Jumat, 25 Mei 2012

Episode Cita-Cita

“Kamu nanti kuliah mau ngambil jurusan apa?” tanya sang kakak pada adiknya.
Setelah berpikir sejenak sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
“Memangnya cita-citamu apa?” tanya sang kakak lagi.
Lagi lagi sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
Sang kakak pun kesal hingga kemudian berkata, “Orang hidup, kok, nggak punya cita-cita.”
Datar, tanpa tekanan, tapi kata-kata itu sudah menggoreskan luka yang bekasnya takkan hilang seumur hidup.

Benar apa yang di-sirat-kan oleh kakaknya adalah hal yang benar bahwa orang hidup seharusnya punya cita-cita. Tapi, sayangnya dia tidak tahu apa cita-citanya. Yang dia tahu selama ini hanyalah sekolah, mendapat rangking bagus, serta lulus dengan nilai memuaskan. Setelah itu? Sama sekali tak pernah ia pikirkan masak-masak.

Dia teringat masa kecilnya. Ketika kebanyakan anak kecil di-kudang oleh orang tuanya agar menjadi dokter, ayahnya justru ‘mencekokinya’ dengan cita-cita menjadi mubalighoh. Ayahnya ingin agar dia belajar ilmu agama lalu menjadi seorang penceramah. Anak kecil tentu saja masih sekadar menjawab ‘iya’ atas ‘arahan’ orangtuanya. Dia pun menyimpan cita-cita mulia menjadi mubalighoh. Setelah beranjak remaja, dia pun melupakan kudang-an ayahnya agar dia menjadi mubalighoh. Saat kelas enam SD dia justru sempat berkeinginan menjadi pemain band yang ahli memainkan berbagai alat musik: piano, gitar, drum, biola, dan sekaligus menjadi vokalisnya. Tapi, lagi-lagi keinginan itu cuma numpang lewat di kepalanya. Hal tersebut juga didukung jiwa premannya yang jauh lebih dominan dibandingkan jiwa religiusnya. Sebentar kemudian, sudah hilang cita-cita itu. Saat lulus SD, kakak tertuanya masuk kuliah di Fakultas Pertanian. Jiwa labilnya membuat dia bercita-cita untuk kuliah di fakultas yang sama dengan kakaknya kelak. Dan lagi-lagi, cita-cita itu numpang lewat. Seperti angin yang dengan mudah berhembus datang dan pergi. Dia menjalani hidup tanpa tahu kelak ingin menjadi apa, ingin kuliah di mana, ingin kerja sebagai apa. Dia hanya tahu sekolah dan bermain.

Rabu, 23 Mei 2012

Setahun Lembaran Baru

23 Mei 2011 - 23 Mei 2012

Sudah setahun usia blog ini. Iya, tanggal 23 Mei 2012 adalah kali pertama aku kembali ke blogosphere. Blog berjudul Hari Baru, Lembaran Baru ini seperti sebuah harapan untuk memulai dari awal, menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Menutup cerita sedih di blog lama dan memulai kembali cerita baru di blog baru. Dengan harapan, blog baruku ini akan penuh harapan, cerita lucu, menyenangkan, inspiratif, pokoknya jauh dari kata sedih. Sebagaimana yang kuceritakan di tulisan pertamaku.

Ibarat anak kecil, masih belajar berdiri, pelan-pelan berjalan, belum lancar bicara. Begitu pula blog ini. Tulisannya masih belum 'matang', masih kerap dipenuhi emosi, masih belum bisa memilih kata-kata yang tepat dan menarik. Masih belum bisa memberi hikmah bagi yang membaca blog ini. Tapi, anak umur setahun, kan, lagi lucu-lucunya. Jadi, blog ini juga lagi lucu-lucunya. Lucu, imut, ngegemesin, hehehe...

Di umur yang setahun ini, aku sudah 'menyampah' di blogosphere dan menyumbangkan sampah sebanyak 157 tulisan, yang sebagian besar isinya curhat, hehehe... Selain curhat, banyak tulisanku yang kuikutkan kontes atau giveaway. Sampai-sampai aku merasa seperti banci giveaway. Dan Alhamdulillah sudah beberapa kali menang meskipun lebih banyak kalahnya. Tapi... Kok, hadiah giveaway dari Mbak Titik dan dari Jay belum sampai, ya??? Banyak juga cerita dan foto-foto pamer sebagai dokumentasi kegiatan jalan-jalanku. Yang dipajang memang yang bagus-bagus. Mana mungkin aku memajang foto pantai atau sungai yang jelek di blog yang cantik ini? Di umur setahun ini juga follower blog ini sudah mencapai 73. Sungguh angka yang tidak terduga. Beberapa waktu lalu, ketika follower blog ini mencapai 50 orang sebenarnya aku ingin membuat posting-an FOLLOWER EMAS. Tapi, tidak jadi. Terus ditunda sampai follower semakin banyak. Saat ada posting-an yang komentarnya mencapai 50 pun aku ingin membuat posting-an KOMENTAR EMAS. Lagi-lagi tidak jadi.

Senin, 21 Mei 2012

Pantai Barat (Lagi)

Hari Rabu, 16 Mei 2012 lalu aku menghadiri acara resepsi pernikahan kawan kantor di Samadua, Aceh Selatan. Oooh, jadi kali ini posting tentang pernikahan? Bukaaan! Tentang upacara adat dalam pernikahan? Bukan jugaaa! Kali ini aku cuma mau pamer foto-foto gagal yang diambil dari atas sepeda motor. Wow, naik motor sambil memotret? Yah, bukan aku yang mengendarai, aku cuma MBONCENG!

