Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2024

Wanseponetaim in Singapura

Bulan Februari yang lalu, aku diberi kesempatan untuk pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Aku mendapat tugas ke Singapura (kita sebut Singapura saja, ya, jangan Singapore). Deg-degan rasanya pergi ke luar negeri. Takut terlihat ndesit, takut tidak bisa berkomunikasi karena kemampuanku yang menyedihkan berbicara dalam bahasa Inggris, dan sebagainya. Untungnya aku pergi dengan rekanku yang sangat bisa diandalkan. Aku sukses menjadi beban rombongan. Mohon maaf, ya, gaes.

Sabtu, 20 Agustus 2022

Wanseponetaim in Makassar

I'm too lazy to write a new post but I have to post it, before I lost all my will to post this. I don't want this post to get postponed for almost two years like Wanseponetaim in Ternate. So, I'm gonna post another post of wanseponetaim. It's once upon a time, by the way, but I want to make it sounds less keminggris so I write it as wanseponetaim.

Minggu, 14 Agustus 2022

Wanseponetaim in Ternate

Cerita wanseponetaim kali ini adalah edisi dibuang sayang. Sayang kalau fotonya tidak kupamerkan. Aku ke Ternate bulan November 2019 bersama rekan kantor. Ngapain ke sana? Nggak ngapa-ngapain. Jadi ポンコツ alias beban doang untuk rekanku itu. Aku berangkat pagi-pagi buta dari kos dengan rasa malas karena malamnya aku baru pulang dari Padang. Pesawatku berangkat sebelum Zuhur tapi sampai di Ternate sudah Asar (eh, atau hampir Asar, ya?). Kok, bisa? Ya, selain karena perjalanannya cukup panjang, ada perbedaan waktu juga antara Jakarta dan Ternate. Malamnya tepar.

Kok, cuma cerita? Katanya mau pamer.

Sebentar. Tadi basa-basi dulu. Sekarang curhat. Pamer fotonya nanti.

Senin, 26 Agustus 2019

Wanseponetaim in Setu Babakan

Aku sudah lama sekali ingin ke Setu Babakan. Dulu, sebelum penempatan, kawanku sempat mengajak ke Setu Babakan, tetapi rencana jalan-jalan ke sana tidak pernah terwujud. Dan sepuluh tahun kemudian, terwujud juga keinginanku ke sana. Bukan dengan temanku melainkan dengan adikku.

Jumat, 24 Mei 2019

Wanseponetaim in Ciwidey: Kawah Putih dan Situ Patenggang

Akhir tahun lalu aku berencana jalan-jalan ke Bandung. Sudah beli tiket kereta pulang pergi. Namun, yang akan kuculik untuk menemaniku jalan-jalan ternyata ada keperluan lain. Aku pun browsing tentang cara ke beberapa tempat wisata dengan angkutan umum, salah satunya ke Kawah Putih. Kelihatannya mudah. Tapi kok aras-arasen, ya? Dengan alasan aras-arasen, aku batal pergi ke Bandung.

Senin, 29 April 2019

Wanseponetaim in Lembang: Floating Market dan Taman Begonia

Senin tiga pekan yang lalu, aku berkesempatan ke Bandung. Sebenarnya hari itu aku sedang galau dan ingin di kos saja, sembunyi, tidak mau bertemu siapa-siapa. Namun, karena ada pelatihan di Bandung, aku terpaksa pergi. Sudah dari jauh-jauh hari namaku masuk daftar peserta, mana mungkin tiba-tiba menghilang tanpa kabar?

Senin, 26 November 2018

Wanseponetaim in Maluku: dari Pantai ke Pantai

Hari Selasa yang lalu aku mendapat tugas ke Ambon, Maluku dengan dua rekan kantor. Berhubung tugasnya berbicara di depan umum, kontribusiku sangat sedikit. Yang banyak berperan adalah dua rekan kantorku dan rekan-rekan kantor provinsi. Sepertinya peranku yang signifikan hanya membantu membawakan souvenir yang berat.

Senin, 30 Juli 2018

Wanseponetaim in Belitung: Pantai Pasir dan Pantai Leebong

Setelah jalan-jalan ke Tanjung Tinggi, besoknya aku kembali nunut orang-orang jalan-jalan. Tujuan selanjutnya adalah Pulau Leebong. Untuk menuju Pulau Leebong, kami harus naik bus dulu ke pelabuhan. Aku lupa perjalanan ke pelabuhan memakan waktu setengah jam atau satu jam. Nama pelabuhannya apa? Hehe, aku lupa. Pokoknya seperti ini pelabuhannya.

Pelabuhan

Senin, 09 Juli 2018

Wanseponetaim in Belitung: Pantai Tanjung Tinggi

Sabtu kemarin aku nunut rekan-rekan IPDS Babel jalan-jalan ke Pantai Tanjung Tinggi, Belitung. Pantai tersebut merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi.

