Rabu, 05 Agustus 2015

Tetangga Sendiri

Hari ini perpustakaan kampus sepi. Wajar, sih. Memang perkuliahan baru mulai bulan depan. Lha, terus situ ngapain ke kampus libur-libur gini? Niat sampingannya, sih, mau mencari inspirasi untuk topik karya akhir (di sini tesis disebut karya akhir). Niat utamanya? Numpang mengunduh dorama atau film, hahaha! Saking seringnya aku mengunduh memakai wifi kampus, temanku menggunakan iming-iming wifi gratis agar aku mau ke kampus.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Dandan

Perempuan biasanya identik dengan berdandan. Kadang-kadang aku juga ingin berdandan. Bukan dandan heboh dengan makeup lengkap seperti blush on, eye shadow, maskara, dan kawan-kawannya. Paling banter ya bedak dan lipstik. Itu saja sudah membuat penampilanku yang biasanya kusam jadi kelihatan berbeda. Kapan aku merasa ingin berdandan? Waktunya tidak pasti, sih. Yang jelas mungkin cuma setahun sekali atau dua kali, hihihi. Selain hari ajaib itu, aku berpegang pada prinsip "yang penting mandi, nggak bau badan, dan nggak bau mulut". Dan karena tragedi jerawat yang bersemi luar biasa, aku jadi trauma memakai bedak.

Rabu, 17 Juni 2015

Random

Nggak ada istilah salah ngomong. Yang ada salah mikir. Karena salah mikir akibatnya omongannya juga salah.

Begitu kira-kira yang dikatakan oleh salah dua dosen (satu dosen tamu dan satu dosen tuan rumah *eh, dosen tuan rumah?). Sebagai orang yang sering salah ngomong, keseleo lidah, tidak fokus, ngobrol random dengan tema lompat-lompat dari tema A ke F lalu ke C pindah ke M dan ujug-ujug membahas Z, aku jadi berpikir, "Se-random dan seberantakan apakah isi pikiranku?" Jangan-jangan isi pikiranku sudah seperti benang kusut yang tidak bisa diuraikan lagi. Mungkin aku jarang mengobrol sehingga kemampuanku dalam berkomunikasi secara lisan memang bisa dibilang parah. Atau kemampuanku yang parah dalam berbicara yang menyebabkan aku jarang mengobrol? Ealah, malah jadi seperti ayam dan telur.

Rabu, 13 Mei 2015

Tentang Sakit dan Sepi

Sudah beberapa bulan terakhir aku keranjingan menonton dorama. Sebagian besar yang kutonton adalah dorama detektif. Selama ini aku belum pernah bisa benar-benar merasakan apa yang dirasakan tokoh utama dalam dorama. Biasanya memang tersentuh, terharu, tapi tidak sampai merasa tertonjok.

Dorama Jepang memang banyak hikmahnya, tapi tidak ada yang sampai membuatku menyadari betapa fragile-nya aku. Dan saat menonton Border, aku merasa, "Oooh, ternyata gue juga begitu." Tokoh utama Border, yaitu Ishikawa Ango, digambarkan sebagai sosok yang menyimpan semua masalahnya sendiri dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Dia juga digambarkan sebagai sosok yang terus menahan, atau bahkan mengabaikan rasa sakit. Dan temannya menasihati, " If you keep persevering and get used to the pain, you won't realize when something really important starts to hurt." Kalimat itu benar-benar menampar. Kadang aku bersikap sok kuat, berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Tanpa disadari, rasa sakit itu perlahan-lahan menghancurkan hati. Aku merasa baik-baik saja, padahal sebenarnya di dalam hati sudah berdarah-darah. Seperti ketika aku merasa tidak punya siapa-siapa untuk berbagi. Aku merasa aku tidak kesepian. Tapi, setelah melihat adegan di Border itu, aku seperti dipaksa melihat lagi ke dalam hatiku. Apakah aku benar-benar baik-baik saja? Apakah aku benar-benar tidak kesepian? Sepertinya aku sudah terlalu sering merasakan kesepian jadi sudah tidak bisa membedakan ketika kesepian atau tidak. Seperti orang yang sudah sering merasakan sakit, lama-lama tidak menyadari ketika dia terluka.

