Kamis, 13 Maret 2014

Basa Inggris



Aku lagi seneng nganggo Basa Inggris. Gara-gara lagi seneng genaunan Basa Inggris. Sapa ngerti olih bojo bule. Tuli, aku, ya lagi seneng nonton pilem barat dadine sokan ilon-ilon omongane wong sing nang pilem. Belih moni keminggris, ya. Mung kayonge enak bae nganggo basa kue. Luwih sopan rasane. Biasane nyong nganggo basa kue yen nggremeng dewek. Contone yen ngomong “bullshit”. Jajal yen nganggo Basa Jawa ngapak, dadine “tai kebo” atawa “tlepong”. Kayong njijeni nemen, oh, ya! Atawa yen ngomong “it doesn’t make sense”. Diterjemahna maring Basa Indonesia dadi “tidak masuk akal”. Esih enak, sih, dirungokna. Tapi, tetep luwih enak nganggo Basa Inggris. Kayong keren. Nah, yen nganggo Basa Jawa ngapak dadi ora keren babar blas. Dadine “ora mlebu ngutek”. Ora keren, kan, yen dirungokna? Atawa yen ngomong “I don’t give a damn”. Angger diterjemahna maring Basa Jawa ngapak biasa dadi “ora urusan” atawa “pan belih temen” atawa “mbuh bae”. Lah, yen diterjemahna maring Basa Jawa ngapak versi curanmor dadine “ora urusan, ora urunan, ora duwe duit”. Ora keren ora acan, lah.

Apa maning yen lagi dugal, pengin ngganyami uwong. Ngganyami uwong nganggo Basa Inggris kue rasane kayong luwih sopan, keren, tapi tetep bisa kasar. Pimen kue? Angger ana wong sing gemerah bae atawa kakehan cangkem, kari ngomong “shut up!!!”. Yen nganggo Basa Jawa dadi “mingkem!!!”. Kurang keren tur kurang kasar. Yen nganggo basa curanmoran pada bae karo ngomong “aja reang!!!”. Kiye, ya, kayong kurang galak. Tuli angger ana wong makha-makha, kari ngomong “what the hell are you doing?” Jajal yen nganggo Basa Jawa ngapak. Dadine “raimu lagi apa donge?” Kasar nemen, oh, ya?

Rabu, 12 Maret 2014

Milo VS Athaya



Apa/siapa yang bisa membuat suasana hatimu yang semula mendung berubah jadi cerah ceria? Kalau pertanyaan itu diberikan pada Athaya, jawabannya adalah sepatu. Setelah memandangi puluhan pasang koleksi sepatunya, mood-nya akan membaik. Kalau pertanyaan itu diajukan padaku, jawabannya adalah Benedict Cumberbatch. Mungkin yang rajin membaca blog ini (adakah?) bosan mendengar nama Benedict Cumberbatch. Apa mau dikata. Blog ini adalah curahan pikiran dan hatiku. Dan saat ini yang ada di pikiranku dan hatiku Benedict. Problem?

Kalau Athaya pergi berbelanja sepatu untuk mengobati suasana hatinya buruk, aku cukup duduk di depan laptop dan membuka fanpage Benedict Cumberbatch di Google+ yang menyediakan banyak foto dan video yang bisa jadi eye candy bagi fans-nya. And I will smile again as if nothing bad happened before. Apa yang lebih menyenangkan dibanding seseorang yang selalu membuatmu tersenyum bila melihatnya? Halaaah! Jadi sok romantis begini.

Rabu, 05 Maret 2014

Suka Tidak Suka

Rasa tidak suka pada seseorang itu kadang membuatku kurang rasional. Ada seseorang yang tidak kusukai. Dia ini suka sekali menyanyi dengan suara kencang. Biasanya dia menyanyi lagu dangdut dengan cengkok yang lebay. Suaranya bagus, sih. Cengkoknya juga bagus. Tapi, cara menyanyinya lebay. Dan dia sering menyanyi di kamar mandi. Yang itu artinya dia akan menghabiskan waktu lebih lama karena acara mandinya diselingi karaoke. Makin parahlah rasa tidak sukaku padanya. Dan ketika aku mendengarnya mengaji, entah mengapa aku merasa kalau "lagu"-nya (qiro'ah-nya) seperti cengkok dangdut. Entah memang qiro'ah-nya yang seperti itu, atau memang aku yang terlalu tidak suka padanya sehingga dia mengaji pun terdengar seperti menyanyi dangdut.

