Jumat, 28 April 2017

Drama Single I'll be There

Kupikir aku akan kapok berbelanja daring setelah pengalamanku yang kuceritakan di sini. Ternyata ... dugaanku salah. Aku masih beberapa kali berbelanja daring. Dan kali ini bukan berbelanja di toko daring lokal melainkan di toko daring di Jepang sana.

Waktu itu fans Arashi di Twitter sedang heboh tentang single terbaru mereka, I'll be there, yang sudah mulai dibuka preorder-nya. Ada yang membagikan tautan untuk pembeliannya di cdjapan.co.jp. Iseng-iseng aku mengunjungi tautan tersebut. Karena harganya tertera dalam yen, aku pun mencoba mencari web untuk mengonversi dari yen ke rupiah. Ternyata harganya lumayan mahal. Ongkos kirimnya seharga barangnya. Tapi, entah kenapa aku tetap ingin membelinya. Seolah uangku turah-turah.

Rabu, 22 Februari 2017

I'm Glad I Met You

Saat teringat teman yang selalu meringankan beban di hati saat masa-masa sulit datang, pernahkah terpikir, "I wish I met you earlier. My life will be much brighter."? Aku pernah. Seandainya aku mengenal kalian lebih awal, tentu masa-masa suram dulu tidak akan begitu terasa suram. Aku sempat berpikir begitu. Namun, setelah dipikir-pikir, sepertinya belum tentu hidupku akan lebih menyenangkan kalau bertemu mereka lebih awal. Bisa jadi, mereka belum menjadi seseorang yang pengertian seperti saat ini. Bisa jadi mereka belum mengalami episode hidup yang membuat mereka menjadi teman yang pengertian. Bisa jadi juga dulu aku belum menjadi orang yang bisa menerima berbagai perbedaan antara aku dengan mereka seperti saat ini. Bisa jadi saat ini aku merasa dekat dengan mereka dan bisa menghormati pendapat mereka yang berbeda dengan pendapatku. Dulu? Belum tentu. Kalau aku mengenal mereka di masa itu bisa jadi kami sudah saling sebal setengah mati.

Selasa, 07 Februari 2017

Ih, Nggak Pernah Belajar tapi Nilainya Bagus Terus

Ih, nggak adil banget, ya. Dia nggak pernah belajar tapi nilai ujiannya bagus terus. Gue belajar mati-matian tapi nilainya jeblok mulu.

Aku beberapa kali melihat meme yang mengekspresikan hal di atas. Ada murid yang "tidak pernah belajar" tapi nilainya bagus sedangkan murid yang rajin belajar, bahkan merasa sudah mati-matian belajar tapi nilainya masih tidak sesuai harapan.

Rabu, 25 Januari 2017

Melantur Gara-gara Arab

Masih ramaikah yang membahas perihal kearab-araban? Biasanya aku malas membahas topik sensitif seperti itu karena tidak ingin memperkeruh suasana. Perdebatan yang muncul pun tidak menyenangkan. Tidak semenyenangkan ketika melihat twitwar atau instawar para selebritis yang saling berseteru. Yang pro si pencuit yang menyindir perihal kearab-araban, membela membabi buta. Yang kontra, menghujatnya juga membabi buta. Nggak asik ditonton sambil makan popcorn (it rhymes!). Namun, berhubung saat ini aku sedang bosan, aku ingin ikut-ikutan membahasnya. Dan sepertinya tidak akan memperkeruh suasana karena pembaca blog ini cuma sedikit. The perks of being unpopular blogger: you don't need to be afraid of reader's reaction because you got no reader!

Senin, 23 Januari 2017

Bukan Bertemu Patrick Jane

Wah, sudah tahun 2017 dan aku belum membuat tulisan apapun di sini. Memang tidak membuat target untuk rajin mengisi blog, sih ... tapi setidaknya aku ingin ada satu tulisan setiap bulan. Dan Januari sudah hampir berakhir. Mau menulis apa? Hmm ... tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Bagaimana kalau aku menuliskan pengalaman ke psikiater? Baiklah. Kuceritakan saja.

Rabu, 28 Desember 2016

Wanseponetaim in Bandung

Ternyata ada beberapa cerita penggelandanganku yang belum kuceritakan di sini. Salah satunya cerita saat aku menggelandang di Bandung. Saat itu aku ingin memanfaatkan waktu liburan untuk jalan-jalan ke daerah lain di Jawa sebelum kembali ke pengasingan. Keinginan untuk ke Jogja atau Pacitan tidak terwujud. Untungnya keinginan untuk ke Bandung bisa terwujud. Lima tahun kuliah di Jakarta, ditambah satu setengah tahun lagi kuliah di sana, masa tidak pernah sekalipun ke Bandung? Apa hubungannya kuliah di Jakarta dan jalan-jalan ke Bandung? Yah, kan dekat. Eh, jauh ding. Ah, sudahlah.

