Selasa, 14 Mei 2013

Empat Tahun yang Heboh

Hari ini aku baru ingat bahwa 3 Mei 2013 lalu genap empat tahun aku menginjakkan kaki di tanah rencong. Dan 5 Mei 2013 kemarin aku genap empat tahun ditempatkan di Aceh Barat Daya. Yang kuingat justru anniversary blog-ku yang kedua 23 Mei nanti. Ternyata sudah empat tahun aku di sini, ya? Time flies so fast, huh? Rasanya baru kemarin muntah di pesawat, baru kemarin muntah di mobil bos dalam perjalanan Banda Aceh – Lhokseumawe. Eh, tapi setelah membaca pernyataanku yang merasa bahwa waktu berlalu sangat cepat jangan menuduhku sudah sangat betah di Aceh, ya. Aku juga masih mau pindah ke Jawa, hehehe...

Kalau diingat-ingat banyak juga hal heboh yang kualami selama  empat tahun. Tahun 2009 adalah tahun adaptasi, penuh dengan culture shock, penuh dengan pengalaman pertama. Tahun adaptasi karena pada saat itu aku harus membiasakan diri tinggal di tempat yang minim fasilitas terutama fasilitas internet. Saat itu di Blangpidie cuma ada sedikit warnet, kecepatannya pun kurang memuaskan). Aku juga harus beradaptasi dengan makanan di sini. Saat itu sedikit sekali rumah makan yang menyajikan makanan selain makanan Aceh. Di tahun 2009 pertama kalinya aku melihat yang namanya meugang (semacam syukuran menyambut Ramadhan), melihat orang ramai mandi di sungai dan pantai. Di tahun itu pula pertama kalinya aku merasakan hebohnya perjuangan untuk mudik dengan pesawat terbang. Dan di tahun itu pula pertama kalinya aku mengurus KTP karena untuk membuat rekening di bank setempat harus memiliki KTP lokal. Sebelumnya sewaktu di Jawa aku tinggal titip berkas pada tetanggaku – yang menjabat Ketua RT – lalu beberapa hari kemudian KTP sudah diantar ke rumah.

Jumat, 10 Mei 2013

Kenapa Fiksi?

“Itu novel semua?” tanya seseorang ketika melihat setumpuk buku yang kubeli. Aku mengangguk. Sebagian besar memang novel, kecuali dua buku: Indonesia Mengajar dan Selimut Debu. Kemudian dia pun berkomentar bahwa aku tidak membeli buku yang bisa menambah ilmu.

Apakah kita tidak bisa mendapat ilmu dari novel atau cerita fiksi lainnya? Hmm, tidak juga. Memang banyak novel – atau buku fiksi lainnya – yang (menurutku) tidak ‘menyampaikan’ ilmu bagi para pembacanya. Memang ada novel yang (menurutku) hanya mengandung unsur hiburan. Akan tetapi, tidak sedikit juga novel yang ceritanya mengandung ilmu atau hikmah, misalnya Toto-chan, trilogi Negeri 5 Menara, Serial Anak-anak Mamak, atau novel-novel lainnya. Ada banyak pesan moral yang terselip di dalamnya. Itu ilmu juga, kan? Ada juga novel yang kental sekali pesan ideologisnya, seperti Kemi dan The Lost Java. Dan satu yang kadang kita lupa, ketika kita membaca lebih dalam, kita bisa menemukan ‘hikmah’ dari sebuah buku yang kelihatannya sama sekali tidak mengandung nilai moral. Seperti ketika melihat apel jatuh. Orang lain mungkin mengabaikan apel jatuh tersebut. Tapi, seorang Isaac Newton bisa ‘menemukan’ teori gravitasi bumi ‘hanya’ karena melihat apel jatuh.

Kamis, 02 Mei 2013

Hoax Lagi, Kali Ini Bawa-bawa Nama Ustadz

Berita kematian salah seorang ustadz beberapa hari lalu benar-benar berdampak mengerikan. Muncul berita-berita yang menurutku, sih, bohong. Mulai dari berita munculnya awan berbentuk orang yang sedang berdoa, makamnya semerbak, si ustadz punya 'penjaga', sampai munculnya tujuh kyai di upacara pemakaman. Kalau berita tentang awan berbentuk orang berdoa dan makam yang baunya semerbak, aku tidak terlalu peduli karena tidak ada yang membagikan berita tersebut padaku. Sedangkan berita munculnya tujuh kyai di upacara pemakaman lumayan membuatku merasa 'ngeri'. Bukan ngeri karena penampakannya melainkan ngeri membayangkan dampaknya apabila banyak yang percaya.