Rabu, 06 Mei 2015

Malas Nge-blog

Sudah lebih dari tiga bulan tidak nge-blog. Rasanya aneh. Memang, sih, sudah dua tahun terakhir aku tidak terlalu sering nyampah di blogosphere. Tapi, tetap saja selama dua tahun itu tiap bulan selalu ada cerita tidak penting yang kutuliskan. Dan sekarang? Selama tiga bulan tidak ada cerita apapun. Padahal beberapa kali aku punya ide yang bisa kutuliskan. Namun, ide itu akhirnya terlupakan tanpa sempat kutuliskan. Ada juga beberapa buku yang ingin ku-review. Tapi, akhirnya sebelum sempat ku-review, buku-buku itu sudah kuungsikan ke rumah demi kamar kos yang lebih manusiawi berantakannya. Ada juga keinginan bercerita tentang dorama-dorama yang kutonton. Tapi, lagi-lagi semuanya batal kutulis dan akhirnya terlupakan.

Bukan. Bukan karena aku sibuk. Dulu, sesibuk apapun, aku tetap sempat bercerita di blog. Bahkan, aku rela melek hingga tengah malam untuk melantur macam-macam. Jadi, sibuk bukan alasan. Stres juga bukan alasan. Biasanya, aku justru nge-blog untuk mencurahkan emosi agar tidak semakin stres. Sekarang, meskipun stres, aku tidak tergoda untuk menceritakannya di blog. Aneh, kan?

Kamis, 29 Januari 2015

Kota Tua

Bulan November yang lalu aku jalan-jalan ke Kota Tua bersama beberapa temanku. Sayang waktunya kurang tepat. Kami ke sana pada akhir pekan jadi tempatnya terlalu ramai. Saat itu juga Museum Fatahillah sedang direnovasi jadi aku tidak bisa hunting foto di sana.

Suasana di Lapangan Fatahillah. Banyak orang berkostum yang bisa diajak berfoto (apa sih nama pekerjaan seperti itu?)

Masih di Lapangan Fatahillah, di depan kantor pos.

Rabu, 14 Januari 2015

2014-ku


Tahun 2014 sudah berlalu. Banyak cerita di tahun 2014 yang ingin kubagikan lewat blog tapi selalu saja urung kutuliskan. Bukan. Alasanku bukan sibuk. Tahun-tahun sebelumnya juga aku sibuk tapi banyak juga yang bisa kuceritakan di blog ini. Tapi, di tahun 2014 terlalu banyak godaan. Setiap buka laptop aku bukannya membuat blogpost tapi malah nonton, browsing situs lucu, baca komik, dan segala hal tidak penting lainnya. Dan sebelum semuanya terlupakan, aku ingin mengabadikannya di sini, dalam satu tulisan.

Resolusi yang Gagal
Resolusiku di awal 2014 adalah: tidak bekerja lembur alias tidak ngantor setelah lewat pukul 16.30 dan tidak ngantor saat weekend. Temanku langsung mengatakan bahwa resolusiku itu hal yang mustahil. Dan memang benar. Tidak butuh waktu lama untuk menggagalkan resolusi itu. Masih ada pekerjaan yang membuatku ngantor di hari Sabtu dan Minggu. Entry Susenas lah, entry Podes lah, pelatihan SOUT lah. Macam-macam.

