Rabu, 11 April 2012

Macapat yang Hampir Terlupakan

Sewaktu masih sekolah SD dan SMP aku sangat menyukai pelajaran Bahasa Jawa. Kenapa? Entah. Seru saja. Meskipun bahasa sehari-hari yang kugunakan berbeda dengan yang diajarkan (karena di rumah bahasanya ngapak, beda dengan dialek dalam pelajaran), tetap saja seru mempelajarinya. Tapi, sekarang sudah ada beberapa yang terlupakan. Purwakanthi dan parikan saja aku sudah lupa apa artinya. Aku juga sudah hampir lupa dengan tembang macapat. Tahu, kan, lagu macapat? Tidak tahu? Tahu lagu Pocung (Pucung)? Itu, lho... Yang liriknya "Bapak pocung, dudu watu dudu gunung.. Sangkane ing sabrang.. Ngon ingone sang bupati.. Yen lumaku, si pocung lembeyan grana.." Nah, itu salah satu lagu macapat yang masih banyak dikenal orang. Mungkin yang bersekolah di Jawa Tengah atau Jawa Timur pernah diajari lagu ini sewaktu kecil.

Nah, karena ingin mengembalikan ingatanku tentang lagu macapat ini, aku pun googling. Wuih, ternyata banyak juga yang pernah membuat posting tentang lagu macapat. Alhamdulillah, masih banyak yang belum melupakan budaya ini. Salah beberapanya bisa dilihat di sini dan di sini. Sebagian dari mereka menjelaskannya dalam Bahasa Jawa. Cakeeep! Dan ternyata Om Wikipedia juga tahu, lho, tentang lagu macapat ini. Dia menjelaskannya di sini. Salut! Setelah membaca-baca beberapa posting-an tersebut, aku pun jadi ingat istilah-istilah yang digunakan dalam aturan membuat lagu macapat. Nih, aku kutipkan dari salah satu blog yang kusebutkan tadi.

Guru gatra: cacahing larik/gatra (jumlah baris/larik dalam satu lagu)
Guru wilangan : cacahing wanda saben sak gatra (jumlah suku kata dalam satu baris/larik)
Guru lagu: tibaning swara saben pungkasaning gatra (vokal terakhir dalam satu baris/larik)

Paham? Atau malah bingung?
Begini saja. Kuberi contoh dengan lagu. Berikut adalah lagu macapat yang diajarkan sewaktu aku SMP.

"MIJIL"
Poma kaki pada dipun eling
Ing pitutur ing ngong
Sira uga satria arane
Kudu anteng jatmika ing budi
Ruruh sarta wasis
Samubarangipun

Jumlah baris dalam lagu tersebut ada 6, jadi guru gatra-nya: 6.
Lalu kita lihat baris pertama. Jumlah suku kata pada baris pertama = po-ma-ka-ki-pa-da-di-pun-e-ling = 10 suku kata. Jadi, guru wilangan untuk baris pertama: 10.
Vokal terakhir pada baris pertama, yaitu pada kata eling, adalah "i". Jadi, guru lagu pada baris pertama: i.
Nah, guru lagu ini digandengkan dengan guru wilangan, jadinya 10i.
Begitu seterusnya untuk semua baris.
Jadi, guru wilangan dan guru lagu untuk lagu tersebut (Mijil) sebagai berikut: 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u.

Aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu ini baku. Tidak bisa diubah-ubah. Jadi tidak boleh misalnya membuat lagu Mijil dengan baris sebanyak delapan dan baris pertama terdiri atas lima suku kata. Juga tidak boleh membuat lagu Pocung dengan jumlah baris misalnya sepuluh. Selain itu, membuat lagu macapat ini biasanya disesuaikan dengan "sifat" lagunya. Misalnya Pocung. Biasanya lagu ini berisi cangkriman atau tebak-tebakan. Seperti lagu di paragraf awal posting-an. Lagu itu tebak-tebakan yang jawabannya gajah.

Paham? Masih belum paham juga??? Ya, sudahlah. Sepertinya aku tidak berbakat jadi guru Bahasa Jawa atau guru apapun. Jadi blogger saja, lah.

ARTIKEL TERKAIT



18 komentar:

  1. ^oh ini toh lagu macapat :D
    ternyata gajah =.=", ndak bisa artiin mbak, google bisa bantu ndak y :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, anak ini orang Jawa masa baru tahu lagu macapat? Mesti ngapusi.

      Google kayanya nggak bisa mbantu nerjemahin kalo bahasanya udah ketinggian (misal Jawa Kawi).

      Hapus
    2. udah lupa mbak, apalagi diindonesia sepertinya kurang menghargai bahasa daerah =.=".
      wah ternyata mbak orang jawa y, kirain dari luar pulau,ternyata dari brebes dan move ke aceh @.@

      Hapus
    3. Ah, nggak juga. Banyak, kok, yang masih cinta bahasa daerah...

      Hapus
  2. Wah aku dulu sengit banget sama pelajaran boso jowo soale beda banget percakapan sama pelajarannya. Sering dapet nol puthul.
    Aku masih bisa nembang Gambuh sama satu lagi gatau jenenge opo @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, biarpun beda sama bahasa sehari-hari aku tetep suka. Seru soalnya. Aku malah tahu Gambuh setelah kuliah, dinyanyiin temenku.

      Hapus
  3. yg masih samar teringat lagu Pucung...dhandang gula, mijil dll dah lupaa..

    Btw, salah satu rencana TAb di blog mau membuat ulasan ttg macapat juga lo, khususnya ttg kinanthi...sebagai deskripsi nama blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, bagus tuh. Saya malah gak apal yang Kinanthi.

      Hapus
  4. waaah aku ajha gak paham, bingung hehehehe :)
    enakan jd blogger :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba baca artikel yang saya link. mungkin paham.

      Hapus
  5. HAhahha... aku iso ngomong jowo thok, tapi gak pernah enthok pelajaran bahasa jawa :D

    XCangkriman ki tebakan ya ndah??

    BalasHapus
  6. aku suka lagu Bapak pocung, dari dulu aku bingung kemana ibu pocungnya?? bhahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu pocungnya lagi shopping di mall mungkin :p

      Hapus
  7. huhuhu, tetep gak ngeti emang dasarnya gak bisa bahasa jawa saya mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, saya yang orang jawa aja kadang gak ngerti kalo lagunya pake basa jawa kawi

      Hapus
  8. aku berdarah jawa dan aku ga bisa bahasa jawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sayang sekali. Padahal Bahasa Jawa itu seru, lho..

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!