Senin, 02 April 2012

Bread, Love, and Dreams: Ketika Antagonis Tak Layak Dibenci

Bread, Love, and Dream adalah salah satu drama Korea yang sudah agak jadul. Beberapa bulan lalu sudah pernah ditayangkan di Ind*s**r. Saat menonton di televisi pun aku tak tahu judulnya. Awalnya aku tak tertarik menontonnya karena saat aku menonton kebetulan pas adegan di mana tokoh utama memandang tokoh antagonis (sebenarnya saat itu aku tidak tahu dia tokoh antagonis) dengan tatapan berkaca-kaca seperti ‘maho’. Otomatiiiiis! Aku menganggap drama itu kurang oke karena tokoh utama yang kelihatannya lembek.

Beberapa hari kemudian, aku mengorek-ngorek isi harddisk eksternal. Seperti biasa... Kalau sedang kumat, aku tergoda untuk begadang nonton di malam hari. Ada satu judul yang (seingatku) belum pernah kutonton. Judulnya Bread, Love, and Dream. Aku pun menontonnya dan masih belum ‘ngeh’ kalau itu serial yang beberapa hari sebelumnya kutonton.

Cerita awalnya sangat menarik bagiku. Tentang seorang wanita yang sedang berjuang untuk melahirkan di rumah sakit. Juga digambarkan seorang nenek sedang berdoa di depan kuil. Ketika anaknya lahir, wanita tadi pun bertanya pada perawat tentang jenis kelamin anaknya. Adegan pun berpindah setting. Digambarkan seorang eksekutif muda berbincang dengan asistennya. Sang asisten mengabarkan mengenai kondisi istri sang eksekutif muda yang hendak melahirkan. Ternyata sang eksekutif ini adalah suami dari perempuan yang digambarkan melahirkan tadi. Dan sang eksmud ini lebih memilih untuk bertemu klien atau kolega apa lah itu daripada menemani istri yang sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka. Ckckck! Laki-laki macam apa ituhh?!? Adegan berpindah lagi ke rumah sakit. Perawat memberitahukan bahwa anak yang dilahirkan adalah perempuan. Sang wanita tadi pun menampakkan raut wajah kecewa. Kemudian datang sang nenek yang tadi berdoa di kuil – yang ternyata ibu mertua wanita tadi. Ketika tahu bahwa cucunya perempuan, dia pun berkata bahwa anaknya akan sangat marah (mungkin lebih tepatnya kecewa).

Lalu cerita pun berlanjut. Sang wanita tadi menemui seseorang, sepertinya, sih, peramal. Dia ingin menanyakan bagaimana caranya agar dia bisa memiliki anak laki-laki. Sang peramal pun mengatakan bahwa wanita tadi dan suaminya tidak akan bisa memiliki anak laki-laki. Dia juga menyebutkan bahwa sang wanita itu serakah. Ingin mendapatkan apa yang tidak bisa didapatkan adalah serakah, begitu katanya. Lalu dia pun mengatakan bila dengan orang lain wanita itu bisa memiliki anak laki-laki, tapi sebelumnya sang suami akan memiliki anak laki-laki dari perempuan lain. Nah, lho!

Setelah pulang ke rumah, sang wanita ini mendapati perawat (atau baby sitter?) di rumahnya sedang muntah-muntah. Ternyata sang perawat ini hamil setelah melakukan tindakan terlarang dengan sang eksmud. Sudah bisa dibayangkan bagaimana reaksi si istri eksmud ini mengetahui suaminya selerong (selingkuh dan serong) dengan perawatnya. Dan yang lebih membuatku sebal adalah si ibu mertua yang mengetahui anaknya melakukan tindakan terlarang dengan perawatnya tapi tidak menghalangi malah membiarkan. Ibu macam apa ituhh? Mertua macam apa ituhh??? Kemudian, sang istri eksmud malah berselingkuh dengan asisten suaminya. Hadeuh!

Kemudian masing-masing wanita itu punya anak laki-laki. Sang perawat memiliki anak yang diberi nama Kim Tak Gu dan istri eksmud memiliki anak yang diberi nama Gu Ma Jun. Dalam serial ini sepertinya diarahkan bahwa tokoh protagonisnya adalah Tak Gu dan antagonisnya adalah Ma Jun. Tapi, aku justru jatuh cinta pada Ma Jun. Kenapa? Karena aku merasa nasib Ma Jun jauh lebih mengenaskan dari nasib Tak Gu. Dari kecil Tak Gu harus kehilangan ibunya yang diculik orang seseorang yang bertato kincir di tangannya dan dia pun harus hidup menggelandang sambil terus mencari ibunya. Tapi, menurutku nasib Tak Gu ini tak terlalu malang. Setidaknya dia punya ibu yang menyayanginya dan ayahnya juga lebih menyayangi dia dibandingkan Ma Jun. Sedangkan Ma Jun? Di usia yang masih kecil, dia sudah melihat ibunya berselingkuh dengan asisten ayahnya (atau orang yang dia anggap ayah) lalu harus mengetahui kenyataan bahwa dia bukan anak kandung ayahnya. Kala itu dia juga harus melihat neneknya sekarat karena tidak sengaja terdorong oleh ibunya tanpa bisa menolongnya. Sejak kecil dia juga sepertinya tidak merasakan kasih sayang ayahnya. Singkat kata, Ma Jun adalah orang yang tumbuh dewasa tanpa pernah merasakan dicintai. Hingga dia tumbuh menjadi orang yang dingin. Kadang, orang yang terlihat jahat justru lebih malang. Kehidupan yang pahit seakan ‘memaksa’ mereka menjadi sosok yang dingin dan kejam.