Ganti Bos
Sejak kali pertama bekerja di Aceh Barat Daya, yaitu tahun 2009, sampai tahun 2013, aku tidak pernah berganti pimpinan. Jadi, aku sudah terbiasa bekerja dengan dan sudah terbiasa dengan gaya bekerjanya. Dan saat ada kabar bahwa bosku akan dipindah ke kabupaten lain, aku lumayan sedih. Tapi, aku teringat status Tere Liye yang sering mengatakan untuk melihat perpisahan dari sisi yang pergi. Aku pun berusaha melihat kepindahan bos dari sisi bosku sendiri. Kabupaten yang akan jadi tempat kerjanya adalah kampung halaman istrinya, jadi ia akan lebih dekat dengan keluarga. Bagus, kan? Pikiran itu membuatku tidak bersedih lagi. Ditambah lagi pikiran bahwa siapa tahu di tempat baru bosku akan lebih sukses dan berprestasi. Buat apa sedih kalau ternyata tempat yang baru lebih baik untuk bosku?
Tapi, ternyata adaptasi dengan bos baru tidak mudah. Sifat yang berbeda, cara kerja yang berbeda, membuatku tidak terlalu nyaman dengan bos baru ini. Well, aku termasuk orang yang butuh waktu lama untuk beradaptasi.

Kamis, 08 Januari 2015

Sunyi

Mungkin sunyi ini memang harus dinikmati dan disyukuri
Bukankah dalam sunyi aku lebih jelas mendengar suara hatiku sendiri?
Tak ada lagi bising
Tak ada lagi suara mereka yang membuatku lupa
tentang inginku
tentang mimpiku
tentang diriku sendiri

Mungkin jarak ini memang harus dinikmati dan disyukuri
Karena jarak ini membuatku bisa melihat lebih jelas
melihatmu
melihat mereka
melihat dunia
melihat diriku sendiri

Mungkin rasa sendiri ini harus dinikmati dan disyukuri
Karena dengan rasa sendiri ini
aku tahu seberapa jauh aku bisa bertahan dengan kekuatanku sendiri

Mungkin..

Sabtu, 29 November 2014

Jangan Menyerah

Apa kau merasa hidupmu begitu berat? Sebentar saja, keluarlah dari sarangmu. Keluar dari persembunyianmu. Berjalanlah sejenak, melihat sekelilingmu.

Mungkin kau akan bertemu penjual kembang tahu yang memanggul dagangannya keliling kampung. Dia tidak tahu apakah dagangannya akan laris atau tidak hari ini. Tapi, dia tidak menyerah. Dia tetap berusaha menjemput rezekinya. Memanggul dagangannya yang berat, berjalan di bawah terik matahari.

Mungkin kau akan bertemu bapak tua yang berjualan kue semprong di halte bus. Mungkin ketika hujan kau akan melihatnya kerepotan melindungi dagangannya agar tidak basah. Di usianya yang senja dia masih tetap bekerja.

Mungkin kau akan bertemu penjual tahu aci di terminal yang tak bosan menawarkan dagangannya kepada para penumpang bus. Meskipun kadang jualannya tidak laku sampai malam, mereka masih mencoba berjualan lagi keesokan harinya.

Mungkin kau akan melihat para sopir angkot yang menunggu penumpang. Mereka tidak tahu hasil narik mereka akan cukup untuk membayar setoran atau hanya cukup untuk membayar bensin atau justru harus nombok. Tapi, mereka tetap bekerja.

Saat kau merasa hidupmu berat, ingatlah mereka. Tidak. Aku tidak bermaksud mengecilkan kesulitan yang kauhadapi dibandingkan kesulitan mereka. Semua orang punya masalah masing-masing. Dan bukan hakku mengatakan masalahmu tak seberapa dibanding masalah mereka. Aku tahu, menunjukkan padamu bahwa orang lain juga punya masalah tidak akan membuat masalahmu menjadi lebih ringan. Aku juga tidak akan mengatakan kau jauh beruntung dari mereka dan memaksamu mensyukuri keadaanmu saat ini. Tidak. Aku hanya ingin kau mengingat semangat mereka untuk tetap bertahan hidup. Aku hanya ingin kau percaya bahwa selalu ada harapan. Jangan menyerah.