Perjalanan dari Tanjung Pandan ke Tanjung Tinggi ternyata lumayan lama. Sekitar setengah jam atau satu jam, ya? Pokoknya lama. Jalannya juga berbelok-belok. Namun, tidak separah perjalanan Blangpidie-Medan. Bahkan sepertinya tidak separah jalan berkelok-kelok di Nagan Raya yang sering kulewati saat pergi ke Banda Aceh.

Minggu, 11 Februari 2018

Menggelandang di Banda Aceh (Edisi Farewell)

Jumat, 2 Februari yang lalu aku kembali menggelandang di Banda Aceh. Sendirian? Iya, dong! Memangnya mau minta ditemani siapa? Kawanku semuanya ngantor. Aku sudah berencana jalan-jalan di Banda Aceh sejak bulan Desember. Mumpung masih di Aceh. Sayangnya rencanaku gagal terus dan baru bisa terlaksana di bulan Februari, sehari sebelum aku kabur ke Pulau Jawa.

Rabu, 28 Desember 2016

Wanseponetaim in Bandung

Ternyata ada beberapa cerita penggelandanganku yang belum kuceritakan di sini. Salah satunya cerita saat aku menggelandang di Bandung. Saat itu aku ingin memanfaatkan waktu liburan untuk jalan-jalan ke daerah lain di Jawa sebelum kembali ke pengasingan. Keinginan untuk ke Jogja atau Pacitan tidak terwujud. Untungnya keinginan untuk ke Bandung bisa terwujud. Lima tahun kuliah di Jakarta, ditambah satu setengah tahun lagi kuliah di sana, masa tidak pernah sekalipun ke Bandung? Apa hubungannya kuliah di Jakarta dan jalan-jalan ke Bandung? Yah, kan dekat. Eh, jauh ding. Ah, sudahlah.

Kamis, 11 Agustus 2016

Wanseponetaim in Pulau Nasi and Pulau Breuh

Aku sudah lama ingin ke Pulau Nasi. Alasannya? Penasaran. Itu doang? Iya. Gara-gara ada blogger yang menceritakan serunya jalan-jalan ke sana aku jadi penasaran. Dan bulan lalu teman dari Traverious menawari ikut open trip ke Pulau Nasi dan Pulau Breuh. Sungguh tawaran yang menggoda. Sayangnya berangkatnya hari Jumat dan itu artinya aku harus membolos sehari. Sewaktu aku bercerita pada ibuku, katanya, “Ya, udah. Nggak papa bolos sehari.” Teman sekantorku juga berkata senada. Merasa didukung untuk membolos, aku pun memutuskan ikut. Saat aku memberitahu ibuku kok ya malah ditanya, “Berarti mbolos sehari?” Lah, kan, udah kasih tahu dari awal, Mak! Kawanku juga bereaksi sama. “Berarti Jumatnya bolos?” Hadeuh. Kali lain kalau ada yang berkata, “Nggak papa bolos sehari.” Aku wajib curiga kalau dia sebenarnya tidak terlalu memperhatikan ceritaku dan komentarnya sekadar komentar keceplosan yang tidak dipikir matang-matang sehingga kurang sahih untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Minggu, 03 April 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: Dari Pulau Ke Pulau

Lanjutan dari sini

Setelah melepas lelah semalaman di Pulau Balai, paginya kami memulai acara inti yaitu makan-makan. Eh, bukan. Paginya kami mulai mengelilingi pulau-pulau di Kepulauan Banyak dengan menggunakan kapal. Tujuan pertama adalah "Pulau" Malelo. Kenapa menggunakan tanda petik? Karena Malelo ini menurutku bukan pulau karena terlalu kecil, hehehe. Malelo ini berupa daratan berpasir putih tanpa ada tanaman sama sekali. Cuma ada sisa-sisa batang pohon dan bebatuan. Begitu melihat Malelo ini aku langsung terpikir untuk berfoto di sana dengan bola voli yang sudah digambari wajah seperti Wilson. Sayangnya kami tidak membawa bola voli jadi tidak bisa berpose sok dramatis bin tragis seperti Tom Hanks yang terdampar di pulau. Akhirnya cuma mengambil foto-foto di sana. Namun, gambarnya kurang cantik karena langitnya berawan. Kalau langitnya bersih sepertinya gambarnya akan ciamik. Eh, itu tergantung fotografernya juga sih. Kalau memang dasarnya amatir, cuaca sebagus apapun gambarnya tetap biasa-biasa saja. *nangis di pojokan*

Kamis, 31 Maret 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: Perjalanan Blangpidie-Singkil-Pulau Balai

Lanjutan dari sini 

Ada banyak hal yang harus disyukuri selama perjalanan. Aku tidak terlalu kedinginan di perjalanan meskipun tidak memakai jaket. Aku juga sukses melewati jalanan menanjak-menurun-penuh-tikungan di Subulussalam tanpa muntah meskipun tidak minum jamu anti masuk angin (tapi makan permen Antang*n terus sih). Perjalanan Aceh Barat Daya - Aceh Singkil selama 6,5 jam terlewati dengan aman, meskipun harus berusaha terus tidur dan saat melek pun jadi irit bicara karena pusing.

