Senin, 30 April 2012

Lampuki, Novel yang Membuatku Berpikir Negatif

Apakah kehadiranku di Aceh ini tidak disukai? Pertanyaan itu yang muncul ketika aku membaca novel Lampuki karya Arafat Nur. Kenapa tiba-tiba aku bertanya begitu? Karena dalam novel tersebut digambarkan bagaimana tokoh-tokohnya tidak menyukai pendatang dari Jawa. Dan aku orang Jawa, meskipun dalam sekilas pandang banyak orang yang terkecoh dan menduga aku bukan orang Jawa. Otomatis, aku berpikir bahwa kalau orang Aceh tahu aku orang Jawa, mereka tidak akan menyukai keberadaanku di antara mereka.

Jujur, ketika membaca novel ini, aku merasa terusik, tersinggung, marah, dan entah apa lagi rasa yang mucul. Ada sedikit rasa sesal sudah membeli dan membacanya. Aku tergoda membeli novel ini karena temanku Karzel pernah memuji novel ini. Tapi ternyata aku justru kecewa membacanya dan, maaf, tidak bisa memberikan pujian.

Jumat, 27 April 2012

Kamus Brebes (G)

Berhubung blog multiply-ku sudah lama tidak terurus, lebih baik isinya yang penting kupindah di sini saja. Berikut adalah kamus Bahasa Brebes yang sudah kususun dan sudah pernah ku-post di blog tersebut pada 15 Maret 2009.

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan.
Gabag = campak
Gablèg = memukul dengan keras (biasanya di punggung)
Gablèg = punya
     → ora gablèg duit = tidak punya (banyak) uang
Gabug = kosong, tidak ada isinya (untuk butir padi, telur kutu); tidak berguna (untuk hari)
Gamben = dengan
     → digambenna karo = dipasangkan dengan
Gamblok = tempel → nggamblok = menempel
Gandhul = pepaya
Ganing = Daning = kenapa; seperti kata "kok" dalam Bahasa Indonesia atau seperti kata "geuning" dalam Bahasa Sunda
Gangsut = pingsut = bersuit
Gantar = batang bambu panjang yang biasanya digunakan untuk menjangkau sesuatu
Ganyam → ngganyami = memarahi
     → diganyami = dimarahi
Gaok = burung gagak
Gari = kari = tinggal → gari siji = kari siji = tinggal satu
Garu = sisir
Gasak = ejek (lebih bersifat canda)
Gasik = awal, lebih cepat
Gathol = pegang → gatholan = berpegangan pada sesuatu
Gau = pujian untuk anak yang baik, rajin, patuh
Gayap = antusias (ketika ditawari sesuatu)
Ge = Gen = kata seru yang artinya hampir mirip dengan 'dong' atau 'nih' dalam Bahasa Betawi dan kata 'to' dalam Bahasa Jawa
Gèbris = hardik, bentak → nggèbris = membentak

Ada Halo Siang Ini

Tadi siang, sekitar menjelang pukul sebelas, Intan mengirim pesan padaku. Mil, coba lihat ke langit. Ada halo gede banget. Aku pun segera keluar ruangan. Dan ternyata memang ada semacam lingkaran pelangi di sekitar matahari. Beberapa kali kucoba memotretnya dengan susah payah karena silau. Aku tidak bisa fokus jadi hasilnya tidak penuh terpotret semua halonya. Dan setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku berhasil memotret penuh halo tersebut. Ini dia gambarnya:

Halo di Blangpidie, 27 April 2012

Kamis, 26 April 2012

Negeri van Oranje, Asli, Ini BUKAN Resensi!!!