Tidak suka di sini belum tentu benci, ya. Ada orang yang tidak kubenci, tapi tetap saja sikap ataupun perkataannya sering membuatku berpikir, "Apaan, sih?" Temanku pernah mengirimkan sms panjang padaku yang isinya menceritakan keadaan yang dia lihat saat itu. Dan yang terpikir saat itu adalah: ini sms apa cerpen? Memang, sih, bahasanya seperti menulis cerpen. Puitis. Tapi, tetap saja aneh kalau mengingat reaksiku yang berlebihan. Kalau dia membuat status Facebook pun kadang aku berpikir "sok puitis banget, sih!" Padahal, kalau orang lain yang membuat status serupa, aku biasa-biasa saja. Untungnya aku tidak berkomentar kejam di statusnya. Cukup nggrundel dalam hati.

Jumat, 14 Februari 2014

Curhat Golongan Darah

Pernah membaca analisis sifat manusia berdasarkan golongan darah? Percaya? Kalau aku, sih, antara percaya dan tidak. Golongan darahku O dan ada sebagian karakter golongan darah O memang sesuai dengan sifatku. Tapiiiii ... kebanyakan yang sesuai itu yang negatif! Misalnya disebutkan kalo golongan darah O itu ruthless (kejam). Harus kuakui, aku punya bakat jadi orang yang kejam. So, don't mess with me! Eh, kok, jadi ngancem gini? Tenang, pada dasarnya aku baik hati, kok. Tapi, kalau aku memutuskan untuk bersikap kejam pada seseorang, biasanya aku benar-benar tega dan berpikir bahwa orang itu layak diperlakukan seperti itu. He/she deserves it! Disebutkan juga bahwa golongan darah O itu sloppy. Aku tidak yakin arti kata sloppy ini. Setelah searching di internet, ada dua macam terjemahan untuk sloppy ini yaitu careless dan lack of neatness). Honestly, I am. Both. I couldn't agree more. Hiks, parah, ya!

Ada juga karakter yang sesuai dengan sifatku, dan itu bisa positif maupun negatif. Misalnya expressive dan curious. Aku memang termasuk yang ekspresif, sih. Tapi, kadang juga bisa jadi orang tanpa ekspresi, hehehe. Dan, curious? Ini masalah besar buatku. Aku sering jadi korban rasa penasaranku sendiri. Pernah aku dan teman-temanku membicarakan tentang pohon di salah satu kantor. Temanku yang orang Aceh Barat Daya menyebutkan bahwa itu pohon cemara. Sedangkan temanku yang bukan orang sini mengatakan bahwa itu pohon pinus. Karena penasaran aku pun langsung googling mencari tahu ciri-ciri pinus dan cemara. Pernah juga kami membicarakan tentang bunga jeumpa dan seulanga. Kami tidak yakin bunga itu dalam Bahasa Indonesia namanya apa. Kami juga tidak tahu bentuknya seperti apa. Karena penasaran, aku langsung googling dan menemukan bahwa jeumpa itu sama dengan bunga kantil dan bunga seulanga sama dengan bunga cempaka. Kadang aku merasa aneh dengan sifatku yang "niat banget" mencari tahu. Ada juga karakter yang kadang sama kadang tidak. Misalnya strongly purposed-oriented. Memang, sih, kadang aku cenderung berorientasi hasil. Suka-suka gue mau pake cara apa, yang penting mah hasilnya sesuai. Tapi, tidak selalu seperti itu juga.