Ceritanya begini... Ada seseorang yang membuat post di salauh satu group Facebook yang kuikuti tentang sahabat si almarhum ustadz yang melihat kemunculan si ustadz bersama tujuh kyai di upacara pemakaman si ustadz lalu si ustadz memberi pesan bahwa kiamat sudah dekat. Aku langsung berkomentar, “Kayaknya hoax, deh!” Kemunculan tujuh orang kyai di pemakaman (yang hanya bisa dilihat kawan dan anak si ustadz tadi) saja sudah membuatku curiga kalau itu hoax. Terlalu lebay dan sumbernya juga tidak jelas. Tidak ada berita yang menyebutkan sahabat si ustadz tadi diwawancarai mengenai kejadian dia melihat tujuh kyai di pemakaman. Ditambah lagi dalam post tersebut ada kata-kata lebih kurang sebagai berikut, “Sebarkan ke semua kontak. Saya sudah BC dan beberapa jam kemudian saya mendapatkan kabar baik.” Membaca kalimat itu aku semakin yakin bahwa berita tersebut adalah hoax. Salah satu ciri khas hoax adalah beritanya lebay. Dan hoax tentang agama biasanya dibumbui dengan ancaman akan celaka kalau tidak menyebarkan berita atau akan beruntung setelah menyebarkan berita. Memangnya si penyebar hoax itu punya kekuasaan apa sampai bisa membuat seseorang beruntung ataupun celaka? Memangnya dia Tuhan?

Rabu, 24 April 2013

Antre, Dong! (Episode 2)

Masih ingat ceritaku ketika hampir diserobot seseorang ketika mengantre di SPBU? Pernah kuceritakan di tulisan ini. Hari Kamis yang lalu aku mengalami kejadian yang sama. Di SPBU yang sama, hanya saja barisan antreannya berbeda.

Waktu kejadian yang dulu, aku berhasil mencegah orang menyalip antrean. Akan tetapi, hari Kamis yang lalu aku gagal mencegahnya. Aku sebenarnya sudah curiga karena ada orang yang mengambil posisi di sebelah kiriku, bukannya sebelah kananku (antriannya ada dua barisan). Padahal posisi di sebelah kananku lebih luas karena aku (bermaksud) memang mengantri di sebelah kiri. Aku tidak ingat waktu itu sedang memperhatikan apa. Yang jelas aku lengah. Ketika orang di depanku maju, orang  yang mengambil posisi di sebelah kiriku itu tiba-tiba menyelip di celah kecil antara motorku dan motor di depanku. Refleks aku langsung berkata padanya, "Ngapain, Bang?" Orang itu cuma menoleh dan sepertinya bingung mau menjelaskan alasannya. Langsung kulanjutkan omelanku, "Antre, dong!" Tanpa kusadari suaraku saat itu benar-benar melengking dan sepertinya terdengar sampai seluruh penjuru SPBU. Orang tadi menjawab, "Na dua boh (Ada dua buah [antrian])." Aku masih belum terima. Kujawab lagi, "Di sebelah kanan, kan, bisa!" Memang seharusnya dia antre di sebelah kanan, kan? Masa dia tidak lihat aku antre di sebelah kiri? Dia diam saja.


Senin, 22 April 2013

Mahalnya Pendataan

"Buat apa uang sebanyak itu untuk sensus sapi? Daripada untuk pendataan mending langsung diberikan sebagai bantuan untuk peternak saja." Pernah mendengar kalimat seperti itu? Atau jangan-jangan pernah mengucapkannya?

Uang sekian miliar bisa saja langsung diberikan kepada para peternak dalam bentuk uang atau bibit ternak. Tapi, siapa saja peternak yang akan diberi bantuan? Bagaimana distribusi bantuannya? Apakah dibagi rata masing-masing desa sekian juta? Atau dibagi menurut proporsi berdasarkan jumlah peternak dan populasi ternak yang ada di desa? Lantas bagaimana cara mengetahui jumlah peternak di masing-masing desa? Kalau tidak ada data yang tepat mengenai jumlah peternak, bagaimana bisa membagikan bantuan sesuai kebutuhan masing-masing desa? Untuk itulah diperlukan pendataan. Agar didapatkan data yang akurat sehingga bisa diketahui daerah mana saja yang menjadi konsentrasi peternak, daerah mana saja yang banyak ternaknya, daerah mana saja yang perlu diprioritaskan untuk diberi bantuan, dan sebagainya.

