Jumat, 25 November 2011

Tentang Pertama

Kali ini aku ingin menguji ingatanku. Halaaah... Umm, sebenarnya aku hanya ingin mendokumentasikan beberapa pengalaman pertamaku.

Kali pertama naik kereta api
Berhubung aku orang yang tidak sering bepergian jauh, aku tidak pernah naik kereta api sampai lulus SMU. Pertama kalinya aku naik kereta api yaitu ketika aku mau membeli formulir pendaftaran Poltekkes Semarang dan formulir SPMB, kira-kira tahun 2004 lah, bulannya lupa. Aku naik kereta Kaligung, kereta ekonomi jurusan Tegal-Semarang bersama Ery. Yah, sepertinya itu juga pertama kalinya pergi ke Semarang.

Kali pertama makan durian
Waktu itu aku sedang magang di BPS Pusat. Kebetulan subdirektorat tempat aku magang mengadakan konsinyasi ke Bogor. Dan di sana, Pak Kasubdit (maaf, namanya tidak bisa disebut) membelikan durian. Dan di umurku yang 20 tahun (kala itu) itulah kali pertama aku makan durian. Kasihan? Tidak juga. Setelah tinggal di Aceh, aku jadi sering makan durian (kalau sedang musim durian tentunya). Jadi, cukup puas lah meskipun aku baru makan buah itu saat umurku 20 tahun.

Kali pertama makan leci
Aku lupa tepatnya kapan, antara kuliah atau sudah magang. Yang jelas waktu itu aku hendak pulang kampung dan bingung mau membawa oleh-oleh apa. Heni mengajakku ke Pasar Mester (nama resminya Pasar Jatinegara). Dia mengusulkan padaku untuk membeli buah leci. Aku pun menuruti sarannya. Dan ternyata bukan aku saja yang belum pernah makan leci. Setelah sampai di rumah, Abahku berkata, "Seumur-umur, baru kali ini Abah makan buah ini." Sepertinya Abahku senang kubawakan buah itu. Hehehe...

Kali pertama naik pesawat terbang
Pertama kali aku naik pesawat terbang kalau tidak salah 3 Mei 2009. Itu pertama kalinya aku ke bandara, naik pesawat, dan kali pertama aku meninggalkan Pulau Jawa. Yah, hari itu aku berangkat ke Aceh. Sebagai anak bawang yang tak tahu seluk beluk bandara, aku pun cuma bisa nunut dan membuntuti kawan-kawanku yang sudah biasa naik turun pesawat. Dan di dalam pesawat, aku mabok dengan suksesnya!!! Sampai sekarang pun, meski sudah berkali-kali naik pesawat, tetap saja mual-mual. Ujung-ujungnya aku selalu berusaha tidur bila pesawat sudah take off.

Kali pertama menang lomba
Kali pertama aku menang lomba adalah sewaktu kelas 3 SMP. Sebenarnya bukan cuma aku yang menang tapi tim-ku: aku, Aryo, dan Christina (kalau tidak salah itu oknum-oknumnya). Kami ikut lomba Cerdas Tangkas Matematika tingkat Karesidenan Pekalongan. Alhamdulillah, menang.Sebelumnya pernah menang lomba tidak ya? Pernah ikut lomba kelereng tapi tidak juara satu, berarti tidak menang, kan, ya?

Kali pertama belajar naik motor
Saat aku baru tiba di Aceh, aku tidak bisa naik motor sama sekali. Beberapa bulan kemudian, pokoknya sekitar tahun 2009, Mery mengajariku cara mengendarai sepeda motor. Awalnya aku malas. Berhubung Mery sudah datang jauh-jauh dari rumahnya ke kosku, akhirnya aku mau diajari.

Kali pertama jatuh cinta
Umm, aku sebenarnya tidak tahu definisi jatuh cinta. Yang jelas, kali pertama aku naksir cowok ketika kelas 6 SD. Dia teman sekolah, teman madrasah, sekaligus tetangga. Orangnya ganteng, mirip Bondan Prakoso. Sejak kami kecil pun dia sudah dibilang mirip Bondan (waktu itu Bondan hits dengan lagu Si Lumba-Lumba). Sekarang, sih, orangnya sudah bertunangan dan hampir nikah, hehehe...

