Kamis, 08 Desember 2016

Gempa dan Peduli

Kemarin pagi gempa, beberapa menit sebelum azan Subuh. Lumayan kencang getarannya. Alasanku menganggap kencang bukan karena aku bisa membandingkan dengan gempa-gempa sebelumnya. Ukuranku adalah keributan yang ditimbulkan. Tiga hari sebelumnya ada gempa juga pagi-pagi tapi orang-orang di kos tidak bereaksi. Adapun sewaktu gempa kemarin orang-orang di kos lumayan ribut meskipun tidak sampai keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Jadi, aku menganggap gempa kemarin lebih besar dari sebelumnya.

Selasa, 15 November 2016

Komentar Mengerikan

Beberapa pekan lalu ada berita tentang sebuah komik yang berbau pedofilia dan incest serta katanya "menyerang" komikus tertentu dengan menjadikannya salah satu karakter dalam komik tersebut. Aku beruntung tidak sempat melihat komiknya karena terlambat mengetahui huru-hara tersebut. Aku cuma membaca tulisan di blog maupun status Facebook yang membahas hal tersebut. Dan dari situlah aku melihat komentar-komentar mengenaskan. Komentar pertama yang kuingat lebih kurang seperti ini: Maybe she deserve it, that "holier than thou" b*tch. Yang paling menarik perhatianku adalah penyebutan "holier than thou". Selama ini aku merasa biasa saja melihat orang diberi predikat seperti itu. Mungkin karena aku lebih sering mendapati predikat itu disematkan pada ibu-ibu yang sering menyudutkan ibu-ibu lain pada perdebatan ASI vs sufor dan working mom vs stay at home mom. Aku lebih sering melihat predikat itu diberikan pada ibu-ibu yang judgy, menganggap dirinya lebih baik dibandingkan yang lain. Namun, ketika melihat orang yang mengkritik dan menasihati dalam perkara moral -- yang sungguh pantas untuk dikritik -- dilabeli sebagai orang yang merasa "holier than thou" aku merasa ngeri. Apa salahnya menasihati dalam perkara moral ini? Apakah orang yang menasihati begitu otomatis dianggap orang yang sok suci? Orang yang menasihati belum tentu merasa dirinya paling baik. Bisa jadi mengkritik atas nama para ibu yang khawatir anaknya terpapar pengaruh negatif dari komik-komik dengan konten vulgar.

Jumat, 11 November 2016

Kamu Salah, Tuh!

Pernah menemukan “kesalahan” orang lain dan merasakan hasrat yang kuat untuk menunjukkan “kesalahan” tersebut? Pernah? Aku sering begitu. Selain mudah menemukan kesalahan orang lain (dibandingkan kesalahan sendiri), aku juga termasuk orang yang kadang-kadang sok tahu. Cuma kadang-kadang, kok.

Rabu, 02 November 2016

Pagi yang Indah

“Bulik, bangun! Jam segini masa belum bangun,” celoteh cempreng bocah yang kerap menirukan perkataan Mamanya itu membangunkanku dari tidur.

Masih ngantuuuuuk! Semalaman tidurku tak nyenyak diganggu serangga penghisap darah. Dengungannya, gigitannya, semua membuatku yang nyaris terlelap jadi terjaga lagi. Dan pagi-pagi begini aku sudah dibangunkan keponakanku yang cerewet. Baru saja aku hendak memejamkan mata, Emak sudah memanggil menyuruhku membuat teh. Baiklah, sepertinya aku memang dilarang tidur lagi pagi ini.

Kamis, 27 Oktober 2016

Bulan Ini

Sudah hampir sebulan tidak meracau di blog ini. Sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan di sini. Namun, hampir semuanya cerita gloomy. Karena aku tidak ingin merusak citra geje blog ini dan tidak ingin membuat blog ini jadi terlalu sendu, aku menahan diri untuk curhat di sini. Lagipula, curhat sambil mewek-mewek di blog berisiko dituduh pencari perhatian, atau istilah kejamnya: attention-whore. Tapiii ... nggak tahan euy kalo nggak curhat. Dua bulan ini benar-benar berat. Dua bulan terakhir aku dikalahkan oleh kecemasan yang berlebihan. Dan aku memutuskan menghindari penyebab kecemasan dengan cara meninggalkan tanggung jawabku. Lemah, pengecut, nggak bertanggung jawab, you name it. But, you don't need to call me that because I already dub myself those titles. Well, kadang untuk menyelamatkan satu hal aku harus mengorbankan hal lain. Untuk menyelamatkan kewarasanku, aku harus mengorbankan predikat anak baik dengan meninggalkan tanggung jawabku. Tinggal glanggang colong playu. Yo ben. Sing penting urip.

Rabu, 28 September 2016

Nggak Ada Subtitle?

