Rabu, 28 September 2016

Nggak Ada Subtitle?

Beberapa bulan terakhir aku sedang kecanduan menonton dua variety show Jepang. Awalnya cuma kecanduan Arashi ni Shiyagare (AniShi). Kemudian setelah menonton VS Arashi, aku kecanduan juga. Lumayan mengobati kegalauan. Yah, meskipun cuma sementara. Paling tidak aku bisa tertawa saat menonton acara tersebut, meskipun setelah itu mewek lagi.

Sayangnya, hanya sedikit video AniShi dan VS Arashi yang ada subtitle-nya. Akhirnya, kadang aku terpaksa menonton tanpa subtitle. Karena kosa kata Bahasa Jepang yang kumiliki nyaris nol, menonton tanpa subtitle itu seperti makan pecel tanpa bumbu kacang. Maksudnya? Nggak ada maksud apa-apa. Cuma biar keren aja pake perumpamaan.

Kamis, 22 September 2016

Not Ranting, Just Whining

“Udah nggak di IPDS lagi mbak?”
“Nggak. Udah ada yang nggantiin.”
“Oh, udah digantiin sama yang lebih jago, ya?”
Deg!

I’m not mad. That’s the fact. Penggantiku memang jauh lebih jago soal TI. Hanya saja kalimat itu memperjelas fakta yang sudah terpampang nyata itu.

Rabu, 31 Agustus 2016

30 and Stay Sane

I've been living in this world for 30 years, 1 month, and several days. Aaand I'm tired. It's not like I want to die, by the way. I just don't know what I want to pursue anymore. Study? No, thank you. Postgraduate is more than enough for me. I don't want to go through research drama anymore. Work? Nah. I don't intend to get higher position. And my job is not interesting anymore. I'm not as eager as the first time I get the job. In the first three years, I did my job earnestly. And then many unpleasant ruined my spirit. I become not so passionate anymore about my job. I just whine and complain. Maybe many people around me are a bit irritated listening to my whine. And my friend in Facebook too.

Selasa, 30 Agustus 2016

Menjejaki Jalan Kenangan

Retrace the path we used to take to go there. Itu poin yang mengena di pikiranku dari Arashi's Discovery oleh Ohno Satoshi hari ini.

Menapaki kembali jalan-jalan yang pernah kulewati. Jadi teringat sewaktu ikut jalan sehat dengan ibu dan adikku tahun lalu. Aku melewati jalan-jalan yang pernah aku lewati dulu, entah saat main ke rumah teman atau bersepeda keliling kampung. Dan ... semuanya terlihat berbeda. Rasanya bukan seperti mengunjungi tempat "bermain"-ku di masa lalu. Rasanya seperti ke tempat asing. Tanah kosong yang dulu penuh ilalang, sekarang sudah jadi komplek perumahan. Rumah-rumah pun terlihat berbeda. Entah memang bangunannya berubah, atau aku yang sudah lebih tinggi sehingga rumah-rumah itu terlihat berbeda.

Jumat, 26 Agustus 2016

Dicubit Doang

Alah, dicubit doang pake ngadu. Dulu gue dipukul pake penggaris biasa aja.
Cuma dicubit gitu. Dulu gue digampar sama guru, santai aja.

Sebagian orang berkomentar demikian ketika membaca berita seorang guru dilaporkan karena mencubit muridnya. Siapa sih yang tidak geram mendengar seorang guru dipidanakan lantaran satu kasus yang (kelihatannya) sepele. Melaporkan seorang guru karena mencubit anak kita kelihatannya berlebihan, ya? Seharusnya kasus seperti ini bisa diselesaikan antara orang tua murid dan pihak sekolah tanpa dibawa ke ranah hukum. Namun, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan si orang tua tersebut kalau membawa kasus itu ke ranah hukum. Itu kan haknya sebagai warga negara. Dia merasa anaknya menjadi korban tindak kekerasan oleh gurunya sehingga melaporkan sang guru.