Gambar pinjam di sini
Dua kata untuk novel ini: GOKIL ABEEES!!! Membaca novel ini membuatku haqqul yaqin bahwa keempat penulisnya adalah orang-orang sarap, hahaha! Kenapa? Hmm, bagaimana, ya, menjelaskannya? Pernah membaca novel Dee (Dewi Lestari) yang pertama? Yang Supernova itu, lho... Salah satu keunikan dari novel Dee tersebut adalah adanya footnote. Nah, dalam novel Negeri van Oranje ini juga ada footnote. Tapiiiii, jangan bayangkan footnote yang serius seperti dalam novel Dee. Dalam novel gokil ini, footnote yang ada justru ngocol, meskipun tetap memberikan penjelasan bagi kata-kata yang diberi footnote ini. Tapi, ada juga, sih, kata-kata yang tidak perlu diberi penjelasan dan justru diberi footnote. Seperti apa footnote-nya? Pokoknya geje, dah!

Novel keroyokan karya Wahyudiningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana ini menceritakan kisah lima mahasiswa Indonesia yang kuliah di negeri asal kumpeni alias Belanda. Kelima mahasiswa tersebut adalah Lintang, Wicak, Daus, Banjar, dan Geri. Lintang, satu-satunya perempuan dalam ‘geng’ mereka yang diberi nama AAGABAN (Aliansi Amersfort GAra-gara BAdai di Netherland, nama ‘geng’ yang aneh ini adalah hasil karya Lintang). Lintang ini sewaktu kecil dituduh oleh guru tarinya bahwa dia pernah menelan ulat bulu hidup-hidup karena tingkahnya yang pecicilan. Dan tuduhan tersebut dibenarkan oleh ibunya. Dia kuliah di Leiden. Oh, iya, Lintang ini agak terobsesi memiliki pacar WNA meskipun tetap saja cintanya selalu kandas, hahaha! Wicak, anggota LSM yang menyelidiki illegal logging, ‘dikuliahkan’ di Belanda untuk diselamatkan sebelum ‘dimusnahkan’ para otak illegal logging. Aku baru tahu ternyata jaringan illegal logging bisa semengerikan itu. Wicak ini kuliah di Wageningen, yang disebut sebagai “desa ngaku kota”. Daus, putra Betawi tulen dari Gang Sanip, yang pernah bercita-cita jadi pengacara lalu diingatkan kakeknya akan bahayanya menjadi pengacara. Kata kakeknya, “Sholat lo aje masih bolong-bolong, mending lo cari makan jangan yang nambah dosa, deh.” Bagi yang berprofesi sebagai pengacara no offense, ya! Banjar, yang nama aslinya Iskandar, seorang eksekutif muda yang kuliah di Belanda karena ingin mematahkan perkataan kawannya yang menyebut dia sudah tidak bisa lagi hidup susah dengan uang beasiswa yang “sangat terbatas”. Yang terakhir, Geri. Dia yang paling awal kuliah di Belanda. Geri ini merupakan sosok yang membuat kawan-kawan lelakinya bete dengan kadar kegantengannya yang jauh di atas rata-rata. Tapi, ada beberapa orang di muka bumi ini yang begitu disayang Dewi Fortuna, hingga ditakdirkan menjadi lucky bastard yang memiliki warisan keluarga berlebih, muka ganteng absolut, kepandaian yang membuat orang bodoh menyesal dilahirkan, dan kebaikan hati yang menyaingi Dalai Lama. Begitu kalimat yang menggambarkan betapa kerennya Geri. Dan aku yakin, Geri BUKAN representasi dari salah satu penulis novel ini. Awalnya aku kesengsem pada tokoh ini. Tapi, menjelang akhir cerita, hati remuk redam mengetahui rahasia Geri. Hehehe, iya, aku tahu, aku lebay.

Rabu, 25 April 2012

Para SPAMMER Sungguh TERLALU!!!