Sebelum pamer, aku cerita dulu. Pagi itu aku dengan percaya diri memakai seragam kantor karena kata kawanku kami memang disuruh memakai seragam saja. Nah, berhubung seragamku itu tidak ada yang memakai celana panjang alias rok semua, aku pun memakai rok. Di kantor orang-orang langsung berkata lebih kurang begini, "Naik motor ke Samadua pake rok? Nggak capek?" Aku pun belum terlalu ngeh. Aku masih berpikiran bahwa Samadua itu dekat dengan Labuhan Haji, jadi jaraknya paling cuma 25 sampai 30 km dan medannya cukup 'damai'. Setelah dipikir-pikir (aku baru memikirkannya ketika sudah naik motor dengan membonceng gaya perempuan, tahu, kaaan?) aku baru sadar kalau Samadua itu dekat dengan Tapaktuan. Nah, kalau tidak salah jarak Tapaktuan-Blangpidie sendiri sekitar 90 km (kata kawanku, sih, jaraknya segitu). Jadi, jaraknya agak-agak mendekati itu lah. Pastinya aku tidak tau, yang pasti jauh lebih dari perkiraan awal yaitu 25-30 km. Dan medannya? Uwow! Naik turun gunung, berkelok-kelok, pokoknya cocok bagi para rider yang menggemari trek menantang. Tapi, trek yang uwow ini cukup terobati dengan adanya pemandangan yang uwow juga. Selain beberapa kali melintasi gunung yang sejuk, kami juga melintasi pantai yang eksotis. Yeah, pantai barat Aceh ini memang seksi. Pokoknya Subhanalloh indahnya. Tidak percaya? Ini buktinya: 

Emily of New Moon

Novel karya Lucy Maud Montgomery ini menceritakan seorang gadis kecil bernama Emily Bird Starr. Emily ini adalah anak yang penuh imajinasi. Biarpun tinggal di rumah yang jauh-dari-mana-mana, dia tidak pernah merasa kesepian karena dia memiliki banyak teman. Mau tahu siapa teman-temannya? Mereka adalah Mike, Saucy Sal, Dewi Angin, Pohon Adam dan Hawa, Pinus Ayam Jago, nona-nona birch yang ramah, juga Sang Kilat. Semuanya itu nama manusia? Hohoho, tentu saja BUKAN! Mike dan Saucy Sal adalah kucing-kucingnya. Pohon Adam dan Hawa, nona-nona birch yang ramah, serta Pinus Ayam Jago adalah pohon-pohon di sekitar rumahnya. Lalu Dewi Angin dan Sang Kilat? Ya, angin dan kilat. Jadi, kawan-kawannya adalah hewan dan benda mati? Ya, begitulah. Oh, ya, ada satu lagi kawan Emily, yaitu Emily-kecil-di-dalam-cermin. Maksudnya bayangan Emily di dalam cermin? Iya, Emily berkawan dengan bayangan dirinya sendiri yang ia lihat di cermin dan sering berbincang-bincang dengan bayangannya itu. Ia juga sering menuliskan apa yang ia alami – atau yang ia imajinasikan – dalam buku hariannya lalu ia bacakan di depan ayahnya. Aneh, ya? Ketika pertama kali membaca cerita ini aku pun merasa aneh dan sedikit bosan. Namun, setelah membacanya untuk kedua kalinya, aku menganggap novel ini menarik. Jarang aku menemukan buku dengan tokoh penuh imajinasi seperti ini.

Jumat, 18 Mei 2012

Ketiban PR dari Narso

Well, aku kebagian Pe-eR dari Si Narso. Iya, Narso. Kenal? Itu, lho... Yang suka ngaku-ngaku bernama eksak. Tahu, kaaan??? Pertanyaannya, sih, biasa saja. Tidak terlalu sulit bagiku. Yah, di mana-mana memang tidak ada pertanyaan yang sulit. Yang sulit itu menjawabnya. Baiklah. Berhubung aku adalah orang yang baik, aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

1. ASL pliss...! (Age, Sex, Location) Gue 18, Male, Kendal! Elo?
Age = 17. Narso saja mengaku 18 tahun, boleh, dong, aku mengaku 17 tahun? Hehehe, aku jujur saja, lah. Umurku saat ini bilang dihitung dengan konsep BPS -- berdasarkan ulang tahun terakhir -- yaitu 25 tahun. Kalau menurut penanggalan Hijriyah, sih, sepertinya sudah 27 tahun. Sepertinyaaa... Aku juga tidak yakin.
Sex = Alhamdulillah aku dilahirkan sebagai perempuan yang manis, imut, lucu, ngegemesin!
Location = Sebenarnya jawaban tepatnya adalah ndhuwur bumi ngisor langit. Tapi, kalau yang ditanyakan itu tempat tinggal saat ini, aku sekarang berdomisili di Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Keterangan lengkap mengenai kabupaten ini bisa dilihat di Wikipedia.

2. Ibaratin hidup ini kayak sesuatu versi elo dan jelasin perumpamaannya! [misal, hidup tuh kaya roda muter karna...bla... Bla...bla...]