Minggu, 14 Agustus 2016

Korban SPG Kosmetik

Pagi tadi aku khilaf. Maksud hati ke pasar untuk beli pisang, eh tiba-tiba ada mbak-mbak yang mendekatiku. "Sini, Kak, sebentar aja," katanya sambil menarikku ke meja yang penuh tabung-tabung krim. Aku mau menolak tapi tidak enak. Entah kenapa. "Coba sebentar," katanya sambil langsung mengoleskan krim di tangan kananku. Sebentar kemudian dia membersihkan krim itu dengan handuk basah lalu membersihkan sisa krim yang ada di tangan. "Coba bandingin. Beda kan?" katanya sambil membandingkan tangan kanan dan kiriku. "Ini bisa buat ngilangin jerawat, flek-flek. Dipake kaya masker," dia menunjukkan gambar wajah penuh krim yang ada di papan.

"Kakak ke sawah?" tanyanya. "Nggak." "Ini juga bisa buat alas bedak kalo ke kantor," katanya. "Ini juga bisa dipake suami," katanya lagi. Gue nggak punya suami!

Kamis, 11 Agustus 2016

Wanseponetaim in Pulau Nasi and Pulau Breuh



Aku sudah lama ingin ke Pulau Nasi. Alasannya? Penasaran. Itu doang? Iya. Gara-gara ada blogger yang menceritakan serunya jalan-jalan ke sana aku jadi penasaran. Dan bulan lalu teman dari Traverious menawari ikut open trip ke Pulau Nasi dan Pulau Breuh. Sungguh tawaran yang menggoda. Sayangnya berangkatnya hari Jumat dan itu artinya aku harus membolos sehari. Sewaktu aku bercerita pada ibuku, katanya, “Ya, udah. Nggak papa bolos sehari.” Teman sekantorku juga berkata senada. Merasa didukung untuk membolos, aku pun memutuskan ikut. Saat aku memberitahu ibuku kok ya malah ditanya, “Berarti mbolos sehari?” Lah, kan, udah kasih tahu dari awal, Mak! Kawanku juga bereaksi sama. “Berarti Jumatnya bolos?” Hadeuh. Kali lain kalau ada yang berkata, “Nggak papa bolos sehari.” Aku wajib curiga kalau dia sebenarnya tidak terlalu memperhatikan ceritaku dan komentarnya sekadar komentar keceplosan yang tidak dipikir matang-matang sehingga kurang sahih untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Kamis, 04 Agustus 2016

Warteg

Warteg. Apa yang terpikir di kepalaku ketika mendengar kata warteg alias warung tegal? Yang paling sering muncul di kepalaku adalah kenangan saat menginap di warteg bulikku sewaktu kali pertama datang ke Jakarta. Sekalinya datang ke Jakarta, langsung menginap di warteg dengan bangunan yang terbuat dari triplek dan kamar mandi yang alakadarnya. Aku tidur di lantai atas. Tidur di bangunan sederhana tidak terlalu masalah buatku. Toh cuma beberapa hari. Namun, melihat kamar mandinya yang alakadarnya dan sedikit terbuka aku langsung ribut, "Nggak mau mandi! Nggak mau mandiiiii!" Bulikku pun menyarankan untuk mandi pagi-pagi buta sehingga masih sepi. Akhirnya mandi juga meskipun cemas ada orang yang lewat. Apakah semua warteg seperti itu? Entah yaaa. Melihat bangunan warteg yang rata-rata sederhana, semi permanen, dan sempit, sepertinya memang bukan tempat yang sesuai untuk tempat tinggal. Namun, tempat tinggal pemilik warteg di kampung halamannya jauh berbeda. Di kampungku, semasa rumah orang-orang umumnya masih berlantai ubin biasa (tegel), rumah para pemilik warteg sudah berlantai keramik. Rumah mereka megah. Yah, meskipun sebagian besar cuma jadi rumah kosong karena pemiliknya justru tinggal di Jakarta, di wartegnya yang sederhana.