Ah, sudah dulu meracaunya.

Pilih Yang Ganteng atau Jelek?

Kalau disuruh memilih naksir cowok ganteng dan cowok tidak ganteng (istilah kasarnya jelek), mana yang dipilih? Aku jelas memilih yang ganteng. Dengan asumsi ceteris paribus (asumsi faktor-faktor lain dianggap tidak mempengaruhi) atau faktor lain dari dua oknum tersebut dianggap sama (misalnya dalam hal keimanan dan kekayaan), tentunya yang ganteng lebih baik. Ya iya laaaaah... Ganteng jelas lebih baik dari jelek.

Satu alasan kenapa aku menganggap yang ganteng lebih baik untuk ditaksir adalah antisipasi ketika patah hati. Bayangkan bila aku naksir pada cowok yang jelek yang hidungnya seperti hidung bekantan lalu ternyata dia memilih orang lain (yah, sesungguhnya ini adalah kejadian nyata, hahaha). Apa kata dunia? "Cowok jelek aja gak mau ama elo, apalagi yang ganteng?" mungkin begitu komentar miring yang akan muncul. Huhuhu, sebegitu tidak layakkah diriku untuk ditaksir apalagi dicintai? Bahkan, cowok buruk rupa pun tidak memilihku. Kejadiannya berbeda bila aku naksir cowok ganteng lalu patah hati. Komentar yang muncul sepertinya tak akan terlalu pedas. Paling-paling komentarnya, "Yah, dia 'kan ganteng. Wajar kalo pilih-pilih. Wajar kalo milih cewek lain yang lebih manis dari Milo".

Naksir cowok ganteng lalu menikah dengannya adalah pilihan. Tapi, naksir cowok jelek lalu patah hati adalah aib yang sangat-sangat memalukan. Jadi, mulai hari ini aku putuskan untuk tidak naksir cowok jelek. Hehehe...

Beda situasinya bila sang cowok yang melamarku. Tentunya ganteng itu bukan parameter utama untuk mempertimbangkan pinangan dia. Tapi, untuk urusan taksir-menaksir, tetap cowok ganteng yang jadi incaran. Kalau bisa yang ditaksir seganteng Lee Min Ho, agar lebih semangat. Halaaaaah, kenapa diriku makin ababil beginihh?

Rabu, 23 November 2011

Kamus Brebes (C)

Berhubung blog multiply-ku sudah lama tidak terurus, lebih baik isinya yang penting kupindah di sini saja. Berikut adalah kamus Bahasa Brebes yang sudah kususun dan sudah pernah ku-post di blog tersebut.

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan.
Cacag = potong
       Dicacag-cacag = dipotong-potong
Cacak = coba
       Cacakan = percobaan, coba-coba
       Nyacak = mencoba
Cadil = sejenis jajanan yang terbuat dari singkong dibentuk bulat dicampur tepung dan gula Jawa (mirip dengan "biji salak" yang sering dijual di Jakarta) diberi santan kelapa
Cancang = cangcang = mengikat (biasanya untuk hewan) agar tidak lari atau lepas
Cangking = tenteng
Nyangking = menenteng
Canthas = lancar berbicara (untuk anak kecil)
Carabikang = sejenis kue berbentuk bulat pipih yang sebagian sisinya terlihat merekah
Cawel = sentuh, colek
Cèbrik = basah, becek (permukaan lantai atau tanah)
Ceger = andal
       Nyegerna = mengandalkan
       Ceger-cegeran = saling mengandalkan sehingga tidak ada yang mengerjakan
Cèkak = terlalu pendek (rok atau celan)
Cèlong = cekung (untuk mata)
Cemong = berwarna hitam (untuk bagian bawah peralatan masak, misal panci), terkena noda hitam (untuk bagian tubuh)
Cèmpe = anak kambing
Cèmpet = gencet
Cèngis = Tèngis = cabe rawit
Cèngkeweng = membawa (biasanya dengan cepat kasar)
Cengkrong = sabit, clurit
Centhong = sendok nasi
Cèpon = wadah berbentuk bulat seperti keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya untuk tempat nasi atau berkat
Cèthil = kue kenyal manis dengan potongan pisang di tengahnya
Cèthil = sebal
       Nyethili = menyebalkan
Cèthot = kue berbentuk bulat pipih yang kenyal, diberi parutan kelapa yang dicampur gula pasir
Cèthot = cubit
       Dicèthot = dicubit dengan keras