*self reminder*

Rabu, 19 November 2014

Where the Mountain Meets the Moon

Dahulu kala, tidak ada sungai di muka bumi. Naga Gioklah yang bertugas menjada awan, menentukan di mana akan hujan dan kapan reda. Hingga suatu hari ia mendengar beberapa penduduk suatu desa berkata, “Aku sudah muak pada hujan. Aku senang karena awan telah pergi dan matahari akhirnya bersinar.” Kalimat itu membuat Naga Giok marah. Ia pun berhenti menurunkan hujan. Kekeringan di mana-mana. Keempat anaknya – Mutiara, Kuning, Panjang, dan Hitam – merasa kasihan pada penduduk bumi. Mereka memutuskan turun ke bumi dan mengubah diri menjadi empat larik sungai. Ketika menyadari perbuatan anaknya Naga Giok menyesali kesombongannya. Karena kesedihannya, ia jatuh dari langit dan menjadi Sungai Giok. Hatinya menjadi Gunung Nirbuah. Tidak ada yang bisa tumbuh dan hidup di gunung itu, kecuali bila Naga Giok sudah bersatu kembali setidaknya dengan salah satu anaknya. Itu adalah kisah yang sering didengarkan Minli dari Ba, ayahnya. Dan saat Minli bertanya bagaimana Gunung Nirbuah bisa menghijau, Ba menjawab, “Itu pertanyaan yang harus kauajukan pada Kakek Rembulan.” Setiap dia mengajukan pertanyaan penting, jawabannya selalu seperti itu.

Rabu, 12 November 2014

Kekuatan yang Diperlukan Saat Naik TransJakarta



TransJakarta – atau lebih dikenal dengan sebutan busway (padahal busway itu jalur untuk kendaraan tersebut, kan?) – sekarang sudah jadi angkutan yang populer di Jakarta. Mungkin bagi orang luar Jakarta naik TransJakarta kelihatannya menyenangkan. Padahal seringkali untuk naik TransJakarta tidak semenyenangkan yang dibayangkan orang yang belum pernah atau jarang naik armada tersebut. Seringkali butuh perjuangan dan butuh kekuatan khusus. Iya, butuh kekuatan khusus. Berikut ini kekuatan yang harus dimiliki oleh penumpang TransJakarta:

Senin, 10 November 2014

The Story Girl



Jika suara mempunyai warna, warna suaranya mirip seperti pelangi. Membuat kata-kata menjadi hidup.
– kata Beverly tentang Gadis Dongeng –


Beverly King – sebut saja Bev – dan Felix King harus meninggalkan Toronto untuk tinggal bersama paman dan bibi mereka di Carlisle, Pulau Prince Edward. Alan King, ayah mereka, harus pergi ke Rio de Janeiro dan tidak bisa membawa mereka bersamanya. Bev dan Felix sangat antusias pergi ke tempat di mana ayah mereka menghabiskan masa kecilnya. Setibanya di sana mereka merasa sudah mengenal tempat itu karena seringnya ayah mereka menceritakan tempat itu. Pohon-pohon willow, kebun keluarga King, sumur dengan atap China, hingga suara kodok di malam hari, mereka merasa sudah mengenalnya bertahun-tahun silam lewat cerita ayah mereka.

Di Carlisle mereka berdua tinggal bersama Paman Alec dan Bibi Janet serta anak-anak mereka: Dan, Felicity, dan Cecily. Ada juga sepupu mereka yang lain yaitu Sara Stanley yang tinggal bersama Bibi Olivia dan Paman Roger. Di sana mereka juga bertemu dengan Peter, anak lelaki yang bekerja untuk Paman Roger. Ada juga Sara Ray, teman Cecily. Tidak butuh waktu lama bagi Bev dan Felix untuk akrab dengan mereka berenam. Banyak kejadian yang mereka alami, yang menyenangkan, menyedihkan, juga menegangkan. Misalnya ketika mereka meminta sumbangan untuk membangun perpustakaan sekolah, ketika mereka berlomba mencatat mimpi mereka, ketika Peter sakit campak dan teman-temannya khawatir dia akan mati, ketika mereka membeli gambar Tuhan, dan ketika mereka ketakutan mendengar kabar akan datangnya hari kiamat.

