Jumat, 30 Maret 2012

Recent Comment-ku Ngambek

Hari ini judulnya curhat. Tiga hari yang lalu (atau empat hari, ya?) ada sesuatu yang aneh dengan blog-ku. APA ITUUUUU? Recent comment-ku ngambek. Apa karena aku terlalu sering posting sehingga Blogger "bosan" denganku sehingga menyabotase recent comment-ku?

Memangnya masalahnya seperti apa? Begini... Recent comment-ku, kan, menggunakan gadget HTML/Javascript yang code-nya ku-copas dari blog-nya Bang Kahar. Selama ini, script itu bisa berjalan dengan normal. Komentar terbaru yang muncul sebanyak 15 buah. Namun, dua hari yang lalu yang muncul kalau tidak salah cuma lima. Bahkan, setelah kuutak-atik script-nya, komentar yang muncul malah cuma tiga. Setelah itu aku hunting mencari-cari di Google cara menampilkan recent comment tadi. Sudah beberapa script kucoba, hasilnya MENTOK. Komentar yang ditampilkan cuma tujuh meskipun di script-nya ku-setting 15. Aneh, kaaaaaaan? Apa karena HTML template pernah kuutak-atik? Kalau masalahnya ada di HTML template, mestinya masalah itu muncul beberapa pekan lalu karena terakhir kali aku mengutak-atik HTML template (sebelum si recent comment berulah) itu beberapa pekan lalu (kalau tidak salah).

Rabu, 28 Maret 2012

Apa Salahnya Anak Perempuan?

X = Istri Pak M udah melahirkan lagi.
Y = Anaknya apa?
X = Laki-laki.
Y = Senang kali, lah, Pak M. Kalau anaknya perempuan lagi, termenung-menung nanti Pak M.

Pak M memang sudah punya dua anak perempuan. Dan aku jadi memikirkan perkataan Bu Y tadi. Dari kalimatnya, Bu Y menganggap Pak M mungkin tidak akan terlalu bahagia bila anaknya perempuan lagi. Sebegitu pentingkah anak laki-laki? Sebegitu sedihkah bila memiliki anak yang semuanya perempuan? Sebegitu sedihkah tidak memiliki anak laki-laki?

Aku anak ketiga. Kedua kakakku perempuan. Aku pun perempuan. Apakah waktu aku baru lahir, Abahku kecewa karena aku tidak terlahir sebagai laki-laki? Apa Abahku kecewa karena ketiga anaknya perempuan? Apakah ketika adikku (yang juga perempuan) lahir, Abahku juga kecewa? Aku tidak tahu karena aku tidak pernah memikirkannya. Aku baru memikirkannya ketika mendengar kalimat Bu Y tadi. Semoga saja tidak. Semoga saja Abahku tetap bahagia meskipun keempat anaknya perempuan. Semoga saja Abahku tidak kecewa meskipun dari keempat anaknya tidak ada satupun yang bisa diajak menonton bola atau main catur.

Selasa, 27 Maret 2012

Kenapa Masuk SPAM?

Barusan aku iseng mengecek komentar di blog-ku melalui dashboard. Biasanya mana pernah kulihat. Kemudian aku melihat ada tujuh komentar yang masuk SPAM. Aku penasaran. Komentar apa saja yang dianggap SPAM. Awalnya aku menduga komentar berupa iklan. Tapiiiiiiii... Aneh tapi nyata. Komentar yang masuk SPAM itu ternyata komentar biasa Bahkan, beberapa di antaranya dari orang-orang yang justru sudah sering mengunjungi blog-ku. Ada komentar dari Kaito Kidd, Ninda Rahadi, dan EY Surbakti yang sudah beberapa kali komentar di blog ini. Ini dia komentar yang masuk SPAM.


It's so weird. Kalimat mereka tidak ada yang berbau promosi. Kenapa justru komentar yang mencantumkan link tidak masuk SPAM? Bingung aku dengan algoritma yang digunakan Google untuk menyeleksi mana komentar yang termasuk SPAM mana yang bukan.

Jadi tidak enak. Jangan-jangan ada kawan yang berkunjung kemudian meninggalkan komentar lalu komentarnya tidak muncul karena masuk SPAM lalu dia berpikir aku yang menghapus komentarnya.

Senin, 26 Maret 2012

Pantai Melulu

Yah, sepertinya saat ini jiwa pamerku sedang menggebu-gebu. Biarpun gambarnya pantai melulu, biarpun gambarnya mungkin kurang oke, teteeeep pamer! Berikut ini adalah gambar yang kuambil di Pantai Jilbab pada hari Jumat, 23 Maret 2012, sore hari sekitar pukul 16.00 WIB.

Coba memotret gaya miring.

Ombak bergulung. Kereeeen!

Sedikit Gambar Pernikahan Aceh

Kali ini aku ingin posting foto hasil beberapa kali kondangan ke acara pernikahan orang Aceh. Tapi, gambarnya sedikit. Maklum, khawatir dianggap mengganggu, hehehe... Dan tidak berani juga memasang gambar mempelai, karena malas minta izin pada yang bersangkutan.