Selasa, 02 Agustus 2016

Tentang Kamu

Barusan aku melihat di page tentang Bahasa Korea ada yang bertanya bagaimana menyebut "you" dalam Bahasa Korea. Aku ingin menjawab pertanyannya. Namun, karena takut meyesatkan, aku membahasnya di sini saja. Biasanya dalam bahasa tersebut kata ganti orang kedua dalam pembicaraan (lawan bicara, atau "kamu") tidak digunakan. Ada sih, kata ganti orang kedua, misalnya (neo, biasanya digunakan saat bicara dengan teman atau kepada yang lebih muda), 당신 (dangsin, biasanya hanya digunakan oleh pasangan (spouse) atau dalam kondisi marah), 그대 (geudae, hanya digunakan dalam puisi atau lagu). Yang kuingat cuma itu. 

Minggu, 31 Juli 2016

Pertanyaan yang Terlupakan

Dua bulan yang lalu, sewaktu menonton drama Korea Bad Guys, aku mendengar satu kata yang membuatku penasaran. Aku mendengarnya "mania" atau "maniak" apalah itu. Entah kenapa aku penasaran dengan kata itu. Aku pun mencari-cari artinya di kamus. Negative. Aku tidak berhasil menemukan kata yang pelafalannya mirip dengan kata yang kudengar itu.

Aku juga mencoba-coba menggunakan Google Translate. Karena aku tidak tahu tulisan hangeul-nya, aku pun mencoba secara asal. Aku sendiri sudah lupa "kata" ngawur apa saja yang kuketikkan. Sepertinya aku mencoba mengisikan 만히야 (man-hi-ya), 마니아 (ma-ni-a), 만이야 (man-i-ya), lalu mencari artinya dalam Bahasa Inggris. Hasilnya tidak sesuai harapan. Beberapa "kata" yang kumasukkan itu sepertinya sama sekali bukan kata dalam Bahasa Korea.

Rabu, 20 Juli 2016

The Unspoken

Mengejar mimpi itu tidak mudah. Dan ternyata, menyemangati seseorang untuk mengejar mimpinya juga tidak mudah.

Menghadapi kegagalan itu tidak mudah. Menyemangati seseorang untuk mencoba lagi setelah mengalami kegagalan pun ternyata tidak mudah.

Selasa, 28 Juni 2016

Salonpasku Ditolak

Hari Minggu kemarin aku memulai perjalanan mudik. Perjalanan pertama yang kutempuh adalah perjalanan melalui jalan darat naik L300 dari Blangpidie menuju Bandara Cut Nyak Dhien di Nagan Raya untuk naik pesawat ke Kualanamu lalu lanjut naik pesawat ke Soetta. Saat naik L300 di sebelahku ada seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang umurnya sekitar enam tahunan. Belum sampai setengah perjalanan, si adik ini sudah muntah dua kali. Antara sebal dan kasihan. Sebal karena khawatir aku akan ketularan mual setelah mencium aroma muntahnya. Kasihan karena aku tahu rasanya mabuk perjalanan. Mual, pusing, benar-benar tidak nyaman. Aku sendiri sudah memakai dua buah koyo di pusar untuk mencegah mabuk dan Alhamdulillah ampuh. Setelah beberapa kali bolak-balik antara ingin menawari dan enggan menawari karena malu berbicara dengan orang asing, akhirnya aku bertanya apakah si adik sudah memakai Salonpas (aku menyebutnya Salonpas meskipun mereknya Hansaplast) di pusarnya. Ternyata belum. Aku pun menawarkan koyo yang kubawa. Ternyata si adik menolak. Yasudahlah.

Tim Terbaik

Dunia maya sedang ramai. Well, sebenarnya selalu ramai, sih. Tapi, kali ini keramaiannya lumayan membuatku tertarik untuk ikut berkomentar meskipun tidak nyambung. *lah, ngapain komen kalo nggak nyambung???*

Salah satu yang sedang ramai dibahas adalah berita tentang Messi yang pensiun dari timnas Argentina. Meskipun aku tidak suka menonton sepak bola, berita itu tetap saja menarik bagiku. Komentar netizen mengenai hal ini beragam. Yang mengejek? Banyak. Biasa lah yaaa! Internet kan memang taman bermain para bully. Yang mengatakan dia cemen karena pensiun karena masalah yang "gitu doang" dan membanding-bandingkan dengan atlet lain yang pernah mengalami kegagalan tapi tidak menyerah juga banyak. Yah, sesuatu yang "gitu doang" di mata kita bisa jadi sesuatu yang sangat berpengaruh bagi orang lain.