Kamis, 22 Desember 2016

Si Cupu Belanja Daring

Di zaman sekarang belanja daring (online shopping) sudah menjadi hal yang biasa. Aku sendiri termasuk orang yang enggan berbelanja daring selain untuk pembelian tiket pesawat dan kereta. Alasan utamanya kepercayaan. Berbagai pikiran buruk muncul ketika hendak membeli barang dari orang yang entah ada di mana. Kalau ternyata setelah transfer uang terus barangnya tidak dikirim, bagaimana? Kalau penjualnya mendadak tidak bisa dihubungi, bagaimana? Kalau barangnya tidak sesuai dengan gambar yang ditampilkan dan deskripsinya, bagaimana? Begitulah yang kupikirkan mengenai belanja daring.

Kamis, 08 Desember 2016

Gempa dan Peduli

Kemarin pagi gempa, beberapa menit sebelum azan Subuh. Lumayan kencang getarannya. Alasanku menganggap kencang bukan karena aku bisa membandingkan dengan gempa-gempa sebelumnya. Ukuranku adalah keributan yang ditimbulkan. Tiga hari sebelumnya ada gempa juga pagi-pagi tapi orang-orang di kos tidak bereaksi. Adapun sewaktu gempa kemarin orang-orang di kos lumayan ribut meskipun tidak sampai keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Jadi, aku menganggap gempa kemarin lebih besar dari sebelumnya.

Selasa, 15 November 2016

Komentar Mengerikan

Beberapa pekan lalu ada berita tentang sebuah komik yang berbau pedofilia dan incest serta katanya "menyerang" komikus tertentu dengan menjadikannya salah satu karakter dalam komik tersebut. Aku beruntung tidak sempat melihat komiknya karena terlambat mengetahui huru-hara tersebut. Aku cuma membaca tulisan di blog maupun status Facebook yang membahas hal tersebut. Dan dari situlah aku melihat komentar-komentar mengenaskan. Komentar pertama yang kuingat lebih kurang seperti ini: Maybe she deserve it, that "holier than thou" b*tch. Yang paling menarik perhatianku adalah penyebutan "holier than thou". Selama ini aku merasa biasa saja melihat orang diberi predikat seperti itu. Mungkin karena aku lebih sering mendapati predikat itu disematkan pada ibu-ibu yang sering menyudutkan ibu-ibu lain pada perdebatan ASI vs sufor dan working mom vs stay at home mom. Aku lebih sering melihat predikat itu diberikan pada ibu-ibu yang judgy, menganggap dirinya lebih baik dibandingkan yang lain. Namun, ketika melihat orang yang mengkritik dan menasihati dalam perkara moral -- yang sungguh pantas untuk dikritik -- dilabeli sebagai orang yang merasa "holier than thou" aku merasa ngeri. Apa salahnya menasihati dalam perkara moral ini? Apakah orang yang menasihati begitu otomatis dianggap orang yang sok suci? Orang yang menasihati belum tentu merasa dirinya paling baik. Bisa jadi dia mengkritik atas nama para ibu yang khawatir anaknya terpapar pengaruh negatif dari komik-komik dengan konten vulgar.

Jumat, 11 November 2016

Kamu Salah, Tuh!


Pernah menemukan “kesalahan” orang lain dan merasakan hasrat yang kuat untuk menunjukkan “kesalahan” tersebut? Pernah? Aku sering begitu. Selain mudah menemukan kesalahan orang lain (dibandingkan kesalahan sendiri), aku juga termasuk orang yang kadang-kadang sok tahu. Cuma kadang-kadang, kok.

Rabu, 02 November 2016

Pagi yang Indah

“Bulik, bangun! Jam segini masa belum bangun,” celoteh cempreng bocah yang kerap menirukan perkataan Mamanya itu membangunkanku dari tidur.

Masih ngantuuuuuk! Semalaman tidurku tak nyenyak diganggu serangga penghisap darah. Dengungannya, gigitannya, semua membuatku yang nyaris terlelap jadi terjaga lagi. Dan pagi-pagi begini aku sudah dibangunkan keponakanku yang cerewet. Baru saja aku hendak memejamkan mata, Emak sudah memanggil menyuruhku membuat teh. Baiklah, sepertinya aku memang dilarang tidur lagi pagi ini.