Bagi seorang blogger yang tidak populer, ketika melihat posting-annya mendapat banyak komentar tentulah sangat menyenangkan. Itu juga yang kurasakan belakangan ini. Tapi, sayangnya, kegembiraan yang kurasakan rusak gara-gara ulah SPAMMER yang tidak berperikebloggeran. Mereka dengan semena-mena mengomentari tulisanku dengan komentar yang tidak nyambung, bukan cuma satu tapi belasan. Awalnya cuma dua ekor SPAMMER yang "nyampah" di blog-ku. Jadi, aku masih belum "kebakaran jenggot". Lagipula aku juga tidak punya jenggot. Tapi, kemarin, ada buaaanyaaak SPAMMER yang berkomentar di tulisanku yang berjudul (Bukan) Tugu Tengku Peukan dengan komentar-komentar yang benar-benar OOT (out of topic) yang membuatku senewen. Kalimat-kalimat komentarnya senada, cuma menyebutkan bahwa artikel yang di-post itu menarik dan bermanfaat. Dalam komentar SPAM itu juga menyebutkan bahwa tips yang diberikan sangat bermanfaat. Padahal, dalam posting-anku sama sekali TIDAK ADA TIPS. Nah, ketahuan, kan, kalau itu SPAM. Selain komentarnya yang "standar" dan OOT, para SPAMMER ini juga kadang menggunakan nama yang lumayan mengganggu seperti Obat Kuat dan Gagah Perkasa. Please, deeeh! Aku tidak butuh obat kuat. Yang aku butuhkan adalah makanan bergizi, halal, dan GRATIS. Entah itu orang atau mesin yang melakukannya. Ini dia printscreen SPAM yang "nyampah" di blog tercinta ini.


Komentar-komentar tersebut langsung KUHAPUS tanpa mengunjungi link-nya. Awalnya aku ingin memasukkan komentar tersebut ke SPAM, tapi berhubung waktu itu cuma bisa buka lewat ponsel dan tidak bisa membuka Dashboard lewat ponsel, jadi langsung kuhapus saja.

Selasa, 24 April 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah: Novel yang Membuatku Melanggar Prinsipku

Gambar pinjam di sini
Sejenak aku lupa pada ‘prinsip’ku selama ini: pantang membeli novel yang bertema cinta. Setelah ngubek-ubek dua toko buku dan hanya mendapatkan “Negeri van Oranje”, aku pun masuk ke toko buku ketiga. Aku kembali ngubek-ubek mencari buku yang menarik. Kemudian pandangan mataku bertemu dengan sebuah buku yang sampulnya seperti pernah kulihat. Buku tebal yang sampulnya bergambar wanita berpayung. Buku yang pernah diceritakan oleh seseorang (dan aku lupa siapa dia). Nama penulisnya, Tere Liye, membuatku tertarik membelinya. Terlebih kawanku tadi (yang aku lupa siapa) mengatakan bahwa novel tersebut bukan kisah cinta yang mendayu-dayu. Buku tersebut berjudul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Beberapa kali aku salah menyebutnya di Facebook dan menuliskannya Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah. Tertukar antara aku dan kau.

Setelah membacanya, aku tak menyesal sudah ‘melanggar’ prinsipku untuk tak membeli novel bertema cinta. Ternyata novel ini memang tak melulu tentang cinta. Ada banyak nasihat tentang kehidupan, tentang pekerjaan, tentang hidup bermasyarakat. Ada banyak petuah bijak yang disampaikan Pak Tua, salah satu tokoh dalam novel ini kepada Borno, sang tokoh utama.

Novel ini dibuka dengan kisah Borno kecil yang bertanya tentang panjang Sungai Kapuas karena dia ingin tahu apabila dia buang air di hulu Kapuas, butuh berapa hari ‘residu padat’ itu sampai di depan rumahnya. Yah, begitulah anak-anak, kerap memikirkan sesuatu yang jarang terpikirkan oleh orang dewasa. Dia bertanya mengenai panjang sungai Kapuas kepada ayahnya, ibunya, Koh Acong, dan Cik Tulani. Semuanya tidak memberi jawaban yang memuaskan. Hingga akhirnya ia bertanya pada Pak Tua berapa panjang Kapuas dan butuh berapa lama untuk mencapai hulunya. Menanggapi pertanyaan Borno, Pak Tua justru memberikan jawaban yang bagi sebagian besar orang dianggap sebagai jawaban yang berbelit-belit. Katanya, waktu yang diperlukan untuk mencapai hulu tergantung perahu yang digunakan, siapa yang mengemudikan perahu, di musim apa pergi ke hulu. Pokoknya ribet. Tapi, bila dipikir-pikir, yang dikatakan Pak Tua memang benar. Dalam merencanakan  untuk meraih sesuatu, kita harus memperhatikan banyak faktor. Kita harus mengukur ‘kekuatan’ diri, menentukan ‘alat’ yang akan digunakan, cara yang akan ditempuh, dan masih banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan.

