Jumat, 20 Mei 2016

Salah Asuhan?

Aku tidak tahu kenapa, beberapa film anak-anak yang kutonton membuatku berpikir bahwa tokoh villain dalam film tersebut menjadi jahat karena kesalahan didikan orang tua atau orang dewasa yang bertanggung jawab mengasuh mereka. Setidaknya orang-orang dewasa itu turut andil dalam memicu sifat jahat mereka. Film pertama yang membuatku berpikir demikian adalah Alice in Wonderland. Dalam film tersebut diceritakan bahwa Iracebeth (Red Queen) merasa iri pada saudarinya (Mirana, White Queen) karena orang tua mereka dan rakyat kerajaan mereka lebih mencintai saudarinya itu. Mungkin ada yang menjawab, "Salah sendiri dia merasa iri." Atau ada yang berkomentar, "Dia kan jahat. Wajar saja kalau orang-orang lebih mencintai saudarinya." Iya, memang idealnya manusia tidak boleh merasa iri. Namun, rasa iri itu tidak muncul dengan sendirinya. Bisa saja Iracebeth merasa iri karena diperlakukan berbeda dan hal itu memicunya berbuat jahat pada saudarinya dan orang-orang yang menurutnya tidak mencintainya. Karena kejahatannya, dia semakin dibenci. Semakin dibenci, semakin besar pula rasa irinya, semakin jahat pula dia. Seperti lingkaran setan, ya?

Curhat Random Bulan Mei

Lagi-lagi kena blogger's block. Bulan Mei ini aku belum membuat satu post pun di blog. Sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan. Namun, baru menulis setengah, sudah berhenti. Kadang karena di tengah-tengah menulis aku merasa ada yang janggal, entah kurang logis, entah kalimatnya yang aneh, atau mendadak hilang ide melanjutkan tulisan. Akhirnya, semua berakhir di draft. Mau dilanjutkan, bingung juga.

Jumat, 29 April 2016

Belajar Bahasa Inggris dari Sherlock (5): The Abominable Bride

Hai hai haaaiii! Sudah lama sekali tidak ada post tentang belajar bahasa, ya! Kali terakhir aku membuat post belajar bahasa bulan September 2014, yaitu post ini. Kali ini aku akan mencatat kosa kata dan idiom yang digunakan dalam Sherlock: The Abominable Bride. Namun, edisi kali ini sepertinya akan lebih ngasal dari sebelumnya karena kemampuan Bahasa Inggrisku sudah semakin payah.

I returned to England with my health irretrievably ruined and my future bleak (John)
irretrievably = difficult or impossible to retrieve or recover
bleak = gloomy and somber; providing no encouragement; depressing
Kalimat di atas menggambarkan kondisi John saat kembali Inggris: kesehatan yang rusak sampai pada tahap tidak bisa diperbaiki lagi. Eh, masa diperbaiki?  Maksudnya tidak bisa sehat seperti sedia kala. Di samping itu, masa depannya juga gelap bin muram, madesu lah.

Senin, 25 April 2016

Drama dan Mimpi

Semalam aku galau setelah menonton drama Korea yang di akhir cerita si tokoh utama terkena alzheimer dan melupakan orang-orang terdekatnya. Ending-nya yang terlalu ngenes membuatku ikut merasakan kesedihannya. Membuatku ingin berteriak, "Nggak adiiil!" Ini bukan kali pertama aku tenggelam dalam cerita drama atau film yang kutonton. Aku termasuk orang yang mudah larut dalam cerita drama atau film yang kutonton. Kadang sampai geregetan melihat tokoh antagonis yang menyebalkan, kadang menghabiskan banyak tisu karena menangis melihat cerita yang mengharukan, kadang berteriak membego-begokan si tokoh utama, kadang heboh shipping pemeran utama pria dan wanita agar berpasangan sungguhan di dunia nyata. Kalau akting pemainnya bagus dan ceritanya membekas di hati aku memang bisa separah itu. Namun, yang sampai membuatku benar-benar galau karena ending-nya baru dua, pertama dorama Jepang yang dimainkan Oguri Shun yaitu Border, dan kedua drama Korea Remember yang dimainkan Yoo Seung Ho. Yang satu berakhir dengan kegagalan tokoh utama menangkap penjahat, yang satunya lagi berakhir dengan nasib tokoh utama yang terkena alzheimer.