Kamus Brebes (B)

Berhubung blog multiply-ku sudah lama tidak terurus, lebih baik isinya yang penting kupindah di sini saja. Berikut adalah kamus Bahasa Brebes yang sudah kususun dan sudah pernah ku-post di blog tersebut.

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan.
Babak bundhas = babak belur
Babaran = melahirkan
Babar pisan = Babar blas = sama sekali
       Ora ngerti babar blas = tidak tahu sama sekali
Babon = ayam betina
Bacin = bau tidak enak, bau busuk
Bada = lebaran
Bae = saja
Bagal = batang buah jagung
Bakal = calon
Bakal = Bakale = akan; nantinya
Bakuten = sebenarnya
Bala = teman; berteman
       Ora bala = bermusuhan, tidak berteman
Balang = lempar
       Mbalangna = melemparkan
Balèng = bau tidak enak
Balongan = tambak
Balung = tulang
Bandha = ikat
Dibandha = diikat
Bandrol = label harga
Bangkar = ditelantarkan, tidak dikerjakan (untuk pekerjaan)
Bangkang = kulit kerang
Banjur = menyiram dengan air
Bantakyong = tudung penutup bayi (agar tidak digigit nyamuk)
Bantas = terus, tidak berhenti (dalam perjalanan), bablas
Bantasane = lanjutannya
Bantèr = cepat (dalam berjalan atau mengendarai)
Bapa = bapak, ayah
       Bapane = bapakane = bapaknya, ayahnya
Bapuk = gemuk, montok
Bar = setelah
Bara-bara = untungnya
       Bara-bara ora ketabrak = untungnya tidak tertabrak
Barang = setelah
       Barang wis sugih dadi sombong = setelah kaya jadi sombong
Barat = angin kencang
       Udan barat = hujan disertai angin kencang

Kamus Brebes (A)

Berhubung blog multiply-ku sudah lama tidak terurus, lebih baik isinya yang penting kupindah di sini saja. Berikut adalah kamus Bahasa Brebes yang sudah kususun dan sudah pernah ku-post di blog tersebut (dulu di-post di Multiply pada 2 Maret 2009).

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan.
Acan → ora acan = sama sekali
       Ora apik ora acan = tidak bagus sama sekali
Adang = menanak nasi
Adèm = tidak panas; antara hangat dan dingin
Adèr = memangnya; apa benar?; apa iya?
       Adèr olih melu? = memangnya boleh ikut?
Adoh = jauh
Adong = Dong = jika, kalau
       Adong kaya kue = kalau begitu
Age-age = Gagiyan = Giyan = cepat-cepat, segera
Agèt = tanda batas
Agor = serak (suara)
Ajar = hajar
Ajib = ajaib; aneh
Ajur = hancur
Akale = walaupun, meskipun
       Akale kaya kue = meskipun begitu
Akas = keras (tekstur benda)
Ala = jelek (sifat, kelakuan)
Alèm = puji
Ngalèm = memuji
Alèman = manja
Aling-aling → Ngaling-alingi = menghalangi pandangan/penglihatan
Alon = pelan; keponakan
Alot = keras, liat
Alum = layu
Amak-amak = selalu, mesti
       Amak-amak mutung = selalu ngambek, sedikit-sedikit ngambek
Ambèkan = bernapas; napas
Amben = tempat tidur (biasanya dari besi)

Selasa, 22 November 2011

Ganteng itu... KAMU!!!