Senin, 23 April 2012

(Bukan) Tugu Tengku Peukan

Beberapa bulan lalu aku pernah mem-posting mengenai Tugu Tengku Peukan di Aceh Barat Daya yang wujudnya tidak sama dengan yang selama ini beredar di internet. Kemudian ada seorang kawan bernama Hery MS yang berkomentar memberitahu bahwa tugu dalam gambar yang selama ini beredar sebenarnya sebuah tugu di kawasan Taman Sari, Banda Aceh. Nah, sewaktu menggelandang di Banda Aceh pada hari Jum'at, 20 April 2012, berjalan kaki tak tentu arah, aku menemukan tugu yang dimaksud tadi. Lokasinya di seberang Balai Kota Banda Aceh. Kata kawanku, daerah tersebut memang disebut Taman Sari. Ini fotonya:

Kamis, 12 April 2012

Aku + Blog VS Giveaway

I am bloggingholic. Yeah, aku memang suka nge-blog, mungkin hampir kecanduan nge-blog, meskipun tulisanku bisa dibilang tidak terlalu bermutu. Nah, beberapa bulan belakangan ini aku keranjingan satu hal dalam nge-blog: ikut giveaway. Yup, giveawayholic, banci giveaway, banci kontes, atau apalah namanya. Sampai saat ini sudah tercatat sembilan tulisan yang kubuat untuk mengikuti tujuh giveaway. Yang pertama kuikuti adalah giveaway yang diadakan oleh Una. Dalam tulisan itu aku menceritakan keinginanku untuk kuliah di Jepang. Sebenarnya sebelumnya sudah ada beberapa giveaway atau kontes yang diadakan tapi rata-rata mensyaratkan untuk memajang foto blogger dalam posting-an. Berhubung aku tidak suka memasang fotoku di blog, terpaksa aku tidak berpartisipasi. Nah, giveaway si Una ini tidak mensyaratkan hal tersebut. Jadilah aku salah satu pesertanya. Namun, sayang, ketika aku melihat pengumuman pemenang, tidak ada namaku di sana. Hiks! Sedihnyaaa...

Tapi, tak apalah. Namanya juga pengalaman pertama. Mungkin belum terlalu mahir menulis, jadi tulisanku kurang menarik. Kemudian ada lagi yang mengadakan giveaway, yaitu Mbak Monda. Dia mengadakan dua kategori giveaway, dan aku mengikuti keduanya. Aku membuat tulisan mengenai Tugu Tengku Peukan dan Pempek. Aku sebenarnya tidak percaya diri dengan tulisanku karena tulisanku mengenai Tugu Tengku Peukan tidak terlalu pas. Tugu Tengku Peukan itu sendiri bukan tempat tujuan wisata melainkan 'cuma' tugu yang mungkin tidak dikenal bahkan oleh warga Aceh Barat Daya sendiri. Dan ketika pengumuman pemenang... Lagi-lagi tidak menang.

Rabu, 11 April 2012

Gempa, Again

Live report from Blangpidie, Aceh Barat Daya
Rabu, 11 April 2012

Tadi aku sedang meng-entry SIMTP ketika tiba-tiba kursiku terasa bergetar. Sepertinya perlu beberapa detik untuk menyadari kalau itu gempa. Aku pun langsung keluar. Dan ternyata kawan-kawan kantorku juga berlari keluar. Kupikir gempanya sebentar. Tapi, setelah aku keluar ternyata bumi masih bergoyang. Lama. Biasanya paling lima detik. Sekarang sudah lewat dari semenit, belum berhenti juga. Kawanku pun berkata bahwa kali ini gempanya terasa lebih kencang. Pak Adlin bolak-balik berucap, "Laa ilaaha illallooh." Aku yang semula agak santai jadi mulai merasa merinding.