Sabtu, 01 November 2014

Nonton Lagi!

Hari ini aku menonton film Rurouni Kenshin: The Legend Ends di Blitz Grand Indonesia. Dengan siapa? Sendirian, dooong! Aku berangkat dari Otista dengan bus TransJakarta ke Harmoni. Seperti biasa, bus jurusan PGC-Harmoni kalau sedang ditunggu-tunggu malah tidak muncul-muncul. Begitu muncul, penuh. Aku pun tidak bisa naik. Saking senewennya, aku pun ngomel di Twitter sambil mention Twitter @BLUTransJakarta. Eh, baru saja nge-twit, muncullah bus PGC-Harmoni yang gandeng dan lega, meskipun tetap saja aku tidak dapat tempat duduk. Sepertinya kali lain aku perlu nge-twit untuk summon bus TransJakarta.

Setelah sampai di Harmoni aku lanjut naik bis jurusan Blok M. Sebelumnya aku pernah turun di halte Tosari dan kali ini aku ingin iseng turun di halte Sarinah. Dan ternyata ... jauuuh! Aku harus berjalan kaki jauh untuk ke GI. Tapi ada hikmahnya jalan kaki jauh. Aku jadi bisa melihat orang demonstrasi. Ada yang konvoi yang diikuti beberapa mobil polisi. Seru euy! Maklum, aku termasuk anak baik-baik (pencitraan) yang tidak pernah ikutan demo besar-besaran, jadi penasaran melihat demo.

Kamis, 30 Oktober 2014

Mendekatkan yang Jauh

Gadget mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Kalimat ini muncul karena banyak orang yang lebih suka bersosialisasi dengan orang yang jauh dengannya -- dengan menggunakan gadget -- dibandingkan dengan orang yang ada di dekatnya. Bahkan ada yang duduk berhadapan tapi masing-masing asyik dengan gadget-nya. Aku termasuk yang seperti itu, sibuk main ponsel atau laptop dan jarang mengobrol dengan orang. Harus kuakui, ponsel bisa jadi pelarian sempurna saat aku berada di keramaian tapi aku merasa seperti alien. Saat berkumpul dengan teman-teman di ruang makan, aku lebih suka main sudoku di ponsel karena aku memang bukan orang yang biasa mengobrol panjang lebar dengan orang yang tidak terlalu akrab denganku. Aku bukan orang yang pandai membuka pembicaraan. Kalaupun lawan bicara sudah membuka pembicaraan, kadang aku juga tidak tahu harus merespon bagaimana. Ujung-ujungnya paling yang responku, "Oh, gitu."

Senin, 20 Oktober 2014

Oleh-oleh Liliefors

Hari Minggu kemarin aku mengikuti acara LILIEFORS di kampus STIS. Liliefors ini singkatan dari Klinik Penulisan Desain Grafis Fotografi STIS. Singkatan yang agak maksa, demi mendapatkan singkatan yang berbau statistik, hihihi. Ini kali pertama aku mengikuti Liliefors. Sewaktu kuliah aku tidak pernah mengikuti dengan alasan tidak punya uang untuk membayar tiket. Setelah lulus, aku juga tidak mengikuti karena tempat kerjaku nun jauh di sana.

Bukti ikut Liliefors



Sewaktu melihat posternya di Facebook aku langsung tertarik. Yah, meskipun aku tidak tertarik menjadi fotografer, desainer grafis, atau penulis profesional, tiga hal tersebut lumayan menarik minatku. Apalagi hobiku yang suka sok-sokan memotret pemandangan dan pekerjaanku yang menuntut kreativitasku dalam membuat cover publikasi. Dan setelah melihat narasumbernya, aku langsung heboh dan buru-buru mendaftar. Siapakah narasumbernya? Untuk klinik desain grafis narasumbernya Faza Meonk, komikus Si Juki – komik yang menurutku lumayan menarik (kecuali komik yang tentang upil dan kawan-kawannya). Narasumber untuk klinik penulisan adalah A Fuadi, penulis novel Negeri Lima Menara – novel yang membuatku mulai kecanduan membeli novel. Dua makhluk itulah yang membuatku makin semangat mengikuti acara tersebut.