Rabu, 13 April 2016

Jangan Ganggu Jomblo

Sebenarnya aku sudah pernah membahas tentang pertanyaan yang sering dilontarkan para peneror jomblo: "Kapan nikah?" di post ini. Aku juga sudah jarang mendapat pertanyaan itu, dan semoga tidak ditanya-tanya lagi. Namun, membaca cerita teman-temanku, aku jadi ingin nyinyir lagi di sini. Entah kenapa orang-orang seperti risih melihat perempuan berumur di atas 25 tahun --apalagi sudah 30 tahun atau lebih-- yang belum menikah. Kalau situasinya seperti zaman dulu, di mana perempuan tidak bekerja dan harus ditanggung orang tua secara finansial, mungkin tidak aneh --meskipun kurang bisa dibenarkan-- kalau orang tua ingin anaknya segera menikah agar beban finansial mereka berkurang. Ini masih terjadi juga, sih, di daerah-daerah terbelakang. Akan tetapi, situasi sekarang sudah berbeda. Perempuan sekarang sudah banyak yang mandiri secara finansial. Kalaupun mereka tak kunjung menikah di usia yang sudah matang, itu tidak akan merugikan siapapun. Lah, mereka nggak minta makan sama situ, kok. Kalau memang belum menemukan jodoh yang cocok, ya mau bagaimana lagi, kan?

Selasa, 12 April 2016

Ngenes

Ngenes itu ... ketika aku mendengar seseorang berkomentar "Keren!" sewaktu membicarakan seorang perempuan Aceh --yang orang tuanya kelihatannya Islam fanatik-- justru tidak berjilbab dan merokok. Aku bingung, di mana letak kerennya? Merokok? Berani tidak berjilbab di daerah yang katanya menerapkan syariat Islam? Aku gagal paham. Apakah dia menganggap merokok dan tidak memakai jilbab sebagai bentuk kebebasan? Apakah dua hal tersebut dianggap keberanian karena menentang sikap orang tuanya yang fanatik? Kalau memang seperti itu, sepertinya dia yang gagal paham. Berjilbab, kan, perintah agama, perintah Tuhan, bukan perintah orang tua. Menentangnya berarti menentang Tuhan, bukan sekadar menentang orang tua. Atau, jangan-jangan dia menyebutnya keren karena menganggap jilbab adalah aturan hasil konspirasi kaum Adam untuk membatasi kebebasan kaum Hawa? Padahal, kalau kaum lelaki diminta membuat aturan untuk wanita, mungkin mereka justru mewajibkan perempuan untuk memakai rok mini dan tanktop.

Minggu, 03 April 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: Dari Pulau Ke Pulau

Lanjutan dari sini

Setelah melepas lelah semalaman di Pulau Balai, paginya kami memulai acara inti yaitu makan-makan. Eh, bukan. Paginya kami mulai mengelilingi pulau-pulau di Kepulauan Banyak dengan menggunakan kapal. Tujuan pertama adalah "Pulau" Malelo. Kenapa menggunakan tanda petik? Karena Malelo ini menurutku bukan pulau karena terlalu kecil, hehehe. Malelo ini berupa daratan berpasir putih tanpa ada tanaman sama sekali. Cuma ada sisa-sisa batang pohon dan bebatuan. Begitu melihat Malelo ini aku langsung terpikir untuk berfoto di sana dengan bola voli yang sudah digambari wajah seperti Wilson. Sayangnya kami tidak membawa bola voli jadi tidak bisa berpose sok dramatis bin tragis seperti Tom Hanks yang terdampar di pulau. Akhirnya cuma mengambil foto-foto di sana. Namun, gambarnya kurang cantik karena langitnya berawan. Kalau langitnya bersih sepertinya gambarnya akan ciamik. Eh, itu tergantung fotografernya juga sih. Kalau memang dasarnya amatir, cuaca sebagus apapun gambarnya tetap biasa-biasa saja. *nangis di pojokan*