Setelah gempa berhenti, ada yang masuk kantor dan menyalakan televisi. Dia pun mengabarkan pada kami bahwa gempanya 8,9 skala Richter. Subhanallooh... Biasanya aku cuma merasakan yang 5 skala Richter dan cuma 5 detik. Kami pun bergegas masuk untuk melihat siapa tahu ada informasi lebih lengkap. Dan ternyata gempanya di Simeulue. Pantas saja terasa kencang. Lumayan dekat. Dan katanya juga berpotensi tsunami.

Alhamdulillaah lokasi kantorku di perbukitan. Jadi, tidak perlu lari ke tempat yang lebih tinggi. Mau ke mana lagi coba? Ke puncak bukit? Tapi, aku malah jadi takut pulang ke kos. Takut terjadi apa-apa di jalan.

Semoga semua aman. Semoga tidak ada gempa susulan. Semoga tidak ada tsunami. Aamiiiin...

Macapat yang Hampir Terlupakan

Sewaktu masih sekolah SD dan SMP aku sangat menyukai pelajaran Bahasa Jawa. Kenapa? Entah. Seru saja. Meskipun bahasa sehari-hari yang kugunakan berbeda dengan yang diajarkan (karena di rumah bahasanya ngapak, beda dengan dialek dalam pelajaran), tetap saja seru mempelajarinya. Tapi, sekarang sudah ada beberapa yang terlupakan. Purwakanthi dan parikan saja aku sudah lupa apa artinya. Aku juga sudah hampir lupa dengan tembang macapat. Tahu, kan, lagu macapat? Tidak tahu? Tahu lagu Pocung (Pucung)? Itu, lho... Yang liriknya "Bapak pocung, dudu watu dudu gunung.. Sangkane ing sabrang.. Ngon ingone sang bupati.. Yen lumaku, si pocung lembeyan grana.." Nah, itu salah satu lagu macapat yang masih banyak dikenal orang. Mungkin yang bersekolah di Jawa Tengah atau Jawa Timur pernah diajari lagu ini sewaktu kecil.

Nah, karena ingin mengembalikan ingatanku tentang lagu macapat ini, aku pun googling. Wuih, ternyata banyak juga yang pernah membuat posting tentang lagu macapat. Alhamdulillah, masih banyak yang belum melupakan budaya ini. Salah beberapanya bisa dilihat di sini dan di sini. Sebagian dari mereka menjelaskannya dalam Bahasa Jawa. Cakeeep! Dan ternyata Om Wikipedia juga tahu, lho, tentang lagu macapat ini. Dia menjelaskannya di sini. Salut! Setelah membaca-baca beberapa posting-an tersebut, aku pun jadi ingat istilah-istilah yang digunakan dalam aturan membuat lagu macapat. Nih, aku kutipkan dari salah satu blog yang kusebutkan tadi.

Selasa, 10 April 2012

Ketika Kekasihku Ngambek

Hari ini dimulai dengan pagi yang penuh keringat. Iya, pagi-pagi aku sudah diajak keringatan oleh my hunny bunny black sweetie. Masa dia ngambek setelah lima hari kuanggurkan. Padahal, kan, mestinya dia bersyukur bisa 'turun mesin' selama lima hari. Dan agar dia berhenti ngambek, dia memaksaku berolahraga dengannya. Olahraga yang melatih otot kaki dan tangan. Yah, lebih berat ke kaki, siiih...

Tunggu. Sepertinya aku belum mengenalkan kekasih hatiku pada teman-teman semua. Hmm... Baiklah. Ini dia belahan jiwaku yang senantiasa mendampingiku setiap hari kemana-mana.