Dengan melakukan pendataan, kita bisa mendapatkan data akurat yang bisa digunakan dalam waktu panjang. Kita memang harus mengeluarkan dana yang cukup besar untuk pendataan tersebut. Mungkin kesannya mubadzir. Tapi, bila kita menggunakan dana tersebut untuk memberikan bantuan tanpa ada data peternak yang akurat, bukankah akan lebih mubadzir? Tanpa data yang akurat, bukankah besar sekali kemungkinan dana bantuan tersebut tidak tepat sasaran?

Kamis, 18 April 2013

Hoax Melulu

Sering wara-wiri di Facebook? Kalau sering, mestinya pernah (atau malah sering) membaca artikel sebuah Page yang banyak di-share oleh teman-teman kita di Facebook. Kalau artikelnya benar dan bagus, sih, tidak apa-apa. Yang menyebalkan adalah kalau artikelnya bohong alias hoax. Misalnya artikel tentang orang yang mengonsumsi seafood dengan jus jeruk (atau minuman lain yang mengandung vitamin C) lalu keluar darah dari panca inderanya kemudian meninggal atau artikel tentang orang yang mengonsumsi mie instan dan cokelat lalu keluar nanah dari panca inderanya kemudian meninggal. Artikelnya terlihat sangat ilmiah dengan mencantumkan nama-nama senyawa yang asing di telinga orang awam seperti diriku dikuatkan pula dengan mencantumkan rumus ilmiahnya. Kalimat di artikelnya pun sangat meyakinkan dan membuat pembacanya tergerak untuk menyebarkannya. Misalnya kalimat, “Kalau kalian menganggap artikel ini penting dan kalian menyayangi teman-teman kalian, bagikan artikel ini.”

Parahnya, yang kerap memublikasikan artikel semacam ini di Facebook adalah Page yang pengikutnya lumayan banyak. Kalau pengikutnya ada seribu dan semuanya membagikan (share) artikel tersebut lalu dibaca oleh kawan-kawan mereka, berapa banyak orang yang ‘tertipu’? Bagaimana kalau orang tersebut juga memublikasikannya di web-nya lalu dibaca ribuan orang? Berapa orang lagi yang ‘tertipu’? ‘Penipuan’ berantai itu namanya.

Rabu, 17 April 2013

Kulina Ngoko

Wingi aku olih sms sing nomere kakange aku. Basane nganggo basa kromo. Pancen dasare akune rada-rada mblunat, sms nganggo basa kromo yang diwalese nganggo basa ngoko. Padahal sing sms kakange, sing berarti luwih tuwa. Pimen maning, yah. Wis kulina awit cilik ngomong karo kakange nganggo basa ngoko, loken ujug-ujug pas sms nganggo basa kromo?

Tuli aku langsung mikir, "Aja-aja mau sing sms dudu kakange aku tapi bojone mulane basane kromo." Langsung tak sms maning nggo mastikna kuwe temenan sms-e kakange aku atawa bojone. Jebule pancen sms sing kakange aku.

Panen angger wis kulina nganggo basa ngoko pan nganggo basa kromo kayong angel. Rasane wagu nemen. Padahal tah lagi sekolah SD nganti SMP diwarahi basa kromo. Tapi, ya, tetep bae aneh. Wong judule wis kulina. Aja maning karo kakange, wong karo Abah karo Ibu be seringe nganggo basa ngoko, ka. Yen ditakoni semaure "iya", "ora". Padahal wong-wong liyane yen ditakoni wong tua semaure "nggih" atawa "mboten". Paling ngger lagi bener pas ditakoni, "Wis mangan durung?" jawabe, "Sampun." Uwis, samono tok kromone. Bar kuwe ya ngoko maning.

Jumat, 12 April 2013

Gara-gara Dubbing

Beberapa minggu belakangan aku jadi bisa menonton televisi karena ruangan kerjaku pindah sementara. Karena harus meng-entry Susenas dan kabel jaringannya tidak cukup panjang untuk ditarik sampai ke ruanganku, aku terpaksa pindah ke aula karena server-nya di situ. Dan sembari meng-entry kami menonton televisi.