Selasa, 11 Februari 2014

Asem-Asem Persahabatan



Banyak cerita manis tentang persahabatan. Tapi, apa benar persahabatan selalu semanis itu? Belum tentyu. Berikut ini hal yang asem yang pernah kualami dalam persahabatan:

Bertepuk Sebelah Tangan
Bukan cuma cinta yang bisa bertepuk sebelah tangan. Persahabatan juga. Contohnya ketika aku menganggap seseorang sebagai sahabatku, tapi dia tidak. Baginya aku cuma teman biasa pada umumnya. Pernah beberapa kali aku akrab dengan seseorang, ke mana-mana dengan dia. Hingga kemudian kami berpisah. Lama tak bertemu, tentu kangen, kan? Aku, sih, kangen. Dia? Sayangnya tidak. Iya, ini namanya kangen yang bertepuk sebelah tangan. Pernah juga aku akrab dengan seseorang yang saking akrabnya masalah cinta dan patah hati pun kuceritakan padanya. Itu tandanya aku percaya padanya. Ternyata dia malah sebaliknya. Berita paling penting, pernikahannya, baru dia beritahukan setelah gosip menyebar dan aku menodongnya untuk mengkonfirmasi gosip tersebut. Kalau aku tidak menodongnya, mungkin dia baru memberitahuku menjelang hari H. Padahal, aku berharap jadi bagian orang-orang yang diberitahu lebih awal. Serasa lirik lagunya Britney Spears “don’t let me be the last to know”.

Menuntut
Tingkat keakrabanku dengan seseorang berbanding lurus dengan kadar ekspektasiku terhadap dia. Misalnya, ketika aku sangat akrab dengan seseorang, aku sering berharap – atau bahkan cenderung menuntut – dia untuk mengerti pikiranku tanpa aku harus mengatakannya. Kadang berpikir, “Mereka, kan, sahabatku. Mestinya mereka tahu alasan aku marah,” atau ,”Mestinya mereka tahu aku nggak suka ini, nggak suka itu.” Dan sayangnya, sahabat itu manusia biasa, bukan mind reader. Dan sayangnya lagi, susah menghilangkan “kebiasaan” menuntut itu. Padahal, kalau posisinya dibalik, misalnya temanku tiba-tiba marah, belum tentu aku tahu alasannya.

Senin, 10 Februari 2014

Dua Belas Pasang Mata



Hisako Oishi mendapat tugas untuk mengajar di sekolah cabang di sebuah desa terpencil di Laut Seto. Jarak sekolah itu delapan kilometer dari rumahnya. Setiap hari dia menempuh jarak itu dengan bersepeda. Kala itu, tahun 1928, perempuan mengendarai sepeda bukanlah hal yang lumrah. Ditambah dengan pakaian barat yang dia kenakan. Penduduk desa jadi kurang menyukainya karena menganggapnya “terlalu modern”.

Oishi memiliki dua belas orang murid: tujuh murid perempuan dan lima murid laki-laki. Mereka memiliki karekter beragam. Ada Kotsuru dan Nita yang cerewet, Sanae yang pemalu, Takeichi yang cerdas, dan lainnya. Mereka memanggil Oishi dengan sebutan Koishi. Mereka sangat menyukai guru mereka itu. Mereka – yang biasanya datang terlambat karena harus berjalan kaki sejauh lima kilometer ke sekolah – tidak pernah terlambat sejak diajar Oishi.

Hingga suatu hari, ketika Oishi mengajak murid-muridnya ke pantai, ia terkena jebakan yang mereka buat. Kakinya terluka. Dia pun tidak bisa mengajar dalam waktu yang lama. Murid-murid yang merindukannya pun memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Mereka berjalan kaki ke rumahnya, sejauh delapan kilometer! Mereka sendiri awalnya tidak menyangka kalau jarak yang akan mereka tempuh sejauh itu. Karena peristiwa itu, penduduk desa jadi tahu betapa anak-anak mereka menyukainya. Mereka pun mulai menyukainya juga. Sayangnya, Kepala Sekolah justru memutuskan untuk memindahkan Oishi ke sekolah utama.

Kamis, 06 Februari 2014

Dear You

Dear Dream,
You were there
Yeah, you were there
when my life was full of sadness and disappointment
Because of you, I could hold on and face all my problems
Pursuing you made my life so meaningful

Dear Passion,
My life was so lively because of you
When I feel so tired, you came to me
You gave me strength
You gave me spirit

But now,
I lose both of you
And without you, my life is so flat, so boring

Will you come to me once again?

Kamis, 30 Januari 2014

Persona Non Grata (Yang Terbuang)


Covernya cakep.