Kamis, 27 Oktober 2016

Bulan Ini

Sudah hampir sebulan tidak meracau di blog ini. Sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan di sini. Namun, hampir semuanya cerita gloomy. Karena aku tidak ingin merusak citra geje blog ini dan tidak ingin membuat blog ini jadi terlalu sendu, aku menahan diri untuk curhat di sini. Lagipula, curhat sambil mewek-mewek di blog berisiko dituduh pencari perhatian, atau istilah kejamnya: attention-whore. Tapiii ... nggak tahan euy kalo nggak curhat. Dua bulan ini benar-benar berat. Dua bulan terakhir aku dikalahkan oleh kecemasan yang berlebihan. Dan aku memutuskan menghindari penyebab kecemasan dengan cara meninggalkan tanggung jawabku. Lemah, pengecut, nggak bertanggung jawab, you name it. But, you don't need to call me that because I already dub myself those titles. Well, kadang untuk menyelamatkan satu hal aku harus mengorbankan hal lain. Untuk menyelamatkan kewarasanku, aku harus mengorbankan predikat anak baik dengan meninggalkan tanggung jawabku. Tinggal glanggang colong playu. Yo ben. Sing penting urip.

Rabu, 28 September 2016

Nggak Ada Subtitle?

Beberapa bulan terakhir aku sedang kecanduan menonton dua variety show Jepang. Awalnya cuma kecanduan Arashi ni Shiyagare (AniShi). Kemudian setelah menonton VS Arashi, aku kecanduan juga. Lumayan mengobati kegalauan. Yah, meskipun cuma sementara. Paling tidak aku bisa tertawa saat menonton acara tersebut, meskipun setelah itu mewek lagi.

Sayangnya, hanya sedikit video AniShi dan VS Arashi yang ada subtitle-nya. Akhirnya, kadang aku terpaksa menonton tanpa subtitle. Karena kosa kata Bahasa Jepang yang kumiliki nyaris nol, menonton tanpa subtitle itu seperti makan pecel tanpa bumbu kacang. Maksudnya? Nggak ada maksud apa-apa. Cuma biar keren aja pake perumpamaan.

Kamis, 22 September 2016

Not Ranting, Just Whining

“Udah nggak di IPDS lagi mbak?”
“Nggak. Udah ada yang nggantiin.”
“Oh, udah digantiin sama yang lebih jago, ya?”
Deg!

I’m not mad. That’s the fact. Penggantiku memang jauh lebih jago soal TI. Hanya saja kalimat itu memperjelas fakta yang sudah terpampang nyata itu.

Rabu, 31 Agustus 2016

30 and Stay Sane

I've been living in this world for 30 years, 1 month, and several days. Aaand I'm tired. It's not like I want to die, by the way. I just don't know what I want to pursue anymore. Study? No, thank you. Postgraduate is more than enough for me. I don't want to go through research drama anymore. Work? Nah. I don't intend to get higher position. And my job is not interesting anymore. I'm not as eager as the first time I get the job. In the first three years, I did my job earnestly. And then many unpleasant occurences ruined my spirit. I become not so passionate anymore about my job. I just whine and complain. Maybe many people around me are a bit irritated listening to my whining. And my friend in Facebook too.

Selasa, 30 Agustus 2016

Menjejaki Jalan Kenangan

Retrace the path we used to take to go there. Itu poin yang mengena di pikiranku dari Arashi's Discovery oleh Ohno Satoshi hari ini.

Menapaki kembali jalan-jalan yang pernah kulewati. Jadi teringat sewaktu ikut jalan sehat dengan ibu dan adikku tahun lalu. Aku melewati jalan-jalan yang pernah aku lewati dulu, entah saat main ke rumah teman atau bersepeda keliling kampung. Dan ... semuanya terlihat berbeda. Rasanya bukan seperti mengunjungi tempat "bermain"-ku di masa lalu. Rasanya seperti ke tempat asing. Tanah kosong yang dulu penuh ilalang, sekarang sudah jadi komplek perumahan. Rumah-rumah pun terlihat berbeda. Entah memang bangunannya berubah, atau aku yang sudah lebih tinggi sehingga rumah-rumah itu terlihat berbeda.

Jumat, 26 Agustus 2016

Dicubit Doang

Alah, dicubit doang pake ngadu. Dulu gue dipukul pake penggaris biasa aja.
Cuma dicubit gitu. Dulu gue digampar sama guru, santai aja.

