Selasa, 31 Januari 2012

Demam Nihon no Uta

Beberapa bulan yang lalu, setelah aku tak sengaja menonton Secret Garden, aku pun jadi kembali keranjingan lagu Korea seperti diriku enam sampai delapan tahun silam. Tapi, lama-lama bosan juga. Akhirnya aku kembali mengorek-ngorek (ish, istilahnya jelek sekali, mengorek-ngorek) folder lagu-laguku. Pilihanku pun jatuh pada folder nippon. Yup, folder itu berisi lagu-lagu Jepang. Waktu kuliah dulu, sekitar tiga tahun yang lalu, aku tak terlalu suka lagu Jepang yang nge-beat, kecuali yang sering kudengar dulu di radio dan yang menjadi soundtrack anime kesukaanku, seperti "Change The World" (V6) dan "I am" (Hitomi), soundtrack Inuyasha. Iseng-iseng aku memutar lagu yang sebelumnya tak terlalu kuperhatikan. Dan ternyataaa, AKU SUKA! Lagu-lagu apakah itu? Yang paling awal "klik" di hatiku adalah "Kimi ga Suki da to Sakebitai" OST Slamdunk. Dulu aku memang tertarik dengan anime-nya dan lagunya, tapi sewaktu mendengarkan lagunya tidak terlalu suka. Dan herannya sekarang aku suka. Dari beat-nya, permainan gitar (atau bass, ya?), semua suka. Dan ternyata, setelah aku tahu arti lagunya, makin suka. Hehehe..

Selain lagu itu, aku juga mencoba mendengarkan satu lagu lainnya: "Under The Sun" (Tanaka Roma). Entah kenapa, suka dengan musiknya meskipun tak tahu artinya. Dan akhirnya aku pun mencari tahu lagu-lagu Jepang yang direkomendasikan. Ternyata tak banyak yang cocok di telingaku saat itu (kalau kali lain aku mendengarkan, mungkin bisa saja suka). Dan kemudian aku membaca posting-an tentang lagu-lagu anime dan yang direkomendasikan adalah soundtrack Samurai X alias Rurouni Kenshin. Itu, kan, anime kesukaanku waktu SMP dulu... Soundtrack anime itu yang kutahu awalnya cuma "Sobakasu" dan "Heart of Sword". Tapi, ada yang merekomendasikan "Sanbun no Ichi Janjou no Kanjou". Ternyata lagunya memang enak. Yah, tapi tetap saja aku belum paham maksud lagunya meskipun sudah  menemukan lirik plus terjemahannya.

Ingin Ke Mana? Entah!

MENGINGAT
bahwa aku belum pernah sekalipun berpartisipasi dalam giveaway karena seringnya tidak menemukan inspirasi mengenai tema yang diberikan

MENIMBANG
bahwa tema yang diberikan Saudari Una lumayan mudah dan tidak ribet serta hadiahnya lumayan menggiurkan

maka, dengan ini aku

MEMUTUSKAN
untuk berpartisipasi dalam giveaway yang diadakan Saudari Una yang judulnya Ingin Ke Mana?


Langsung ke topik saja, lah. Tempat atau daerah mana yang paling ingin kukunjungi? Umm, sebenarnya aku juga bingung mau menjawab apa. *niat ikutan giveaway nggak, siiiiih???* Sebagai muslim yang baik, sudah seharusnya aku menjawab Makkah sebagai tempat yang paling ingin kukunjungi. Kalau jawab selain Makkah, kok, rasanya kurang religius. Tapi, jujur saja aku lebih ingin ke Korea. Maklum, korban Hallyu (demam Korea). Sepertinya kota-kota di Korea lumayan menarik untuk jalan-jalan. Eh, ganti, ah! Jangan Korea! Sepertinya untuk jalan-jalan lebih menarik kalau ke Thailand, ke Nong Nooch Tropical Garden, yang katanya kebun tropis terbesar di Asia (atau di dunia, ya?). Pokoknya katanya koleksi tanaman di sana benar-benar lengkap. Tapi... Tapi... Tapi, sepertinya lebih menarik kalau jalan-jalan ke Raja Ampat, Papua. Kalau melihat foto-foto yang di-posting kawan-kawanku yang penempatan di Papua, sepertinya pantai di sana benar-benar eksotis. Jadi, sebenarnya mau ke manaaaa? Makkah, Korea, Thailand, atau Raja Ampat? Bingung. Memangnya tidak boleh, ya, menyebutkan lebih dari satu tempat? Yah, paling tidak sepuluh tempat yang paling ingin dikunjungi gitu... Kan, aku bisa menyebutkan tempat-tempat yang menggiurkan untuk dikunjungi.