Beberapa bulan terakhir aku sedang kecanduan menonton dua variety show Jepang. Awalnya cuma kecanduan Arashi ni Shiyagare (AniShi). Kemudian setelah menonton VS Arashi, aku kecanduan juga. Lumayan mengobati kegalauan. Yah, meskipun cuma sementara. Paling tidak aku bisa tertawa saat menonton acara tersebut, meskipun setelah itu mewek lagi.

Sayangnya, hanya sedikit video AniShi dan VS Arashi yang ada subtitle-nya. Akhirnya, kadang aku terpaksa menonton tanpa subtitle. Karena kosa kata Bahasa Jepang yang kumiliki nyaris nol, menonton tanpa subtitle itu seperti makan pecel tanpa bumbu kacang. Maksudnya? Nggak ada maksud apa-apa. Cuma biar keren aja pake perumpamaan.

Kamis, 22 September 2016

Not Ranting, Just Whining

“Udah nggak di IPDS lagi mbak?”
“Nggak. Udah ada yang nggantiin.”
“Oh, udah digantiin sama yang lebih jago, ya?”
Deg!

I’m not mad. That’s the fact. Penggantiku memang jauh lebih jago soal TI. Hanya saja kalimat itu memperjelas fakta yang sudah terpampang nyata itu.

Rabu, 31 Agustus 2016

30 and Stay Sane

I've been living in this world for 30 years, 1 month, and several days. Aaand I'm tired. It's not like I want to die, by the way. I just don't know what I want to pursue anymore. Study? No, thank you. Postgraduate is more than enough for me. I don't want to go through research drama anymore. Work? Nah. I don't intend to get higher position. And my job is not interesting anymore. I'm not as eager as the first time I get the job. In the first three years, I did my job earnestly. And then many unpleasant occurences ruined my spirit. I become not so passionate anymore about my job. I just whine and complain. Maybe many people around me are a bit irritated listening to my whining. And my friend in Facebook too.

Selasa, 30 Agustus 2016

Menjejaki Jalan Kenangan

Retrace the path we used to take to go there. Itu poin yang mengena di pikiranku dari Arashi's Discovery oleh Ohno Satoshi hari ini.

Menapaki kembali jalan-jalan yang pernah kulewati. Jadi teringat sewaktu ikut jalan sehat dengan ibu dan adikku tahun lalu. Aku melewati jalan-jalan yang pernah aku lewati dulu, entah saat main ke rumah teman atau bersepeda keliling kampung. Dan ... semuanya terlihat berbeda. Rasanya bukan seperti mengunjungi tempat "bermain"-ku di masa lalu. Rasanya seperti ke tempat asing. Tanah kosong yang dulu penuh ilalang, sekarang sudah jadi komplek perumahan. Rumah-rumah pun terlihat berbeda. Entah memang bangunannya berubah, atau aku yang sudah lebih tinggi sehingga rumah-rumah itu terlihat berbeda.

Jumat, 26 Agustus 2016

Dicubit Doang

Alah, dicubit doang pake ngadu. Dulu gue dipukul pake penggaris biasa aja.
Cuma dicubit gitu. Dulu gue digampar sama guru, santai aja.

Sebagian orang berkomentar demikian ketika membaca berita seorang guru dilaporkan karena mencubit muridnya. Siapa sih yang tidak geram mendengar seorang guru dipidanakan lantaran satu kasus yang (kelihatannya) sepele. Melaporkan seorang guru karena mencubit anak kita kelihatannya berlebihan, ya? Seharusnya kasus seperti ini bisa diselesaikan antara orang tua murid dan pihak sekolah tanpa dibawa ke ranah hukum. Namun, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan si orang tua tersebut kalau membawa kasus itu ke ranah hukum. Itu kan haknya sebagai warga negara. Dia merasa anaknya menjadi korban tindak kekerasan oleh gurunya sehingga melaporkan sang guru.

Minggu, 14 Agustus 2016

Korban SPG Kosmetik

Pagi tadi aku khilaf. Maksud hati ke pasar untuk beli pisang, eh tiba-tiba ada mbak-mbak yang mendekatiku. "Sini, Kak, sebentar aja," katanya sambil menarikku ke meja yang penuh tabung-tabung krim. Aku mau menolak tapi tidak enak. Entah kenapa. "Coba sebentar," katanya sambil langsung mengoleskan krim di tangan kananku. Sebentar kemudian dia membersihkan krim itu dengan handuk basah lalu membersihkan sisa krim yang ada di tangan. "Coba bandingin. Beda kan?" katanya sambil membandingkan tangan kanan dan kiriku. "Ini bisa buat ngilangin jerawat, flek-flek. Dipake kaya masker," dia menunjukkan gambar wajah penuh krim yang ada di papan.