Ini rombongan linto (mempelai lelaki) yang bagian belakang.
 Gambar rombongan linto di atas diambil di Banda Aceh pada bulan Januari 2012 yang lalu. Terlihat rombongan bagian belakang ada yang membawa tebu. Aku tidak tahu apa artinya tebu ini, dan setelah kutanyakan pada orang Aceh pun belum mendapatkan penjelasan karena mereka tidak tahu.

Rombongan linto bagian depan yang membawa seserahan.
Gambar di atas juga diambil bulan Januari 2012. Terlihat rombongan yang membawa seserahan. Di belakangnya (yang mukanya diberi tanda silang) adalah linto atau mempelai pria. Mohon maaf gambarnya disilang, karena aku tidak ingin dia populer, hahaha! Di belakang linto juga ada yang membawa kelapa. Masih belum tahu juga maknanya apa.

Kamis, 22 Maret 2012

Novel-Novel yang Membuatku Jatuh Cinta


Apa buku favoritku? Hmm, sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sulit. Terlebih lagi pertanyaannya kurang spesifik, apakah buku fiksi atau nonfiksi. Oke, kita "persempit" saja menjadi buku fiksi. Aku termasuk orang yang mudah berpindah ke lain hati. Maksudnya, bisa jadi hari ini aku menganggap satu buku sebagai buku yang "the best". Namun, beberapa hari kemudian, bisa jadi aku sudah menemukan buku lain yang menempati posisi "the best" di hatiku. Bukan berarti aku tidak setia, lho... 

Menurutku, setiap buku memiliki "kekuatan" masing-masing. Biasanya tergantung gaya bercerita penulisnya. Misalnya, Andrea Hirata. Penulis sableng yang satu ini banyak memasukkan unsur Melayu dalam tulisannya, dan bagiku itu merupakan daya tarik tersendiri. Dia juga banyak menggunakan logika yang aneh-tapi-lucu-sekaligus-cerdas. Seperti konklusi "bodoh" yang sering dia tuliskan dalam novelnya. Salah satunya, ketika Ikal dan kawan-kawannya mendengarkan cerita mengenai orang-orang tak beriman yang dihantam gelombang air bah *kalau tidak salah*. Mereka pun membuat kesimpulan "kalau tak rajin sholat, kau harus pandai berenang". Juga ketika dia menambahkan penjual jam dalam daftar orang yang tidak bisa dipercaya. Dan masih banyak dialog bodoh-tapi-sebenarnya-cerdas dalam karya-karyanya. Karya Andrea ini juga sebenarnya menyebalkan sekaligus mengagumkan. Kenapa menyebalkan? Karena dia membuatku kagum. Beberapa kali dia berhasil "mendoktrin" pembaca dengan perantaraan dialog tokoh dalam novelnya. Misalnya nasihat-nasihat dari Bu Mus kepada murid-muridnya. Dia juga menyampaikan pendapatnya mengenai ekonomi kapitalis melalui dialog imajinatif tokoh Ikal dengan gambar-gambar idolanya.

Rabu, 21 Maret 2012

Berhasil Menampilkan Posting Populer Berdasarkan Komentar

Dua hari yang lalu aku iseng mencari cara agar bisa menampilkan posting-an populer berdasarkan jumlah komentar terbanyak. Bagi yang sudah tahu, tolong jangan menghujatku dengan mengatakan aku katro atau kampungan atau bodoh atau telat atau apapun. Please! *memelas* Kalau yang disediakan Blogger sekarang, kan, posting populer berdasarkan jumlah akses terhadap posting tersebut. Sebagian besar tips yang kutemukan memberikan script menggunakan Yahoo! Pipes. Aku pun mencobanya. Sayangnya, hasilnya tidak muncul. Ada yang salah? Entah. Berkali-kali kucoba. Dengan script dari sumber-sumber yang berlainan. Masih belum muncul juga. Kemudian ada yang memberitahu untuk mengecek di Yahoo! Pipes. Dan ternyata... ternyata... ternyata... *mau berapa kali "ternyata"-nya???* Ternyata yang dimunculkan di script yang menggunakan Yahoo! Pipes itu posting-an dengan komentar seratus ke atas. SERATUS Saudara-saudara! Mana mungkin ada posting-anku yang komentarnya mencapai seratus? Bisa mendapat komentar sepuluh saja sudah Alhamdulillah.

Selasa, 20 Maret 2012

Khasiat Rumput

*dicopas dan diedit dari blog lamaku yang ini*

Alkisah, pada suatu masa di zaman bohong-bohongan, ada seorang mahasiswa fakultas perdukunan jurusan ramu-ramuan. Sebelum resmi menjadi dukun, dia harus magang di tempat praktek dukun yang lebih senior, yang dipanggilnya suhu.