Walaaaah! Susah ini menjawabnya. Menurutku hidup bisa diumpamakan seperti banyak hal, dan banyak hal yang bisa diambil hikmahnya sebagai pedoman hidup. Hidup bisa diumpamakan perjalanan, bisa diumpamakan naik sepeda atau naik sepeda motor, bisa diumpamakan main game. Sebenarnya banyak hal yang bisa diulas untuk dijadikan perumpaan hidup. Just look around you, every pieces of the world will teach you about life!



3. Elo tau gak ±5000 kali jantung berdetak dalam sejam? Menurut angka itu, coba elo itung berapa kali jantung berdetak pas umur elo nginjek 60 tahun!
Aku nggak punya kalkulatoooooooor! Yah, maaf-maaf saja. Silakan hitung sendiri saja, hehehe...




Kamis, 17 Mei 2012

Mencontek?

Pernah mencontek? Dulu, sewaktu SD seingatku aku tidak pernah mencontek. Tapi, sejak kelas 2 SMP (kalau tidak salah) aku mulai mencontek. Waktu itu masih sebatas mencontek pada teman dan memberikan contekan. Setelah naik kelas 3, teman-temanku semakin gencar mencontek dan aku sedikit terpengaruh. Mereka mencontek dari LKS pada saat ulangan Agama. Ulangan Agama, Sodara-sodara!!! Parahnya, LKS itu ditaruh di atas meja sewaktu ulangan dan guru kami tidak menegur. Entah guru kami itu tidak melihat atau memang sengaja ‘mengharapkan’ kesadaran kami. Aku melihat salah satu temanku yang terkenal alim pun mencontek. Dengan logika bodohku aku pun menyimpulkan “Ah, dia aja yang alim nyontek, berarti kalau aku nyontek nggak papa”. Sejak saat itu pun aku ikut-ikutan mencontek dari LKS ketika ulangan Agama. Tapi, saat EBTANAS aku memutuskan tidak mencontek. Alasannya? Aku lupa. Sepertinya aku ingin hasil EBTANAS itu murni hasil belajarku (padahal tidak murni hasi belajar juga karena sebagian besar dibantu do’a).

Setelah SMA aku pun (entah kenapa) bercerita pada kakakku bahwa aku memberi contekan pada kawanku. Kata kakakku tidak boleh. Aku pun membela diri dengan mengatakan bahwa aku tidak mencontek melainkan cuma memberi contekan. Kakakku mengatakan bahwa kedua hal itu sama saja. Dan dia langsung mengeluarkan dalil yang kira-kira bunyinya begini, “Jangan tolong-menolong dalam hal keburukan.” Jleb! Jadi, dosa, ya? Sejak itu aku insyaf, tidak berani mencontek ketika ulangan atau ujian, entah mencontek dari kawan atau dari buku. Tapi tetap mencontek ketika mengerjakan PR atau tugas, hehehe... Dulu, guru Fisika-ku (nama dirahasiakan) memberi aturan bahwa kami boleh mencontek ketika mengerjakan tugas tapi tidak boleh mencontek ketika ulangan atau tes. Padahal cuma satu guru yang memberikan aturan tersebut, tapi aturan itu kuterapkan pada semua mata pelajaran. Hmm, salah tidak, yaaa??? Dulu menurutku boleh-boleh saja mencontek sewaktu mengerjakan PR, dengan catatan guru tersebut tidak memberikan larangan untuk mencontek. Mengerjakan PR adalah proses belajar. Dan kalau kita mencontek dengan cara yang benar, yaitu sambil mempelajari soal dan jawabannya, itu sama saja dengan belajar. Tapi, setelah kuliah, aku diajar oleh dosen yang tidak membedakan antara mencontek sewaktu mengerjakan tugas dan mencontek ketika ujian. Waktu itu dosenku menanyakan siapa di antara kami sekelas yang tidak pernah mencontek (ketika ujian, mengerjakan PR, atau apapun). Dan yang mengacungkan jari cuma satu orang. Dosenku ini pun kelihatan sangat kecewa. Lalu kami pun dinasihati tapi aku lupa apa nasihatnya. Sungguh terlalu! Hehehe... Maaf, Pak! Yang penting aku menangkap inti nasihatnya bahwa mencontek itu tidak baik.

Selasa, 15 Mei 2012

Better Never Than Late

Pernah datang terlambat ke sekolah? Jarang? Sering? Atau malah tidak pernah? Aku pernah terlambat beberapa kali. Kali pertama aku datang terlambat adalah saat SD kelas 6. Saat itu aku mengikuti upacara di tempat lain dan tidak izin dahulu pada guruku. Jadi, ketika datang ke sekolah aku dianggap terlambat.

Kali kedua aku terlambat ketika aku kelas 2 SMP. Saat itu aku sebenarnya sudah datang ke sekolah. Namun, karena buku Matematikaku ketinggalan, aku pun pulang ke rumah dulu. Untuk pulang ke rumah aku harus naik angkutan umum. Sampai di sekolah lagi sekitar pukul 7.10 WIB. Terlambat sepuluh menit. Hari itu pelajaran pertama Matematika. Kesepakatan kami dengan guru Matematika adalah murid yang datang terlambat akan dihukum berdiri di depan kelas sesuai lama terlambatnya. Karena aku terlambat sepuluh menit, aku pun harus berdiri di depan kelas selama sepuluh menit.