Jumat, 20 Mei 2016

Salah Asuhan?

Aku tidak tahu kenapa, beberapa film anak-anak yang kutonton membuatku berpikir bahwa tokoh villain dalam film tersebut menjadi jahat karena kesalahan didikan orang tua atau orang dewasa yang bertanggung jawab mengasuh mereka. Setidaknya orang-orang dewasa itu turut andil dalam memicu sifat jahat mereka. Film pertama yang membuatku berpikir demikian adalah Alice in Wonderland. Dalam film tersebut diceritakan bahwa Iracebeth (Red Queen) merasa iri pada saudarinya (Mirana, White Queen) karena orang tua mereka dan rakyat kerajaan mereka lebih mencintai saudarinya itu. Mungkin ada yang menjawab, "Salah sendiri dia merasa iri." Atau ada yang berkomentar, "Dia kan jahat. Wajar saja kalau orang-orang lebih mencintai saudarinya." Iya, memang idealnya manusia tidak boleh merasa iri. Namun, rasa iri itu tidak muncul dengan sendirinya. Bisa saja Iracebeth merasa iri karena diperlakukan berbeda dan hal itu memicunya berbuat jahat pada saudarinya dan orang-orang yang menurutnya tidak mencintainya. Karena kejahatannya, dia semakin dibenci. Semakin dibenci, semakin besar pula rasa irinya, semakin jahat pula dia. Seperti lingkaran setan, ya?

Curhat Random Bulan Mei

Lagi-lagi kena blogger's block. Bulan Mei ini aku belum membuat satu post pun di blog. Sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan. Namun, baru menulis setengah, sudah berhenti. Kadang karena di tengah-tengah menulis aku merasa ada yang janggal, entah kurang logis, entah kalimatnya yang aneh, atau mendadak hilang ide melanjutkan tulisan. Akhirnya, semua berakhir di draft. Mau dilanjutkan, bingung juga.

Jumat, 29 April 2016

Belajar Bahasa Inggris dari Sherlock (5): The Abominable Bride


Hai hai haaaiii! Sudah lama sekali tidak ada post tentang belajar bahasa, ya! Kali terakhir aku membuat post belajar bahasa bulan September 2014, yaitu post ini. Kali ini aku akan mencatat kosa kata dan idiom yang digunakan dalam Sherlock: The Abominable Bride. Namun, edisi kali ini sepertinya akan lebih ngasal dari sebelumnya karena kemampuan Bahasa Inggrisku sudah semakin payah.



I returned to England with my health irretrievably ruined and my future bleak (John)

irretrievably = difficult or impossible to retrieve or recover

bleak = gloomy and somber; providing no encouragement; depressing

Kalimat di atas menggambarkan kondisi John saat kembali Inggris: kesehatan yang rusak sampai pada tahap tidak bisa diperbaiki lagi. Eh, masa diperbaiki?  Maksudnya tidak bisa sehat seperti sedia kala. Di samping itu, masa depannya juga gelap bin muram, madesu lah.

Senin, 25 April 2016

Drama dan Mimpi

Semalam aku galau setelah menonton drama Korea yang di akhir cerita si tokoh utama terkena alzheimer dan melupakan orang-orang terdekatnya. Ending-nya yang terlalu ngenes membuatku ikut merasakan kesedihannya. Membuatku ingin berteriak, "Nggak adiiil!" Ini bukan kali pertama aku tenggelam dalam cerita drama atau film yang kutonton. Aku termasuk orang yang mudah larut dalam cerita drama atau film yang kutonton. Kadang sampai geregetan melihat tokoh antagonis yang menyebalkan, kadang menghabiskan banyak tisu karena menangis melihat cerita yang mengharukan, kadang berteriak membego-begokan si tokoh utama, kadang heboh shipping pemeran utama pria dan wanita agar berpasangan sungguhan di dunia nyata. Kalau akting pemainnya bagus dan ceritanya membekas di hati aku memang bisa separah itu. Namun, yang sampai membuatku benar-benar galau karena ending-nya baru dua, pertama dorama Jepang yang dimainkan Oguri Shun yaitu Border, dan kedua drama Korea Remember yang dimainkan Yoo Seung Ho. Yang satu berakhir dengan kegagalan tokoh utama menangkap penjahat, yang satunya lagi berakhir dengan nasib tokoh utama yang terkena alzheimer.