Ya, sudahlah. Ke Jepang saja. *lho, di paragraf sebelumnya, kan, sama sekali tidak menyebutkan Jepang...* Pokoknya aku mau ke Jepang. Alasannya? Mmm, alasan jujur atau bohong? Kalau alasan jujurnya cuma satu: PENGEN AJA, LO MAU PROTES??? Hehehe, jujur memang alasan terkuat aku memilih Jepang sebagai tempat yang diimpikan untuk dikunjungi adalah "rasa kepengen". Sama seperti alasanku memilih penempatan di Aceh, alasan terkuatku adalah "pengen". Tapi, kok, sepertinya agak wagu memberikan alasan seperti itu. Baiklah, mari kita mengarang alasan yang lebih "pantes". Apa, yaaaaa? Oh, iya, KULIAH. Tenaaang, ini bukan alasan yang direkayasa. Aku memang ingin kuliah S2 di Jepang. Kuliah apa? Masih bingung, antara kuliah yang berbau IT atau statistik, karena dua-duanya sama-sama tidak terlalu kukuasai. *lho???* Lalu, kenapa Jepang? Kenapa bukan Belanda, Jerman, Amerika, atau lainnya? Mungkin karena dosen-dosenku yang lulusan Jepang semuanya keren dan pintar. Pak Firdaus (dosen Algoritma Pemrograman dan Matematika Diskrit), Bu Erni (kalau tidak salah dosen Analisis Regresi), Pak Anang (dosen Pemrograman Web yang sempat membuatku kesengsem), Bu XYZ (aku lupa namanya, yang jelas ibu ini dosen Metode Numerik dan sangat sangat keren dalam mengajar), semuanya terlihat menguasai bidang mereka. Menilai produsen dari produknya, menilai institusi pendidikan dari mahasiswa lulusannya, wajar, kan? Dengan melihat para dosen lulusan Jepang yang pintar, aku pun menganggap bahwa kualitas pendidikan di sana sangat bagus. Di samping itu, cara mengajar dosen-dosenku yang lulusan Jepang itu sangat "membimbing". Aku pun berasumsi bahwa dosen-dosen di Jepang juga seperti itu, membimbing mahasiswanya. Dan kata salah satu dosenku memang demikian adanya. Dalam menyusun tesis pun katanya dosen masih membimbing, tidak benar-benar "melepaskan". Cocok sekali dengan orang yang dudul seperti diriku ini yang harus selalu dibimbing. Gaya mengajar mereka berbeda dengan dosen-dosenku yang lulusan Eropa dan Australia yang cenderung menuntut "kemandirian" mahasiswanya.

Selain ingin kuliah di sana, aku juga ingin melihat sakura yang bermekaran dan merasakan bagaimana rasanya hanami. Aku juga ingin melihat banyak matsuri (festival) yang sering diadakan di sana. Aku juga ingin merasakan seperti apa suasana di malam Tanabata. Siapa tahu aku dilamar di malam itu. Romantiiiiiis...

Kira-kira bisa tidak, ya, aku mendapat beasiswa untuk kuliah S2 di Jepang? Semoga saja bisa. Meski dengan kemampuan otak yang pas-pasan, tetap harus optimis bisa lulus tes beasiswa dan bisa mengikuti pelajaran di sana. Insya Allah, bisa!

Rabu, 25 Januari 2012

Thanks, Dad

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningku
Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meski nafasmu, kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu, gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Ayah...