Di tempat penyimpanan ramuan
Mahasiswa : Suhu, ini ramuan obat apa?
Suhu : Obat masuk angin.
Mahasiswa : Bahannya apa, suhu?
Suhu : Rumput.
Mahasiswa : Rumput?
Suhu : Iya. Kamu lihat di belakang sana. Kambing, kerbau, sapi, mereka nggak pernah pake baju tapi nggak masuk angin. Kenapa? Karena mereka makan rumput!
Mahasiswa : Kalo ini obat apa?
Suhu : Obat mencret.
Mahasiswa : Bahannya?
Suhu : Rumput.
Mahasiswa : Rumput???
Suhu : Iya. Kamu lihat kotoran kambing, selalu padat, kan? Pernah lihat kambing mencret?
Mahasiswa : Belum.
Suhu : Itulah. Kambing nggak pernah mencret karena makan rumput.
Mahasiswa : Kalo yang itu, obat apa?
Suhu : Obat sembelit
Mahasiswa : Bahannya?
Suhu : Rumput.
Mahasiswa : Rumput lagi?
Suhu : Iya, kamu lihat kotoran kerbau, ada yang keras? Pasti lunak, kan?
Mahasiswa : (mengangguk sambil bicara dalam hati) Ni dukun vulgar amat yak kalo ngomongin tokay..
Suhu : Itu karena kerbau makan rumput.
Mahasiswa : Nah, kalo yang di ujung, obat apa?
Suhu : Ramuan andalan kita, ramuan enteng jodoh.
Mahasiswa : (tertarik) Bahannya apa, suhu?
Suhu : Rumput.
Mahasiswa : APA???
Suhu : Iya, rumput. Kambing, kerbau, sapi, mana ada yang jadi bujang lapuk atau perawan tua? Gak usah dijodohin juga tau-tau mereka kawin. Itu karena mereka makan rumput.
Mahasiswa : ???????
Mahasiswa: Suhu pernah lihat ada kambing gila?
Suhu: Nggak.
Mahasiswa : Itu karena mereka makan rumput. (emosi) Makanya suhu makan rumput aja, biar gilanya sembuh!!!

Senin, 19 Maret 2012

Jangan Mengecilkan Pemberian-Nya

Kuliah di sekolah kedinasan, gratis, dapat uang saku tiap bulan, selama ini masih kuanggap hal yang tidak istimewa. Setelah lulus langsung menjadi CPNS dan setahun kemudian menjadi PNS, pun tetap kuanggap tak istimewa. Terlebih lagi mendengar berbagai perkataan sinis tentang PNS dari kawan-kawanku yang bukan PNS. Katanya PNS tidak kreatif, kerjanya terbatas. Ditambah lagi tuduhan-tuduhan korupsi. Kadang malah merasa malang. Kerja keras seperti apapun kami tak dihargai. Aku merasa menjadi PNS bukanlah hal besar, malah menurutku nggak keren blas! Jadi, kadang agak berat bagiku mengakui pekerjaanku.

Pernah suatu hari aku mengobrol tentang gaji dan tunjangan. Memang secara nominal sudah lebih dari cukup bagi perempuan yang belum berkeluarga sepertiku. Tapi, sepertinya ada nada ‘mengecilkan’ dalam kalimatku yang menyebut gaji. Hingga Abahku berkomentar, “Kamu itu beruntung. Dulu waktu Abah seumuran kamu masih jadi honorer. Lha, kamu... Udah jadi PNS golongan tiga. Abah umur berapa coba naik golongan tiga.” Kalau dipikir, benar juga perkataan Abah.

Pernah juga suatu kali Ibu bercerita, “Alhamdulillaah anak ibu yang dua udah PNS. Nggak perlu pake nyogok. Itu si A, anaknya Bu H, kemarin nyogok puluhan juta biar jadi PNS. Si F anaknya Bu M juga nyogok puluhan juta biar jadi polisi. Tapi, Mbakmu nggak usah pake nyogok udah lulus tes. Kamu juga. Keinginanmu buat sekolah gratis biar nggak nyusahin orang tua terkabul. Keinginanmu buat langsung kerja juga terkabul.” Nada bicara Ibu saat menceritakannya benar-benar terdengar sangat mensyukuri semuanya.

Sabtu, 17 Maret 2012

Hadiah Giveaway Pertama *Terharu*

Tadi kawanku menelepon menanyakan aku mau ikut acara mengantar dara baroe (pengantin wanita) atau tidak. Berhubung aku malas ke acara yang ramai, aku pun tidak ikut. Lalu dia pun memberitahu bahwa ada paket untukku. Awalnya kupikir kiriman fotokopi ijasah dan transkrip nilai. Tapi, katanya dari Jakarta Utara. Hmm... Kalau kiriman fotokopi ijasah, kan, dari Jakarta Timur. Lalu, katanya lagi, pengirimnya yunik, pokoknya begitulah. Aku pun langsung teringat hadiah giveaway dari Mbak Nique. Mmm, kok, sudah sampai, yah? Padahal sepertinya baru beberapa hari yang lalu aku mengirimkan alamat via email. Kalau menggunakan pos biasa, bisa makan waktu hampir dua pekan.

Aku pun bergegas ke kantor untuk mengambil paket tersebut. Eh, sampai di kantor ternyata paketnya tidak ada. Padahal, kawanku tadi sudah berpesan kepada cleaning service kami agar meletakannya di meja. Aku pun mengintip loker CS ini. Ada bungkusan. Sedikit curiga itu adalah paket untukku. Dan ternyata memang benar. Ketika dia datang dan kutagih paketku, dia langsung mengambil bungkusan di lokernya yang agak kucurigai tadi.