Kali ketiga, aku terlambat sewaktu kelas 1 SMA. Aku lupa kenapa terlambat. Yang jelas, hari itu aku tidak ikut upacara, tapi Alhamdulillah masih sempat ikut ulangan Matematika (kalau tidak salah).
Nah, kali keempat ini yang spektakuler. Waktu itu aku kelas 2 SMA. Aku terlambat mandi karena didahului entah siapa. Ujung-ujungnya aku yang bisanya pukul 6.15 sudah keluar rumah, saat itu masih belum beranjak juga. Sebenarnya terlambatnya cuma sebentar. Tapi, saat itu, terlambat lima menit saja sudah fatal: ketinggalan angkutan ‘khusus’. Aku pun menangis karena takut terlambat. Untungnya ibuku langsung tanggap ‘ngeneng-ngenengi’ dan menyuruhku segera berangkat. Hari itu aku dugaanku benar: ketinggalan angkutan langganan. Biasanya di terminal ada angkutan yang ‘dicarter’ anak-anak yang bersekolah di daerah Slerok, seperti SMA 1 Tegal, SMK, dan sebagainya. Angkutan ini tidak melewati jalur biasa melainkan langsung menuju daerah Slerok. Dan hari itu aku terlambat sedikit jadi terpaksa naik angkutan umum dengan rute biasa, lewat pasar. Nah, seperti biasa, kalau di pasar angkot akan ngetem menunggu ibu-ibu pulang. Hmm, makin terlambat, lah. Untungnya sampai sekolah tidak dihukum.

Yang kali kelima juga tidak kalah spektakuler. Waktu itu aku kuliah tingkat 4. Hari itu sebenarnya jadwal kuliahnya siang. Tapi, ternyata ada jam pengganti untuk mata kuliah Pemrograman Web. Biasanya ada pengumuman lewat jarkom SMS tapi kali itu tidak ada pemberitahuan. Sekretaris kelasku cuma mengumumkan secara lisan dan katanya menulis di papan tulis (tapi aku tidak ingat). Ketika temanku bertanya kenapa aku tidak masuk, aku pun langsung kaget. Memangnya ada kuliah? Dan parahnya, si teman ini bertanya setelah satu jam berlalu dari waktu kuliah dimulai. Itu artinya aku sudah terlambat satu jam. Perasaanku campur aduk waktu itu. Dan aku cuma bisa menangis sekencang-kencangnya. Masuk kuliah dan terlambat satu jam adalah hal yang sangat memalukan. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak kuliah. Bolos. Daripada terlambat, lebih baik tidak usah datang. Sesuai pepatah better never than late. Bukan better late then never, hahaha!

Jumat, 11 Mei 2012

Ubur-ubur dan Kuda Nil

“Eksaaaaak!!! Pinjem gitar, dong!” teriak Milla sambil menggedor-gedor pintu kamar Eksak.
Tanpa membuka pintu kamar, Eksak balas berteriak, “Ogah gue pinjemin gitar buat dedemit kaya elo!”
Brak! Milla langsung menendang pintu kamar Eksak. “Dasar! Kesemek medhit! Eh, enggak, ding! Elo bukan kesemek. Kalo kesemek, kan, putih, pake bedak. Nggak kaya elo, udah item, jelek, idup lagi!”

Jleb! Eksak tertegun. Ejekan Milla sangat menohok di ulu hatinya. Kenapa mesti mengungkit-ungkit masalah “hitam”??? Dia pun teringat pertanyaan yang kerap diajukan kawan-kawannya. “Serius kalian kembar? Dia putih gitu kaya Cina, elo item kaya tikus kecemplung got gitu. Mana mungkin kembar???” Kalau Milla sedang murka padanya, biasanya dia akan ‘pura-pura polos’ bertanya pada Mama, “Ma, dulu waktu kami bayi, ada pembangunan jalan aspal di komplek rumah nggak, sih?” Setelah Mama balik bertanya “Emangnya kenapa?”, dia akan mengeluarkan kartu AS-nya. “Yah, sapa tahu ada pembangunan jalan, trus pas Mama jalan-jalan gendong Eksak, nggak sengaja Eksak kecemplung ke drum aspal, makanya item,” katanya sambil melirik Eksak penuh kemenangan. Dan sayangnya, ejekan tersebut diperparah oleh jawaban Mamanya. “Eksak nggak item, kok. Cuman coklat pekat. Eh, ngomong-ngomong soal coklat, kayaknya, sih, Eksak coklat karena dulu Mama ngidam lapis legit. Kan, lapis legit itu warnanya kuning ama coklat, tuh! Kuningnya buat Milla, trus coklatnya buat Eksak!”

Kamis, 10 Mei 2012

Sekelumit Tentang Biomassa di Belanda


Lihat gambar di atas. Percaya dengan per-kotek-an (bukan perkataan) si ayam? Percaya saja, dia tidak bohong, sueeerr! Kotoran ayam memang dijadikan bahan baku pembangkit listrik di Belanda. Kotoran ini diolah menjadi biogas untuk kemudian dijadikan bahan baku pembangkit listrik. Pembangkit listrik tersebut sudah dioperasikan sejak 2008 dan menghasilkan listrik 270 juta kWh dalam setahun.

Cuma kotoran ayam? Tentu tidaaaak. Mereka juga mengolah sampah lainnya menjadi energi listrik, salah satunya sampah dari sayuran dan buah (VGF = vegetable, garden, and fruit). Bayangkan! Bayam, kangkung, tomat, dan sebangsanya bisa ‘menghasilkan’ listrik. Sama seperti kotoran ayam, VGF ini juga diolah menjadi biogas lalu diproses menjadi listrik. Satu ton VGF bisa menghasilkan 100 Nm3 biogas (metana) yang bisa memproduksi listrik 200 kWh.

