Jumat, 15 Juni 2012

Rindu Purnama, antara Novel dan Film

Judul novel ini Rindu Purnama. Mirip dengan judul film? Iya, novel ini memang adaptasi dari skenario film tersebut. Namun, lebih rumit dibandingkan filmnya. Ada bumbu yang ditambah-tambahi, juga ada tambahan beberapa tokoh yang membuat ceritanya agak berbeda dengan filmnya.

Novel ini bercerita tentang Imas, gadis kecil yang merantau ke Jakarta menjadi penjual koran. Setelah penerbit koran tersebut bangkrut, Imas pun jadi anak jalanan dan tinggal di rumah singgah. Di rumah singgah inilah dia bertemu dengan Bondan lalu bertemu Gaj Ahmada, lelaki yang memanggilnya "Rindu". Ya, tokoh Gaj ini tidak ada dalam skenario filmnya. Dan setahuku di filmnya pun tidak diceritakan bahwa Rindu sebenarnya bernama Imas.

Cerita bergulir. Gaj pergi. Entah kemana. Lalu, muncul Sarah. Dia yang 'menggantikan' peran Gaj 'mendidik' para anak jalanan di rumah singgah. Ketika Rindu tengah dikejar petugas berpentungan (mungkin kamtib), dia tertabrak mobil milik Surya, seorang eksekutif muda. Dia pun menyuruh sopirnya membawa Rindu ke rumah sakit. Dan ternyata, setelah dibawa ke rumah sakit, Rindu dibawa ke rumah Surya, alih-alih diantar ke rumahnya sendiri. Terus? Terus? Terus, ternyata Rindu ini hilang ingatan akibat tertabrak tadi, jadi dia tidak ingat di mana tempat tinggalnya sehingga tidak bisa diantar pulang. Begono... Bahkan, Rindu pun tidak ingat namanya sendiri. Hingga kemudian Pak Pur -- sopirnya Surya -- memberinya nama Purnama.

Surya, yang semula tidak suka anak kecil (termasuk Rindu), sedikit demi sedikit mulai menyayangi Rindu, tanpa dia sadari. Hingga kemudian, Monique, yang naksir berat pada Surya, mulai sering datang ke rumah Surya dan menunjukkan sikap yang membuat Rindu tidak nyaman. Rindu pun pergi (kabur) ketika dibawa ke dokter oleh Surya.

Surya pun mencari Rindu, berbekal gambar karya Rindu yang diduga sebagai tempat tinggal lamanya. Dia pun menemukan lokasi yang mirip dengan gambar Rindu. Dia juga menemukan selebaran yang dibuat Sarah mengenai hilangnya Rindu. Surya pun kemudian menghubungi Sarah. Mereka bertemu, lalu bersama-sama mencari Rindu. Ketemu? Tidak ketemu. Tapi, Rindu malah pulang sendiri. Iya, pelan-pelan ingatannya pulih, jadi dia bisa mengingat tempat tinggalnya.

Sebenarnya, dari segi cerita, novel ini bagus. Ditambah dengan interlude oleh A. Fuadi, novel ini lebih "bernilai". Namun, sepertinya fokusnya berubah. Kalau di filmnya, sepertinya fokusnya pada Rindu, dengan bumbu kisah cinta segitiga antara Surya, Monique, dan Sarah. Sedangkan di novel sepertinya justru lebih banyak porsi untuk cinta-cintaannya. Sebuah cinta entah-berapa-segi antara Gaj, Sarah, Monique, Surya, dan Bondan, juga Rama -- (mantan) tunangan Sarah. Novel ini ditambah-tambahi kisah cinta masa remaja antara Gaj dan Sarah. Kisah mereka berdua inilah yang membuatku berpikir, "Kayaknya pernah baca cerita ini, deh..." Sungguh, saat membacanya, aku teringat novel yang pernah kubaca sewaktu tingkat satu dulu. Kalimat novel itu yang kuingat adalah "akan kubangun rumah di hatimu". Dengan bekal kalimat itulah, aku googling. Dan ketemu! Ada sebuah novel berjudul Rumah Hati. Penulisnya Tasaro GK, sama dengan penulis novel Rindu Purnama ini. Jalan ceritanya, nyaris persis dengan kisah Gaj dan Sarah. Hanya nama tokoh yang berbeda, penyakit yang diderita tokoh wanita pun berbeda. Dalam novel Rumah Hati, tokoh wanita akhirnya meninggal, sedangkan dalam novel Rindu Purnama ini tokoh wanitanya, Sarah, berhasil sembuh.