Jumat, 16 Maret 2012

Dolanan Jaman Cilik

Lagi pengin nostalgia, lah. Yuh, kanda dolanan jaman gemiyen. Aku tah pan ngaku, lah. Gemiyen, ngger dolanan aku seringe dadi pupuk bawang. Soale ora bisanan. Dolanan yeye, ora tau nyandak. Wong dolanan yeye sa-PPO alias sa-wudel be sering mil, bolak-balik nyenggol karete. Mulane lagi SD tes lompat tinggi be kayonge mung bisa sangangpuluh. Ngger dolanan yeye, palingan nganggo jurus cacakan kena nggo muang. Kaya jajalan ngonong, lah! Tapi, yen ora mil, dianggep wis muang alias wis maen. Angger wis dhuwur ya mung mbonceng. Pimen carane mbonceng? Carane, bocah sing pinter dolanan yeye dikongkon muang ndisit, trus ngko karete ditarik mengisor ben bocah-bocah sing mbonceng bisa liwat. Dolanan sumpring luwih-luwih. Ora bisa babar blas! Sumpring, sih, apa? Kuwe, loh, sing kaya lompat tali. Nganggone karet gelang sing direnteng.

Sing lumayan bisa tah dolanan jangka. Patahe biasane nganggo pecahan gendheng atawa asbes. Yen ora ya pecahane ternit. Ngarti ternit belih? Belih ngarti? Mana sekolah ndisit ben ngarti! *awagan* Tapi saiki wis rada klalen. Ngger wis pol polan kue arane gunung apa dudu, yah? Kuwe, loh, sing ditulisi siji nganti lima apa sepuluh. Lah, angel critane.

Gara-gara Ngelih

Aku ngelih, sung! Lagi esuk ora sempet sarapan. Eh, kancane aku malah olih ngomong enak nemen, "Lagian dirimu dateng pagi bukannya beli sarapan dulu." Gawe enek nemen, sung! Genah lagi ngelih, lagi sewot, malah diganyami. Dingein panganan tah apa, kiye malah diganyami. Pengin ndupak nemen, sung! Nyetili nemen, lah, pokoke. Pengin ngomong, "Remu, tah, orang ngerti rasane. Ngko dong remu sing ngranapi nang luwih nlangsa lan luwih dugalan tinimbang aku." Kweh, ya! Sangkin dugale nganti ora ngundang koen maning tapi ngundange remu, singkatan sing 'raimu'. Kasar nemen, yah!

Sing arane wong ngelih kuwe gampang nemen dugal. Mulane, aja macem-macem karo wong sing lagi ngelih. Apa maning yen ngelihe wis stadium papat. Ngko aja-aja koen sing dipangan! Tapi aja watir. Aku tah ora doyan daging uwong, ora bakal mangan koen. Mending mangan ayam mbuh iwak.

 Lanjut maning ceritane, lah. Wis lagi esuk ora sempet sarapan, mau ya pan tuku cemilan ndilalah tokone wis pada tutup. Wonge pada Jum'atan. Lah, kayong tambah ngelih plus tambah dugal nemen. Pan mangan ora sida sida. Mau mung mangan jajan tok, warege ya mung sedelat.

Kena nggo pelajaran, lah. Mbesuk maning sing rada peduli karo wong liya. Ngger ana sing ngomong "ngelih" ya ditawani jajan mbuapa nggo ganjel weteng. Melas. Wong wis ngranapi dewek, ngelih kuwe ora enak.

Kamis, 15 Maret 2012

Aku Ingin...