Namanya Dean Pramudya. Mahasiswa cerdas, selalu berprestasi sejak kecil. Meskipun berasal dari keluarga kaya, Dean tidak merasakan kebahagiaan. Itu karena orang tuanya terlalu sibuk sehingga tidak memberinya perhatian. Dia juga merasa semua prestasi yang diraihnya hanya untuk memenuhi keinginan orang tuanya, bukan keinginannya sendiri. Dean pun kemudian memutuskan melepaskan predikat “anak baik”nya dan memilih menjadi seorang cracker. Dia menjadi pemimpin Cream Crackers, sekumpulan cracker yang kerap membajak rekening, memalsukan kartu kredit, dan sebagainya.

Sewaktu Dean di Batam, dia bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta. Dia adalah korban human trafficking yang dipaksa menjadi wanita penghibur. Dean sering mengunjunginya. Namun, setelah Dean kembali ke Jakarta, mereka tak bertemu lagi. Hingga kemudian, gadis itu berhasil kabur dari lokalisasi. Berbagai peristiwa dalam pelariannya “membawa” gadis itu ke Yayasan Pelita yang dipimpin Luthfi. Gadis itu mengaku hilang ingatan, hingga namanya sendiri pun tak tahu. Luthfi pun memberinya nama. Sarah.

Ketika Luthfi hendak mempertemukan Sarah dengan seseorang yang mungkin mengetahui identitasnya, Sarah memutuskan kabur dari asrama yayasan. Dia pun menghubungi Dean melalui pesan Facebook. Gadis itu dalam bahaya, begitu pikir Dean setelah membaca pesannya. Dia pun langsung memesan tiket pesawat ke Batam. Dean tidak sadar. Bukan hanya gadis itu yang dalam bahaya. Di Batam, ada bahaya lain yang menunggu Dean. Bahaya apakah itu? Bagaimana pula dengan kelanjutan “karir” Cream Crackers?

Silakan baca novel Persona Non Grata (Yang Terbuang) karya Riawani Elyta untuk mengetahui jawabannya.

Senin, 27 Januari 2014

Geek in High Heels



Athaya, perempuan berusia 27 tahun, web designer, pencinta sepatu, SINGLE. Yang terakhir itu yang paling penting. Single. Status yang membuat Athaya sering diinterogasi di acara keluarga. Athaya juga (menganggap dirinya) kurang beruntung dalam urusan percintaan karena tiap pacaran selalu putus.

Dan di saat dia merasa tidak beruntung dalam percintaan, dia justru mendapatkan dua “cinta” sekaligus: Ibra dan Kelana. Ibra adalah seorang marketing manager di perusahaan klien Athaya. Introvert, womanizer, dan workaholic, atau menurut pengakuannya: mencintai pekerjaan. Ibra juga sering mengirim kue untuk Athaya alih-alih mengirim bunga. Kelana adalah seorang penulis muda yang novel-novelnya jadi best seller. Kalau sedang sibuk menulis, Kelana akan sangat susah dihubungi. Manda, sahabat Athaya, menyebutnya makhluk setengah demit.

Athaya dihadapkan pada dua pilihan: Ibra dengan keseriusannya untuk berkomitmen atau Kelana dengan sikapnya yang sulit ditebak yang selalu membuat Athaya rindu. Siapa yang akan ia pilih? Kalau mau tahu jawabannya, baca saja novel Geek in High Heels. Hehehe....

Rabu, 15 Januari 2014

Biggest Fans

I am Benedicted. I am Cumberbatched. I am Benaddicted.

Ah, sudah. Cukup. Bukan Mamas Beben yang akan kubicarakan kali ini. Tapi, termasuk salah satu efek kegilaanku pada si Mamas ini.

Seperti biasa, kalau aku ngefans pada artis, aku akan googling. Selain foto, biodata, berita, tentunya di internet bertebaran tulisan dari fans. Begitu pun pada kasus Benedict ini. Aku menemukan banyak akun twitter para penggemarnya dan blog fandom-nya. Isinya? Gila, segila tingkah fandom yang tergila-gila pada aktor yang mereka gilai itu. Oke. Sudah terlalu banyak kata gila.

Senin, 13 Januari 2014

I AM SHERLOCKED

I am Sherlock-ed!
Yeah!