Tinggi itu langit. Luas itu semesta. Wangi itu bunga. Ganteng itu... KAMU!
 
Kata orang, ganteng itu relatif. Tapi, menurutku kamu MUTLAK disebut GANTENG.
 
Cowok lain seganteng apapun, kalo dipandang lama2 bikin bosen. Tapi, kalo kamu, dipandang lama2 makin ganteng. Kamu emang GANTENG KRONIS!

Kalo kadar kegantengan dikuantitatifkan, dgn rentang nilai 1 sampai 9, nilai kamu 10! Dasar ganteng kronis!

Semua itu status yang kubuat beberapa minggu belakangan ini. Hmm, tidak biasanya aku menggombalgembel seperti itu. Apa gerangan yang terjadi? Semua ini berawal dari upacara menonton Secret Garden semalaman. Melihat cerita romantis dan AKTOR GANTENG. Aktor pertama yang menarik perhatianku adalah Lee Philip. Sebenarnya setelah diperhatikan dia tidak terlalu ganteng. Tetapi, tetap saja ketika melihat dia pada angle tertentu, dia terlihat ganteng dan keren, kadang juga cantik, hehehe... Selain Lee Philip, ada juga Hyun Bin. Sayangnya, di serial itu dia tidak terlalu ganteng. Yang membuatku ngefans pada Hyun Bin adalah suaranya. Ketika dia menyanyikan lagu That Man (Geu Namja) OST Secret Garden, suaranya benar-benar merdu dan penuh perasaan.

Sekitar seminggu kemudian, aku melakukan kekonyolan yang sama, begadang demi menonton serial drama Korea, Personal Taste. Meskipun pernah menontonnya setahun lalu, tapi aku baru sadar kemarin-kemarin bahwa tokoh utamanya, Lee Min Ho, amat sangat ganteng. Hidungnya itu, lho... Mancung! Subhanallaah... Tuhan memang benar-benar Mahakuasa sampai bisa menciptakan makhluk seganteng mereka.

Setelah melihat Lee Min Ho, status Lee Philip sebagai Ganteng #1 di hatiku pun tergeser digantikan Lee Min Ho. Tapi, tetap saja Lee Philip yang menduduki posisi Keren #1, hahaha!

Dan kemarin, aku menonton lagi film Friends yang dibintangi Won Bin dan Kyoko Fukada. Bukan, bukan Won Bin yang ingin kuceritakan. Yang menarik perhatianku adalah Lee Dong Gun. Dia adalah pemeran Li Dong dalam serial Ad Madness. Melihatnya lagi membuatku teringat masa-masa ketika aku ngefans berat padanya. Aktor ganteng yang sering sekali mendapatkan peran sebagai orang yang patah hati, huhuhu... Tenang, ganteng, kita senasib, kok. Hahaha! Dan aku jadi jatuh cinta lagi pada si ganteng yang satu itu. Halaaah!

Ganteng, ganteng, ganteng!!! Mereka semua ganteng dan membuatku ingin berteriak, "Ganteeeeng!" setiap kali melihat mereka.Subhanallaah... God must be so happy when created them :) *nyontek kata-kata seorang kawan*

Ummm, kok kalau dipikir-pikir sepertinya aku semakin mirip ababil ya? Tak apalah. Oh, ya, sepertinya sikapku sangat jauh sekali dari ghodul bashor ya? Hehehe...

Anak Siapa?


Pagi itu aku sebenarnya agak malas berangkat ke suatu acara. Yah, maklumlah... Hari Minggu adalah hari yang sangat tepat untuk bermalas-malasan. Tapi, berhubung sudah saatnya aku kembali bertemu dengan lingkungan yang bisa membantuku insyaf, aku pun memaksakan diri berangkat.

Setibanya di tempat acara, belum ada yang datang. Padahal, aku datang pukul sembilan lewat sedangkan jadwalnya pukul 8.30. Awalnya aku khawatir terlambat. Bagiku, datang terlambat adalah hal yang sangat memalukan karena bisa membuat banyak mata menoleh padaku, dan aku tidak suka itu. Alhamdulillah, meskipun dari segi waktu aku sudah termasuk terlambat, ternyata aku justru yang paling awal datang jadi tak ada tatapan aneh menatap keterlambatanku.