Acara yang kutonton pada sore hari adalah Rooftop Prince. Dan ketika mendengar 'suara' pemainnya aku langsung berkomentar, "Dubbing-nya jelek! Kaya yang di sinetron terbang-terbang!" Tahu, kan, sinetron terbang-terbang? Itu, lho, sinetron yang ceritanya ada naga-naganya, yang kadang ceritanya dicampur-campur antara bawang merah dan bawang putih dengan cerita seribu satu malam. Kreatif, sih. Tapi ganjil. Dan ketika menonton drama Korea yang suaranya dubber-nya sama dengan suara dubber di sinetron terbang-terbang itu, aku jadi merasa gimanaaaaa gitu. Ditambah lagi suara dubber-nya pun sama dengan suara dubber di film-film India. Rasanya aneh mendengar 'suara' Yoochun sama dengan 'suara' Shakrukh Khan. Hadeuh!

Selasa, 09 April 2013

Kapan Nikah?

Ketika seorang perempuan sudah mencapai umur 25 tahun biasanya akan ditodong dengan pertanyaan, "Kapan nikah?" Ketika satu per satu temannya menikah dia pun ditanya, "Kapan nyusul temannya?" Ketika dia tak kunjung menemukan pendamping hidup orang-orang bertanya, "Kamu nyari yang kayak gimana, sih?" Ketika usia semakin matang dan pasangan hidup pun tak kunjung datang kalimat yang muncul dari orang-orang adalah: "Kamu nyari yang kaya gimana? Jadi orang jangan pilih-pilih!"

Reaksi para lajang pun berbeda-beda. Ada yang cuek, ada yang cukup tersenyum, ada menjawab dengan gurauan, ada yang langsung galau, ada yang mendadak bete lalu misuh dalam hati, "Lambemuuuuuu!" Iya, yang terakhir itu reaksiku. Risih sekali rasanya ditanya kapan menikah. Ngomong-ngomong tentang pertanyaan "kapan nikah", kebanyakan yang mengajukan pertanyaan itu justru dari luar keluarga inti. Ini berdasarkan pengalaman pribadi. Yang nyinyir menanyakan kapan aku menikah justru bukan Abah atau Ibu melainkan omku. Awalnya aku mencoba menjawab diplomatis, "Nanti, kalau sudah waktunya." Eh, omku malah menyahut, "Lah, sekarang, kan, sudah waktunya." Suasana hatiku mendadak buruk. Ingin sekali aku menjawab, "Situ siapa? Situ Tuhan? Yang ngatur waktu orang ketemu jodoh, kan, Tuhan. Kok, berani-beraninya situ bilang aku udah waktunya nikah?" Untungnya waktu itu aku hanya diam. Tapi, tetap saja dengan muka ditekuk. Bete.

Hal menyebalkan lainnya adalah ketika ada teman menikah lalu ditodong, "Kapan nyusul? Teman-teman seangkatanmu udah nikah semua, lho!" Hellooooo! Ini bukan pertandingan, ya, sodara-sodara! Kalau teman seumuran sudah banyak yang menikah, bukan berarti yang lajang harus buru-buru menikah. Tidak ada patokan pasti. Memangnya imunisasi, kalau sudah sembilan bulan waktunya imunisasi campak. Jadinya kalau orang sudah 25 tahun langsung ditodong, "Dua puluh lima tahun, kan, waktunya nikah!"

Jumat, 05 April 2013

Bahagia itu...

"Mengumpulkan uang?! Pamanku mencari uang seumur hidupnya. Dan apa yang dia dapat sekarang? Hanya segudang uang yang dingin dan tidak peduli padamu."

"Iya, pamanku juga tidak punya teman! Dia juga tidak peduli dengan saudara-saudaranya. Apa gunanya kaya-raya kalau tidak menikmati hidup?!"

Percakapan di atas adalah percakapan antara Donal Bebek dan Hilman Mukamalas yang mengomentari paman-paman mereka: Gober Bebek dan Gover Bebek, dalam Album Donal Bebek edisi Ulang Tahun Gover. Percakapan mereka membuatku teringat pada satu prinsip yang kadang terlupakan: standar kebahagiaan setiap orang berbeda-beda. Ada yang kebahagiaannya diukur dari banyaknya uang yang didapatkan, misalnya seperti Gober Bebek. Dia begitu gembira melihat tumpukan uangnya dan berenang di dalamnya. Lantas, apakah orang lain juga harus mengukur kebahagiaannya dengan jumlah uang (harta) yang dimiliki? Tentu tidak. Ada, kok, yang tetap bergembira meskipun tidak memiliki banyak uang. Contohnya Donal Bebek. Kalau Donal, sih, bahagianya kalau biasa membuat tetangganya -- sekaligus musuh bebuyutannya -- kesal, hehehe!