Rabu, 04 April 2012

Dunia (Seakan) Cuma Selebar Daun Kelor

Semalam, aku tanpa ba bi bu, ujug-ujug berkomentar di posting-an Mbak Anazkia cuma karena di posting-an itu Mbak Anaz menyebut kalimat "Arif di Papua sana" (yang setelah kubaca ulang ternyata itu bukan kalimat Mbak Anazkia sendiri melainkan kutipan dari kalimat kawannya, bodohnya diriku :D). Aku pun bertanya, "Eh, Mbak Anaz, kok, bisa kenal Arif?" Padahal, kan, dalam tulisan itu yang kenal Arif, kawan lamaku, itu kawannya Mbak Anazkia. Untungnya Mbak Anazkia beneran kenal Arif. Kenapa aku tahu? Ya, karena jawaban si mbak atas pertanyaanku itu. Katanya mereka pernah satu buku. Sebenarnya, sebelum membaca posting-an si mbak yang semalam, aku sudah bertanya-tanya melihat si mbak berkomentar di foto kawan lamaku itu yang dipasang di Facebook. Rasanya takjub. Bertemu seseorang di dunia maya yang ternyata berteman dengan temanku. Mbulet, ya, bahasanya. Dan makin takjub karena kawanku yang satu ada di ujung timur Indonesia sana dan satunya lagi di Malaysia (eh, masih di sana, kan, ya?).

Itu bukan yang pertama aku mengalami hal seperti itu di dunia maya. Seorang kawan blogger yang mengaku beridentitas R10 meminta berteman denganku di Facebook (ternyata di Facebook namanya Ario). Tapi, kok, kami punya mutual friend? Padahal setahuku aku cuma mengenalnya di dunia maya khususnya blog. Setelah kulihat dia ternyata mutual friend kami adalah Mas Didik, kakak tingkatku di STIS yang sama-sama dari Karesidenan Pekalongan. Kok, bisa Ario berteman dengan Mas Didik? Entah. Belum sempat kutanyakan juga padanya.

Aceh Barat Daya dan Sawah

Dulu, sewaktu aku baru tiba di Aceh Barat Daya, aku pernah diajak ke beberapa kantor kecamatan. Dan sepanjang perjalanan yang kulihat adalah: SAWAH! Yup, selain terkenal sebagai pusat perdagangan di daerah barat-selatan Aceh, kabupaten ini memang bisa dibilang identik dengan sawah. Sangat mudah menemukan sawah di sini. Beras juga merupakan salah satu komoditas utama di Aceh Barat Daya. Sampai-sampai kabupaten ini dikenal dengan sebutan Nanggroe Breuh Sigupai yang artinya "negeri beras segenggam". Sebenarnya aku merasa agak janggal karena yang cuma disebut "segenggam". Kenapa tidak sekalian "segudang"? Toh, dengan melihat banyaknya sawah yang ditanami padi, masa berasnya cuma segenggam? Mungkin memang segenggam sudah dianggap banyak, ya...

Berikut ini adalah foto-foto sawah yang kudapatkan. Sebenarnya fotonya banyak, tapi karena sama-sama sawah, ya tak perlu semuanya dipasang. Dan gambarnya tidak terlalu keren sebagaimana aslinya. Entah kenapa. Padahal, bila memotret pantai bisa kelihatan bagus, tapi bila memotret sawah, kok, tidak terasa "uwow"nya padahal saat aku memandang hamparan padi yang kehijauan dengan latar belakang pegunungan rasanya sangat takjub.
Sawah di seberang SPBU Blangpidie, Maret 2012

Sawah di seberang kompleks perkantoran Aceh Barat Daya (seberang kantor kami), Maret 2012

Senin, 02 April 2012

Ngulik Lirik Lagu "Geu Namja -- OST Secret Garden" (Part 2)

Kali ini aku akan mem-posting kelanjutan terjemahan lagu Geu Namja (OST Secret Garden). Lagi-lagi cuma sebagian karena ada yang belum jelas kuketahui struktur kalimatnya (grammar-nya).