Setelah aku menunggu beberapa saat, teman-temanku datang (umm, sebenarnya bingung juga menyebut mereka teman karena sebenarnya aku tak mengenal mereka, hanya satu dua orang yang kutahu namanya). Kemudian Kak Nida datang membawa anaknya yang masih bayi, namanya kalau tidak salah Almirah. Teman-teman ada yang mengajak bercanda Almirah. Sedangkan aku, seperti biasa, hanya memandangi sambil tersenyum dan mengusap-usap kepala si bayi.

Setelah mengobrol, entah kenapa tiba-tiba sepertinya ada pembicaraan yang membuat Muz bingung lalu bertanya pada Rima, "Emangnya ini anak siapa, sih?" Rima pun menjawab, "Anak Kak Nida." Muz pun terkejut lalu tertawa. Kemudian dia berkata sambil menunjuk ke arahku, "Kirain anak si ini." What? Anakku? Aku masih single, belum jadi ibu-ibu.

Dia pun berkata lagi, "Habisnya keliatan setia banget nungguin bayinya. Ngeliatinnya juga keibuan. Pake diusap-usap." Keibuan? Semoga yang dia ucapkan bukan bohong. Semoga tatapan mataku pada Almira memang keibuan. Semoga aku memang punya naluri jadi ibu yang baik, lembut, dan penyayang. Aaamiiiiin..

Rabu, 16 November 2011

Teman yang Terlupakan

Pernah melupakan teman? Aku sering. Bukan melupakan secara tak sengaja melainkan benar-benar sengaja mencoret seseorang dari daftar teman dekatku dan membuatnya hanya masuk daftar "seseorang yang kukenal".

Kejam? Mungkin. Entah kenapa, aku selalu menemukan alasan untuk menjauh dari kawan dekatku. Ada beberapa yang kembali akrab setelah terjadi konflik, ada pula yang tetap jauh bahkan semakin jauh.

Alasannya? Terkadang alasannya sangat sepele. Aku pernah menjauhi temanku cuma karena alasan 'udah ga nyambung lagi kalo ngobrol'. Yah, aku yang kuliah di kedinasan dan berkutat dengan statistik sedangkan dia kuliah di jurusan Pendidikan Kimia. Memang kurang nyambung. Di samping itu, lingkungan kami yang begitu berbeda juga membuat pola pikir kami menjadi jauh berbeda. Dan semua semakin parah ketika aku menemukan teman-teman baru yang lebih klik. Mereka yang selalu ada saat aku terpuruk, sedangkan dia tak pernah ada. Sejujurnya alasan itu egois. Toh, aku juga tak pernah ada di sampingnya saat dia mengalami kesulitan. Alasan yang menurutku paling kuat membuat aku dan dia menjauh adalah jarak dan kurangnya komunikasi. Tak pernah bertemu, sangat jarang sms-an dan teleponan, membuat rasa sayang itu luntur. Dalam beberapa kasus, rasa sayang itu berbanding terbalik dengan jarak. Makin besar jarak, makin kecil pula rasa sayang dan kekentalan pertemanan. Tidak bertemu dengannya selama beberapa waktu membuatku malas bertemu lagi. Lho? Aneh, ya...

Aku juga pernah menjauhi temanku karena nasihatnya yang menyebalkan. Dia yang seorang s*l*f* pernah agak mendoktrinku mengenai pemahamannya. Jujur, aku orang yang berusaha untuk terbuka dengan pendapat orang lain. Namun, caranya sungguh tidak kusukai. Dia membuatku merasa tidak nyaman. Terkesan memaksa. Apalagi dia kerap menasihatiku ketika aku sedang marah. Itu, sih, ibarat api sedang berkobar malah disiram minyak tanah. Dan akhirnya aku memutuskan tak berhubungan dengannya. Apa itu bisa dikategorikan memutuskan tali silaturrahim? Entah. Yang pasti, aku tak mau terus-terusan merasa kesal dengannya. Jadi, lebih baik menjaga jarak, kan?

