Senin, 26 Agustus 2019

Wanseponetaim in Setu Babakan

Aku sudah lama sekali ingin ke Setu Babakan. Dulu, sebelum penempatan, kawanku sempat mengajak ke Setu Babakan, tetapi rencana jalan-jalan ke sana tidak pernah terwujud. Dan sepuluh tahun kemudian, terwujud juga keinginanku ke sana. Bukan dengan temanku melainkan dengan adikku.


Sabtu pagi aku janjian dengan Fifi, adikku, di Stasiun Tebet. Dari Tebet kami naik KRL jurusan Depok dan turun di Stasiun Lenteng Agung, stasiun kenangan masa mengejar dosen penguji (aku baru ingat tentang hal ini saat menulis catatan ini), masa pelatihan, dan masa diklat prajab. Karena malas naik angkot (malas memikirkan naik angkot apa dan turun di mana), aku memilih jalan kaki. Aku menyuruh Fifi mencari petunjuk jalan ke Setu Babakan dengan google maps. Kami pun mengikuti petunjuk google maps, menyusuri jalan Moch Kahfi II, lalu ke Jalan Boncel. Dari sini mulai terasa aneh karena kami masuk ke perkampungan. Lama-lama maps mengarahkan kami ke jalan tikus. Sempat kebingungan dengan petunjuk maps, akhirnya kami sampai juga di danau. Ternyata jalan yang ditunjukkan maps langsung mengarah ke dalam area setu, bukan di pintu gerbangnya. Aku melihat di kejauhan ada kompleks rumah kayu berwarna cokelat. Kupikir itu rumah adat betawi seperti yang kutemukan sewaktu googling tentang Setu Babakan. Aku pun menyeberang jembatan menuju kompleks rumah tersebut. Saat bertanya pada bapak-bapak yang duduk di semacam pendopo di kompleks tersebut, si bapak menjelaskan bahwa kompleks tersebut masih belum dibuka untuk pengunjung. Katanya yang bisa dikunjungi adalah tempat di ujung danau yang lain. Di sana ada museum dan katanya sekitar pukul dua siang akan ada pertunjukan di amfiteater (amphiteater).

Kami pun menyeberang lagi ke jalan raya lalu berjalan menuju museum. Dari ujung ke ujung. Sudah berjalan jauh dari stasiun ke setu, jalan dari "tempat masuk" jalan tikus ke kompleks rumah yang belum jadi tadi, lalu harus berjalan lagi ke museum. Benar-benar dipaksa olah raga. Kami berjalan sambil sedikit-sedikit berkata, "Museumnya mana? Kok nggak kelihatan?" sampai akhirnya kami menemukan bangunan yang kukira museum. Ternyata itu adalah workshop tempat belajar menari dan memainkan alat musik tradisional. Saat aku masuk ke sana, sekelompok orang asing sedang belajar menari. Di workshop tersebut juga ada beberapa penjual makanan dan minuman. Aku mencoba es selendang mayang.

Setelah menghabiskan es selendang mayang kami naik ke lantai dua sambil melihat-lihat di mana jalan menuju museum. Awalnya kukira museumnya ada di bangunan dengan atap kerucut. Setelah turun, melewati jembatan ke amfiteater, dan berkeliling, kami tidak menemukan jalan ke sana. Akhirnya setelah melihat-lihat amfiteater, adikku mengajak ke bangunan yang terlihat modern yang ada di belakang amfiteater. Katanya siapa tahu itu museumnya. Dan ternyata memang benar itu museum yang kami cari. Kami pun masuk. Kalau melihat keterangan tentang Museum Betawi ini, seharusnya ada tiga lantai yang bisa dikunjungi. Namun, karena sedang direnovasi, kami hanya bisa berkeliling di satu lantai terbawah saja yang hanya berisi dua lukisan, beberapa patung dengan pakaian adat Betawi, golok besar, dan entah apa lagi. Lantai atas tidak dapat dikunjungi. Kata penjaganya, kalau kami memang mau melihat-lihat, dia bisa mengantarkan. Namun, kami tidak boleh memotret menggunakan kamera. Berhubung mood-ku sudah langsung jelek ketika mendengar lantai di atas ditutup, aku pun memutuskan tidak naik ke lantai atas. Malesi.