"Kakak ke sawah?" tanyanya. "Nggak." "Ini juga bisa buat alas bedak kalo ke kantor," katanya. "Ini juga bisa dipake suami," katanya lagi. Gue nggak punya suami!

Kamis, 11 Agustus 2016

Wanseponetaim in Pulau Nasi and Pulau Breuh



Aku sudah lama ingin ke Pulau Nasi. Alasannya? Penasaran. Itu doang? Iya. Gara-gara ada blogger yang menceritakan serunya jalan-jalan ke sana aku jadi penasaran. Dan bulan lalu teman dari Traverious menawari ikut open trip ke Pulau Nasi dan Pulau Breuh. Sungguh tawaran yang menggoda. Sayangnya berangkatnya hari Jumat dan itu artinya aku harus membolos sehari. Sewaktu aku bercerita pada ibuku, katanya, “Ya, udah. Nggak papa bolos sehari.” Teman sekantorku juga berkata senada. Merasa didukung untuk membolos, aku pun memutuskan ikut. Saat aku memberitahu ibuku kok ya malah ditanya, “Berarti mbolos sehari?” Lah, kan, udah kasih tahu dari awal, Mak! Kawanku juga bereaksi sama. “Berarti Jumatnya bolos?” Hadeuh. Kali lain kalau ada yang berkata, “Nggak papa bolos sehari.” Aku wajib curiga kalau dia sebenarnya tidak terlalu memperhatikan ceritaku dan komentarnya sekadar komentar keceplosan yang tidak dipikir matang-matang sehingga kurang sahih untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Kamis, 04 Agustus 2016

Warteg

Warteg. Apa yang terpikir di kepalaku ketika mendengar kata warteg alias warung tegal? Yang paling sering muncul di kepalaku adalah kenangan saat menginap di warteg bulikku sewaktu kali pertama datang ke Jakarta. Sekalinya datang ke Jakarta, langsung menginap di warteg dengan bangunan yang terbuat dari triplek dan kamar mandi yang alakadarnya. Aku tidur di lantai atas. Tidur di bangunan sederhana tidak terlalu masalah buatku. Toh cuma beberapa hari. Namun, melihat kamar mandinya yang alakadarnya dan sedikit terbuka aku langsung ribut, "Nggak mau mandi! Nggak mau mandiiiii!" Bulikku pun menyarankan untuk mandi pagi-pagi buta sehingga masih sepi. Akhirnya mandi juga meskipun cemas ada orang yang lewat. Apakah semua warteg seperti itu? Entah yaaa. Melihat bangunan warteg yang rata-rata sederhana, semi permanen, dan sempit, sepertinya memang bukan tempat yang sesuai untuk tempat tinggal. Namun, tempat tinggal pemilik warteg di kampung halamannya jauh berbeda. Di kampungku, semasa rumah orang-orang umumnya masih berlantai ubin biasa (tegel), rumah para pemilik warteg sudah berlantai keramik. Rumah mereka megah. Yah, meskipun sebagian besar cuma jadi rumah kosong karena pemiliknya justru tinggal di Jakarta, di wartegnya yang sederhana.

Selasa, 02 Agustus 2016

Tentang Kamu

Barusan aku melihat di page tentang Bahasa Korea ada yang bertanya bagaimana menyebut "you" dalam Bahasa Korea. Aku ingin menjawab pertanyannya. Namun, karena takut meyesatkan, aku membahasnya di sini saja. Biasanya dalam bahasa tersebut kata ganti orang kedua dalam pembicaraan (lawan bicara, atau "kamu") tidak digunakan. Ada sih, kata ganti orang kedua, misalnya (neo, biasanya digunakan saat bicara dengan teman atau kepada yang lebih muda), 당신 (dangsin, biasanya hanya digunakan oleh pasangan (spouse) atau dalam kondisi marah), 그대 (geudae, hanya digunakan dalam puisi atau lagu). Yang kuingat cuma itu. 

Minggu, 31 Juli 2016

Pertanyaan yang Terlupakan

Dua bulan yang lalu, sewaktu menonton drama Korea Bad Guys, aku mendengar satu kata yang membuatku penasaran. Aku mendengarnya "mania" atau "maniak" apalah itu. Entah kenapa aku penasaran dengan kata itu. Aku pun mencari-cari artinya di kamus. Negative. Aku tidak berhasil menemukan kata yang pelafalannya mirip dengan kata yang kudengar itu.

Aku juga mencoba-coba menggunakan Google Translate. Karena aku tidak tahu tulisan hangeul-nya, aku pun mencoba secara asal. Aku sendiri sudah lupa "kata" ngawur apa saja yang kuketikkan. Sepertinya aku mencoba mengisikan 만히야 (man-hi-ya), 마니아 (ma-ni-a), 만이야 (man-i-ya), lalu mencari artinya dalam Bahasa Inggris. Hasilnya tidak sesuai harapan. Beberapa "kata" yang kumasukkan itu sepertinya sama sekali bukan kata dalam Bahasa Korea.

