membicarakan mengenai peluang pindah...
Aku: "Semoga teman-temanku yang di Aceh dapat jodoh orang Aceh, jadi aku gak punya saingan pindah ke Jawa. Kalo temen-temenku dah punya pasangan orang Aceh kan mereka pasti menetap, ga ngantri pindah."
Temanku: "Kok kamu mikirnya gitu? Mestinya kamu tuh berdoa biar dapet jodoh orang Jawa yang bisa narik kamu pulang ke Jawa."
Aku: "Kalo itu mah susah. Males"
Temanku: "Eh, nggak boleh gitu. Kalo males berarti kamu putus asa."
Aku: *bingung*

Pagi menjelang siang. Sembari sarapan temanku bercerita tentang temannya yang terkena lupus. Tapi yang menjadi fokusku bukanlah temannya karena dia tidak terlalu menekankan mengenai hal itu. Yang berkali-kali dia tekankan adalah nasihat kawannya yang lebih kurang begini, "Kalian tuh mestinya bersyukur. Masalah kalian tuh gak ada apa-apanya. Kalian sedih karena belum ketemu jodoh, kami malah sama sekali udah gak kepikiran masalah jodoh. Yang kami pikirin cuma gimana caranya kami bisa sembuh."

Aku jadi berpikir bahwa dia sedang menasihatiku agar aku (dan juga dia) tetap bersyukur meskipun belum bertemu jodoh. Aku jadi bingung. Apa aku terlihat tidak bersyukur karena aku belum menikah? Hmm, sepertinya aku tidak seperti itu. Aku cuma mengatakan bahwa aku malas memikirkan mengenai pernikahan. Apakah itu terdengar seperti kalimat orang yang tidak bersyukur? I didn't blame destiny. I didn't blame God.

Kalau aku dianggap tidak bersyukur dalam masalah pekerjaan, mungkin kadang-kadang memang begitu. Aku kadang mengeluh karena pekerjaan yang kadang terlalu menyita waktu dan tenaga. Tapi, kalau masalah jodoh? Aku berusaha untuk tidak terlihat desperate. Tapi, kenapa dia menganggapku desperate? I'm fine, dude! I'm totally fine :)