Aku tidak ingat kapan kali pertama aku menonton Sherlock, serial produksi BBC. Kalau tidak salah sekitar tahun 2012. Waktu itu aku langsung maraton menonton 6 episode season 1 dan 2. Semalaman. Kalau di Sherlock Holmes yang movie aku lebih suka pemeran John Watson (Jude Law) dibanding Sherlock Holmes (Robert Downey Jr), di serial ini aku lebih suka pemeran Sherlock. Ingat, ya! Lebih suka. Berarti aku juga suka pemeran John Watson (Martin Freeman). Tapi, aku lebih suka pemeran Sherlock: Benedict Cumberbatch. Dan setelah itu langsung kepo dengan pemainnya. Langsung googling.


Gambar pinjam dari sini

Kenapa aku suka serial Sherlock? Alasan utamanya: ya, suka aja. Ini alasan yang tidak bisa dibantah. Alasan lainnya, aku suka ceritanya yang membuatku penasaran dan membuatku bertahan menahan kantuk demi menontonnya. Buktinya aku sampai rela begadang demi menonton 6 episode secara maraton. Gaya Sherlock ketika menggunakan mind palace-nya (di episode Hound of Baskerville) itu keren! Cool! Dan gaya Sherlock ketika menaikkan kerah mantelnya. Aw aw aw! Tadinya aku tidak memperhatikan. Tapi, setelah John protes dengan gaya "sok keren" itu, aku jadi memperhatikan. Dan ternyata MEMANG KEREN.


Selasa, 07 Januari 2014

Bete Karena Oleh-Oleh

Kalau perantau baru kembali dari kampung halaman, apa yang akan ditagih oleh kawan-kawan di rantau? Yup! Oleh-oleh. Entah kenapa sepertinya membawa oleh-oleh seakan kewajiban bagi mereka yang baru pulang kampung. Umm, kalau baru pulang dari bepergian juga ditagih oleh-oleh.

Dan aku punya banyak pengalaman buruk soal oleh-oleh ini. Dulu, aku pernah membawa telur asin dan pilus. Dan sewaktu di bandara petugas memintaku membuktikan bahwa telur asin itu bukan telur asin mentah dengan cara memecahkan salah satu telur yang kubawa. Dua kali diperiksa X ray, dua kali pula diminta memecahkan telur. Ribet. Akhirnya, tahun berikutnya kuputuskan memaketkan oleh-oleh telur asin beberapa hari sebelum aku kembali ke Blangpidie. Dan ternyataaa ... ongkos kirimnya MAHAL. Lebih mahal dari harga sekardus telur asin yang kukirimkan. Dan sampai di Blangpidie, seseorang berkomentar, "Apa itu? Telur asin? Saya kira bawa dodol garut, kan lebih enak makannya.. Kalo telur asin di sini juga banyak." Jleb! Sudah buang-buang uang, oleh-olehnya malah tidak dihargai. Saat itu aku bertekad untuk tidak membawa oleh-oleh lagi. Tapi, sayangnya aku kurang teguh dalam memegang tekadku.

Kamis, 14 November 2013

Aku dan Perpustakaan

Siapa yang suka ke perpustakaan? Angkat tangannya! Jelas, aku adalah satu di antara sekian banyak orang yang TIDAK mengangkat tangan. Ya, aku tidak suka ke perpustakaan. Biarpun lumayan suka membaca, tapi perpustakaan tetap tidak menarik bagiku. Dan seumur hidup, aku jaraaang sekali ke tempat itu.

Sewaktu SD, aku tidak tahu di sekolah ada perpustakaan. Setelah naik kelas 6 (kalau tidak salah), aku mendengar kabar ada adik tingkat yang pintar dan rajin membaca buku perpustakaan. Emangnya ada perpustakaan di sekolah? Ternyata ada. Tapi, tempatnya kalau tidak salah di ruang guru. Heee? Di ruang guru? Itu adalah ruang angker. Bukan angker karena ada hantunya tapi angker karena ada guru-guru di situ. Padahal guru-guruku tidak galak -- setidaknya tidak galak padaku -- tapi tetap takut bertemu mereka di luar jam pelajaran. Jadi, aku tidak pernah ke perpustakaan.