Bila, penulis kedua novel tersebut, aku bisa dengan mudah berkata "Plagiat!!!" Namun, ini penulisnya sama, hanya novelnya yang berbeda. Jadi, aku mesti bilang apa?

ARTIKEL TERKAIT



28 komentar:

  1. hemm belum pernah baca novel ini. Kalau penulisnya sama tapi novelnya berbeda, berarti penulisnya memang suka dengan tema-tema seperti itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya, bukan cuma tema, melainkan juga jalan ceritanya yang sama.

      Hapus
  2. kalo penulisnya sama tapi novelnya berbeda berarti produktif namanya, tapi kalo temanya sama sja berarti kurang ide itu hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadi lagi kurang ide, atau jangan-jangan malah lupa kali ya cerita itu udah dituangkan ke novel lama..

      Hapus
  3. iya ya,,,, =ini reviewnya bagus banget nih.... ini ada tidak bukunya d gramedia.. jadi mau baca nih,..

    BalasHapus
  4. belum pernah baca bukunya, film-nya udeh tayang ya? walaahh... nay..nay.. kemane aje lo?! >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuh, tinggal di Jakarta, bioskop bececeran, masa gak tahu pilem inih?

      Hapus
  5. wah seru nie, bukan cinta 3 sisi. tapi bbanyak sisi, kaya di tivi aja. kaya sinetron, semoga lebih baik nie.... keren, jadi penasaran. aku malah belum liat vilem atau novelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, emang agak mirip sinetron :D

      Hapus
    2. tapi kalau sinetron kurang suka mba, terlalu lebai jaman sekarang mba. tapi dari sinopsis yang mba buat, terlihat proporsional dan menarik sepertinya.

      Hapus
  6. wah.. belum bisa tahan baca novel sampai habis... biasanya udah "sok" ngerti intinya.

    wekeke... ternyata cinta juga punya berapa-segi...y mbak @@

    masih belum dapat clue, yang membuat novel itu "lebih bernilai", apanya mbak, cinta segitiganya, atau cinta banyak seginya itu @@ atau cinta yang model gimana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kowe, ki, mesti moco posting-an iki yo ora tekan rampung. Kan dah dibilang, interlude dari A Fuadi yang bikin novel ini lebih bernilai. *ngomel*

      Hapus
  7. *haha....*
    owh... interlude nya toh... i see..>_<

    BalasHapus
  8. o_O
    gimana yah, mungkin aja si penulis lagi galau
    terus yang ada dipikirannya cuma itu :D

    BalasHapus
  9. Mungkin mau jadi trade mark kali mbak, hehe
    ngomong2 sampai detik ini belum ada Novel yg saya habis baca. haha
    saya lebih senang baca biografi dan buku motivasi. hehe

    event ngeblog: menulis di blog dapet android, ikutan yuk!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah udah nggak mempan baca buku motivasi :D

      Hapus
  10. bilang aja
    penulise keabisan ide..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, mungkin juga. Udah nggak ada ide lain kali.

      Hapus
  11. mungkin itu ciri khas nya kali. nanti novel ketiga nya mesti ga jauh2 dr itu hahahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya bukan buat ciri khas. Saya baca satu novelnya yang lain, temanya beda.

      Hapus
  12. Mungkin novelnya diperbaharui dan diganti judul biar lebih menarik hehehee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, novel yang dulu dianggap gak pernah terbit?

      Hapus
  13. novel yang bagus kayaknya nih...boleh pinjem nggak mbak...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh pinjem. tapi Mami Zidane ke Aceh dulu ya :p

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!