Jumat, 15 Januari 2016

2015-ku

Rasanya baru beberapa bulan yang lalu aku membuat tulisan 2014-ku. Sekarang sudah masuk tahun 2016. Berarti sudah waktunya mendokumentasikan kedudulan-kedudulan di tahun 2015 sebelum kenangan itu menguap seiring otakku yang makin susah mengingat.

Karena Standar Kita Berbeda

“IPK-ku paling rendah dibandingin temen-temen satu bimbingan,” keluh seorang teman yang cumlaude.
“Nilai-nilaiku AB semua. Targetku kan A,” kata seseorang pada temannya yang baru saja melihat kalau dia sendiri mendapat satu nilai B-.
“Masa ya nilaiku A-. Padahal si X dapet A,” begitu obrolan yang didengar Y. Si Y, yang mendapat nilai B- ingin menyela obrolan mereka dan berkata, “Man, lo untung dapet A-. Gue B-. Dikit lagi nggak lulus gue!” Tapi, dia urung mengatakannya.
 

Kamis, 31 Desember 2015

Beda Bahasa

Terbiasa mendengar pembicaraan atau membaca tulisan dalam berbagai bahasa, baik Bahasa Indonesia, bahasa asing, atau bahasa daerah, kadang memang menguntungkan. Meskipun tidak memahami pembicaraan, tapi setidaknya mengerti pengucapan mereka. Namun, ada kalanya hal ini membuat bingung. Kadang orang menggunakan bahasa A, aku memahaminya dengan bahasa B.

Jumat, 25 Desember 2015

Tentang Gue, Lo, dan Abang

Sewaktu kuliah D4, aku menghabiskan waktu hampir lima tahun di Jakarta. Dan selama itu pula, aku tidak menggunakan kata gue-lo saat mengobrol. Maklum, sebagian besar temanku adalah orang daerah dari berbagai pelosok Indonesia yang juga tidak terbiasa ber-gue-lo. Hanya sedikit temen yang orang Jakarta. Jadilah selama itu aku tetap ber-aku-kamu saat mengobrol dengan teman-temanku. Bahkan, saat mengobrol dengan teman dari Brebes Tegal aku tetap ngapak meskipun lawan bicaraku orang yang terbiasa berbahasa Indonesia.

Minggu, 15 November 2015

Suka Duka "Menua"


Terlihat tua--lebih tua dari umur sebenarnya, baik dari tampilan wajah maupun bentuk badan--membuatku mengalami hal-hal yang membuatku speechless. Pengalaman paling pahit adalah ketika seorang teman dengan sangat santai tanpa menimbang rasa mengatakan bahwa mukaku boros. Bukan. Dia juga bukan sedang bercanda. Beuh! Rasanya ingin membelai wajahnya dengan parutan kelapa lalu membedakinya dengan cabe bubuk plus lada bubuk. She said that I look much older than my actual age, inconsiderately. Dan aku cuma terdiam. Terlalu bete untuk menanggapi. Tapi, ada hikmahnya juga mengalami hal seperti itu. Aku jadi sadar bahwa mengatai orang "muka boros" itu kejam. Jadi, aku bisa berhati-hati jangan sampai mengatai orang seperti itu.

Rabu, 11 November 2015

Galau KA

Kalau pertanyaan "Kapan nikah?" membuatku bertanduk, pertanyaan "Kapan lulus?" membuatku galau-galau-cemas. Galau memikirkan karya akhir (KA) yang sepertinya tak berarah. Cemas memikirkan "lulus nggak ya semester ini?" Dan aku menghabiskan sebagian besar energiku untuk menggalau tanpa mencari solusi. Kalau masalah jodoh, aku masih punya alasan bahwa jodoh tak perlu dikejar. Ditunggu saja, nanti juga datang sendiri. Kalau masalah kuliah? Yamasa aku berkilah "Ijasah mah nggak usah dikejar. Ditunggu aja, ntar dateng sendiri." Seolah-olah ijasah bisa didapatkan dengan mantra "Accio ijasah!"