Rabu, 08 Oktober 2014

Nggak Ada Kerjaan, Katanya

Ada hal yang menyebalkan saat kuliah malam ini. Awalnya, sih, biasa-biasa saja. Tapi, semakin kupikirkan jadi terasa menyebalkan. Saat itu temanku (yang sesama pegawai BPS) menjelaskan kendala yang dia alami saat mengumpulkan data dari instansi lain. Kemudian ada temanku yang lain (bukan pegawai BPS) berkata lebih kurang begini, "Kalau pekerjaan BPS cuma mengumpulkan data dari instansi lain, BPS nggak ada kerjaan, dong? Buat apa ada BPS?" Berhubung dosennya juga sepertinya tidak tahu mengenai pekerjaan-pekerjaan BPS, dia juga seolah mengamini komentar tadi. Salah satu komentarnya mengenai pekerjaan BPS yang "hanya" mengumpulkan data dari instansi lain lebih kurang begini, "Mending BPS dihapus saja. Atau semua pekerjaan itu dikerjakan sama BPS saja, tidak usah dikerjakan instansi lain." Dan sayangnya waktu kuliah sudah hampir habis jadi tidak sempat ada yang membantah komentar tersebut.

Awalnya aku menganggap itu wajar karena dia tidak bekerja di BPS. Dan aku cuma berpikir kalau dia mengatakan hal itu di depan KSK (Koordinator Statistik Kecamatan), dia pasti sudah jadi dendeng. Tapi, setelah dipikir-pikir, rasanya tidak etis menjatuhkan instansi di depan umum (di depan kelas termasuk umum, kan?). Apalagi dia langsung berkata seperti itu tanpa konfirmasi ke orang-orang yang bekerja di BPS apakah benar mereka tidak ada pekerjaan seperti yang dia asumsikan. Kalau mengingat hal itu, rasanya sebal. Di saat teman-temanku senewen karena beban pekerjaan yang makin berat, ada orang yang mengatakan mereka tidak ada pekerjaan. Kalau komentar dosen, sih, aku tidak terlalu peduli. BPS dihapus? Terserah. Itu urusan para petinggi.

Tapi, gara-gara kejadian itu aku jadi tahu rasanya kalau ada orang yang menghakimi kita tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Istilah kerennya tanpa tabayyun. Jadi, harus hati-hati jangan sampai menghakimi seseorang dan berkata, "Alah, instansi ini mah nggak ada kerjaan. Cih, dinas itu mah kerja enggak korupsi banyak. Bah, orang-orang di kantor itu kerjanya cuma ngerumpi." Jangan gitu, ya, Milo! Kita tidak tahu apakah seseorang bekerja keras atau tidak.

Minggu, 21 September 2014

Menyesal

Kena batunya. Kalimat itu tepat sekali menggambarkan keadaanku saat ini. Procrastinator sejati. Hobi menunda-nunda. Ada tugas yang deadline hari ini pukul 09.50, dan sejak kemarin aku hanya gegoleran tak jelas. Tadi padi mulai mengerjakan, malah bingung. Siangnya tidur. Setelah itu, heboh mengerjakan. Tapi, baru selesai pukul sepuluh tadi. Sudah tidak bisa upload di website. Terlambat.

Mau nangis? Ya, silakan. Nangis yang kenceng. Tidak akan bisa mengubah keadaan. Waktu tidak akan berputar kembali ke pukul 09.50.

Mau mengeluh? Nggak malu? Salahmu dewek, nok. Semua perbuatan, semua keputusan, ada akibatnya. Berani berbuat, harus berani menghadapi risikonya. Berani menunda-nunda, harus berani menghadapi risiko terparah.