Dalam hening sepi ku rindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi...
Kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang
Banyak menanggung beban

(Titip Rindu Buat Ayah -- Ebiet G Ade)

lirik diambil dari sini.

Barusan aku mendengar orang-orang kantor menyanyi karaoke lagu itu. Mendadak trenyuh. Ingat Abahku. Ayah, seringkali dilupakan perannya karena anak biasanya lebih dekat dengan ibu. Begitu pun Abahku, seringkali terlupakan. Padahal, banyak sekali jasa Abah padaku. Abah yang mengajariku membaca dan menulis. Abah yang mengajariku mengaji, mulai dari Iqro', Juz'amma, sampai membaca Al-Qur'an. Abah juga yang mengajariku naik sepeda. Abah yang sering mendongeng untukku di malam hari sebelum aku tidur. Abah yang mengantar aku berangkat sekolah dan menjemputku sewaktu TK dulu. Dulu, Abah sering menggendongku di pundaknya. Sekarang, entah masih kuat atau tidak Abah menggendong cucunya di pundaknya. Dulu, aku sering sekali diajak berkeliling naik sepeda, hingga berkilo-kilo jauhnya. Sekarang pun, Abah masih setia dengan sepedanya. Thanks, Dad, for teaching me to be a smart and good person. Bila aku sukses kelak, itu tentu berkat jasa Abah dan Ibu.

Boyband/Girlband dan Anak-anak

Boyband dan girlband memang sedang booming saat ini. Entah apa saja namanya. Yang kutahu paling cuma 7ICONS, Cherrybelle, SM*SH. Sisanya meneketehe! Umm, kenapa tiba-tiba menyebut para boyband dan girlband itu? Sebenarnya aku sudah lama ingin menuliskan ke-tidaknyaman-anku terhadap keberadaan para bintang yang menjadi idola saat ini. Bukan, aku bukannya menentang menjamurnya boyband/girlband seperti mereka. Yang menjadikan aku tidak nyaman adalah para penggemarnya. Kalau yang remaja seperti adikku mungkin aku sudah tidak terlalu sebal melihatnya berteriak-teriak, "Ada SM*SH di tivi! Rafaeeeeel!" Tapi, ketika membaca komentar-komentar anak-anak di laman Facebook salah satu majalah anak-anak yaitu Bobo, aku jadi sebal. Mereka sepertinya benar-benar nge-fans pada boyband/girlband, baik yang dalam negeri maupun mancanegara seperti Suju, SNSD, dan banyak lagi lainnya.

Lalu, kenapa aku tidak nyaman? Yah, menurutku, sih, durung wayahe, belum waktunya. Belum waktunya bagi anak-anak, terutama anak SD, untuk menyukai artis-artis dewasa yang menyanyikan lagu-lagu dewasa. Apa pantas anak kelas 5 SD menyanyikan lagu Cherrybelle yang berjudul Dilema? Apa pantas anak kelas 5 SD menyanyikan lagu-lagu cinta apalagi lagu tentang merebut kekasih sahabatnya? Sekali lagi, menurutku durung wayahe. Menurutku mereka seharusnya masih menyanyikan lagu seperti begini, "orang tak berilmu itu seperti tak bermata." Yup, itu lagunya Agnes dan Eza Yayang sewaktu aku kecil dulu. Atau lagu, "bing beng bang yok kita ke bank, bang bing bung yok kita nabung." Bukankah itu lebih sesuai untuk usia mereka?

Oh, ya, sudah pernah melihat penampilan para girlband, baik dalam negeri ataupun luar negeri (especially Korea)? Kalau sudah, berarti akan nyambung dengan ketidaksukaanku. Bajunya itu, lhooooo! Kurang bahan alias minimalis. Kalo atasannya sopan, berlengan panjang, silakan lihat bawahnya, kalau bukan hotpants superpendek, ya, rok yang supercekak. Kalau bawahannya celana panjang, lihatlah atasannya. Biasanya, ya, tengtop yang isis dan semriwing itu. Yang paling parah, ya, atasan dan bawahan sama-sama minimalis. Hadeuh... Apa mau anak-anak meniru gaya mereka?

