Jumat, 14 Februari 2014

Curhat Golongan Darah

Pernah membaca analisis sifat manusia berdasarkan golongan darah? Percaya? Kalau aku, sih, antara percaya dan tidak. Golongan darahku O dan ada sebagian karakter golongan darah O memang sesuai dengan sifatku. Tapiiiii ... kebanyakan yang sesuai itu yang negatif! Misalnya disebutkan kalo golongan darah O itu ruthless (kejam). Harus kuakui, aku punya bakat jadi orang yang kejam. So, don't mess with me! Eh, kok, jadi ngancem gini? Tenang, pada dasarnya aku baik hati, kok. Tapi, kalau aku memutuskan untuk bersikap kejam pada seseorang, biasanya aku benar-benar tega dan berpikir bahwa orang itu layak diperlakukan seperti itu. He/she deserves it! Disebutkan juga bahwa golongan darah O itu sloppy. Aku tidak yakin arti kata sloppy ini. Setelah searching di internet, ada dua macam terjemahan untuk sloppy ini yaitu careless dan lack of neatness). Honestly, I am. Both. I couldn't agree more. Hiks, parah, ya!

Ada juga karakter yang sesuai dengan sifatku, dan itu bisa positif maupun negatif. Misalnya expressive dan curious. Aku memang termasuk yang ekspresif, sih. Tapi, kadang juga bisa jadi orang tanpa ekspresi, hehehe. Dan, curious? Ini masalah besar buatku. Aku sering jadi korban rasa penasaranku sendiri. Pernah aku dan teman-temanku membicarakan tentang pohon di salah satu kantor. Temanku yang orang Aceh Barat Daya menyebutkan bahwa itu pohon cemara. Sedangkan temanku yang bukan orang sini mengatakan bahwa itu pohon pinus. Karena penasaran aku pun langsung googling mencari tahu ciri-ciri pinus dan cemara. Pernah juga kami membicarakan tentang bunga jeumpa dan seulanga. Kami tidak yakin bunga itu dalam Bahasa Indonesia namanya apa. Kami juga tidak tahu bentuknya seperti apa. Karena penasaran, aku langsung googling dan menemukan bahwa jeumpa itu sama dengan bunga kantil dan bunga seulanga sama dengan bunga cempaka. Kadang aku merasa aneh dengan sifatku yang "niat banget" mencari tahu. Ada juga karakter yang kadang sama kadang tidak. Misalnya strongly purposed-oriented. Memang, sih, kadang aku cenderung berorientasi hasil. Suka-suka gue mau pake cara apa, yang penting mah hasilnya sesuai. Tapi, tidak selalu seperti itu juga.

Selasa, 11 Februari 2014

Asem-Asem Persahabatan



Banyak cerita manis tentang persahabatan. Tapi, apa benar persahabatan selalu semanis itu? Belum tentyu. Berikut ini hal yang asem yang pernah kualami dalam persahabatan:

Bertepuk Sebelah Tangan
Bukan cuma cinta yang bisa bertepuk sebelah tangan. Persahabatan juga. Contohnya ketika aku menganggap seseorang sebagai sahabatku, tapi dia tidak. Baginya aku cuma teman biasa pada umumnya. Pernah beberapa kali aku akrab dengan seseorang, ke mana-mana dengan dia. Hingga kemudian kami berpisah. Lama tak bertemu, tentu kangen, kan? Aku, sih, kangen. Dia? Sayangnya tidak. Iya, ini namanya kangen yang bertepuk sebelah tangan. Pernah juga aku akrab dengan seseorang yang saking akrabnya masalah cinta dan patah hati pun kuceritakan padanya. Itu tandanya aku percaya padanya. Ternyata dia malah sebaliknya. Berita paling penting, pernikahannya, baru dia beritahukan setelah gosip menyebar dan aku menodongnya untuk mengkonfirmasi gosip tersebut. Kalau aku tidak menodongnya, mungkin dia baru memberitahuku menjelang hari H. Padahal, aku berharap jadi bagian orang-orang yang diberitahu lebih awal. Serasa lirik lagunya Britney Spears “don’t let me be the last to know”.

Menuntut
Tingkat keakrabanku dengan seseorang berbanding lurus dengan kadar ekspektasiku terhadap dia. Misalnya, ketika aku sangat akrab dengan seseorang, aku sering berharap – atau bahkan cenderung menuntut – dia untuk mengerti pikiranku tanpa aku harus mengatakannya. Kadang berpikir, “Mereka, kan, sahabatku. Mestinya mereka tahu alasan aku marah,” atau ,”Mestinya mereka tahu aku nggak suka ini, nggak suka itu.” Dan sayangnya, sahabat itu manusia biasa, bukan mind reader. Dan sayangnya lagi, susah menghilangkan “kebiasaan” menuntut itu. Padahal, kalau posisinya dibalik, misalnya temanku tiba-tiba marah, belum tentu aku tahu alasannya.

Senin, 10 Februari 2014

Dua Belas Pasang Mata



Hisako Oishi mendapat tugas untuk mengajar di sekolah cabang di sebuah desa terpencil di Laut Seto. Jarak sekolah itu delapan kilometer dari rumahnya. Setiap hari dia menempuh jarak itu dengan bersepeda. Kala itu, tahun 1928, perempuan mengendarai sepeda bukanlah hal yang lumrah. Ditambah dengan pakaian barat yang dia kenakan. Penduduk desa jadi kurang menyukainya karena menganggapnya “terlalu modern”.

Oishi memiliki dua belas orang murid: tujuh murid perempuan dan lima murid laki-laki. Mereka memiliki karekter beragam. Ada Kotsuru dan Nita yang cerewet, Sanae yang pemalu, Takeichi yang cerdas, dan lainnya. Mereka memanggil Oishi dengan sebutan Koishi. Mereka sangat menyukai guru mereka itu. Mereka – yang biasanya datang terlambat karena harus berjalan kaki sejauh lima kilometer ke sekolah – tidak pernah terlambat sejak diajar Oishi.

Hingga suatu hari, ketika Oishi mengajak murid-muridnya ke pantai, ia terkena jebakan yang mereka buat. Kakinya terluka. Dia pun tidak bisa mengajar dalam waktu yang lama. Murid-murid yang merindukannya pun memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Mereka berjalan kaki ke rumahnya, sejauh delapan kilometer! Mereka sendiri awalnya tidak menyangka kalau jarak yang akan mereka tempuh sejauh itu. Karena peristiwa itu, penduduk desa jadi tahu betapa anak-anak mereka menyukainya. Mereka pun mulai menyukainya juga. Sayangnya, Kepala Sekolah justru memutuskan untuk memindahkan Oishi ke sekolah utama.

Kamis, 06 Februari 2014

Dear You

Dear Dream,
You were there
Yeah, you were there
when my life was full of sadness and disappointment
Because of you, I could hold on and face all my problems
Pursuing you made my life so meaningful

Dear Passion,
My life was so lively because of you
When I feel so tired, you came to me
You gave me strength
You gave me spirit

But now,
I lose both of you
And without you, my life is so flat, so boring

Will you come to me once again?