Kreatif, ya! Langkah tersebut bisa diibaratkan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Dengan dioperasikannya pembangkit listrik tersebut, Belanda dapat mengatasi  masalah kebutuhan terhadap energi alternatif sekaligus mengelola sampah organik dengan baik. Selain itu juga mengangkat martabat para ayam dari kasta penghasil limbah menjadi kasta penghasil bahan baku biomassa, hehehe...

Minggu, 06 Mei 2012

Tentang Fanatisme

Dalam beberapa berita yang berbau agama (kadang juga berita biasa yang anehnya dihubung-hubungkan dengan masalah agama) ada komentator yang berkomentar SARA. Terhadap komentator SARA tersebut biasanya ada komentator lain yang menanggapi dengan kalimat “Jangan fanatik. Jangan menganggap agama sendiri yang paling benar”. Aku sangat tidak setuju pada komentator SARA. Tapi, aku lebih tidak setuju pada kalimat yang melarang orang untuk menganggap agamanya sebagai yang paling benar. Kenapa? Karena hal itu sangat tidak logis. Bagaimana kita bisa memutuskan untuk menganut suatu agama sementara kita tidak menganggap ajaran agama kita sebagai yang paling benar? Lantas, apa alasan kita menganut ajaran tersebut? Suka-suka? Agama adalah PEDOMAN HIDUP. Bagaimana mungkin kita memilih suatu pedoman hidup sedangkan kita tidak yakin akan kebenarannya. Berlebihan bila kita melarang seseorang menganggap ajaran agamanya yang paling benar untuk alasan toleransi. Bagiku, toleransi cukup dengan ayat terakhir dari surat Al Kaafiruun “Untukmu agamamu, untukku agamaku”. Saling menghormati dan tidak saling mengganggu antarumat agama.

Jumat, 04 Mei 2012

Terjebak Tuntutan Orisinalitas

Beberapa hari ini aku rempong mencari bahan untuk membuat tulisan untuk diikutkan dalam Kompetiblog. Maklum saja. Sudah beberapa kali aku melewatkan event tersebut karena tidak ada ide. Jadi, kali ini aku begitu menggebu-gebu untuk berpartisipasi. Tema lomba kali ini adalah mengenai kreativitas orang Belanda. Satu hal yang terpikir olehku adalah kincir angin. Kenapa? Karena aku berpikir bahwa ide warga Belanda untuk mengeringkan tanah (yang posisinya di bawah permukaan laut) dengan menggunakan kincir angin adalah ide yang kreatif. Aku pun mulai googling untuk mengumpulkan informasi mengenai kincir angin untuk memperkuat tulisanku dan agar aku mempunyai referensi yang bisa dipercaya. Dan ternyata aku menemukan tulisan dengan ide yang mirip dengan ideku yaitu menilai kincir angin sebagai salah satu hasil kreativitas orang Belanda. Aku tidak mau dikira meniru ide orang lain. Patah hati. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menulis mengenai kincir angin.

Aku pun mencari ide yang lain. Yang terpikir olehku saat itu adalah kreativitas orang Belanda dalam bidang teknologi informasi. Alasan pertama, aku mempunyai sedikit dasar pengetahuan mengenai bidang tersebut jadi tidak akan terlalu kesulitan membuat tulisan tersebut. Alasan kedua, sepertinya orang Belanda sudah sangat maju dalam bidang tersebut. Aku pun kembali googling. Aku menemukan beberapa nama tokoh Belanda dalam bidang teknologi informasi. Ada penemu bahasa pemrograman Phyton. Aku pun terinspirasi untuk mempersempit tulisanku jadi membahas mengenai para pencipta bahasa pemrograman dari Belanda saja. Dan ketika aku kembali googling, aku lagi-lagi menemukan tulisan yang idenya mirip denganku dan sepertinya juga diikutkan dalam lomba tersebut. Patah hati lagi.

Kamis, 03 Mei 2012

Mengenang Tiga Tahun Lalu

2 Mei 2009, malam
Aku benar-benar rempong membereskan barang-barang yang akan kubawa. Baju, sepatu murah baru yang dibeli di PGC, dan keperluan lainnya kutata dalam koper besar warna biru yang kubeli bersama Heni.

3 Mei 2009, pagi
Masih rempong. Dan ditambah galau. Kali pertama meninggalkan pulau Jawa, pergi jauh ke ujung Sumatera, kali pertama akan naik pesawat, semua campur aduk. Ditambah pikiran bahwa aku akan jarang pulang, paling banter setahun sekali. Padahal, selama ini aku biasa pulang sebulan sekali, paling lama tiga bulan aku tidak pulang ke rumah.

Barang-barang sudah dipak. Seperti lirik lagunya Shania Twain, “all my bags are packed, I’m ready to go”. Yeah, honestly I wasn’t ready to go. Tidak sempat sarapan. Atau mungkin lebih tepatnya, terlalu ‘stress’ untuk memikirkan sarapan. Akhirnya cuma minum susu kotak rasa stroberi (kalau tidak salah). Aku sudah memakai kostum kebanggaanku, jaket PKL. Jaket berwarna hijau lumut itu memang jaket kesayanganku. Bukan karena desainnya keren, melainkan karena sakunya banyak. Dua saku di bawah, satu di atas, dan satu lagi di bagian dalam. Jadi, aku tidak perlu bingung di mana harus menyimpan ponsel, dompetku, dan barang-barang lain yang kuperlukan.