Langit di Krueng Baroe, Aceh Barat Daya


“Lintang, pinjam kamera, dong! Abang mau foto pemandangan krueng.”
Nggak boleh!!!” ketus Lintang pada Firman.
Nabil segera menghampiri Lintang setelah Firman berlalu dengan kekecewaan.
“Sadis kali qe sama dia,” Nabil berhati-hati bicara melihat raut wajah Lintang yang masih keruh.
Biarin!” singkat jawaban Lintang.
Nabil menghela napas. Memandangi aliran Krueng Baroe yang kian sore kian deras. Memandangi kawan-kawan mereka yang sedang asyik bermain-main di sungai itu.
Udah setahun, Dek... Masih marah sama dia?” tanyanya.
Udah nggak marah lagi. Tapi sekarang benci,” sahut Lintang, lirih, pelan, tapi penuh penekanan pada kata ‘benci’.
Ingatannya melayang ke musim penghujan dua tahun lalu. Berteduh dari deras hujan bersama Firman. Sejak itulah cintanya bersemi. Dan perlahan, dia memberikan seluruh hatinya untuk pertama kali pada seorang pria. Sikap Firman yang lembut, penuh perhatian, dan kadang gombal membuatnya melambung. Hingga dua musim berlalu. Hatinya yang semula melambung, mendadak dihempas oleh selembar undangan di tangannya. Ya, Firman menikah. Tapi bukan dengannya. Rasanya seperti diterbangkan lalu dihempaskan sampai remuk. Ya, REMUK! Dua musim pun kembali berlalu setelah Firman menikah. Dia masih kecewa. Ternyata dua musim tak cukup untuk menyembuhkan luka di hatinya.
“Lintang, Tuhan aja mau memaafkan hamba-Nya. Kok, qe nggak mau maafin dia,” bujuk Nabil.
“Justru karena aku bukan Tuhan, aku nggak bisa maafin dia. Aku manusia biasa yang bisa marah dan benci. Aku bukan Tuhan yang Maha Pemaaf.”
Nabil mati kutu. Dasar keras kepala. Dia hanya bisa mengatakannya dalam hati.
Lintang pun diam, mengalihkan pandangannya ke awan mendung di hulu sungai sana.
“Aku pengen lihat dia mati, Bang!”
Nabil tersentak. Ditatapnya Lintang yang justru sedang menatap langit yang mulai gelap.
“Aku pengen dia impoten, mandul. Aku pengen lempar dia ke Leuser biar dia dimakan harimau hidup-hidup. Aku pengen dia M-A-T-I!!!”
Bek lagenyan, hai, Adek! Istighfar!” Nabil mengingatkan.
Lintang hanya terdiam. Empat musim berlalu. Cintanya tak bersisa. Hanya ada benci. Bila dulu hatinya penuh sanjung puja bagi Firman, sekarang yang ada hanya sumpah serapah.
“Jangan pernah mengharapkan keburukan untuk orang lain,” Nabil menepuk halus pundak sahabatnya itu.
Keduanya kembali larut dalam hening menikmati suara deras hujan yang baru saja turun. Tiba-tiba ada yang berteriak memecah keheningan mereka.
“Nabil! Nabil! Tolong! Firman tenggelam!”
Segera Nabil melompat meninggalkan dangau dan berenang menyelamatkan Firman. Setelah dibawa ke tepi sungai, dia segera memberi napas bantuan pada Firman tapi tak berhasil. Mereka pun segera membawanya ke rumah sakit.
Namun, ternyata terlambat. Firman sudah terlalu lama tenggelam ketika Nabil mencoba menolongnya. Paru-parunya sudah dipenuhi air. Sampai di rumah sakit Firman tak bisa diselamatkan.
Lintang hanya terdiam lemas menatap tubuh kaku yang terbujur di hadapannya. Tangannya menggenggam erat lengan Nabil. Teringat kata-katanya tadi. Aku pengen dia M-A-T-I!!!

Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.


arti kata/kalimat dalam Bahasa Aceh:
krueng = sungai
qe = kamu (untuk orang yang seumuran atau lebih muda)
bek lagenyan = jangan begitu
Krueng Baroe = nama salah satu sungai di Kabupaten Aceh Barat Daya
Leuser = nama salah satu gunung di Aceh

Selasa, 13 Maret 2012

Bukan Sekadar Kata-Kata


Gambar di atas adalah spanduk yang kulihat sewaktu peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan di Kecamatan Lembah Sabil pada 5 Maret 2012 yang lalu. Roaming? Yah, bagi yang bukan orang Aceh mungkin tidak mengerti arti kalimat pada spanduk di atas. Berhubung aku selalu ingin tahu bila melihat tulisan seperti itu, aku langsung bertanya pada kawanku yang orang Aceh, Meri, mengenai arti kalimat itu sembari menebak-nebak karena ada beberapa kata yang sudah kumengerti.

Nanggroe Tapeugot, Ukhuwah Tapeukong, Rakyat Beucarong, Makmu Seujahtra, Adat Tajunjong, Hukom Tapeudong, Aman Lam Gampong, Syariat Beu Meusahaja

Senin, 12 Maret 2012

Untukmu, Yang Telah Membantuku Bangkit

Suatu hari, di suatu kelas...
“Nanti, yang ulangan Fisika-nya dapat sepuluh, potong ayam, ya!” kata guru yang sedang mengajar di kelas. Dia mengatakan itu sambil berpura-pura memotong leher salah satu murid perempuannya. Tentu saja dia hanya bercanda.
Murid itu pun mulai bertanya-tanya, maksud gerakan gurunya itu. “Apakah aku yang mendapat nilai sepuluh?” tanyanya dalam hati.
Tanya itu pun terjawab saat pembagian hasil ulangan. Ternyata memang benar dia yang mendapat nilai sepuluh pada ulangan Fisika yang dimaksud sang guru.

Pada kesempatan lain...
Beberapa siswi SMP sedang berjalan bergerombol.
“Kamu ulangan Fisika dapat sepuluh, ya!” kata salah satu dari mereka.
“Kamu murid kesayangannya Pak Edi, ya. Di kelasku Pak Edi muji-muji kamu terus,” katanya lagi. Tersangka yang dimaksud hanya tersenyum. Lebih tepatnya, cengar-cengir.

Pada kesempatan lainnya lagi...
Guru itu sedang menggambar di papan tulis. Buah jambu. Ada dua gerombol. Satu gerombol pertama dibungkus plastik, istilahnya di-brongsong. Gerombolan satunya lagi tidak dibungkus.
“Kira-kira mana yang akan dimakan codot (kelelawar)?” tanyanya pada murid-muridnya. Tentu saja mereka menjawab bahwa yang akan dimakan kelelawar adalah yang tidak dibungkus.
“Itulah bedanya perempuan yang pake jilbab sama yang nggak pake jilbab,” lanjutnya.