Kami singgah sebentar di Rimo (salah satu kecamatan di Aceh Singkil yang dekat Kota Subulussalam) karena ada teman yang mau membeli barang di Indomar*t. Keren kan? Di Blangpidie saja tidak ada swalayan waralaba tersebut. Melihat ada swalayan, aku langsung ikut keluar. Aku membeli tisu, Antang*n, dan koyo. Setelah masuk mobil, aku langsung sembunyi-sembunyi memakai koyo. Amaaan! Rasanya sedikit tenang karena aku tidak perlu khawatir akan mual di jalan. Eh, jangan-jangan itu cuma sugesti? Entahlah.

Selasa, 29 Maret 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: The Beginning

Kembali ke Blangpidie itu rasanya agak aneh. Meskipun pernah tinggal lebih dari lima tahun di sini dan baru kabur satu setengah tahun, saat kembali ternyata rasanya asing seperti baru kali pertama datang ke sini. Belum betah. Dan di hari libur kegalauan bertambah. Biasanya, saat weekend di Jakarta pun aku cuma tidur-tiduran di kos sambil menonton film di laptop. Namun, entah kenapa di sini aku juga belum nyaman di kos. Jadi, bermalas-malasan di kos pun belum jadi opsi yang menyenangkan. Ketika tahu tanggal 25 Maret tanggal merah bin long weekend, aku langsung galau, padahal itu masih seminggu sebelum long weekend. Awalnya berharap ada yang mengajakku jalan-jalan, misalnya ke Sabang. Dan akhirnya iseng-iseng bertanya ke page Traverious di Facebook kapan ada trip ke Pulau Nasi. Oiya, Pulau Nasi ini sudah jadi incaranku sejak kuliah kemarin. Sewaktu sibuk mengerjakan KA aku justru asyik membuat rencana kabur-kaburan ke Pulau Nasi kalau kembali ke Aceh. Dan ternyata aku belum berjodoh dengan Pulau Nasi. Trip ke Pulau Nasi katanya akan diadakan bulan April. Dan si admin pun memberitahukan bahwa long weekend tanggal 25-28 Maret ada trip ke Pulau Banyak. Sifat impulsifku pun muncul tak tertahankan. Aku langsung bertanya-tanya masih bisa mendaftar atau tidak, biayanya berapa, kapan berangkat dan kapan pulang. Setelah kepo-kepo, aku makin tergoda untuk ikut. Saat kutanyai pendapatnya, salah satu temanku mengompori, "Ikut aja. Kapan lagi? Mumpung masih single, masih bebas ke mana-mana." Oke, daftar!!!

Senin, 31 Agustus 2015

Wanseponetaim in Semarang: Masjid Agung

Hari kedua di Semarang, aku dan teman-teman mengunjungi Masjid Agung Semarang. Numpang sholat? Nggak. Numpang foto-foto doang. Parah ya ... Kebetulan waktu ke sana sedang berhalangan, jadi ya tidak bisa sholat.

Seperti apa penampakan masjidnya? Ini dia.


Selasa, 25 Agustus 2015

Wanseponetaim in Semarang: Kondangan dan Sam Poo Kong

Setelah jalan-jalan di Lawang Sewu, aku dan teman-teman kondangan. Heyah! Sekarang sudah kembali terbiasa menyebut "kondangan" dan bukan "kenduri". Oke, kembali ke topik. Kondangan adalah salah satu momen di mana perempuan yang biasanya tanpa makeup pun mendadak memakai makeup. Yah, minimal memakai bedak dan lipstik. Dan aku? Berhubung masih trauma dengan bedak, aku pun cuma memakai pelembab. Untuk sedikit mendongkrak penampilan agar terlihat agak berbeda dengan penampilan saat main, aku pun mencoba memakai pashmina. Kali ini aku membawa pashmina pemberian Eny beberapa tahun yang lalu. Dililit, diputer, ah, masih belum kece. Aku pun minta tolong temanku untuk memakaikan jilbab. Setelah semuanya selesai berdandan, kami pun berangkat. Daaan ... dalam perjalanan salah satu jarum pentul yang kupakai jatuh. Jadilah jilbabku berantakan. Ketika yang lain foto-foto sebelum masuk gedung, aku heboh sendiri berusaha mengatur jilbab agar tetap rapi meskipun kurang satu jarum pentul. Berhasil? Yah, lumayan, lah. Lumayan hancur. Dalam perjalanan pulang kondangan, jilbabku sudah semakin berantakan. Sebodo. Sepertinya aku belum berjodoh dengan jilbab pashmina, seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya. Wahai para fashion blogger, hijab blogger, apapun sebutan kalian, buatlah trend untuk memakai bergo ke acara kondangan! Pliiis!