Pakdhe-ku menelepon. Katanya sudah di depan gang masuk kosku. “Pakdhe udah di depan. Kamu keluar. Kaya raden aja mesti dipanggil,” begitu kira-kira ucapan Pakdhe-ku yang membuatku kapok ‘berurusan’ dengannya. Aku memang jarang bertemu dan ‘berurusan’ dengannya selama ini.

Ibu, Abah, dan adikku sudah ada dalam taksi. Barang-barangku pun segera dibawa turun. Pakdhe-ku pun segera membawa taksi meluncur menuju bandara. Waktu itu aku percaya saja pada teman-temanku bahwa aku harus check ini 2 jam sebelum terbang. Jadi, kami pergi sangat gasik (awal). Sampai di sana, baru aku yang datang. Aku pun menelepon kawan-kawanku yang lain. Ternyata sebagian besar masih dalam perjalanan.

Senin, 30 April 2012

Lampuki, Novel yang Membuatku Berpikir Negatif

Apakah kehadiranku di Aceh ini tidak disukai? Pertanyaan itu yang muncul ketika aku membaca novel Lampuki karya Arafat Nur. Kenapa tiba-tiba aku bertanya begitu? Karena dalam novel tersebut digambarkan bagaimana tokoh-tokohnya tidak menyukai pendatang dari Jawa. Dan aku orang Jawa, meskipun dalam sekilas pandang banyak orang yang terkecoh dan menduga aku bukan orang Jawa. Otomatis, aku berpikir bahwa kalau orang Aceh tahu aku orang Jawa, mereka tidak akan menyukai keberadaanku di antara mereka.

Jujur, ketika membaca novel ini, aku merasa terusik, tersinggung, marah, dan entah apa lagi rasa yang mucul. Ada sedikit rasa sesal sudah membeli dan membacanya. Aku tergoda membeli novel ini karena temanku Karzel pernah memuji novel ini. Tapi ternyata aku justru kecewa membacanya dan, maaf, tidak bisa memberikan pujian.

Jumat, 27 April 2012

Kamus Brebes (G)

Berhubung blog multiply-ku sudah lama tidak terurus, lebih baik isinya yang penting kupindah di sini saja. Berikut adalah kamus Bahasa Brebes yang sudah kususun dan sudah pernah ku-post di blog tersebut.

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan.
Gabag = campak
Gablèg = memukul dengan keras (biasanya di punggung)
Gablèg = punya
     → ora gablèg duit = tidak punya (banyak) uang
Gabug = kosong, tidak ada isinya (untuk butir padi, telur kutu); tidak berguna (untuk hari)
Gamben = dengan
     → digambenna karo = dipasangkan dengan
Gamblok = tempel → nggamblok = menempel
Gandhul = pepaya
Ganing = Daning = kenapa; seperti kata "kok" dalam Bahasa Indonesia atau seperti kata "geuning" dalam Bahasa Sunda
Gangsut = pingsut = bersuit
Gantar = batang bambu panjang yang biasanya digunakan untuk menjangkau sesuatu
Ganyam → ngganyami = memarahi
     → diganyami = dimarahi
Gaok = burung gagak
Gari = kari = tinggal → gari siji = kari siji = tinggal satu
Garu = sisir
Gasak = ejek (lebih bersifat canda)
Gasik = awal, lebih cepat
Gathol = pegang → gatholan = berpegangan pada sesuatu
Gau = pujian untuk anak yang baik, rajin, patuh
Gayap = antusias (ketika ditawari sesuatu)
Ge = Gen = kata seru yang artinya hampir mirip dengan 'dong' atau 'nih' dalam Bahasa Betawi dan kata 'to' dalam Bahasa Jawa
Gèbris = hardik, bentak → nggèbris = membentak

Ada Halo Siang Ini

Tadi siang, sekitar menjelang pukul sebelas, Intan mengirim pesan padaku. Mil, coba lihat ke langit. Ada halo gede banget. Aku pun segera keluar ruangan. Dan ternyata memang ada semacam lingkaran pelangi di sekitar matahari. Beberapa kali kucoba memotretnya dengan susah payah karena silau. Aku tidak bisa fokus jadi hasilnya tidak penuh terpotret semua halonya. Dan setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku berhasil memotret penuh halo tersebut. Ini dia gambarnya:

Halo di Blangpidie, 27 April 2012

Kamis, 26 April 2012

Negeri van Oranje, Asli, Ini BUKAN Resensi!!!


Dua kata untuk novel ini: GOKIL ABEEES!!! Membaca novel ini membuatku haqqul yaqin bahwa keempat penulisnya adalah orang-orang sarap, hahaha! Kenapa? Hmm, bagaimana, ya, menjelaskannya? Pernah membaca novel Dee (Dewi Lestari) yang pertama? Yang Supernova itu, lho... Salah satu keunikan dari novel Dee tersebut adalah adanya footnote. Nah, dalam novel Negeri van Oranje ini juga ada footnote. Tapiiiii, jangan bayangkan footnote yang serius seperti dalam novel Dee. Dalam novel gokil ini, footnote yang ada justru ngocol, meskipun tetap memberikan penjelasan bagi kata-kata yang diberi footnote ini. Tapi, ada juga, sih, kata-kata yang tidak perlu diberi penjelasan dan justru diberi footnote. Seperti apa footnote-nya? Pokoknya geje, dah!