Sewaktu SMP, aku ke perpustakaan beberapa kali. Dalam satu tahun ajaran, dua kali aku ke perpustakaan. Meminjam buku? Iya. Tepatnya meminjam buku paket di awal tahun ajaran dan mengembalikannya di akhir tahun pelajaran. Selain itu? Maaf-maaf saja. Tapi, teman sebangkuku sewaktu kelas satu SMP rajin ke perpustakaan. Dia sering meminjam buku tentang mitologi Yunani. Ada cerita tentang wanita yang memintal benang takdir, cerita asal-usul daun salam di kepala Apollo, cerita lahirnya Athena, pokoknya banyak. Dan kalau dia sudah meminjam buku, aku tinggal duduk di sampingnya dan ikut membaca.

Selasa, 05 November 2013

Menjaring Angin (13)

Wukir pun teringat ketika Sasi memberikan undangan pernikahan padanya dua minggu yang lalu. Sore itu, setelah jam kerja berakhir, ia bergegas ke kantor provinsi mengantarkan laptop Matari yang diperbaikinya. Ketika ia sedang mengobrol dengan Matari dan Pawana, Sasi pun datang membawa beberapa undangan.

“Akhirnya Sasi nyebar undangan juga. Mas Wukir kapan, nih?” goda Matari.

“Ntar siang aku sebar undangan,” jawab Wukir sungguh-sungguh – atau setidaknya kelihatan sungguh-sungguh.

“Serius?”

“Serius. Ntar siang aku sebar undangan. Undangannya Sasi,” kata Wukir yang langsung tergelak. Tapi ia tidak bisa lama tertawa karena Pawana langsung memukul lengannya dengan buku. Keras sekali. Ia baru saja membuka mulut hendak protes atas kesadisan Pawana ketika Matari tiba-tiba bertanya.

“Baruna? Ini bukan Baruna anak Analisis itu, kan?”

Sasi hanya tersenyum.

“Jadi Baruna yang itu? Serius? Nggak salah? Dia, kan, jauh lebih muda dari kita,” tanya Matari bertubi-tubi.

“Terus kenapa kalau lebih muda?” Sasi balik bertanya.

“Cowok seumuran dia pasti masih kekanak-kanakkan, belum dewasa!”

“Kedewasaan nggak selalu bisa dinilai dengan usia, kan? Ada orang yang bisa bersikap dewasa tanpa menunggu jadi tua. Baruna salah satunya. Asal kamu tahu aja, dia jauh lebih dewasa dari kamu,” Sasi yang biasanya tenang menghadapi Matari kini terlihat jengah.

“Eh, desainnya bagus. Siapa yang buat?” Wukir mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Nana yang buat. Minggu lalu aku minta dia buat desain, besoknya langsung dia kasih. Dan cocok. Aku sama Baruna suka gambar laut sama bulan purnamanya,” terang Sasi.

“Kamu udah desain undangan Sasi sama Baruna. Kapan kamu desain udangan nikahan kamu sama Pukat?” sindir Wukir.

***

Aaargh! Bodoh sekali. Kenapa aku harus menanyakan hal seperti itu? Kenapa aku menanyakan undangan pernikahannya dengan Pukat? Kalau dia mengajak Pukat menikah pada hari pengumuman beasiswa, berarti itu seminggu sebelum Sasi membagikan undangan. Dan itu berarti ... Sasi memintanya membuatkan undangan pernikahan tepat di hari dia ditolak? Ah, kalau saja Sasi tahu yang terjadi, dia takkan sampai hati melakukannya.

Minggu, 27 Oktober 2013

Born Under A Million Shadows (Dalam Sejuta Bayangan)


Fawad nama anak laki-laki itu. Dia lahir di Afghanistan, di bawah bayang-bayang Taliban. Ia memiliki dua orang kawan baik, yaitu Spandi dan Jamilla. Nama asli Spandi adalah Abdullah. Namun, karena dia menjual spanduk, orang-orang memanggilnya Spandi.

Fawad dan Mariya, ibunya, semula tinggal bersama keluarga bibinya meskipun hubungan antara ibunya dan bibinya tidak begitu baik. Setelah ibunya mendapat pekerjaan sebagai pengurus rumah, mereka pun kemudian tinggal di rumah “majikan” ibunya. Orang itu bernama Georgie. Dia berasal dari Inggris. Di Afghanistan Georgie bekerja di LSM dan menjadi pencukur kambing kashmir. Di rumah itu Georgie tinggal bersama dua orang kawannya: seorang jurnalis bernama James dan ahli teknik bernama May.