Love Your Parents and Show Your Love

gambar diambil dari sini

Beberapa waktu lalu, entah tepatnya beberapa pekan lalu atau beberapa bulan lalu, aku melihat foto yang di-share kawanku di Facebook. Tulisan di foto itu sangat menohok. LOVE YOUR PARENTS. WE ARE SO BUSY GROWING UP, WE OFTEN FORGET THEY ARE ALSO GROWING OLD. Benar-benar cocok dengan apa yang kulakukan selama ini. Kuliah di luar kota, kemudian bekerja pun di luar Jawa, otomatis kesempatan bertemu orang tua amat jarang. Dulu, sewaktu kuliah, aku pulang biasanya sebulan sekali. Sekarang, setelah bekerja di Aceh, paling banter aku pulang setahun dua kali. Beberapa bulan lalu, ketika aku pulang, aku sedikit terkejut melihat penampilan Abahku. Selama ini aku memang jarang memperhatikan Abahku. Aku lebih sering mengobrol dengan Ibuku, jadi aku lebih aware pada perubahan yang terjadi pada Ibuku dibandingan Abahku. Dan kemudian, Abah yang biasanya memakai peci, waktu itu tidak menggunakan pecinya. Dan aku pun terkejut. Sudah begitu banyak rambutnya yang memutih. Entah apa yang kurasakan kala itu. Beberapa waktu kemudian aku pun berpikir, sudah berapa lama waktu yang kulewatkan hingga aku baru sadar betapa sepuh-nya orang tuaku? Apa karena aku begitu jarang pulang sehingga aku tak menyadari bahwa orang tuaku semakin sepuh?

Kamis, 19 Januari 2012

Meracau Tentang Anak dan Orang Tua

Berapa kali kamu mendoakan orang tuamu dalam do'amu setelah sholat? Jujur, aku jarang mendo'akan mereka. Dan, ketika untuk kesekian kalinya ibuku berkata, "Makanya, kamu do'ain Ibu biar sehat, biar selamat," aku teringat betapa jarangnya aku mendo'akan Ibu. Padahal, Ibuku juga sering berkata, "Ibu selalu do'ain anak-anak Ibu, biar selamat, biar sehat," dan khusus untukku Ibu berdo'a agar aku mendapat jodoh yang baik, yang sholeh.

Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Mungkin benar. Ibu bisa saja mengorbankan dirinya untuk anak-anaknya. Tapi, anak yang mengorbankan dirinya untuk ibunya, tak banyak. Ketika aku sakit, di pulau seberang sana mungkin Ibu tak bisa tidur memikirkan keadaan anaknya. Tapi, bila Ibu sakit, meskipun aku kepikiran, tetap saja aku bisa tidur.

How much do I love my mother? I'm not sure. One thing I'm sure about is that she loves me so much, she loves us, her daughters, so much.

Pernah mendengar berita tentang anak durhaka? Jujur, aku tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada sang anak. Ingat cerita tentang seseorang yang ingin membuang orang tuanya ke tempat jauh dan membawa orang tuanya dengan keranjang? Pada saat dia membawa orang tuanya, anaknya melihat hal itu. Lalu, anaknya meminta keranjang itu. Ketika ditanya alasannya ingin menyimpan keranjang itu dia berkata, "Kalau Ayah sudah tua nanti, aku juga akan membawa Ayah dengan keranjang itu seperti Ayah membawa Kakek." Sifat dan sikap buruk seorang anak bisa jadi adalah hasil didikan orang tuanya dan bisa saja hasil meniru sikap orang tuanya. Bila dari kecil dia tidak diajari tentang kasih sayang, tidak dididik untuk menyayangi dan menghormati orang tuanya, bisa jadi setelah besar dia menganggap orang tuanya sebagai beban. Mungkin, sang anak durhaka ini adalah produk dari orang tua yang durhaka pula. Mungkin sewaktu kecil dia merasa tidak disayangi oleh orang tuanya. Bukankah ada banyak orang tua yang begitu menyayangi anaknya tapi anaknya justru menganggap orang tuanya tak menyayanginya? Mungkin juga dia terlalu dimanjakan sewaktu kecil sehingga justru tidak menghormati orang tuanya. Ada banyak kemungkinan. Ada alasan di balik sikap dan tindakan, kan?