Pernah juga aku menjauhi temanku karena dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah menyuruhku membaca buku. Huh! Sebuah masalah sepele. Namun, akibatnya sangat fatal. Aku jadi amat sangat malas dan enggan untuk sms dan meneleponnya lagi. Rasanya dia benar-benar tidak memahami bahwa saat itu aku benar-benar panik. Dan setahuku jawabannya juga tak ada di buku.

Ada juga yang jauh secara otomatis. Sama-sama sibuk. Nomor ponsel yang hilang. Dan setelah bertahun-tahun, ummm... sepertinya tak sampai bertahun-tahun, sih... Setelah beberapa saat hilang kontak, seorang teman lamaku mengirim sms. Dia mengajak mengobrol dan menanyakan alamatku di Aceh. Setelah beberapa bulan aku tak mengerti untuk apa dia menanyakan alamatku. Hingga kemarin aku mendapat sebuah paket darinya. Paket itu berisi foto-foto kami dan kawan-kawan sewaktu SMA. Ada foto aku sedang memegang hiasan dari stereofoam bergambar Simba kecil. Foto itu diambil di dalam kelas dengan background bagian depan kelas. Setelah kuamati, di papan tulis ada tulisan Hangeul. Pasti itu hasil pekerjaanku. Dulu aku memang suka sekali menuliskan lagu-lagu Korea di papan tulis ketika pulang sekolah. Ada juga buku berisi kumpulan cerpen dari FLP Tegal. Judul bukunya "Akulah Pencuri Itu". Di situ ternyata ada salah satu karyanya, yaitu cerpen berjudul "Cempe Merahku".

Tak kusangka. Dia yang sudah kulupakan, ternyata masih mengingatku... Maafkan aku teman karena sudah melupakanmu...

Jumat, 11 November 2011

I'm Exist!

Hari ini aku dikejutkan dengan foto mie goreng wedi feat sambel tela yang di-posting temanku di Facebook. Sama persis dengan foto milikku yang pernah kupajang jadi foto profil di Facebook-ku. Aku langsung menuduhnya, "hey, kaya potoku, deh. pembajakan!" Kupikir dia memang mengambil dari Facebook-ku. Tapi, dia menjawab bahwa dia mendapat foto itu dari Google. Aku pun langsung teringat bahwa aku pernah mem-posting foto itu di blog-ku di sini. Kata temanku, dia googling dengan keyword "mie goreng wedi". Aku pun mencoba googling dengan keyword yang sama, tapi bukan mencari gambar melainkan cuma web. Dan hasilnya... blog ini di urutan pertama. Hehehe, aku sudah bangga melihatnya. Tapi, kemudian aku sadar, blog-ku ini berada di urutan pertama karena memang jarang yang menulis tentang mie goreng wedi. Wajar saja kalau blog-ku muncul.

Ini dia gambarnya.

Kamis, 10 November 2011

Personal Taste, Romantic

Personal Taste, I watched this drama last year, November 2010. I was in Medan when I watched it accidentally (umm, I'm not sure that accidentally is the right word). I don't have TV so I don't know about drama in TV. But, in November last year, I had to attend a training in Medan. When I arrived in hotel, I turned on TV, and taraaa... There was a very very interesting drama. The story is about a girl who works as furniture designer. When I saw her for the first time, I thought she is a carpenter, hehehe... She met a man, an architect. Just like another Korean drama, there was misunderstanding, then they fight. I was interested with that drama because the scene when her boyfriend left her and marry her friend. Wew! He's so cruel!

But, after I came to Blangpidie again, I couldn't watch it. I have no TV, huhuhu... When I checked my external harddisk, I found a folder PERSONAL TASTE. Then I played it. This is it (Farah Quinn copycat, hehe). It's the same! But, there's something weird. Oh, the language! It's Chinese, not Korean. So is the subtitle. What a pity...