Tak butuh waktu lama bagi Georgie untuk akrab dengan Fawad. Georgie adalah wanita yang menyenangkan dan dia bisa berbahasa Dari. Fawad pun berpikir bahwa dia menyukai Georgie. Tapi, kemudian dia tahu bahwa Georgie sudah memiliki kekasih bernama Haji Khalid Khan. Sayangnya hubungan mereka cukup rumit. Perbedaan budaya dan perbedaan keyakinan – Haji Khalid Khan muslim sedangkan Georgie bisa dibilang tidak percaya Tuhan – membuat mereka sulit untuk menikah. Dari sinilah berbagai masalah mulai berdatangan.

Rabu, 23 Oktober 2013

The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu)




Hanya manusia yang mengukur waktu.

Itu sebabnya hanya manusia yang mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lainnya.

Takut kehabisan waktu.


Dor adalah manusia pertama yang berusaha menghitung, membuat angka-angka. Ia selalu asyik mengukur apapun, batu, ranting, kerikil, apa saja yang bisa dihitungnya. Hanya satu yang bisa mengalihkannya dari kegiatan menghitung: Alli, teman masa kecilnya yang kemudian menjadi istrinya.

Dor juga menandai waktu, dengan menandai ujung bayangan pada sebuah tongkat, dengan mengukir takik-takik pada lempeng tanah liat, dan juga membuat jam pertama. Dialah manusia pertama yang menandai waktu. Sementara itu, Nim, kawannya, sedang membuat menara yang akan membawa Nim ke langit untuk mengalahkan dewa-dewa.

Senin, 21 Oktober 2013

Menjaring Angin (12)


Dua minggu lagi Pawana harus berangkat ke Jepang. Dan dia ingin menghabiskan dua minggu itu di kampung halaman. Untuk itu dia ke Stasiun Gambir pagi ini untuk membeli tiket kereta yang berangkat ke Tegal nanti malam. Dia ditemani Wukir. Sebenarnya bukan menemani, sih. Wukir juga hendak membeli tiket kereta ke Semarang. Sama seperti Pawana, dia juga ingin pulang kampung dulu sebelum berangkat ke Jepang. Mereka beruntung karena hari itu hari Rabu, hari kerja. Jadi mereka tak sampai kehabisan tiket. Kalau mereka membeli tiket kereta untuk akhir pekan atau hari libur, mereka harus pesan beberapa hari sebelumnya. Setelah mendapatkan tiket, mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas.



“Ada apa?” tanya Wukir.



“Apanya yang ‘ada apa’?” Pawana balik bertanya.



“Beberapa hari belakangan kamu nggak semangat gitu.”



“Nggak apa-apa.”



Wukir hanya melirik sedikit dan menghela napas.



“Kamu dapat beasiswa, yang kamu tunggu-tunggu selama empat tahun, tapi muka kamu kaya orang yang mau dikirim ke Nusakambangan. Dan kamu bilang kamu nggak apa-apa?”



“Oke. Aku cerita. Tapi, jangan bilang ke Sasi, Tari, atau siapapun!”



“Deal. Jadi, ada apa?”



Wukir yang melihat ada tempat duduk kosong pun bergegas duduk. Ini akan jadi obrolan panjang yang makan waktu. Lebih nyaman sambil duduk. Begitu pikirnya. Pawana pun ikut duduk di samping Wukir.



Minggu, 20 Oktober 2013

Menjaring Angin (11)



“Nana!” sapa Pukat yang tiba-tiba saja sudah berada di samping meja Pawana. Entah Pukat yang seperti hantu, kedatangannya tidak terdeteksi panca indera manusia, atau Pawana yang terlalu fokus sehingga tidak menyadari kehadiran Pukat.



“Aku disuruh minta tabel-tabel ini ke Bagian Pengolahan,” kata Pukat sambil menyodorkan selembar kertas berisi daftar variabel dan format tabel.



“Kenapa nggak minta lewat email aja? Daripada kamu capek-capek jalan ke sini,” kata Pawana.



Pukat hanya tersenyum. “Ruangan kita, kan, nggak sejauh Jakarta – Tegal, Na. Jalan kaki lima menit juga sampai. Lagian sekalian biar bisa ketemu kamu. Dua minggu kemarin aku ikut pelatihan, jadi nggak bisa ketemu kamu. Kangen,” goda Pukat.