Bukan, aku bukannya ingin menjelek-jelekkan orang tua. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa ke'durhaka'an seorang anak bisa jadi adalah hasil dari pola asuh yang salah. Bila memang pola asuhnya sudah benar, mungkin yang bisa dijadikan kambing hitam adalah lingkungan. Bila lingkungan juga sudah baik, entah apa lagi kambing hitamnya. Bila seorang anak sejak kecil selalu disayangi, dididik dengan benar, kecil kemungkinan dia menyia-nyiakan orang tuanya. Salah satu sifat dasar manusia adalah membalas sikap baik orang lain. Seorang anak pasti akan menyayangi setiap orang yang menyayanginya dengan tulus.

Semoga aku bisa menjadi anak yang baik, berbakti, sholehah, rajin mendo'akan orang tuanya. Dan semoga kelak aku bisa menjadi ibu yang baik, yang menyayangi anak-anakku dan bisa membuat anak-anakku merasa begitu dicintai oleh ibunya (yaitu aku), yang mendidik anak-anakku dengan baik sehingga kelak mereka pun menjadi anak yang sholeh/sholehah dan berbakti. Aamiiiin...

Di Serambi Makkah, Salah Satu Novel tentang Konflik Aceh

gambar diambil dari sini
Dengan membaca judulnya saja sudah bisa diketahui bahwa novel ini menceritakan tentang Aceh. Yap, novel ini bercerita tentang konflik di Aceh dari sudut pandang yang (diusahakan untuk) netral, tidak memihak pemerintah maupun GAM, serta tentang tsunami. Sebenarnya ini novel lama. Cetakan pertamanya tahun 2005. Namun, aku baru membelinya dan membacanya (masa iya udah dibeli nggak dibaca???) pada April 2011. Dan hari ini aku membacanya lagi.

Cerita di novel karya Tasaro ini dibuka dengan kisah masa kecil dua orang sahabat, Maruta (Maru) dan Samudra (Samu) di sebuah desa kecil di Gunung Kidul. Lho, bukannya ini cerita tentang Aceh? Kok, setting-nya di Gunung Kidul? Yah, dua dari tiga tokoh utama cerita ini memang orang Jawa: Maru dan Samu. Maru, seorang wartawan yang ingin membuat novel tentang konflik Aceh. Pada masa kuliah, dia termasuk orang yang sangat getol menentang perang di Aceh dan menyuarakan betapa menderitanya rakyat Aceh pada masa DOM. Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai menilai konflik Aceh tidak lagi dengan sudut pandang hitam putih. Ia berusaha untuk berada di tengah, tidak memihak. Dan ketika dia berniat membuat novel tersebut, dia mendapat kabar dari kawan lamanya, Samu, bahwa kawannya itu sedang bertugas di Aceh, sebagai marinir. Dari Samu inilah Maru mengerti sudut pandang konflik dari sisi seorang prajurit. Bahwa, tidak semua prajurit jahat.

Dalam tugasnya di Aceh, Samu bertemu dengan Malahayati (Mala), dara Aceh yang bekerja sebagai perawat dan sangat anti terhadap tentara. Sebuah sikap yang dilatari kenangan buruk di masa kecil tentang TNI, peristiwa Simpang Kraft di mana adiknya yang masih kecil menjadi salah satu korban karena tertembak di kepala dan juga membuat ibunya hilang tak tahu rimbanya. Singkat kata, Samu jatuh cinta pada wanita yang justru membenci tentara seperti dirinya. Dan diam-diam, Mala juga merasakan hal yang sama seperti Samu. Jangan mengharapkan kisah cinta yang romantis dalam novel ini. Yang ada justru pembicaraan penuh sindiran Mala terhadap Samu yang seorang tentara.

