Senin, 10 Februari 2014

Dua Belas Pasang Mata



Hisako Oishi mendapat tugas untuk mengajar di sekolah cabang di sebuah desa terpencil di Laut Seto. Jarak sekolah itu delapan kilometer dari rumahnya. Setiap hari dia menempuh jarak itu dengan bersepeda. Kala itu, tahun 1928, perempuan mengendarai sepeda bukanlah hal yang lumrah. Ditambah dengan pakaian barat yang dia kenakan. Penduduk desa jadi kurang menyukainya karena menganggapnya “terlalu modern”.

Oishi memiliki dua belas orang murid: tujuh murid perempuan dan lima murid laki-laki. Mereka memiliki karekter beragam. Ada Kotsuru dan Nita yang cerewet, Sanae yang pemalu, Takeichi yang cerdas, dan lainnya. Mereka memanggil Oishi dengan sebutan Koishi. Mereka sangat menyukai guru mereka itu. Mereka – yang biasanya datang terlambat karena harus berjalan kaki sejauh lima kilometer ke sekolah – tidak pernah terlambat sejak diajar Oishi.

Hingga suatu hari, ketika Oishi mengajak murid-muridnya ke pantai, ia terkena jebakan yang mereka buat. Kakinya terluka. Dia pun tidak bisa mengajar dalam waktu yang lama. Murid-murid yang merindukannya pun memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Mereka berjalan kaki ke rumahnya, sejauh delapan kilometer! Mereka sendiri awalnya tidak menyangka kalau jarak yang akan mereka tempuh sejauh itu. Karena peristiwa itu, penduduk desa jadi tahu betapa anak-anak mereka menyukainya. Mereka pun mulai menyukainya juga. Sayangnya, Kepala Sekolah justru memutuskan untuk memindahkan Oishi ke sekolah utama.

Beberapa tahun kemudian, murid-murid itu naik ke kelas lima. Dan sesuai aturan, murid kelas lima tidak bersekolah di sekolah cabang melainkan di sekolah utama. Itu berarti mereka kembali diajar oleh Oishi. Sayangnya, dia harus melihat salah satu muridnya berhenti bersekolah. Namanya Matsue. Karena ibunya meninggal, dia harus tinggal di rumah untuk menjaga adik-adiknya selama ayahnya bekerja.

Saat itu juga mulai terjadi perang. Semangat nasionalisme sedang gencar dikobarkan. Dan orang-orang yang dianggap menyebarkan paham yang bertentangan dengan nasionalisme dianggap “merah” atau komunis. Banyak di antara mereka yang ditangkap. Oishi merasa sudah tidak sejalan dengan sistem mengajar di sekolah dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja sebagai guru. Ditambah lagi beberapa muridnya berkeinginan menjadi tentara. Dia merasa “gagal” mengajar mereka.

Bagaimana kehidupannya setelah berhenti mengajar? Bagaimana pula nasib murid-muridnya?

Itu adalah ringkasan cerita di novel Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1952, dan diterbitkan di Indonesia untuk pertama kali pada tahun 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Novel setebal 248 halaman ini memberikan sudut pandang yang berbeda tentang perang, yaitu dari sudut pandang orang biasa. Ada satu dialog yang menarik antara Oishi dan murid-muridnya ketika ada yang menyatakan ingin menjadi tentara. Dialog itulah yang kemudian membuat Oishi dianggap sebagai pengikut Merah.

“Ibu guru tidak menyukai tentara?”
“Tidak, aku lebih suka nelayan dan pedagang beras.”
“O ya? Kenapa?”
“Kau tahu, kau masih terlalu muda untuk mati.”
“Wah, pengecut sekali!”
“Ya, seperti itulah aku.”

Pengecut. Memang kelihatannya seperti itu. Tapi, manusiawi, kan? Guru mana yang sampai hati melihat muridnya – yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri – pergi ke medan perang untuk mati muda?

Selain bercerita tentang perang, novel ini juga bercerita tentang masalah yang dialami sebagian besar muridnya: kemiskinan. Karena kemiskinan ini ada muridnya yang putus sekolah, ada pula yang sampai “dijual”.

Biarpun temanya sepertinya berat, tapi karena gaya bahasanya sederhana, tidak terlalu pusing membaca novel ini. Alur maju membuat cerita di novel ini mudah dipahami. Tapi deskripsi di awal cerita tentang sekolah cabang dan sekolah utama cukup membingungkan. Setelah membaca bab-bab berikutnya aku baru paham. Untunglah. Penggunaan kata master dan miss di novel ini juga menurutku agak ganjil. Apakah itu terjemahan dari kata "san"? Kenapa tidak diganti dengan kata Tuan, Nyonya, dan Nona saja?

Selain ceritanya yang bagus, desain sampulnya juga bagus. Cuma sayang, glitter-nya itu, lho! Mengganggu. Tulisan di bawah nama penulis jadi sulit terbaca. Padahal itu, kan, penting (setidaknya bagiku tulisan itu penting). Kalau mau menggunakan glitter, mending cukup di tulisan judulnya saja, tidak usah di seluruh background.

Oh, ya, for your information, judul asli novel ini adalah Nijushi no Hitomi yang arti harfiahnya dua puluh empat mata. Tapi, di judul terjemahannya jadi Dua Belas Pasang Mata. Mungkin alasannya karena dua belas pasang mata lebih estetis dibanding dua puluh empat mata.

Overall, I like this book!

ARTIKEL TERKAIT



8 komentar:

  1. para penggemar novel jepang pasti suka nih

    BalasHapus
  2. Oke. Masuk list. Harus siapin tisu gk nih bacanya, Mil? Aku baca Totto Chan sampe nangis, lho.. (-_-'')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sih baca ini nangisnya cuma bentar. Pas bagian menjelang akhir. Gak ngabisin stok tisu kok.

      Hapus
  3. kira2 laskar pelangi 'nyontek' ga ya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. susah ya nentuin LP nyontek atau nggak. saya bukan ahlinya tapi kalo dari segi plot nya beda. POV beda. setting LP juga khas. mungkin Andrea Hirata terinspirasi kali ya.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!