Sebagian orang berkomentar demikian ketika membaca berita seorang guru dilaporkan karena mencubit muridnya. Siapa sih yang tidak geram mendengar seorang guru dipidanakan lantaran satu kasus yang (kelihatannya) sepele. Melaporkan seorang guru karena mencubit anak kita kelihatannya berlebihan, ya? Seharusnya kasus seperti ini bisa diselesaikan antara orang tua murid dan pihak sekolah tanpa dibawa ke ranah hukum. Namun, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan si orang tua tersebut kalau membawa kasus itu ke ranah hukum. Itu kan haknya sebagai warga negara. Dia merasa anaknya menjadi korban tindak kekerasan oleh gurunya sehingga melaporkan sang guru.

Minggu, 14 Agustus 2016

Korban SPG Kosmetik

Pagi tadi aku khilaf. Maksud hati ke pasar untuk beli pisang, eh tiba-tiba ada mbak-mbak yang mendekatiku. "Sini, Kak, sebentar aja," katanya sambil menarikku ke meja yang penuh tabung-tabung krim. Aku mau menolak tapi tidak enak. Entah kenapa. "Coba sebentar," katanya sambil langsung mengoleskan krim di tangan kananku. Sebentar kemudian dia membersihkan krim itu dengan handuk basah lalu membersihkan sisa krim yang ada di tangan. "Coba bandingin. Beda kan?" katanya sambil membandingkan tangan kanan dan kiriku. "Ini bisa buat ngilangin jerawat, flek-flek. Dipake kaya masker," dia menunjukkan gambar wajah penuh krim yang ada di papan.

"Kakak ke sawah?" tanyanya. "Nggak." "Ini juga bisa buat alas bedak kalo ke kantor," katanya. "Ini juga bisa dipake suami," katanya lagi. Gue nggak punya suami!

Kamis, 11 Agustus 2016

Wanseponetaim in Pulau Nasi and Pulau Breuh



Aku sudah lama ingin ke Pulau Nasi. Alasannya? Penasaran. Itu doang? Iya. Gara-gara ada blogger yang menceritakan serunya jalan-jalan ke sana aku jadi penasaran. Dan bulan lalu teman dari Traverious menawari ikut open trip ke Pulau Nasi dan Pulau Breuh. Sungguh tawaran yang menggoda. Sayangnya berangkatnya hari Jumat dan itu artinya aku harus membolos sehari. Sewaktu aku bercerita pada ibuku, katanya, “Ya, udah. Nggak papa bolos sehari.” Teman sekantorku juga berkata senada. Merasa didukung untuk membolos, aku pun memutuskan ikut. Saat aku memberitahu ibuku kok ya malah ditanya, “Berarti mbolos sehari?” Lah, kan, udah kasih tahu dari awal, Mak! Kawanku juga bereaksi sama. “Berarti Jumatnya bolos?” Hadeuh. Kali lain kalau ada yang berkata, “Nggak papa bolos sehari.” Aku wajib curiga kalau dia sebenarnya tidak terlalu memperhatikan ceritaku dan komentarnya sekadar komentar keceplosan yang tidak dipikir matang-matang sehingga kurang sahih untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Kamis, 04 Agustus 2016

Warteg

Warteg. Apa yang terpikir di kepalaku ketika mendengar kata warteg alias warung tegal? Yang paling sering muncul di kepalaku adalah kenangan saat menginap di warteg bulikku sewaktu kali pertama datang ke Jakarta. Sekalinya datang ke Jakarta, langsung menginap di warteg dengan bangunan yang terbuat dari triplek dan kamar mandi yang alakadarnya. Aku tidur di lantai atas. Tidur di bangunan sederhana tidak terlalu masalah buatku. Toh cuma beberapa hari. Namun, melihat kamar mandinya yang alakadarnya dan sedikit terbuka aku langsung ribut, "Nggak mau mandi! Nggak mau mandiiiii!" Bulikku pun menyarankan untuk mandi pagi-pagi buta sehingga masih sepi. Akhirnya mandi juga meskipun cemas ada orang yang lewat. Apakah semua warteg seperti itu? Entah yaaa. Melihat bangunan warteg yang rata-rata sederhana, semi permanen, dan sempit, sepertinya memang bukan tempat yang sesuai untuk tempat tinggal. Namun, tempat tinggal pemilik warteg di kampung halamannya jauh berbeda. Di kampungku, semasa rumah orang-orang umumnya masih berlantai ubin biasa (tegel), rumah para pemilik warteg sudah berlantai keramik. Rumah mereka megah. Yah, meskipun sebagian besar cuma jadi rumah kosong karena pemiliknya justru tinggal di Jakarta, di wartegnya yang sederhana.