Kamis, 28 Maret 2013

Bliss: Novel tentang Kue dan Sihir

Foto ala kadarnya.

Toko roti Bliss. Itu adalah nama toko roti milik Albert dan Purdy Bliss yang ada di Calamity Falls. Kalau kau mengira itu adalah toko roti biasa, kau salah besar. Itu adalah toko roti yang tidak biasa. Kau tahu kenapa? Karena Albert dan Purdy Bliss membuat kue dengan menggunakan SIHIR! Rosemary, putri mereka, mengetahuinya ketika ia berumur sepuluh tahun. Rose melihat ibunya, Purdy, mencampurkan halilintar ke adonan kue sambil berkata, “Electro Correcto.” Kue tersebut kemudian diberikan pada seorang anak yang sedang sekarat karena tersambar petir. Dan setelah memakan kue itu, anak itu sembuh! Sejak saat itulah dia beberapa kali melihat orang tuanya mengatasi masalah di Calamity Falls dengan kue sihir mereka.

Hingga kemudian Albert dan Purdy harus ke luar kota dan meninggalkan Rose bersama ketiga saudaranya: Thyme atau Ty, Sage, dan Parsley atau Leigh. Sebelum mereka berdua pergi, mereka menunjukkan ruang rahasia tempat penyimpanan Bliss Cookery Booke – buku berisi resep-resep rahasia keluarga Bliss – pada keempat anak mereka. Albert menitipkan kunci ruangan tersebut pada Rose, dengan satu catatan: TIDAK BOLEH ADA SIHIR.

Tak lama setelah Albert dan Purdy meninggalkan rumah, seorang wanita cantik datang ke rumah mereka. Namanya Lily. Dia mengaku kepada Rose dan ketiga saudaranya sebagai bibi mereka, atau lebih tepatnya sebagai sepupu generasi keempat Purdy. Rose merasa ada yang aneh dengan Lily. Tapi, Ty dan Sage justru sangat menyukai Lily. Ty dan Sage bahkan beberapa kali hendak memberitahukan mengenai Bliss Cookery Booke pada Lily tapi dicegah oleh Rose. Kemudian Rose mengambil jalan tengah: mereka menyalin beberapa resep dari buku tersebut, mempelajarinya, lalu mengajarkannya pada Lily.

Sabtu, 23 Maret 2013

Life of Pi, Novel tentang Perjuangan untuk Bertahan Hidup

Si sapi dan novel Life of Pi
Memang benar, orang-orang yang kita jumpai bisa mengubah kita, kadang-kadang begitu hebat perubahan itu, sehingga kita tidak lagi sama sesudahnya, termasuk nama kita.


Nama lengkapnya Piscine Molitor Patel. Sebenarnya nama panggilannya adalah Piscine. Namun, karena kata Piscine sering dipelesetkan menjadi pissing, dia mengubah nama panggilannya menjadi Pi, sebuah konstanta bernilai 3,14.

Ayah Pi, Santosh Patel, adalah pemilik Kebun Binatang Pondicherry. Di kebun binatang itulah Pi belajar mengenai tingkah laku binatang, jarak ‘aman’ mendekati masing-masing binatang, sampai teori makhluk super-alfa. Agar binatang patuh pada manusia, manusia harus menunjukkan kepada mereka bahwa manusia adalah makhluk super-alfa, makhluk yang paling kuat, sedangkan para binatang adalah makhluk beta, gamma, dan omega. Binatang tipe omega – binatang yang status sosialnya paling rendah di antara kelompoknya – inilah yang biasanya paling patuh pada manusia.

Sayang sekali, kebun binatang tempat Pi belajar dan bermain itu harus ditutup. Situasi politik yang buruk membuat ayah Pi memutuskan untuk membawa keluarganya pindah ke Canada. Kebun binatang mereka dijual. Binatang-binatang di sana juga dijual ke kebun-kebun binatang di Amerika. Keluarga Patel (Santosh Patel, istrinya, dan kedua putranya: Ravi dan Pi) – bersama binatang-binatang dari Kebun Binatang Pondicherry – meninggalkan Madras menuju Canada pada 21 Juni 1977 menumpang kapal Tsimtsum. Mereka berlayar menyeberangi Teluk Bengal, terus ke Selat Malaka, mengitari Singapura, terus ke Manila, hingga ke Samudra Pasifik. Di sinilah bencana datang. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam. Sebelum kapal tenggelam, beberapa awak kapal melemparkan Pi ke sekoci. Setelah itu seekor zebra melompat ke dalam sekoci tersebut.