Kamis, 31 Maret 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: Perjalanan Blangpidie-Singkil-Pulau Balai

Lanjutan dari sini 

Ada banyak hal yang harus disyukuri selama perjalanan. Aku tidak terlalu kedinginan di perjalanan meskipun tidak memakai jaket. Aku juga sukses melewati jalanan menanjak-menurun-penuh-tikungan di Subulussalam tanpa muntah meskipun tidak minum jamu anti masuk angin (tapi makan permen Antang*n terus sih). Perjalanan Aceh Barat Daya - Aceh Singkil selama 6,5 jam terlewati dengan aman, meskipun harus berusaha terus tidur dan saat melek pun jadi irit bicara karena pusing.

Kami singgah sebentar di Rimo (salah satu kecamatan di Aceh Singkil yang dekat Kota Subulussalam) karena ada teman yang mau membeli barang di Indomar*t. Keren kan? Di Blangpidie saja tidak ada swalayan waralaba tersebut. Melihat ada swalayan, aku langsung ikut keluar. Aku membeli tisu, Antang*n, dan koyo. Setelah masuk mobil, aku langsung sembunyi-sembunyi memakai koyo. Amaaan! Rasanya sedikit tenang karena aku tidak perlu khawatir akan mual di jalan. Eh, jangan-jangan itu cuma sugesti? Entahlah.

Selasa, 29 Maret 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: The Beginning

Kembali ke Blangpidie itu rasanya agak aneh. Meskipun pernah tinggal lebih dari lima tahun di sini dan baru kabur satu setengah tahun, saat kembali ternyata rasanya asing seperti baru kali pertama datang ke sini. Belum betah. Dan di hari libur kegalauan bertambah. Biasanya, saat weekend di Jakarta pun aku cuma tidur-tiduran di kos sambil menonton film di laptop. Namun, entah kenapa di sini aku juga belum nyaman di kos. Jadi, bermalas-malasan di kos pun belum jadi opsi yang menyenangkan. Ketika tahu tanggal 25 Maret tanggal merah bin long weekend, aku langsung galau, padahal itu masih seminggu sebelum long weekend. Awalnya berharap ada yang mengajakku jalan-jalan, misalnya ke Sabang. Dan akhirnya iseng-iseng bertanya ke page Traverious di Facebook kapan ada trip ke Pulau Nasi. Oiya, Pulau Nasi ini sudah jadi incaranku sejak kuliah kemarin. Sewaktu sibuk mengerjakan KA aku justru asyik membuat rencana kabur-kaburan ke Pulau Nasi kalau kembali ke Aceh. Dan ternyata aku belum berjodoh dengan Pulau Nasi. Trip ke Pulau Nasi katanya akan diadakan bulan April. Dan si admin pun memberitahukan bahwa long weekend tanggal 25-28 Maret ada trip ke Pulau Banyak. Sifat impulsifku pun muncul tak tertahankan. Aku langsung bertanya-tanya masih bisa mendaftar atau tidak, biayanya berapa, kapan berangkat dan kapan pulang. Setelah kepo-kepo, aku makin tergoda untuk ikut. Saat kutanyai pendapatnya, salah satu temanku mengompori, "Ikut aja. Kapan lagi? Mumpung masih single, masih bebas ke mana-mana." Oke, daftar!!!

Jumat, 15 Januari 2016

2015-ku

Rasanya baru beberapa bulan yang lalu aku membuat tulisan 2014-ku. Sekarang sudah masuk tahun 2016. Berarti sudah waktunya mendokumentasikan kedudulan-kedudulan di tahun 2015 sebelum kenangan itu menguap seiring otakku yang makin susah mengingat.