Novel ini menceritakan kisah lima mahasiswa Indonesia yang kuliah di negeri asal kumpeni alias Belanda. Kelima mahasiswa tersebut adalah Lintang, Wicak, Daus, Banjar, dan Geri. Lintang, satu-satunya perempuan dalam ‘geng’ mereka yang diberi nama AAGABAN (Aliansi Amersfort GAra-gara BAdai di Netherland, nama ‘geng’ yang aneh ini adalah hasil karya Lintang). Lintang ini sewaktu kecil dituduh oleh guru tarinya bahwa dia pernah menelan ulat bulu hidup-hidup karena tingkahnya yang pecicilan. Dan tuduhan tersebut dibenarkan oleh ibunya. Dia kuliah di Leiden. Oh, iya, Lintang ini agak terobsesi memiliki pacar WNA meskipun tetap saja cintanya selalu kandas, hahaha! Wicak, anggota LSM yang menyelidiki illegal logging, ‘dikuliahkan’ di Belanda untuk diselamatkan sebelum ‘dimusnahkan’ para otak illegal logging. Aku baru tahu ternyata jaringan illegal logging bisa semengerikan itu. Wicak ini kuliah di Wageningen, yang disebut sebagai “desa ngaku kota”. Daus, putra Betawi tulen dari Gang Sanip, yang pernah bercita-cita jadi pengacara lalu diingatkan kakeknya akan bahayanya menjadi pengara. Kata kakeknya, “Sholat lo aje masih bolong-bolong, mending lo cari makan jangan yang nambah dosa, deh.” Bagi yang berprofesi sebagai pengacara no offense, ya! Banjar, yang nama aslinya Iskandar, seorang eksekutif muda yang kuliah di Belanda karena ingin mematahkan perkataan kawannya yang menyebut dia sudah tidak bisa lagi hidup susah dengan uang beasiswa yang “sangat terbatas”. Yang terakhir, Geri. Dia yang paling awal kuliah di Belanda. Geri ini merupakan sosok yang membuat kawan-kawan lelakinya bete dengan kadar kegantengannya yang jauh di atas rata-rata. Tapi, ada beberapa orang di muka bumi ini yang begitu disayang Dewi Fortuna, hingga ditakdirkan menjadi lucky bastard yang memiliki warisan keluarga berlebih, muka ganteng absolut, kepandaian yang membuat orang bodoh menyesal dilahirkan, dan kebaikan hati yang menyaingi Dalai Lama. Begitu kalimat yang menggambarkan betapa kerennya Geri. Dan aku yakin, Geri BUKAN representasi dari salah satu penulis novel ini. Awalnya aku kesengsem pada tokoh ini. Tapi, menjelang akhir cerita, hati remuk redam mengetahui rahasia Geri. Hehehe, iya, aku tahu, aku lebay.

Rabu, 25 April 2012

Para SPAMMER Sungguh TERLALU!!!

Bagi seorang blogger yang tidak populer, ketika melihat posting-annya mendapat banyak komentar tentulah sangat menyenangkan. Itu juga yang kurasakan belakangan ini. Tapi, sayangnya, kegembiraan yang kurasakan rusak gara-gara ulah SPAMMER yang tidak berperikebloggeran. Mereka dengan semena-mena mengomentari tulisanku dengan komentar yang tidak nyambung, bukan cuma satu tapi belasan. Awalnya cuma dua ekor SPAMMER yang "nyampah" di blog-ku. Jadi, aku masih belum "kebakaran jenggot". Lagipula aku juga tidak punya jenggot. Tapi, kemarin, ada buaaanyaaak SPAMMER yang berkomentar di tulisanku yang berjudul (Bukan) Tugu Tengku Peukan dengan komentar-komentar yang benar-benar OOT (out of topic) yang membuatku senewen. Kalimat-kalimat komentarnya senada, cuma menyebutkan bahwa artikel yang di-post itu menarik dan bermanfaat. Dalam komentar SPAM itu juga menyebutkan bahwa tips yang diberikan sangat bermanfaat. Padahal, dalam posting-anku sama sekali TIDAK ADA TIPS. Nah, ketahuan, kan, kalau itu SPAM. Selain komentarnya yang "standar" dan OOT, para SPAMMER ini juga kadang menggunakan nama yang lumayan mengganggu seperti Obat Kuat dan Gagah Perkasa. Please, deeeh! Aku tidak butuh obat kuat. Yang aku butuhkan adalah makanan bergizi, halal, dan GRATIS. Entah itu orang atau mesin yang melakukannya. Ini dia printscreen SPAM yang "nyampah" di blog tercinta ini.


Komentar-komentar tersebut langsung KUHAPUS tanpa mengunjungi link-nya. Awalnya aku ingin memasukkan komentar tersebut ke SPAM, tapi berhubung waktu itu cuma bisa buka lewat ponsel dan tidak bisa membuka Dashboard lewat ponsel, jadi langsung kuhapus saja.