Kamis, 21 Maret 2013

Bukan Resensi

Sampai saat ini aku tidak berani menyebut review buku di blog ini sebagai resensi. Kenapa? Karena menurutku review buku yang kutulis di blog ini belum memenuhi syarat sebagai resensi. Unsur pertama dalam penulisan resensi adalah data buku, yang terdiri atas judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit (dan cetakannya), tebal buku (atau jumlah halaman), dan kadang ada juga yang mencantumkan harga. Yang sering terlewatkan dalam review yang kubuat adalah tahun terbit. Misalnya di review buku Negeri van Oranje. Karena aku tidak menulis tahun terbitnya, ada yang menanyakan apakah buku yang kuceritakan itu buku baru atau buku lama. Aku juga beberapa kali tidak menyebutkan penerbit dari buku yang kuceritakan. Biasanya, sih, karena malas. Kalau harga? Hmmm, malas juga menyebutkan harga buku yang ku-review. Nanti orang-orang tahu betapa kayanya aku kalau melihat harga-harga buku yang ku-review. Nah, dari unsur pertama saja ada yang tidak kupenuhi. Jadi, review-ku belum bisa dikategorikan resensi.

Kamis, 14 Maret 2013

Papap, I Love You

Semua orang pasti ingin rumah tangganya berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan Bima. Sayangnya rumah tangganya dengan Rayna tidak berjalan mulus. Bima merasa Rayna terlalu mengejar kesempurnaan. Dalam kariernya, Rayna terus mengejar posisi yang lebih tinggi. Seakan tidak pernah merasa puas. Dan kadang, dia lebih mengutamakan pekerjaan daripada Kaka, putranya. Sampai-sampai Kaka jauh lebih dekat dengan Papapnya – Bima – dibandingkan Mamanya. Selain mengejar kesempurnaan untuk dirinya, Rayna juga kerap menuntut kesempurnaan dari Bima, bahkan Kaka. Dia menuntut Bima untuk berusaha meningkatkan kariernya. Dia menuntut Kaka untuk mendapatkan nilai yang tinggi di sekolah – tentunya tinggi dalam standarnya. Kalau Bima menganggap Rayna terlalu mengejar kesempurnaan, Rayna menganggap Bima sebaliknya. Di mata Rayna, Bima adalah sosok yang terlalu mudah puas. Bima tidak memiliki cukup ambisi untuk meningkatkan kariernya. Bima juga kurang inisiatif dalam rumah tangga mereka.

Dan sesuatu yang lebih menyakitkan pun terjadi. Rayna mengaku bahwa ia berselingkuh dengan Denny, sahabat Bima. Pernikahan mereka yang sudah berjalan enam tahun pun berakhir dengan perceraian. Rayna menikah lagi – dengan Denny. Kaka tinggal bersama Rayna dan bila akhir pekan dia menginap di rumah Bima – tepatnya rumah ibu Bima. Selesaikah masalahnya? Tidak. Justru itu adalah awal dari masalah-masalah yang lain, mulai dari kecemburuan Bima ketika Kaka akrab dengan Denny, Kaka yang sulit sekali diatur oleh Rayna – tapi sebaliknya justru sangat patuh pada Bima, pertengkaran Bima dan Rayna tentang cara mendidik Kaka, sampai masalah ketika Kaka kabur dari rumah karena dimarahi Rayna.

Selasa, 12 Maret 2013

Blogger's Block

Sudah beberapa pekan aku tidak membuat tulisan baru di blog ini -- kecuali post pengumuman pemenang giveaway. Mungkin bisa dibilang aku terkena writer's block. Eh, bukan. Mungkin tepatnya blogger's block. Alasannya? Banyak. Tapi tidak ada alasan yang spesifik.