* * *

It’s been more than 12 years. But, I still remember the way you raise my confidence.
Mungkin Bapak sudah lupa pernah mengajar murid bernama Millati Indah yang dulu namanya Bapak ganti jadi Millin. Tapi, saya masih ingat diajar oleh Bapak. Saya juga masih ingat sebagian yang Bapak ajarkan. Saya masih ingat besaran vektor itu besaran yang memiliki nilai dan arah sedangkan besaran skalar tidak memiliki arah. Saya masih ingat Rhizopoda/Sarcodina, Flagellata, Cilliata, Lamellibranchiata/Pelecypoda, Cephalopoda, Gastropoda, dan lainnya.

Jumat, 09 Maret 2012

Aku dan Pempek

Barusan membaca tulisan tentang Mbak Monda yang benci cuko pempek. Asli, bertolak belakang denganku. Aku sangat suka cuka pempek dan sangat suka pempek tentunya. *mulai kalimat berikutnya kugunakan kata cuka saja, ya... rasanya aneh menyebut cuko, serasa orang Palembang asli, hehehe* Tapi, yang lebih membuatku doyan adalah cukanya. Mau pempek kapal selam, lenjer, ataupun lenggang, yang penting ada cukanya. Bila si Rika -- temanku yang asli Palembang -- menilai kadar "enak" pempek dari kuatnya rasa ikan, maka aku menilai kadar "enak" pempek dari rasa cukanya. Perpaduan rasa manis, asam, dan pedas yang pas membuatku "ketagihan" pempek. Saking sukanya aku makan pempek, kawanku pernah berkata, "Yang orang Palembang siapa, yang doyan makan pempek siapa." Hahaha! Orang Jawa pun boleh doyan pempek, kan?

Dan, Alhamdulillaah, aku punya teman yang berasal dari Palembang. Beberapa kali dia dikirimi pempek kapal selam dan lenjer plus cukanya dari kampung halamannya. Otomatis, sebagai teman kantor, aku pasti kebagian, doooong! Pempek kapal selam yang dikirim dari sana ternyata "mengerikan". Kenapa? Karena ukurannya buesaaar! Ukurannya beda jauh bila dibandingkan dengan pempek yang biasa dijual di Jakarta zaman aku masih kuliah dulu. Kata Rika, isi pempek kapal selam itu telur satu butir. Wew! Bila menyajikan pada teman-teman di kantor pun, biasanya satu pempek kapal selam itu dipotong menjadi empat bagian. Teman-teman rata-rata cuma sanggup menghabiskan dua potong. Sedangkan aku? Hehehe... Sebenarnya aku malu mengakuinya. Aku bisa menghabiskan satu buah pempek sendirian. Yah, meskipun setelah itu perutku terasa penuh.

Kamis, 08 Maret 2012

Tak Bisa Bercerita Banyak tentang Gempa Jepang dan Aceh


Sebentar lagi tepat satu tahun gempa Jepang. Sebenarnya aku juga tidak akan ingat bila tidak membaca posting-an di blog seorang kawan. Hmm... Jujur, aku tidak terlalu tahu mengenai gempa Jepang ini. Dulu, aku hanya mengikuti beritanya lewat detik.com dan okezone.com. Maklum, aku tidak punya televisi. Dan sebuah kebohongan besar bila aku mengatakan aku mengerti sepenuhnya perasaan para korban bencana itu. Yang bisa mengerti perasaan mereka tentunya juga orang yang pernah mengalami hal yang sama. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mengira-ngira apa yang mereka rasakan. Sedih, trenyuh, takut, itu yang kurasakan. Tapi, tentu itu belum seberapa dibandingkan perasaan mereka yang mengalami bencana itu sendiri, mereka yang kehilangan sanak keluarga, kehilangan tempat tinggal.

Sama seperti gempa dan tsunami Aceh. Ketika melihat foto-foto kondisi Aceh saat tsunami yang kulihat di Museum Tsunami rasanya hatiku benar-benar pilu. Tapi, ketika kawanku yang menjadi saksi hidup kejadian itu mulai bercerita, aku kehilangan kata-kata. Padahal, cuma sedikit yang dia katakan. Dia baru berkata, “Waktu itu udah kaya kiamat.” Kalimat yang pendek. Tapi, perasaan yang mengiringi ucapannya benar-benar membuatku tak bisa bicara banyak walau untuk sekadar menunjukkan empati. Lalu dia pun menggambarkan keadaan saat itu, ketika dia mengungsi di Kodam dan dari sana melihat jalan-jalan disapu tsunami. Dan lagi-lagi aku tak bisa membayangkannya. Terlalu mengerikan.

Rabu, 07 Maret 2012

Debat, Bergunakah?

Aku lebih memilih berdiskusi daripada berdebat apalagi berbantah-bantahan. Mungkin bagi sebagian orang, itu cuma masalah perbedaan istilah. Namun, dalam pemahamanku, diskusi dan debat adalah kata yang jauh berbeda. Dalam berdiskusi, kita menyampaikan pendapat kita, dan membuka pikiran untuk mencerna pendapat orang lain. Dalam diskusi, yang terjadi adalah brainstorming. Masing-masing menyampaikan pendapat, bersama-sama mengkaji kebaikan dan kekurangan pendapat masing-masing pihak. Sedangkan dalam berdebat, lebih sering tujuannya adalah agar pendapat sendiri diterima pendapat orang lain dan menutup mata, telinga, pikiran, serta hati atas pendapat orang lain. Dan bisa jadi membuat kita menolak kebenaran. Dalam berdebat, kita cenderung menyiapkan diri untuk mematahkan pendapat orang lain tapi tidak menyiapkan diri untuk mengakui bahwa pendapat kita tidak selamanya benar. Pada akhirnya, sebuah perdebatan akan cenderung didasari oleh zhon (prasangka) dan nafsu. Sedangkan sebuah diskusi didasari oleh ilmu dan niat saling mengingatkan serta saling menasihati dalam kebaikan.