Selasa, 24 April 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah: Novel yang Membuatku Melanggar Prinsipku

Sejenak aku lupa pada ‘prinsip’ku selama ini: pantang membeli novel yang bertema cinta. Setelah ngubek-ubek dua toko buku dan hanya mendapatkan “Negeri van Oranje”, aku pun masuk ke toko buku ketiga. Aku kembali ngubek-ubek mencari buku yang menarik. Kemudian pandangan mataku bertemu dengan sebuah buku yang sampulnya seperti pernah kulihat. Buku tebal yang sampulnya bergambar wanita berpayung. Buku yang pernah diceritakan oleh seseorang (dan aku lupa siapa dia). Nama penulisnya, Tere Liye, membuatku tertarik membelinya. Terlebih kawanku tadi (yang aku lupa siapa) mengatakan bahwa novel tersebut bukan kisah cinta yang mendayu-dayu. Buku tersebut berjudul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Beberapa kali aku salah menyebutnya di Facebook dan menuliskannya Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah. Tertukar antara aku dan kau.

Setelah membacanya, aku tak menyesal sudah ‘melanggar’ prinsipku untuk tak membeli novel bertema cinta. Ternyata novel ini memang tak melulu tentang cinta. Ada banyak nasihat tentang kehidupan, tentang pekerjaan, tentang hidup bermasyarakat. Ada banyak petuah bijak yang disampaikan Pak Tua, salah satu tokoh dalam novel ini kepada Borno, sang tokoh utama.

Novel ini dibuka dengan kisah Borno kecil yang bertanya tentang panjang Sungai Kapuas karena dia ingin tahu apabila dia buang air di hulu Kapuas, butuh berapa hari ‘residu padat’ itu sampai di depan rumahnya. Yah, begitulah anak-anak, kerap memikirkan sesuatu yang jarang terpikirkan oleh orang dewasa. Dia bertanya mengenai panjang sungai Kapuas kepada ayahnya, ibunya, Koh Acong, dan Cik Tulani. Semuanya tidak memberi jawaban yang memuaskan. Hingga akhirnya ia bertanya pada Pak Tua berapa panjang Kapuas dan butuh berapa lama untuk mencapai hulunya. Menanggapi pertanyaan Borno, Pak Tua justru memberikan jawaban yang bagi sebagian besar orang dianggap sebagai jawaban yang berbelit-belit. Katanya, waktu yang diperlukan untuk mencapai hulu tergantung perahu yang digunakan, siapa yang mengemudikan perahu, di musim apa pergi ke hulu. Pokoknya ribet. Tapi, bila dipikir-pikir, yang dikatakan Pak Tua memang benar. Dalam merencanakan  untuk meraih sesuatu, kita harus memperhatikan banyak faktor. Kita harus mengukur ‘kekuatan’ diri, menentukan ‘alat’ yang akan digunakan, cara yang akan ditempuh, dan masih banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan.

Senin, 23 April 2012

(Bukan) Tugu Tengku Peukan

Beberapa bulan lalu aku pernah mem-posting mengenai Tugu Tengku Peukan di Aceh Barat Daya yang wujudnya tidak sama dengan yang selama ini beredar di internet. Kemudian ada seorang kawan bernama Hery MS yang berkomentar memberitahu bahwa tugu dalam gambar yang selama ini beredar sebenarnya sebuah tugu di kawasan Taman Sari, Banda Aceh. Nah, sewaktu menggelandang di Banda Aceh pada hari Jum'at, 20 April 2012, berjalan kaki tak tentu arah, aku menemukan tugu yang dimaksud tadi. Lokasinya di seberang Balai Kota Banda Aceh. Kata kawanku, daerah tersebut memang disebut Taman Sari. Ini fotonya:

Kamis, 12 April 2012

Aku + Blog VS Giveaway

I am bloggingholic. Yeah, aku memang suka nge-blog, mungkin hampir kecanduan nge-blog, meskipun tulisanku bisa dibilang tidak terlalu bermutu. Nah, beberapa bulan belakangan ini aku keranjingan satu hal dalam nge-blog: ikut giveaway. Yup, giveawayholic, banci giveaway, banci kontes, atau apalah namanya. Sampai saat ini sudah tercatat sembilan tulisan yang kubuat untuk mengikuti tujuh giveaway. Yang pertama kuikuti adalah giveaway yang diadakan oleh Una. Dalam tulisan itu aku menceritakan keinginanku untuk kuliah di Jepang. Sebenarnya sebelumnya sudah ada beberapa giveaway atau kontes yang diadakan tapi rata-rata mensyaratkan untuk memajang foto blogger dalam posting-an. Berhubung aku tidak suka memasang fotoku di blog, terpaksa aku tidak berpartisipasi. Nah, giveaway si Una ini tidak mensyaratkan hal tersebut. Jadilah aku salah satu pesertanya. Namun, sayang, ketika aku melihat pengumuman pemenang, tidak ada namaku di sana. Hiks! Sedihnyaaa...

Tapi, tak apalah. Namanya juga pengalaman pertama. Mungkin belum terlalu mahir menulis, jadi tulisanku kurang menarik. Kemudian ada lagi yang mengadakan giveaway, yaitu Mbak Monda. Dia mengadakan dua kategori giveaway, dan aku mengikuti keduanya. Aku membuat tulisan mengenai Tugu Tengku Peukan dan Pempek. Aku sebenarnya tidak percaya diri dengan tulisanku karena tulisanku mengenai Tugu Tengku Peukan tidak terlalu pas. Tugu Tengku Peukan itu sendiri bukan tempat tujuan wisata melainkan 'cuma' tugu yang mungkin tidak dikenal bahkan oleh warga Aceh Barat Daya sendiri. Dan ketika pengumuman pemenang... Lagi-lagi tidak menang.