Menyesal? Ah, tidak ada gunanya. Penyesalan memang datangnya belakangan. Iya. Dan kadang, orang yang terlalu ndableg memang harus mengalami hal ekstrim bin tragis agar sadar dengan kesalahannya dan mau memperbaiki diri. Seperti kata Gandalf, tangan yang terbakar lebih efektif untuk mengingatkan bahaya api. Sekarang tinggal berdoa saja, semoga tangan yang terbakar itu tidak terlalu parah lukanya. Penyesalan memang tidak bisa mengubah keadaan. Tapi, menyesal dan memperbaiki diri lebih baik daripada tidak menyadari kesalahan.

Kali lain, jangan menunda-nunda lagi. Kali lain, jangan bermalas-malasan lagi. Kali lain, harus lebih semangat, fokus, dan istiqomah belajar. Jangan tergoda untuk gegoleran ataupun internetan nggak jelas. Dan semoga masih ada kesempatan lain. 

Waktunya introspeksi diri. Waktunya memperbaiki diri.

Sabtu, 20 September 2014

Udik + Impulsif + Jakarta = ???

Belum sebulan aku tinggal di Jakarta, aku sudah menggelandang beberapa kali. Padahal, dulu, hampir lima tahun tinggal di Jakarta, aku jarang sekali bepergian. Belum tentu dalam sebulan ada agenda jalan-jalan. Dan sekarang, justru sebaliknya. Rasanya tidak betah tinggal di kos. Mungkin karena aku lama tinggal di luar Jawa yang minim tempat rekreasi. Ada, siiiih, tapi jauh. Kalau di Jakarta? Tinggal naik Transjakarta. Seperti orang yang sudah lama tidak makan. Begitu melihat makanan, rasanya semua ingin dimakan. Begitu juga aku. Rasanya ingin berkeliling ke semua tempat dan menikmati fasilitas yang tidak bisa kudapatkan di daerah.

Penggelandangan pertama adalah hari Senin, 8 September. Tujuannya: Gramedia. Awalnya aku tidak berniat ke sana. Niat semula adalah nonton di XXI Atrium sepulang kuliah. Tapi, berhubung aku tidak hapal bioskopnya di lantai berapa dan aku tidak punya teman yang bisa diajak nonton (plus jadi penunjuk jalan), aku pun memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan (di dalam Transjakarta), aku tergoda untuk ke Gramedia. Akhirnya setelah sampai di halte Tegalan aku pun turun, dan ngucluk ke Gramedia. Iya, aku impulsif. Padahal Gramedia adalah tempat hangout paling berbahaya bagiku. Kenapa? Karena kalau sudah ke Gramedia, aku harus siap-siap mengeluarkan uang banyak karena khilaf membeli buku. Daaan, memang akhirnya khilaf. Tapi, tidak menyesal, sih, karena ada novel lanjutan dari novel yang sudah pernah kubaca. Ada Bite-Sized Magic (The Bliss Trilogy) dan 21 (The Chronicles of Audy).

Sabtu, 06 September 2014

Belajar Bahasa Inggris dari Sherlock (4)


Setelah belajar dari Sherlock episode The Empty Hearse, The Sign of Three, dan The Blind Banker, kali ini giliran episode favoritku: The Hound of Baskerville (Sherlock season 2 episode 2). Here we go!

No. Cold turkey, we agreed, no matter what (John, to Sherlock)
cold turkey = abrupt and complete withdrawal from the use of an addictive substance, esp. a narcotic drug, or nicotine.
no matter what = in any event; without any regards to what happens (in the future); whatever the conditions are.
Kalimat “No. Cold turkey, we agreed, no matter what” ini adalah jawaban John ketika Sherlock memintanya untuk menunjukkan di mana dia menyembunyikan rokok Sherlock. Jadi, maksud John adalah mereka berdua sudah sepakat bahwa Sherlock akan berhenti merokok apapun yang terjadi. Dan berhenti di sini adalah berhenti total secara sekaligus, bukan bertahap.