Karena Standar Kita Berbeda

“IPK-ku paling rendah dibandingin temen-temen satu bimbingan,” keluh seorang teman yang cumlaude.
“Nilai-nilaiku AB semua. Targetku kan A,” kata seseorang pada temannya yang baru saja melihat kalau dia sendiri mendapat satu nilai B-.
“Masa ya nilaiku A-. Padahal si X dapet A,” begitu obrolan yang didengar Y. Si Y, yang mendapat nilai B- ingin menyela obrolan mereka dan berkata, “Man, lo untung dapet A-. Gue B-. Dikit lagi nggak lulus gue!” Tapi, dia urung mengatakannya.
 

Kamis, 31 Desember 2015

Beda Bahasa

Terbiasa mendengar pembicaraan atau membaca tulisan dalam berbagai bahasa, baik Bahasa Indonesia, bahasa asing, atau bahasa daerah, kadang memang menguntungkan. Meskipun tidak memahami pembicaraan, tapi setidaknya mengerti pengucapan mereka. Namun, ada kalanya hal ini membuat bingung. Kadang orang menggunakan bahasa A, aku memahaminya dengan bahasa B.

Jumat, 25 Desember 2015

Tentang Gue, Lo, dan Abang

Sewaktu kuliah D4, aku menghabiskan waktu hampir lima tahun di Jakarta. Dan selama itu pula, aku tidak menggunakan kata gue-lo saat mengobrol. Maklum, sebagian besar temanku adalah orang daerah dari berbagai pelosok Indonesia yang juga tidak terbiasa ber-gue-lo. Hanya sedikit temen yang orang Jakarta. Jadilah selama itu aku tetap ber-aku-kamu saat mengobrol dengan teman-temanku. Bahkan, saat mengobrol dengan teman dari Brebes Tegal aku tetap ngapak meskipun lawan bicaraku orang yang terbiasa berbahasa Indonesia.

Minggu, 15 November 2015

Suka Duka "Menua"


Terlihat tua--lebih tua dari umur sebenarnya, baik dari tampilan wajah maupun bentuk badan--membuatku mengalami hal-hal yang membuatku speechless. Pengalaman paling pahit adalah ketika seorang teman dengan sangat santai tanpa menimbang rasa mengatakan bahwa mukaku boros. Bukan. Dia juga bukan sedang bercanda. Beuh! Rasanya ingin membelai wajahnya dengan parutan kelapa lalu membedakinya dengan cabe bubuk plus lada bubuk. She said that I look much older than my actual age, inconsiderately. Dan aku cuma terdiam. Terlalu bete untuk menanggapi. Tapi, ada hikmahnya juga mengalami hal seperti itu. Aku jadi sadar bahwa mengatai orang "muka boros" itu kejam. Jadi, aku bisa berhati-hati jangan sampai mengatai orang seperti itu.

Rabu, 11 November 2015

Galau KA

Kalau pertanyaan "Kapan nikah?" membuatku bertanduk, pertanyaan "Kapan lulus?" membuatku galau-galau-cemas. Galau memikirkan karya akhir (KA) yang sepertinya tak berarah. Cemas memikirkan "lulus nggak ya semester ini?" Dan aku menghabiskan sebagian besar energiku untuk menggalau tanpa mencari solusi. Kalau masalah jodoh, aku masih punya alasan bahwa jodoh tak perlu dikejar. Ditunggu saja, nanti juga datang sendiri. Kalau masalah kuliah? Yamasa aku berkilah "Ijasah mah nggak usah dikejar. Ditunggu aja, ntar dateng sendiri." Seolah-olah ijasah bisa didapatkan dengan mantra "Accio ijasah!"