Kamis, 29 Oktober 2015

Statistik dan Bohong

Sekitar bulan Januari lalu aku menonton suatu acara lawak di mana salah satu pelawak berkata, "Bohong itu ada tiga: bohong, bohong jahat, sama statistik." Saat mendengar hal itu aku langsung sewot. Statistik itu bidang ilmu. Keterlaluan kalau menuduh satu bidang ilmu sebagai bentuk kebohongan. Padahal ilmu statistik digunakan dalam penelitian di bidang-bidang lain. Kalau begitu, penelitian-penelitian tersebut bohong juga?

Karena penasaran, aku pun googling mengenai perkataan itu. Jangan tanya kenapa aku ujug-ujug googling. Just followed my hunch. Daaan ternyata "bohong, bohong jahat, dan statistik" itu merupakan versi Indonesia dari "lies, damned lies, and statistics". Dalam buku How to Lie with Statistics, ada kutipan kalimat tersebut yang dituliskan sebagai kalimat dari Disraelli. Namun, dari yang kubaca di artikel ini, ternyata itu bukan ucapan maupun tulisan Disraelli. Ada yang menyebutkan bahwa itu adalah perkataan Mark Twain.

Jumat, 02 Oktober 2015

Random tentang Moral dan Agama

Moral itu ukuran manusia. Bisa berubah, termasuk berubah mengikuti nafsu. Tadinya ciuman dengan lawan jenis dianggap tidak bermoral. Sekarang, jangankan dengan lawan jenis, sesama jenis juga dianggap wajar, tidak melanggar moral. Tadinya, hubungan sesama jenis dianggap nggak bermoral. Sekarang, malah didukung ramai-ramai. Malah, mulai ada yang mendukung incest. Hoax? Beneran kok. Di Jerman sana sudah mulai diusulkan. Katanya, biar aja sih, toh mereka saling cinta, yang penting mereka bahagia. Mungkin sebentar lagi boleh nikah sama babi. Yang hari ini menghujat PM bule yang main babi, mungkin beberapa tahun lagi justru mendukung perkawinan dengan babi. Love wins, katanya. Tadinya perempuan memakai baju minimalis dan hemat alias kurang bahan dianggap perempuan nakal, tidak bermoral. Sekarang, orang bebas memakai baju seminim mungkin. Tanktop dan celana gemes? Nggak papa. Baju menerawang sampai beha kelihatan? Biasa. Berpakaian itu salah satu cara berekspresi. Kita bebas dong berekspresi, katanya.

Rabu, 30 September 2015

Hati

Katanya ada yang dibunuh
gara-gara menolak tambang pasir
Dunia maya ramai
penuh ucapan "nyawa kami tak lebih berharga dari tambang"

Aku ikut mengutuk
Di mana hatimu?
Melihat darahnya tertumpah
melihatnya bermandi luka
melihatnya meregang nyawa
tidakkah kalian iba?

Jumat, 11 September 2015

Kuliah, Enak Ora?

Kuliah enak apa ora? Hahaha, kayong angel yah njawabe.

Ana enake ana orane, sih. Enake ya bisa sering balik. Yen nyambed gawe alias kerja nang Aceh, balike paling setahun mung pindo. Saiki barang kuliah kayong pan saben wulan balike. Kaulan. Terus enake ya bisa nambah ilmu. Yah, nambah setitik mbuh apa lah. Terus ketemu wong-wong anyar. Apa maning aku kuliahe dudu beasiswa instansine dewek, olih sing instansi liya. Dadine ya ketemu kancane dudu mung wong sa-instansi. Dadi krungu gosip sing instansi liya. Olih tugas ya bisa dolan-dolan maring kantore wong liya. Terus, barang kuliah dadi ganti suasana. Biasane esuk-esuk wis di-sms ditagih pegaweyan. Saiki tah laka sms tagihan kaya kue. Paling sms penipuan hadiah karo sms nawani utang.