Anyway, you’ve paid everyone off, remember? No one within a two-mile radius will sell you any (John, to Sherlock)
pay someone off = to pay what is owed to a person; to bribe someone.
Di antara kedua arti di atas, yang lebih sesuai dengan kalimat John adalah yang kedua. Maksud John adalah Sherlock sudah membayar semua orang di lingkungan tempat tinggalnya dalam radius dua mil agar mereka tidak menjual rokok kepadanya.

Don’t pin your hopes on that cruise with Mr Chatterjee, he’s got a wife in Doncaster nobody knows about (Sherlock, to Mrs. Hudson)
pin your hopes on something/somebody = to hope that something or someone will help you achieve what you want; to depend on someone or something for a successful result.
Nah, untuk yang satu ini aku masih agak bingung. Tapi, sepertinya maksud Sherlock adalah agar Mrs. Hudson tidak terlalu berharap bahwa liburannya dengan Mr. Chatterjee akan terwujud atau berjalan lancar karena sebenarnya dia sudah punya istri di Doncaster. Sepertinya begitu.

In your own time. But quite quickly (Sherlock, to Henry)
in one’s time = at one’s own rate; at a time and a rate decided by oneself.
Yang ini juga agak sulit menjelaskannya. Tapi, sepertinya kalimat “In your own time” lebih kurang maksudnya tidak perlu buru-buru, mirip dengan “Take your time” tapi mungkin beda kondisi. Mungkiiin.

Rabu, 09 Juli 2014

Akhirnya Saya Memilih

Terlalu semangat nyelupin jari ke tinta, sampai hitam


Setelah sekian lama malas ikut pileg, pilpres, pilkada, dan pil-pil yang lain, hari ini aku kembali ke jalan yang entah-benar-entah-tidak: menggunakan hakku untuk memilih. Alasan utamaku, sih, agar surat suaraku tidak disalahgunakan oknum yang tidak bertanggung jawab. Bukannya tidak percaya pada petugas KPPS. Tapi kan kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan, dan hak pilih yang tidak digunakan bisa jadi kesempatan bagi para oknum untuk menyalahgunakan surat suara yang “nganggur” tersebut. Selain itu, aku juga lumayan terpengaruh kampanye teman-teman di media sosial dan kampanye para wartawan di portal berita. Apa? Yang di portal berita bukan kampanye? Yakin itu bukan kampanye? Amacacih? Pokoknya, selamat bagi kalian yang sudah rajin berkampanye karena berhasil membuatku yang selama ini golput jadi ikutan memilih. You de real MVP (deuh, serasa di 9GAG).

Berhubung aku adalah perantau, aku tidak yakin namaku terdaftar dalam DPT. Untungnya anak ibu kos, sebut saja Si Kakak adalah anggota KIP (Komisi Independen Pemilihan), yaitu semacam KPU tapi di Aceh istilahnya berbeda. Tanggal 8 kemarin aku bertanya padanya apa bisa aku memilih hanya membawa KTP saja. Dia pun menjawab kalau aku harus mendapatkan kartu A5 terlebih dahulu untuk pindah TPS (semacam itulah). Dia meminta KTP-ku agar bisa membuatkan kartu A5 untukku. Padahal menurut kawanku kami bisa memilih dengan membawa KTP dan KK (seperti pengalamannya sewaktu pileg yang lalu) karena KTP kami sudah KTP Aceh Barat Daya. Tapi, aku tidak paham aturan yang sebenarnya, jadi kuberikan KTP-ku. Dan pagi tadi ketika aku meminta kartu A5, Si Kakak sudah pergi. Dan adiknya menyerahkan KTP-ku tanpa memberikan A5. Sepertinya kemarin Si Kakak mengira KTP-ku bukan KTP kabupaten sini jadi mengatakan bahwa aku membutuhkan A5. Setelah tahu KTP-ku kabupaten sini, dia cuma mendaftarkan namaku saja. Sepertinya begitu.