Kiri atas: lantai 2 workshop; kanan atas: jembatan (dari arah amfiteater), abaikan orang yang diblur;
kiri bawah: jembatan (menuju amfiteater); kanan bawah: bangunan atap kerucut


Amfiteater dan museum
Setelah duduk-duduk sebentar di kursi yang ada di amfiteater, kami memutuskan untuk makan siang. Di mana? Lesehan di trotoar, sambil melihat pemandangan danau. Menu yang kami pilih soto mie. Jauh-jauh ke Setu Babakan cuma makan soto mie. Di pasar Kebunsayur juga ada. Yah, mau bagaimana lagi. Daripada mencoba yang aneh-aneh lalu mulas lalu terjadi tragedi diare. Ngomong-ngomong soal mulas, saat menyantap makan siang aku merasakan mulas yang tidak asing. Mulas yang rutin datang bulanan. Jangan-jangan? Setelah selesai makan, kami ke masjid untuk salat Zuhur. Dan saat itulah kecurigaanku terbukti. Untungnya adikku melihat ada warung di depan masjid. Kejadian emergency pun terlalui dengan aman. Too much information, Milo.

Pemandangan danau dari tempat makan siang kami
 Karena tidak jadi salat, kami pun berkeliling tak tentu arah lalu beli es potong rasa durian. Kami makan es potong di pinggir danau sambil menonton anak-anak memancing. Sayangnya tangkapan mereka tidak bagus. Beberapa kali aku melihat salah satu anak malah mendapati daun yang tersangkut di mata kailnya, bukan ikan. Tak jauh dari tempat anak-anak memancing aku melihat perahu naga yang mengapung begitu saja, tidak diikat. Apa memang biasanya memang tidak diikatkan ke tiang? Entah.


Karena sudah lelah dan bosan (sepertinya cuma aku, sih, yang lelah dan bosan), kami memutuskan pulang. Saat melihat maps untuk mencari jalan pulang, aku melihat Taman Melayu Kalimantan dan taman melayu lainnya yang menurut maps lokasinya dekat titik tempat kami berada. Setelah kami mengikuti petunjuk maps, kami tidak menemukan taman yang dimaksud. Yang ada hanya deretan warung. Kemudian aku melihat atap rumah di balik tembok di belakang jajaran warung. Sepertinya itu atap rumah melayu. Jadi, taman melayunya ada di balik tembok? Di maps dibilang dekat padahal tak terjangkau.

Ya sudahlah. Pulang saja. Selesai ceritanya? Beluuuum. Kami masih harus jalan ke gapura pintu masuk/keluar karena bingung menentukan titik untuk penjemputan kalau mau naik gocar. Aku sudah tidak sanggup jalan kaki ke stasiun jadi memilih naik gocar. Yah, meskipun ujung-ujungnya tetap jalan kaki dari ujung ke ujung lagi karena harus ke pintu keluar. Selama jalan kaki aku nyinyir "Jalan kaki hari ini udah cukup buat jatah olah raga seminggu. Jadi seminggu ke depan aku boleh males-malesan". Sudah diminta menjemput di pintu keluar, abang gocar-nya malah menjemput di depan perahu naga. Hayati lelah. Karena lelah, emosiku tak bisa ditahan. Akhirnya aku menyerahkan urusan komunikasi dengan driver gocar pada adikku. Setelah menunggu beberapa saat, gocar pesanan kami pun sampai. Pulaaang.

ARTIKEL TERKAIT



1 komentar:

  1. iya kadang tamu bulanan datang diluar prediksi, biasanya kalo pergi2 aku selalu bawa bekal pad. masalahnya sudah nggak nyaman pake disposable lagi setelah melewati berperiode2 haid tanpa pembalut bungkusan

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!