남자는 성격이 소심합니다
geu namjaneun seonggyeogi sosimhamnida
(Geu) = itu (kata tunjuk)
남자 (Namja) = laki-laki, lelaki
남자 (Geu namja) = lelaki itu
(Neun) = partikel penanda topik untuk kata berakhiran vokal, bisa juga penanda subjek. Sedangkan untuk kata berakhiran konsonan, misalnya kata 사람 (saram), menggunakan (eun) -> 사람은 (sarameun)
Dalam kalimat di atas ada frasa ‘geu namjaneun’ ( 남자는). ‘Geu namja’ diikuti ‘neun’. Jadi topik atau subjek dari kalimat tersebut adalah ‘geu namja’ (lelaki itu).
성격 (Seonggyeok) = kepribadian, watak, karakter, sifat
(i) = partikel penanda subjek untuk kata berakhiran konsonan. Adapun untuk kata berakhiran vokal, misal   남자 (Han namja), menggunakan partikel (ga).
Dalam kalimat di atas ada frasa ‘seonggyeogi’ (성격이). ‘Seonggyeok’ (성격) diikuti ‘i’ (). Jadi, subjek dalam kalimat tersebut adalah성격 (Seonggyeok/sifat)
소심하다 (Sosimhada) = takut, malu
소심합니다 (Sosimhamnida) = penakut (bentuk formal)
Jadi, kalimat 남자는 성격이 소심합니다 (Geu namjaneun seonggyeogi sosimhamnida) lebih kurang artinya = lelaki itu bersifat malu/lelaki itu pemalu. Pokoknya seperti itulah, hehehe...

Bread, Love, and Dreams: Ketika Antagonis Tak Layak Dibenci

Bread, Love, and Dream adalah salah satu drama Korea yang sudah agak jadul. Beberapa bulan lalu sudah pernah ditayangkan di Ind*s**r. Saat menonton di televisi pun aku tak tahu judulnya. Awalnya aku tak tertarik menontonnya karena saat aku menonton kebetulan pas adegan di mana tokoh utama memandang tokoh antagonis (sebenarnya saat itu aku tidak tahu dia tokoh antagonis) dengan tatapan berkaca-kaca seperti ‘maho’. Otomatiiiiis! Aku menganggap drama itu kurang oke karena tokoh utama yang kelihatannya lembek.

Beberapa hari kemudian, aku mengorek-ngorek isi harddisk eksternal. Seperti biasa... Kalau sedang kumat, aku tergoda untuk begadang nonton di malam hari. Ada satu judul yang (seingatku) belum pernah kutonton. Judulnya Bread, Love, and Dream. Aku pun menontonnya dan masih belum ‘ngeh’ kalau itu serial yang beberapa hari sebelumnya kutonton.

Cerita awalnya sangat menarik bagiku. Tentang seorang wanita yang sedang berjuang untuk melahirkan di rumah sakit. Juga digambarkan seorang nenek sedang berdoa di depan kuil. Ketika anaknya lahir, wanita tadi pun bertanya pada perawat tentang jenis kelamin anaknya. Adegan pun berpindah setting. Digambarkan seorang eksekutif muda berbincang dengan asistennya. Sang asisten mengabarkan mengenai kondisi istri sang eksekutif muda yang hendak melahirkan. Ternyata sang eksekutif ini adalah suami dari perempuan yang digambarkan melahirkan tadi. Dan sang eksmud ini lebih memilih untuk bertemu klien atau kolega apa lah itu daripada menemani istri yang sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka. Ckckck! Laki-laki macam apa ituhh?!? Adegan berpindah lagi ke rumah sakit. Perawat memberitahukan bahwa anak yang dilahirkan adalah perempuan. Sang wanita tadi pun menampakkan raut wajah kecewa. Kemudian datang sang nenek yang tadi berdoa di kuil – yang ternyata ibu mertua wanita tadi. Ketika tahu bahwa cucunya perempuan, dia pun berkata bahwa anaknya akan sangat marah (mungkin lebih tepatnya kecewa).