“Apaan, sih, bilang kangen segala!” kata Pawana ketus, menutupi salah tingkahnya.



“Nanti malam ke toko buku, yuk! Kata temanku kemarin ada banyak manga baru,” kata Pukat, tak memedulikan sikap ketus Pawana.



Belum sempat Pawana menjawab ajakan Pukat,  smartphone-nya berbunyi.



Dengan kekuatan bulaaan, akan menghukummu!

Selasa, 15 Oktober 2013

You See What You Want To See

*Warning! Tulisan ini mengandung unsur SARA*
"You see what you want to see," kata Dumbledore pada Snape.

Kamu melihat apa yang ingin kamu lihat. Memang benar demikian adanya. Kita tidak akan melihat apa yang tidak ingin kita lihat. Maksudnya? Ketika kita "meyakini" sesuatu, kita akan menutup mata terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita yakini. Dan kita menjadi lebih jeli untuk menemukan segala sesuatu yang mendukung apa yang kita yakini.

Contohnya adalah orang-orang yang membenci agama Islam, atau memiliki pandangan buruk tentang Islam. Aku tidak tahu agama mereka, bisa jadi juga mereka tidak beragama. Sodorkanlah Al Qur'an kepada mereka. Apa yang akan mereka temukan? Besar kemungkinan yang mereka temukan adalah ayat tentang perang, qishash, poligami, atau hal lain yang (kelihatannya) buruk. Mereka akan berpendapat bahwa orang Islam suka berperang, tanpa melihat asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tentang perang. Padahal, ada beberapa ayat yang memerintahkan perang karena umat Islam sudah terlebih dahulu diperangi. Mereka juga akan berpendapat bahwa orang Islam kejam karena menerapkan hukum qishash, tanpa memperhatikan bahwa qishash tidak sembarangan dilakukan, tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya qishash efektif menimbulkan efek jera. Ada kalanya seseorang yang membunuh atau melukai seseorang tidak menjalani hukuman qishash dan "hanya" membayar diyat (denda) karena keluarga korban sudah memaafkan.

Rabu, 18 September 2013

Cerita Sebelum Tidur

Waktu kecil aku sering sekali didongengi. Aku tidak ingat tepatnya mulai kapan dan sampai kapan, yang jelas "waktu kecil". Biasanya sebelum tidur, entah tidur siang atau tidur malam, Abah mendongengiku. Dongengnya tidak jauh-jauh dari cerita fabel yang sudah kondang: kancil. Tapi, kancilnya bukan cuma kancil nyolong timun. Seringnya malah cerita kancil mengerjai harimau. Pernah suatu hari kancil menipu harimau dengan mengatakan bahwa batang-batang pohon bambu yang mereka lihat adalah seruling. Dia menyuruh harimau untuk menyelipkan lidahnya di antara dua batang bambu. Hasilnya tentu bukan suara merdu. Lidah si harimau malah terjepit. Pernah juga kancil menunjukkan benda berwarna hijau pada harimau dan mengatakan bahwa itu adalah sorban. Harimau pun memakainya. Padahal sebenarnya benda hijau itu bukan sorban melainkan tlepong (kotoran kerbau). Selain cerita-cerita itu masih ada cerita lain seperti Bawang Putih Bawang Merah. Tapi, aku tidak ingat. Yang melekat kuat di ingatanku cuma dua cerita itu. Dan satu lagi yang kuingat: tuli ana watu mendelis, uwis. Itu adalah kalimat yang sering diucapkan padaku kalau aku berkata, "Tuli? Tuli? (Terus? Terus?)" Kalau anak lain didongengi mungkin cepat tidur. Kalau aku? Jangan harap. Aku justru makin melek dan kalau cerita sudah selesai aku berkata, "Tuli? Tuli?" Abah yang -- mungkin -- sudah kehabisan cerita atau sudah capai bercerita pun menjawab, "Tuli ana watu mendelis." Aku pun bertanya lagi, "Tuli?" Abahku pun akan menjawab, "Uwis." Sudah. Tidak ada cerita lagi. Kalau sudah begitu, paling Abah "menyanyikan" sholawat agar aku tertidur.