Beberapa hari pertama aku sudah memiliki ide tentang "berita dari sahabat" dan sudah menulis satu paragraf tapi kubatalkan karena berpikir, "Ngapain nulis kaya gitu?" Penyebabnya adalah ide yang hendak kutulis itu terlalu emosional. Emosional di sini bukan berarti marah-marah melainkan terlalu banyak menunjukkan perasaanku baik sedih maupun kecewa. Bagaimanapun aku mencoba menggunakan bahasa netral dalam tulisan itu, tetap saja aku merasakan emosi yang kuat dalam tulisan itu. Akhirnya tidak kulanjutkan tulisan itu.

Aku juga sempat berniat menuliskan kekecewaanku pada salah satu penyelenggara lomba yang ternyata memajukan deadline. Padahal aku sudah susah payah membuat tulisan dan mengejar deadline (yang belum dimajukan) tapi tetap saja aku terlambat. Kubatalkan menulis tentang itu karena sudah pasti akan lebih emosional dari tulisan yang kutunda sebelumnya dan berpotensi menyudutkan pihak penyelenggara lomba. Aku tidak mau dianggap menyudutkan pihak lain.

Jumat, 08 Maret 2013

Pengumuman Pemenang GA Gendu-gendu Rasa Perantau

Alhamdulillaah, akhirnya Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau terlaksana dengan lancar. Setelah awalnya ketar-ketir karena pesertanya hanya sedikit, ternyata pesertanya mencapai 41 blogger. Padahal di minggu pertama aku sempat menurunkan target jumlah peserta. Tadinya aku berharap peserta mencapai dua puluhan. Tapi, di beberapa hari pertama pesertanya sangat sedikit. Jadi, aku cuma berharap pesertanya mencapai minimal lima orang, sesuai jatah hadiah. Eh, ternyata lama-lama terus bertambah pesertanya.

Sebelum mengumumkan pemenang, aku ingin meminta maaf pada para peserta yang merasa tulisannya tidak dikomentari oleh penyelenggara giveaway. Sebenarnya aku sudah mengunjungi blog-nya dan membaca tulisannya tapi tidak sempat komentar karena keterbatasan waktu dalam blogwalking beberapa pekan terakhir. Dan maaf juga pada teman-teman yang meminta giveaway ini diundur. Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. Semoga dimaafkan, yaaa!

Lalu, siapa saja pemenang giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau ini? Setelah mendapatkan nilai rata-rata dari penilaian kedua juri (Nurin dan Millati Indah), diperoleh lima peserta dengan nilai tertinggi. Kelima peserta tersebut adalah:

Kamis, 28 Februari 2013

Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau

Sewaktu ulang tahun pertama blog ini ada beberapa teman yang menodongku untuk mengadakan giveaway. Salah satunya Mbak Octa. Awalnya, sih, maleees... Apalagi aku bingung membayangkan kalau nanti harus menilai tulisan para peserta. Tapi, setelah menemukan satu korban yang dengan suka rela bersedia menjadi juri, yaitu Nurin, aku pun memberanikan diri mengadakan giveaway.
Bismillaahirrohmaanirohiim
Dengan ini kami mengundang teman-teman blogger perantau dan mantan perantau untuk berpartisipasi dalam Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau. Gendu-gendu rasa itu apa artinya? Mbuh. Aku juga tidak yakin, hehehe... Semacam berbagi rasa, mungkin.
Siapa saja yang diundang dalam perhelatan akbar ini? Ini dia ketentuan pesertanya:

Jumat, 22 Februari 2013

Mutung Belajar Bahasa Aceh

"Ka meuthon-thon tinggay di Aceh, mantong hana caroeng basa Aceh (Sudah bertahun-tahun tinggal di Aceh, masih belum pandai Bahasa Aceh)," komentar seseorang terhadap aku yang belum terlalu mengerti Bahasa Aceh. Yang lain pun berkomentar senada, "Udah tinggal tiga tahun lebih di sini mestinya udah pandai basa Aceh." Atau komentar begini, "Itu si A baru setahun di sini udah pandai ngomong basa Aceh." Aku cuma tersenyum. Kecut.

Apa aku sama sekali tidak belajar bahasa daerah tersebut? Sebenarnya aku belajar. Bahkan, sewaktu awal penempatan aku sangat semangat belajar. Aku meminta kawanku menerjemahkan beberapa kalimat dasar ke dalam Bahasa Aceh. Misalnya seperti di bawah ini:
Apa kabar? -- Peu haba?
Kabar baik -- Haba geut
Sudah makan? -- Kalheuh pajoh bu? (literally it means "sudah makan nasi?")
Mau pergi ke mana? -- Ho jak? (literally it means "ke mana pergi?")