Kenapa aku tiba-tiba membahas masalah ini? Apa aku merasa paling benar? Tentu saja tidak. Sebagai manusia biasa, tentu aku menyadari bahwa selalu ada kemungkinan  bahwa pendapatku keliru. Itu sebabnya aku memilih diskusi di mana aku bisa berbagi ilmu, bukan berbantahan yang akan berujung sama-sama tak mendapat ilmu. Berbantahan tidak memberikan manfaat melainkan hanya menimbulkan mudhorot, salah satunya merusak silaturrohim. Sedangkan aku bukanlah orang yang suka mencari musuh. Sudah sulit bagiku mendapatkan kawan, maka tidak ada alasan bagiku mencari musuh. Aku bukan orang yang mudah mempertahankan silaturrohim, maka tidak ada alasan bagiku untuk merusak silaturrohim yang sudah ada.

Ada satu nasihat, bukan berarti aku ingin menggurui, ini hanya nasihat bagiku sendiri:
Bila pendapatmu berdasarkan ilmu, sampaikanlah sejelas-jelasnya, serinci-rincinya. Namun, bila pendapatmu hanya berdasarkan zhon (prasangka) apalagi hanya berdasarkan nafsu, maka simpanlah pendapatmu untuk dirimu sendiri. Jangan sampai orang lain ikut 'sesat' karena pendapatmu.

Wallohu a'lam

Selasa, 06 Maret 2012

Surat Untuk Adikku

Assalaamu'alaikum

Woy, Ndul! Hehehe, aku suka memanggilmu "Ndul", singkatan dari "gundul". Meskipun kamu sama sekali nggak gundul. Alasannya? Entah. Suka saja. Aku tidak suka memanggilmu "dek" atau "nok". Terlalu manis. Sedangkan kamu? Nggak ada manis-manisnya. Huahahaha! Pasti kamu langsung manyun. Dan jelas tambah nggak manis. Huahahaha!

Sedang apa kamu, Ndul? Pasti sedang loncat-loncat nggak jelas gara-gara Timnas kalah. Atau sedang nonton Cinta Cenat-Cenut? Atau sedang teriak-teriak nonton SM*SH manggung di televisi? Oalaaaah... Tontonanmu itu, Ndul, Nduuuuuul... Atau jangan-jangan kamu sedang stress karena tugas Bahasa Indonesia yang seabrek-abrek? PUAAAAS!!! RASAIIIIN! Pusing, kan, jadi anak sekolah. Hahaha! Memang enak menertawakanmu. Salahmu, Ndul, jadi anak paling kecil. Jadi korban kejahilan mbak-mbakmu. Dan sepertinya kamu punya aura yang memancing kami untuk mem-bully-mu.

Ndul, kamu tahu sendiri, kan, mbakmu yang pendiam ini jarang menasihatimu. Kenapa? Karena kamu pasti sudah kenyang mendengar nasihat Ibu, Mbak Ani, dan Mbak Ida. Apa kamu menuruti nasihat mereka? Yang kuharap, sih, begitu.

Kalau kamu merasa marah ketika ditegur Ibu ataupun mbak-mbakmu, percayalah, itu demi kebaikanmu. Ketika Ibu menyuruhmu rajin belajar, itu untuk masa depanmu, bukan masa depan Ibu. Ketika mbak-mbakmu terlalu mengekangmu, melarangmu ini itu, semua demi kebaikanmu.

Kalau kamu merasa, Ibu dan mbak-mbakmu kurang bisa mengerti kamu, ya, maklumilah. Kadang sikap orang tua itu "seperti tidak pernah muda saja". Kadang orang tua lupa bagaimana rasanya menjadi anak muda, kata Dumbledore. Yang dipikirkan orang tua hanya bagaimana menjaga dan melindungi anaknya, sampai mereka lupa bahwa anak muda (terutama remaja) kadang tidak suka dikekang. Begitu pula mbak-mbakmu. Kami hanya ingin melindungimu.

Oh, ya, Ndul... Kamu sudah makan belum? Pasti belum, kan? Kamu ini, kok, susah sekali disuruh makan. Kamu itu enak, tinggal makan. Setiap hari ada Ibu yang menyiapkan makan untukmu. Sedangkan aku? Mau makan harus beli dulu. Atau kamu mau diet? Nggak usah diet-dietan, lah, Ndul. Badanmu itu sudah ceking bin tipis. Nanti kalau kamu diet, makin gampang terbawa angin.

Ndul, baik-baik kalau berteman. Jangan berteman dengan anak-anak nakal, anak-anak yang pakai narkoba. Bukannya aku menyuruhmu terlalu pilih-pilih teman, tapi bertemanlah dengan mereka yang bisa membawa pengaruh baik untukmu. Bertemanlah dengan mereka yang membuatmu makin rajin belajar, makin mengerti masalah agama.