Kamis, 10 September 2015

29

Tiba-tiba ingin meracau tentang ulang tahun. Juli kemarin aku berulang tahun. Sudah 29 tahun. Tua? Iya. Masih mau main-main? Opastinyaaah!

Rabu, 02 September 2015

Status yang Membuat Baper

Beberapa waktu lalu, ada capture status Facebook yang membuat heboh. Padahal kasus ini sudah beberapa minggu yang lalu. Tapi gara-gara ada blogger yang membahas lagi aku jadi tergoda membahasnya. Sekaligus mengalihkan pikiranku dari KA, hehehe ...
 
Status ditulis seorang perempuan yang sedang berjalan-jalan di mall lalu melihat papah muda yang ganteng banget sedang menyuapi anaknya sementara si mamah muda sedang memilih-milih baju dan si mbak ini merasa ingin membisikkan pada si papah muda, "Mas dalam Islam poligami itu dibolehkan, lho." Semacam itulah. Sewaktu melihat salah seorang seleb Facebook membagikan capture status itu, aku cuma tertawa. Sebagai sesama lajang, aku menganggap tulisan si mbak itu hanya lucu-lucuan. Dia hanya mengutarakan keinginannya untuk memiliki suami seperti si papah-muda-ganteng-banget itu. Itu yang kutangkap dari status tersebut. Dan setelah melihat komentar-komentar yang bertebaran di foto yang dibagi sang seleb, aku agak kaget dan ingin berkata, "Ini emak-emak baper-baper amat yak!" Sebagian amat emosi karena merasa takut suaminya digoda wanita di mall. Oke, ini wajar. Sebagian seolah menganggap si mbak ini menuduh mamah-muda-yang-milih-milih-baju sebagai istri yang menelantarkan suami dan anak di mall sehingga si mbak menyarankan kepada si papah-muda-ganteng-banget, "Mas cari istri lain aja. Sama saya juga boleh." Mereka bersikap defensif dengan berkomentar "dia nggak tahu kalo mamah muda itu sehari-hari sibuk ngurus rumah dan anak, wajar sekali-kali ke mall milih-milih baju dan anak disuapin suami". Padahal kan yaaa, tidak ada kalimat si mbak yang mengatakan bahwa dia menyalahkan sikap si mamah muda. Entah kenapa para emak-emak langsung merasa dituduh. Kalau seseorang merasa disalahkan dan disudutkan, bisa jadi dia merasa ada yang salah dengan tindakannya. Kalau emak-emak yang pede berbagi tugas dengan suami, yakin bahwa keputusannya dengan suami itu yang terbaik, sepertinya tidak akan terlalu peduli ketika ada yang menuduhnya "menelantarkan keluarga", apalagi merasa tersinggung dengan status yang sama sekali tidak menuduh.

Senin, 31 Agustus 2015

Wanseponetaim in Semarang: Masjid Agung

Hari kedua di Semarang, aku dan teman-teman mengunjungi Masjid Agung Semarang. Numpang sholat? Nggak. Numpang foto-foto doang. Parah ya ... Kebetulan waktu ke sana sedang berhalangan, jadi ya tidak bisa sholat.

Seperti apa penampakan masjidnya? Ini dia.