Senin, 24 Agustus 2015

Wanseponetaim in Semarang: Lawang Sewu

Tanggal 8 kemarin aku dan teman-temanku pergi ke Semarang. Tujuan utamaku adalah untuk jalan-jalan nostalgila di kota kenangan. Tujuan sampinganku (tapi ini tujuan utama teman-temanku) adalah kondangan ke acara pernikahan teman kuliah. Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen. Stasiunnya ruameee. Baru kali ini aku antre begitu panjang untuk masuk ke peron stasiun. Seperti antrean ketika hendak check in sebelum naik pesawat. Maklum, biasanya aku naik kereta dari Gambir atau Jatinegara yang lumayan lega.

Kami naik kereta Gumarang. Di stasiun aku mendengar bahwa tujuan akhir kereta itu adalah Stasiun Pasar Turi Surabaya. Saat itu aku langsung sadar kenapa harga tiket Gumarang lebih mahal dari Tawang Jaya. Yaiyalaaah... Yang satu sampai Surabaya, yang satu cuma sampai Semarang. Jadi malu karena sebelumnya aku mengomel karena harga tiket kedua kereta tersebut beda jauh padahal sama-sama ekonomi. Ternyata tujuan akhirnya beda. Hihihi.

Karena tiba di Semarang sudah larut malam, kami baru jalan-jalan besok paginya. Kami jalan-jalan numpang lewat dan foto-foto di Simpang Lima lalu ke Tugu Muda dan Lawang Sewu, dan foto-foto lagi. Rencana nostalgilaku gagal karena semuanya benar-benar berbeda dengan kenanganku sepuluh tahun lalu. Jadinya seperti baru pertama kali datang ke Semarang.

Kamis, 29 Januari 2015

Kota Tua

Bulan November yang lalu aku jalan-jalan ke Kota Tua bersama beberapa temanku. Sayang waktunya kurang tepat. Kami ke sana pada akhir pekan jadi tempatnya terlalu ramai. Saat itu juga Museum Fatahillah sedang direnovasi jadi aku tidak bisa hunting foto di sana.

Suasana di Lapangan Fatahillah. Banyak orang berkostum yang bisa diajak berfoto (apa sih nama pekerjaan seperti itu?)

Masih di Lapangan Fatahillah, di depan kantor pos.

Sabtu, 20 September 2014

Udik + Impulsif + Jakarta = ???

Belum sebulan aku tinggal di Jakarta, aku sudah menggelandang beberapa kali. Padahal, dulu, hampir lima tahun tinggal di Jakarta, aku jarang sekali bepergian. Belum tentu dalam sebulan ada agenda jalan-jalan. Dan sekarang, justru sebaliknya. Rasanya tidak betah tinggal di kos. Mungkin karena aku lama tinggal di luar Jawa yang minim tempat rekreasi. Ada, siiiih, tapi jauh. Kalau di Jakarta? Tinggal naik Transjakarta. Seperti orang yang sudah lama tidak makan. Begitu melihat makanan, rasanya semua ingin dimakan. Begitu juga aku. Rasanya ingin berkeliling ke semua tempat dan menikmati fasilitas yang tidak bisa kudapatkan di daerah.

Penggelandangan pertama adalah hari Senin, 8 September. Tujuannya: Gramedia. Awalnya aku tidak berniat ke sana. Niat semula adalah nonton di XXI Atrium sepulang kuliah. Tapi, berhubung aku tidak hafal bioskopnya di lantai berapa dan aku tidak punya teman yang bisa diajak nonton (plus jadi penunjuk jalan), aku pun memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan (di dalam Transjakarta), aku tergoda untuk ke Gramedia. Akhirnya setelah sampai di halte Tegalan aku pun turun, dan ngucluk ke Gramedia. Iya, aku impulsif. Padahal Gramedia adalah tempat hangout paling berbahaya bagiku. Kenapa? Karena kalau sudah ke Gramedia, aku harus siap-siap mengeluarkan uang banyak karena khilaf membeli buku. Daaan, memang akhirnya khilaf. Tapi, tidak menyesal, sih, karena ada novel lanjutan dari novel yang sudah pernah kubaca. Ada Bite-Sized Magic (The Bliss Trilogy) dan 21 (The Chronicles of Audy).