Rabu, 13 April 2016

Jangan Ganggu Jomblo

Sebenarnya aku sudah pernah membahas tentang pertanyaan yang sering dilontarkan para peneror jomblo: "Kapan nikah?" di post ini. Aku juga sudah jarang mendapat pertanyaan itu, dan semoga tidak ditanya-tanya lagi. Namun, membaca cerita teman-temanku, aku jadi ingin nyinyir lagi di sini. Entah kenapa orang-orang seperti risih melihat perempuan berumur di atas 25 tahun --apalagi sudah 30 tahun atau lebih-- yang belum menikah. Kalau situasinya seperti zaman dulu, di mana perempuan tidak bekerja dan harus ditanggung orang tua secara finansial, mungkin tidak aneh --meskipun kurang bisa dibenarkan-- kalau orang tua ingin anaknya segera menikah agar beban finansial mereka berkurang. Ini masih terjadi juga, sih, di daerah-daerah terbelakang. Akan tetapi, situasi sekarang sudah berbeda. Perempuan sekarang sudah banyak yang mandiri secara finansial. Kalaupun mereka tak kunjung menikah di usia yang sudah matang, itu tidak akan merugikan siapapun. Lah, mereka nggak minta makan sama situ, kok. Kalau memang belum menemukan jodoh yang cocok, ya mau bagaimana lagi, kan?

Selasa, 12 April 2016

Ngenes

Ngenes itu ... ketika aku mendengar seseorang berkomentar "Keren!" sewaktu membicarakan seorang perempuan Aceh --yang orang tuanya kelihatannya Islam fanatik-- justru tidak berjilbab dan merokok. Aku bingung, di mana letak kerennya? Merokok? Berani tidak berjilbab di daerah yang katanya menerapkan syariat Islam? Aku gagal paham. Apakah dia menganggap merokok dan tidak memakai jilbab sebagai bentuk kebebasan? Apakah dua hal tersebut dianggap keberanian karena menentang sikap orang tuanya yang fanatik? Kalau memang seperti itu, sepertinya dia yang gagal paham. Berjilbab, kan, perintah agama, perintah Tuhan, bukan perintah orang tua. Menentangnya berarti menentang Tuhan, bukan sekadar menentang orang tua. Atau, jangan-jangan dia menyebutnya keren karena menganggap jilbab adalah aturan hasil konspirasi kaum Adam untuk membatasi kebebasan kaum Hawa? Padahal, kalau kaum lelaki diminta membuat aturan untuk wanita, mungkin mereka justru mewajibkan perempuan untuk memakai rok mini dan tanktop.

Minggu, 03 April 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: Dari Pulau Ke Pulau

Lanjutan dari sini

Setelah melepas lelah semalaman di Pulau Balai, paginya kami memulai acara inti yaitu makan-makan. Eh, bukan. Paginya kami mulai mengelilingi pulau-pulau di Kepulauan Banyak dengan menggunakan kapal. Tujuan pertama adalah "Pulau" Malelo. Kenapa menggunakan tanda petik? Karena Malelo ini menurutku bukan pulau karena terlalu kecil, hehehe. Malelo ini berupa daratan berpasir putih tanpa ada tanaman sama sekali. Cuma ada sisa-sisa batang pohon dan bebatuan. Begitu melihat Malelo ini aku langsung terpikir untuk berfoto di sana dengan bola voli yang sudah digambari wajah seperti Wilson. Sayangnya kami tidak membawa bola voli jadi tidak bisa berpose sok dramatis bin tragis seperti Tom Hanks yang terdampar di pulau. Akhirnya cuma mengambil foto-foto di sana. Namun, gambarnya kurang cantik karena langitnya berawan. Kalau langitnya bersih sepertinya gambarnya akan ciamik. Eh, itu tergantung fotografernya juga sih. Kalau memang dasarnya amatir, cuaca sebagus apapun gambarnya tetap biasa-biasa saja. *nangis di pojokan*