Rabu, 26 Agustus 2015

Rapelan Curhat

Hari ini aku stres lagi. Lagi? Iya. Lagi. Semester lalu juga sudah stress karena tugas metodologi penelitian. Tugas lain cukup membuat stres juga tapi yang paling memberi andil dalam membuat otakku meucawoe alias berantakan adalah tugas mata kuliah metodologi penelitian. Kenapa? Karena aku paling sulit kalau mencari ide. Mau membuat penelitian tentang apa? Lebih-lebih kalau disuruh melakukan analisis masalah. Hellooow! Aku ini anak baik-baik. Mana suka mencari masalah. Dulu sewaktu mengerjakan skripsi juga sampai galau gara-gara tidak jelas masalahnya apa. Setelah ditanya dosen pembimbing "Masalah apa yang mau kamu atasi dengan hasil skripsi kamu?" aku langsung galau. Blank. Akhirnya mogok bimbingan. Aku malah mengurung diri di kamar dan menonton Princess Hours. Yang lain sibuk coding sampai lupa makan lupa tidur, aku sibuk ngekepin bantal. Iya, aku termasuk orang yang mudah tidur kalau sedang stres. Bagiku tidur adalah salah satu cara melarikan diri dari kenyataan. Lalu, terus-terusan mogok bimbingan? Untungnya aku punya teman satu bimbingan yang galak yang berhasil menyuruhku bimbingan.

Selasa, 25 Agustus 2015

Wanseponetaim in Semarang: Kondangan dan Sam Poo Kong

Setelah jalan-jalan di Lawang Sewu, aku dan teman-teman kondangan. Heyah! Sekarang sudah kembali terbiasa menyebut "kondangan" dan bukan "kenduri". Oke, kembali ke topik. Kondangan adalah salah satu momen di mana perempuan yang biasanya tanpa makeup pun mendadak memakai makeup. Yah, minimal memakai bedak dan lipstik. Dan aku? Berhubung masih trauma dengan bedak, aku pun cuma memakai pelembab. Untuk sedikit mendongkrak penampilan agar terlihat agak berbeda dengan penampilan saat main, aku pun mencoba memakai pashmina. Kali ini aku membawa pashmina pemberian Eny beberapa tahun yang lalu. Dililit, diputer, ah, masih belum kece. Aku pun minta tolong temanku untuk memakaikan jilbab. Setelah semuanya selesai berdandan, kami pun berangkat. Daaan ... dalam perjalanan salah satu jarum pentul yang kupakai jatuh. Jadilah jilbabku berantakan. Ketika yang lain foto-foto sebelum masuk gedung, aku heboh sendiri berusaha mengatur jilbab agar tetap rapi meskipun kurang satu jarum pentul. Berhasil? Yah, lumayan, lah. Lumayan hancur. Dalam perjalanan pulang kondangan, jilbabku sudah semakin berantakan. Sebodo. Sepertinya aku belum berjodoh dengan jilbab pashmina, seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya. Wahai para fashion blogger, hijab blogger, apapun sebutan kalian, buatlah trend untuk memakai bergo ke acara kondangan! Pliiis!

Senin, 24 Agustus 2015

Wanseponetaim in Semarang: Lawang Sewu

Tanggal 8 kemarin aku dan teman-temanku pergi ke Semarang. Tujuan utamaku adalah untuk jalan-jalan nostalgila di kota kenangan. Tujuan sampinganku (tapi ini tujuan utama teman-temanku) adalah kondangan ke acara pernikahan teman kuliah. Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen. Stasiunnya ruameee. Baru kali ini aku antre begitu panjang untuk masuk ke peron stasiun. Seperti antrean ketika hendak check in sebelum naik pesawat. Maklum, biasanya aku naik kereta dari Gambir atau Jatinegara yang lumayan lega.

Kami naik kereta Gumarang. Di stasiun aku mendengar bahwa tujuan akhir kereta itu adalah Stasiun Pasar Turi Surabaya. Saat itu aku langsung sadar kenapa harga tiket Gumarang lebih mahal dari Tawang Jaya. Yaiyalaaah... Yang satu sampai Surabaya, yang satu cuma sampai Semarang. Jadi malu karena sebelumnya aku mengomel karena harga tiket kedua kereta tersebut beda jauh padahal sama-sama ekonomi. Ternyata tujuan akhirnya beda. Hihihi.