Aku pun beberapa kali memberanikan diri bicara dalam Bahasa Aceh. Hingga suatu ketika aku membaca nama sebuah desa yang tertulis "Bineh Krueng". Seseorang tertawa ketika mendengarku melafalkan kata "krueng" (krueng = sungai) sama seperti tulisannya, kru-eng. Padahal mestinya aku melafalkannya "krung". Gara-gara ditertawakan begitu aku langsung ngambek, mutung, bin pundung. Aku tidak mau lagi bicara dalam Bahasa Aceh. Aku bukan orang Aceh, bahasa ibuku juga bukan Bahasa Aceh. Bahasa ibuku adalah Bahasa Jawa ngapak. Di sekolah pun aku hanya diajari Bahasa Jawa (bukan ngapak), tidak diajari bahasa daerah lain. Jadi, wajar saja kalau aku tidak fasih berbahasa Aceh. Kenapa mesti ditertawakan? Toh, selama ini kawanku yang orang Sunda tidak tertawa ketika aku keliru dalam berbahasa Sunda. Kawanku yang orang Batak juga tidak menertawakanku ketika logatku aneh saat mencoba menggunakan Bahasa Batak. Yaaah, malah jadi curhat.

Sabtu, 16 Februari 2013

Eksotisme Pantai Barat Aceh

Sewaktu pertama kali ditugaskan di Aceh, aku bertekad untuk menjadikan tugas ini sebagai wisata, baik wisata alam, wisata budaya, maupun wisata kuliner. Aku berwisata budaya dengan melihat upacara adat misalnya dalam pesta pernikahan. Aku jadi bisa melihat dari dekat bagaimana upacara ketika dara baroe (mempelai wanita) diantar ke kediaman linto baroe (mempelai pria). Aku jadi tahu bagaimana variasi pelaminan di Aceh. Selain itu aku juga sedikit belajar bahasa daerah di Aceh. Sampai saat ini aku sedikit belajar Bahasa Aceh dan Jamee (mirip dengan Bahasa Minang). Padahal di Aceh ada banyak bahasa daerah yang lain misalnya Bahasa Gayo dan Alas. Wisata kuliner kunikmati dengan mencicipi berbagai makanan khas Aceh, terutama kuenya. Ada kue sepit, keukara, apam, dan yang paling ekstrim adalah makan ketan dengan kuah durian.

Kalau wisata alam? Naaah, ini dia yang paling nendang. Aku tak menyangka alam Aceh sangat mempesona. Biarpun pernah mendengar tentang Danau Laut Tawar, aku tidak menyangka danaunya begitu indah.

Danau Laut Tawar

Yang lebih tak terduga adalah pantainya. Beyond my imagination. Selama ini aku baru mengunjungi pantai barat Aceh jadi tidak bisa menceritakan pantai timurnya. Pantai barat Aceh sangat eksotis karena sebagian lokasinya berdekatan dengan perbukitan. Kalau kita melakukan perjalanan darat lewat jalan nasional di jalur barat, kita dapat menikmati keindahan pantai-pantai tersebut terutama di wilayah Geurutee (ini masuk Aceh Jaya atau Aceh Besar, ya?), Tapaktuan, Samadua, dan Sawang (ketiga daerah ini merupakan kecamatan di Aceh Selatan). Biarpun medannya membuat perut serasa dikocok-kocok, semua itu terbayarkan oleh keindahan yang dinikmati dalam perjalanan (tentunya kalau perjalanannya bukan pada malam hari). Kalau di Aceh Selatan pantainya berpasir putih dan berkarang. Aku terobsesi membuat foto postwedding di sana, tapi entah kapan, hahaha! Seperti apa pemandangan pantainya? Lihat saja gambar-gambar berikut:
Pantai Rindu Alam, Tapaktuan

Pemandangan dari karang di Pantai Rindu Alam

Aceh Selatan (entah tepatnya di mana, lupa)

Kamis, 07 Februari 2013

Collecting Raindrops (After the Rain)

I'm still obsessed to raindrops. I was trying to capture raindrops but the results are still not as good as my expectation.

Raindrops in the tiny flower

Above is picture that I took three days ago in the afternoon. The weather was cloudy so there was no sufficient light to make a clear picture. Hey, did I blame the weather? Ops!
Two pictures below were taken at the same time as before. Still not so good as I hope.

Raindrops on (or under?) the leaf, ready to drop (again)