Dalam drama ini, yang paling kuanggap antagonis adalah si ibu mertua dan si eksmud. Jelas, sikap si ibu mertua yang menuntut menantunya untuk memberikan cucu laki-laki adalah hal yang kejam dan tidak masuk akal. Bagaimanapun, jenis kelamin adalah hak prerogatif Tuhan. Bagaimanapun manusia berusaha agar memiliki anak laki-laki, bila Tuhan berkehendak memberi anak perempuan, mau apa? Si eksmud ini juga menurutku antagonis. Meskipun dalam drama ini dia digambarkan sebagai seorang yang baik, tapi bagiku dia jahat. Tahu, kan, untuk menilai laki-laki kita harus melihat sikapnya pada keluarganya. Sedangkan sikapnya pada istrinya tidak terlalu baik. Kalaupun sikap istrinya juga tidak baik, tugasnyalah untuk mendidik dan meluruskan istrinya. Dia juga membuat Ma Jun merasa tidak disayang. Dan itu adalah hal yang sangat kejam. Perasaan disayangi dan dicintai adalah hal yang sangat penting seorang anak. Selain itu, ada satu adegan yang membuatku kesal yaitu ketika si eksmud ini berbicara dengan ibunya tentang rencana pernikahannya dengan seorang wanita yang akan menanamkan saham di perusahaan keluarga mereka (kalau tidak salah begitu adegannya). Wanita itulah yang kemudian menjadi istrinya yang tidak bisa memberikan anak laki-laki. Ia menikah dengan wanita yang tidak dia cintai. Mungkin itu sebabnya sikapnya pada istrinya tidak terlalu hangat. Yaelaaah, kalau tidak cinta kenapa menikahinya? Dan kalau sudah menikahinya, bukankah harus berusaha mencintainya? Hhh, rumit.

Drama ini mengajarkanku tentang sebab akibat. Seseorang melakukan tindakan buruk seringkali karena suatu alasan. Seseorang bersikap jahat, bisa jadi karena dia juga diperlakukan dengan jahat. Seperti ibu Ma Jun, si istri eksmud. Dia berselingkuh karena berada dalam tekanan untuk memberikan anak laki-laki padahal sesuai ramalan ia tidak akan mendapatkan anak laki-laki dari suaminya. Dia melakukan tindakan jahat karena ibu mertuanya bersikap jahat padanya, merendahkan dia hanya karena tidak bisa memberikan keturunan laki-laki. Bukan berarti perselingkuhan adalah hal yang dibenarkan. Juga Ma Jun. Dia bersikap jahat dan dingin karena dia korban keserakahan orang tuanya. Tumbuh dalam lingkungan yang sangat tidak kondusif, jauh dari rasa cinta, dengan kenangan buruk, satu hal yang wajar bila dia menjadi orang yang dingin. Dia bahkan tidak bisa menunjukkan rasa cintanya pada wanita yang dia cintai. Dia menikahinya dengan cara merebutnya dari Tak Gu dan mengancamnya. Dia juga menikahi wanita yang dibenci oleh ibunya untuk balas dendam pada ibunya. Kejam memang. Tapi, tetap saja menyedihkan melihat ekspresinya yang menahan perasaan, mungkin rasa sakit yang harus ditanggungnya selama belasan tahun. Tapi, untunglah di akhir cerita Ma Jun bisa berbahagia dengan istrinya.

Nilai moral dari drama ini antara lain mensyukuri apa yang kita miliki, salah satunya keturunan. Kalau diberi anak perempuan saja atau laki-laki saja, ya, tetaplah bersyukur. Jangan serakah. Nilai moral lainnya, nikahilah seseorang yang kita cintai, kalau tidak bisa menikahi orang yang kita cintai, maka cintailah orang yang kita nikahi. Nilai moral lainnya, bisa jadi sikap seseorang yang jahat memiliki alasan yang kuat, dan bisa jadi kita penyebab orang itu berbuat jahat. Waspadalah!!! Dan satu lagi nilai moral yang harus diingat: JANGAN PERCAYA PADA RAMALAN! Tindakan bodoh ibu Ma Jun dalam drama ini karena dia tersugesti oleh ramalan. Jangan ditiru!

ARTIKEL TERKAIT



10 komentar:

  1. Sebab akibat, kalo suaminya selingkuh, istrinya juga selingkuh ya ndah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, gitu ya? Balas dendam gituh?

      Hapus
  2. saya suka sekali drama ini ^^
    apalagi sama tak gu

    BalasHapus
  3. ehhh chika juga suka banget pilm ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, ada yang suka juga ternyata.

      Hapus
  4. your post is nice.. :)
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, saya udah pernah berkunjung, kok. Cuma nggak meninggalkan komentar. Saya nggak suka bola. Nggak lucu kan kalo saya komentar yang terlalu OOT di sana :D

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!