Rabu, 20 Juli 2016

The Unspoken

Mengejar mimpi itu tidak mudah. Dan ternyata, menyemangati seseorang untuk mengejar mimpinya juga tidak mudah.

Menghadapi kegagalan itu tidak mudah. Menyemangati seseorang untuk mencoba lagi setelah mengalami kegagalan pun ternyata tidak mudah.

Selasa, 28 Juni 2016

Salonpasku Ditolak

Hari Minggu kemarin aku memulai perjalanan mudik. Perjalanan pertama yang kutempuh adalah perjalanan melalui jalan darat naik L300 dari Blangpidie menuju Bandara Cut Nyak Dhien di Nagan Raya untuk naik pesawat ke Kualanamu lalu lanjut naik pesawat ke Soetta. Saat naik L300 di sebelahku ada seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang umurnya sekitar enam tahunan. Belum sampai setengah perjalanan, si adik ini sudah muntah dua kali. Antara sebal dan kasihan. Sebal karena khawatir aku akan ketularan mual setelah mencium aroma muntahnya. Kasihan karena aku tahu rasanya mabuk perjalanan. Mual, pusing, benar-benar tidak nyaman. Aku sendiri sudah memakai dua buah koyo di pusar untuk mencegah mabuk dan Alhamdulillah ampuh. Setelah beberapa kali bolak-balik antara ingin menawari dan enggan menawari karena malu berbicara dengan orang asing, akhirnya aku bertanya apakah si adik sudah memakai Salonpas (aku menyebutnya Salonpas meskipun mereknya Hansaplast) di pusarnya. Ternyata belum. Aku pun menawarkan koyo yang kubawa. Ternyata si adik menolak. Yasudahlah.

Tim Terbaik

Dunia maya sedang ramai. Well, sebenarnya selalu ramai, sih. Tapi, kali ini keramaiannya lumayan membuatku tertarik untuk ikut berkomentar meskipun tidak nyambung. *lah, ngapain komen kalo nggak nyambung???*

Salah satu yang sedang ramai dibahas adalah berita tentang Messi yang pensiun dari timnas Argentina. Meskipun aku tidak suka menonton sepak bola, berita itu tetap saja menarik bagiku. Komentar netizen mengenai hal ini beragam. Yang mengejek? Banyak. Biasa lah yaaa! Internet kan memang taman bermain para bully. Yang mengatakan dia cemen karena pensiun karena masalah yang "gitu doang" dan membanding-bandingkan dengan atlet lain yang pernah mengalami kegagalan tapi tidak menyerah juga banyak. Yah, sesuatu yang "gitu doang" di mata kita bisa jadi sesuatu yang sangat berpengaruh bagi orang lain.

Jumat, 20 Mei 2016

Salah Asuhan?

Aku tidak tahu kenapa, beberapa film anak-anak yang kutonton membuatku berpikir bahwa tokoh villain dalam film tersebut menjadi jahat karena kesalahan didikan orang tua atau orang dewasa yang bertanggung jawab mengasuh mereka. Setidaknya orang-orang dewasa itu turut andil dalam memicu sifat jahat mereka. Film pertama yang membuatku berpikir demikian adalah Alice in Wonderland. Dalam film tersebut diceritakan bahwa Iracebeth (Red Queen) merasa iri pada saudarinya (Mirana, White Queen) karena orang tua mereka dan rakyat kerajaan mereka lebih mencintai saudarinya itu. Mungkin ada yang menjawab, "Salah sendiri dia merasa iri." Atau ada yang berkomentar, "Dia kan jahat. Wajar saja kalau orang-orang lebih mencintai saudarinya." Iya, memang idealnya manusia tidak boleh merasa iri. Namun, rasa iri itu tidak muncul dengan sendirinya. Bisa saja Iracebeth merasa iri karena diperlakukan berbeda dan hal itu memicunya berbuat jahat pada saudarinya dan orang-orang yang menurutnya tidak mencintainya. Karena kejahatannya, dia semakin dibenci. Semakin dibenci, semakin besar pula rasa irinya, semakin jahat pula dia. Seperti lingkaran setan, ya?

Curhat Random Bulan Mei

Lagi-lagi kena blogger's block. Bulan Mei ini aku belum membuat satu post pun di blog. Sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan. Namun, baru menulis setengah, sudah berhenti. Kadang karena di tengah-tengah menulis aku merasa ada yang janggal, entah kurang logis, entah kalimatnya yang aneh, atau mendadak hilang ide melanjutkan tulisan. Akhirnya, semua berakhir di draft. Mau dilanjutkan, bingung juga.