“Kamu nanti kuliah mau ngambil jurusan apa?” tanya sang kakak pada
adiknya.
Setelah berpikir sejenak sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
“Memangnya cita-citamu apa?” tanya sang kakak lagi.
Lagi lagi sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
Sang kakak pun kesal hingga kemudian berkata, “Orang hidup, kok, nggak
punya cita-cita.”
Datar, tanpa tekanan, tapi kata-kata itu sudah menggoreskan luka yang
bekasnya takkan hilang seumur hidup.
Benar apa yang di-sirat-kan oleh kakaknya adalah hal yang benar bahwa orang
hidup seharusnya punya cita-cita. Tapi, sayangnya dia tidak tahu apa
cita-citanya. Yang dia tahu selama ini hanyalah sekolah, mendapat rangking
bagus, serta lulus dengan nilai memuaskan. Setelah itu? Sama sekali tak pernah
ia pikirkan masak-masak.
Dia teringat masa kecilnya. Ketika kebanyakan anak kecil di-kudang
oleh orang tuanya agar menjadi dokter, ayahnya justru ‘mencekokinya’ dengan
cita-cita menjadi mubalighoh. Ayahnya ingin agar dia belajar ilmu agama lalu
menjadi seorang penceramah. Anak kecil tentu saja masih sekadar menjawab ‘iya’ atas
‘arahan’ orangtuanya. Dia pun menyimpan cita-cita mulia menjadi mubalighoh.
Setelah beranjak remaja, dia pun melupakan kudang-an ayahnya agar dia menjadi
mubalighoh. Saat kelas enam SD dia justru sempat berkeinginan menjadi pemain
band yang ahli memainkan berbagai alat musik: piano, gitar, drum, biola, dan
sekaligus menjadi vokalisnya. Tapi, lagi-lagi keinginan itu cuma numpang lewat
di kepalanya. Hal tersebut juga didukung jiwa premannya yang jauh lebih dominan
dibandingkan jiwa religiusnya. Sebentar kemudian, sudah hilang cita-cita itu.
Saat lulus SD, kakak tertuanya masuk kuliah di Fakultas Pertanian. Jiwa
labilnya membuat dia bercita-cita untuk kuliah di fakultas yang sama dengan
kakaknya kelak. Dan lagi-lagi, cita-cita itu numpang lewat. Seperti angin yang
dengan mudah berhembus datang dan pergi. Dia menjalani hidup tanpa tahu kelak
ingin menjadi apa, ingin kuliah di mana, ingin kerja sebagai apa. Dia hanya
tahu sekolah dan bermain.