Sudah Bosan dengan Berita Miring tentang BPS

Belakangan ini BPS (Badan Pusat Statistik) sering dicap negatif oleh masyarakat. Entah sudah berapa banyak tulisan yang mendiskreditkan BPS, baik dari segi konsep definisi, pelaksanaan pencacahan, maupun reliabilitas data. Awalnya aku tidak merespon karena ada rekan-rekanku yang rajin menulis di kompasiana untuk meluruskan "berita miring" tentang BPS. Salah dua artikel sang rekan tersebut yaitu BPS: Badan Pembohongan Statistik dan BPS: Tukang Sulap (silakan klik link tersebut bila berniat membaca lebih lanjut).

Dan kali ini aku menemukan tulisan yang kurang mengenakkan di blog seorang kawan. Dan rekanku yang biasa meng-counter tulisan sejenis sepertinya belum membaca tulisan tersebut. Seperti apa tulisannya? She said, I mean, she wrote"Karena ya itu tadi, definisi menurut BPS bisa berubah-ubah. Suka-suka BPS-nya kayaknya." Hmm, sama seperti pendapat orang kebanyakan tentang BPS. Perlukah aku meluruskan pernyataannya? Sebenarnya, bila melihat kapasitas ilmuku dan kemampuanku dalam menyampaikan pendapat, aku ragu bisa meluruskan pernyataan tersebut. Tapi, daripada dibiarkan berlarut-larut.

Begini, ya... Definisi yang digunakan oleh BPS itu (salah satunya tentang definisi bekerja) merupakan definisi yang digunakan oleh UN (United Nations) dan digunakan di seluruh negara. Jadi, bukan karangan BPS.

Ada pula satu orang, panggil saja X, yang berkomentar:
jangan percaya dengan BPS te ... ngapusi itu .. semua interpretasinya gan benerrr... hanya itunganya yang bener

Aku pun langsung ikut berkomentar seperti ini:

Kenapa ada dalam kurung dahulu disebut dahulu disebut? Karena ya itu tadi, definisi menurut BPS bisa berubah-ubah. Suka-suka BPS-nya kayaknya.



For your information.. Konsep dan definisi BPS itu mengacu pada definisi UN yang digunakan seluruh negara supaya bisa diperbandingkan. Termasuk definisi "bekerja".

Buat yang bilang "jangan percaya BPS" silakan berikan argumen yang ilmiah.

Eh, si X menjawab:

@ millati: saya endak tanya baiknya BPS mbak ... Saya orang statistik jadi sudah tahu seperti apa BPS di indonesia. Saya hanya komentar kalo BPS Indonesia kebanyakan salah dalam menginterpretasi itungannya... itu saya menyadr dari Prof. Waigo di kampus saya ...



Terima kasih

Foto di Geurutee (Foto Gagal)

*Atas masukan dari seseorang yang tidak punya sopan santun, posting ini ku-edit, yang tadinya berjudul Foto di Seulawah kuganti menjadi Foto di Geurutee. Biarpun omongannya tidak sopan, tetap aku perbaiki posting ini karena aku tidak mau dibilang melakukan pembohongan publik. Diedit pada 30 April 2012*

Kali ini edisi pameeeeer! Hahaha... Aku mau pamer foto-foto hasil uji coba kameraku pertengahan Januari kemarin sewaktu melintasi Geurutee, salah satu gunung di Aceh. Dan hasilnya? Parah. Beberapa gambar terlihat gelap padahal diambil sore hari sekitar pukul 16.00 WIB. Tapi, berhubung pemandangannya bagus, biarpun fotografernya kacangan, tetap saja gambarnya oke.


Ada yang mau coba loncat ke laut ini?

Masih sama objeknya dengan foto sebelumnya, tapi beda angle.

Ini dia hasil foto gagal karena menghadap cahaya.

Sabtu, 03 Maret 2012

Welcome, Li'l Sista!

My li’l sista has a blog! I’m so surprised. Why? Well... I started blogging about three or four years ago, when I was in college. And, my sister, she’s still on second year in Junior High School now, and she has started blogging. She said that it’s task from her teacher. This is NOT FAIR! When I was 13, I didn’t know at all about computer and internet. But now, students in Elementary can operate computer well, they have Facebook and Twitter account, even they have blog! Why didn’t my teacher teach me about computer and internet when I was in Elementary, yeah, at least when I was in Senior High School?

Maybe you’ll say that I’m jealous. Yes, I am. Nowadays, children are much more sophisticated than many years ago. They can learn computer, internet, Photoshop, CorelDraw, Paint, and another software. Huhuhu, I wish I could learn all of those when I was on their age.

By the way, my sister asked me to change her blog’s template because she has no time to download template on internet. Huh? Change her blog’s template? She must be joking. I myself just use default template from Blogger for my blog. And she asked me to download template to make her blog looks better? Huhuhu... So, her blog will look much better than mine? Yeah, I’m jealous, again.

Hahaha, it’s so silly if I become jealous just because of little thing like that. All I have to do is welcoming her. Welcome to blogosphere, li’l sista. It’s good for me to know your blog, so I can ‘watch’ you, just like I always watch you on Facebook. Don’t write ‘stupid’ thing on your blog, or I will tell mom about it. Owh, I just feel like an evil sister.