Kamis, 29 Oktober 2015

Statistik dan Bohong

Sekitar bulan Januari lalu aku menonton suatu acara lawak di mana salah satu pelawak berkata, "Bohong itu ada tiga: bohong, bohong jahat, sama statistik." Saat mendengar hal itu aku langsung sewot. Statistik itu bidang ilmu. Keterlaluan kalau menuduh satu bidang ilmu sebagai bentuk kebohongan. Padahal ilmu statistik digunakan dalam penelitian di bidang-bidang lain. Kalau begitu, penelitian-penelitian tersebut bohong juga?

Karena penasaran, aku pun googling mengenai perkataan itu. Jangan tanya kenapa aku ujug-ujug googling. Just followed my hunch. Daaan ternyata "bohong, bohong jahat, dan statistik" itu merupakan versi Indonesia dari "lies, damned lies, and statistics". Dalam buku How to Lie with Statistics, ada kutipan kalimat tersebut yang dituliskan sebagai kalimat dari Disraelli. Namun, dari yang kubaca di artikel ini, ternyata itu bukan ucapan maupun tulisan Disraelli. Ada yang menyebutkan bahwa itu adalah perkataan Mark Twain.

Jumat, 02 Oktober 2015

Random tentang Moral dan Agama

Moral itu ukuran manusia. Bisa berubah, termasuk berubah mengikuti nafsu. Tadinya ciuman dengan lawan jenis dianggap tidak bermoral. Sekarang, jangankan dengan lawan jenis, sesama jenis juga dianggap wajar, tidak melanggar moral. Tadinya, hubungan sesama jenis dianggap nggak bermoral. Sekarang, malah didukung ramai-ramai. Malah, mulai ada yang mendukung incest. Hoax? Beneran kok. Di Jerman sana sudah mulai diusulkan. Katanya, biar aja sih, toh mereka saling cinta, yang penting mereka bahagia. Mungkin sebentar lagi boleh nikah sama babi. Yang hari ini menghujat PM bule yang main babi, mungkin beberapa tahun lagi justru mendukung perkawinan dengan babi. Love wins, katanya. Tadinya perempuan memakai baju minimalis dan hemat alias kurang bahan dianggap perempuan nakal, tidak bermoral. Sekarang, orang bebas memakai baju seminim mungkin. Tanktop dan celana gemes? Nggak papa. Baju menerawang sampai beha kelihatan? Biasa. Berpakaian itu salah satu cara berekspresi. Kita bebas dong berekspresi, katanya.

Rabu, 30 September 2015

Hati

Katanya ada yang dibunuh
gara-gara menolak tambang pasir
Dunia maya ramai
penuh ucapan "nyawa kami tak lebih berharga dari tambang"

Aku ikut mengutuk
Di mana hatimu?
Melihat darahnya tertumpah
melihatnya bermandi luka
melihatnya meregang nyawa
tidakkah kalian iba?

Jumat, 11 September 2015

Kuliah, Enak Ora?

Kuliah enak apa ora? Hahaha, kayong angel yah njawabe.

Ana enake ana orane, sih. Enake ya bisa sering balik. Yen nyambed gawe alias kerja nang Aceh, balike paling setahun mung pindo. Saiki barang kuliah kayong pan saben wulan balike. Kaulan. Terus enake ya bisa nambah ilmu. Yah, nambah setitik mbuh apa lah. Terus ketemu wong-wong anyar. Apa maning aku kuliahe dudu beasiswa instansine dewek, olih sing instansi liya. Dadine ya ketemu kancane dudu mung wong sa-instansi. Dadi krungu gosip sing instansi liya. Olih tugas ya bisa dolan-dolan maring kantore wong liya. Terus, barang kuliah dadi ganti suasana. Biasane esuk-esuk wis di-sms ditagih pegaweyan. Saiki tah laka sms tagihan kaya kue. Paling sms penipuan hadiah karo sms nawani utang.

Kamis, 10 September 2015

29

Tiba-tiba ingin meracau tentang ulang tahun. Juli kemarin aku berulang tahun. Sudah 29 tahun. Tua? Iya. Masih mau main-main? Opastinyaaah!