And, two days ago, I got a copy of that drama again. Last year, I never thought to try to change the subtitle and language. But, when I want to watch it for the second time, I remember what my friend said, "Why don't you change the subtitle?". It works. I can change the subtitle from Chinese into English. But, I don't remember to change the language too. So, it's still in Chinese.

I watched it since 4 p.m. until 4 a.m. After I watched till the last episode, I remember to try to change the language. How fool I am...

By the way, I just realized that the actor in that drama, Lee Min Ho, is SO HANDSOME!!! Wait, I haven't told you about the story, have I? It's about love story between Park Gae In (a girl who has been abandoned by her boyfriend, Chang Ryul) and Jeon Jin Ho (an architect and Chang Ryul's rival). Jin Ho rent a room in Gae In house to learn it's design because director of project that Jin Ho want to get like the design of Gae In's house (Gae In's father's house, I mean). After a lot of misunderstanding, Gae In think Jin Ho is gay, so she let him rent a room in her house. They become closer and in love.

Hmm, I think my English vocabulary is so poor. I can't explain about the drama more. Hehehe, you don't need to say that I'm stupid, fella...

Rabu, 02 November 2011

Kembali Merangkai Mimpi

Mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari. Begitu kata orang.
Maka, bermimpilah. Dan berjuanglah mewujudkan mimpi itu.
Bagiku, sungguh sangat jarang mimpi terwujud dalam waktu singkat. Tapi, aku percaya, bila aku berjuang, mimpiku akan jadi nyata.

Robbii.. Dulu, aku telah membuang semua mimpiku. Dulu, aku menutup semua lembaran cerita mengenai semua yang kudamba. Tapi, hari ini, izinkan aku kembali membukanya. Izinkan aku kembali merangkai mimpi.

Aku masih ingat beberapa daftar mimpi yang pernah kucatat di buku harianku sewaktu tingkat tiga dan direvisi sewaktu tingkat empat.
- jadi programmer.
- jadi ahli bahasa yang menguasai beberapa bahasa asing (Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dll)
- kuliah di Jepang.
- jadi dosen Statistik Matematika, Matematika Diskrit, Analisis Multivariate
- punya perkebunan organik
Muluk? Mungkin iya. Dengan kemampuan otak yang "sepertinya" terbatas, semua itu tidak mungkin terwujud. Tapi, aku harus selalu ingat apa yang dikatakan Pak Firdaus, kita semua dilahirkan dengan jumlah sel otak yang sama. Kita, bisa sama hebatnya dengan Einstein. Lalu, apa yang membedakan aku dengan Einstein? USAHA. Ya, usaha. Aku kurang berusaha, oh sepertinya malah tidak berusaha sama sekali mewujudkan mimpiku. Aku bahkan mengubur semua mimpiku dalam-dalam. Tapi, hari ini, aku harus berubah. Aku harus kembali mengejar mimpiku. Saatnya belajar. Jangan malas. Bagaimana mau jadi programmer bila belajar membuat program saja tidak pernah? Bisa-bisa ilmu yang didapat sewaktu skripsi dulu hilang tak berbekas. Bagaimana mau jadi ahli bahasa kalau belajar saja tidak pernah? Bagaimana mau menguasai suatu bahasa bila belajar grammar dan kosakata saja malas? Bagaimana mau jadi dosen suatu mata kuliah bila mata kuliah itu saja tak kukuasai? Bagaimana mau punya perkebunan bila uang untuk modal saja tak ada? Semuanya butuh usaha!

Oh, ya. Sepertinya aku perlu merevisi kembali mimpiku yang kuliah di Jepang dan jadi dosen. Tak apa kuliah selain di Jepang, asal ilmu bertambah sama seperti mereka yang kuliah di Jepang. Tak apa tak jadi dosen, asal ilmuku bisa menyamai dosen. Dan untuk meraih semua itu, aku harus belajar. Dan satu lagi, aku harus konsisten. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Hari ini aku memulai, besok lusa dan seterusnya, aku harus terus melanjutkan usah meraih mimpiku. Berjuang!