Karena tiba di Semarang sudah larut malam, kami baru jalan-jalan besok paginya. Kami jalan-jalan numpang lewat dan foto-foto di Simpang Lima lalu ke Tugu Muda dan Lawang Sewu, dan foto-foto lagi. Rencana nostalgilaku gagal karena semuanya benar-benar berbeda dengan kenanganku sepuluh tahun lalu. Jadinya seperti baru pertama kali datang ke Semarang.

Kamis, 06 Agustus 2015

Setengah Kopdar

Sampai saat ini aku belum pernah kopdar. Awal-awal ngeblog masih semangat ingin kopdar dengan teman-teman tapi karena tempat tinggalku jauh di ujung Sumatera sana jadi tidak pernah kopdar. Dan setelah tinggal di Jakarta dan punya kesempatan kopdar dengan teman-teman blogger di sini, aku malah aras-arasen. Awalnya semangat, kemudian berpikir, "Mau ketemuan di mana, ya? Nanti mau mengobrol apa? Aku kan tidak pandai memulai pembicaraan." Ujung-ujungnya malas mengajak dan diajak kopdar daripada nanti image-ku di blog tidak sesuai dengan image di dunia nyata. Ah, itu cuma alasan! Iya, sih. Itu cuma alasan. Nyebelin, ya? Iya, kadang aku memang menyebalkan. Kamu yang sabar, yaaa!

Kopdar yang berhasil kulakukan cuma setengah kopdar. Maksudnya? Kopdar dengan orang yang sudah pernah kutemui di dunia nyata, tapi tidak akrab. Kami baru akrab setelah saling komentar di blog dan media sosial. Itu mah bukan kopdar! Yah, anggap saja itu kopdar. Setengah kopdar, deh.

Rabu, 05 Agustus 2015

Tetangga Sendiri

Hari ini perpustakaan kampus sepi. Wajar, sih. Memang perkuliahan baru mulai bulan depan. Lha, terus situ ngapain ke kampus libur-libur gini? Niat sampingannya, sih, mau mencari inspirasi untuk topik karya akhir (di sini tesis disebut karya akhir). Niat utamanya? Numpang mengunduh dorama atau film, hahaha! Saking seringnya aku mengunduh memakai wifi kampus, temanku menggunakan iming-iming wifi gratis agar aku mau ke kampus.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Dandan

Perempuan biasanya identik dengan berdandan. Kadang-kadang aku juga ingin berdandan. Bukan dandan heboh dengan makeup lengkap seperti blush on, eye shadow, maskara, dan kawan-kawannya. Paling banter ya bedak dan lipstik. Itu saja sudah membuat penampilanku yang biasanya kusam jadi kelihatan berbeda. Kapan aku merasa ingin berdandan? Waktunya tidak pasti, sih. Yang jelas mungkin cuma setahun sekali atau dua kali, hihihi. Selain hari ajaib itu, aku berpegang pada prinsip "yang penting mandi, nggak bau badan, dan nggak bau mulut". Dan karena tragedi jerawat yang bersemi luar biasa, aku jadi trauma memakai bedak.

Rabu, 17 Juni 2015

Random

Nggak ada istilah salah ngomong. Yang ada salah mikir. Karena salah mikir akibatnya omongannya juga salah.

Begitu kira-kira yang dikatakan oleh salah dua dosen (satu dosen tamu dan satu dosen tuan rumah *eh, dosen tuan rumah?). Sebagai orang yang sering salah ngomong, keseleo lidah, tidak fokus, ngobrol random dengan tema lompat-lompat dari tema A ke F lalu ke C pindah ke M dan ujug-ujug membahas Z, aku jadi berpikir, "Se-random dan seberantakan apakah isi pikiranku?" Jangan-jangan isi pikiranku sudah seperti benang kusut yang tidak bisa diuraikan lagi. Mungkin aku jarang mengobrol sehingga kemampuanku dalam berkomunikasi secara lisan memang bisa dibilang parah. Atau kemampuanku yang parah dalam berbicara yang menyebabkan aku jarang mengobrol? Ealah, malah jadi seperti ayam dan telur.