Rabu, 18 Januari 2012

Curhat Galau

Sekarang sedang jam istirahat. Iya? Nggak percaya? Tuh, buktinya kawan-kawanku belum kembali ke kantor setelah makan siang. Lalu, apa hubungannya dengan posting-an kali ini? Nggak ada hubungannya. Terus, kenapa harus dijelaskan di awal??? Pengen aja. *pletaaaaaaaakkk*

Aku sedang galau. Iya, serius, aku sedang galau. Memangnya tahu artinya galau? Nggak. Galau itu lagunya Titi DJ, kan?

Please, deh... Tolong, kali ini jangan mem-posting sesuatu yang tidak bermutu. Ih, suka-suka aku, lah... Ini, kan, blog-ku!

Hadeuh... Bingung. Sebenarnya aku ingin curhat. Tapiii... Kok, ya, rasanya terlalu berbahaya untuk curhat di blog ataupun di Facebook. Curhat ke diary? Halloooo... Saya ingin curhat dan mendapatkan solusi. Kalau curhat ke diary, mana mungkin ada yang baca lalu memberikan solusi? Hadeuh... Bingung lagi.

Jadi, sebenarnya mau menulis apa, sih? Meneketehe! There are so many thing I want to talk about. Tapi, bingung bagaimana harus memulai dan bingung memilah mana yang bisa dibicarakan dan mana yang harus dirahasiakan.

Mungkin inilah rasanya galau. Serba tidak pasti. Antara ingin dan takut. Antara ingin bicara dan takut bicara. Antara ingin memulai dan takut memulai. Yah, mungkin kadang lebih tepat dikatakan tidak tahu bagaimana harus memulai. Seperti ingin jatuh cinta tapi takut jatuh cinta dan takut cinta itu akan merusak hubunganku dengan seseorang yang kujatuhi cinta itu. Seperti ingin menyuruh para KSK membuat peta desa pemekaran tapi bingung bagaimana harus mengajari para KSK baru cara membuat peta. Seperti ingin me-rutin-kan pemeriksaan laptop KSK tapi bingung bagaimana menyampaikannya pada mereka. Seperti ingin cepat-cepat menyelesaikan layout Statistik Kecamatan tapi selalu saja suntuk dan bete bila mulai susah mengatur nomor halaman di footer. Seperti bingung karena teman-temanku sibuk membahas jabatan fungsional. Seperti ingin menurunkan berat badan agar tubuhku singset tapi malas untuk diet. Hohoho, yang terakhir ini bukan galau. Bukan.

Mungkin agar galauku tidak berlarut-larut aku harus berani. Berani bicara, berani memulai. Salah satunya mulai bekerja!!! Semoga pekerjaan ini tidak membuatku semakin galau. Let's work!

Selasa, 17 Januari 2012

Di Home Cuma Muncul Satu Posting-an

Yak, hari ini saya nyaris galau gara-gara blog ini. Kenapa??? Karena mendadak di beranda (home) blog ini hanya muncul satu artikel yaitu artikel terbaru. Aku pun langsung kasak kusuk. Googling pun percuma. Tak ada hasil pencarian yang sesuai dengan masalahku. Yang muncul malah tips membuat sticky post dan artikel-artikel lainnya. Korban pertama yang kutanyai adalah Rizaldy Gema Prayudha (lengkap sekaleee menyebut namanya!). Dan tidak ada solusi. Hiks! Aku mencoba mengganti template, tetap tidak berhasil memunculkan lebih dari satu artikel.

Akhirnya aku pun bertanya pada kawan-kawan di Facebook. Para korban yang kutanyai adalah Bang Kahar Muzzakar, Rizki Septina (Kie), Ndaru Nuswantari, Eny Kusrini, dan Ajir (siapa, sih, nama aslinya???). Awalnya Kie menuduh bahwa blog-ku menjadi korban Google Panda. Apa itu Google Panda? Setelah membaca komentar Kie aku langsung googling dan salah satu hasilnya menjelaskan bahwa Google Panda adalah algoritma milik Google yang mengeliminasi situs atau blog yang tidak bermutu dari halaman-halaman awal mesin pencarian (search engine). Yah, blog-ku memang bisa dibilang tidak bermutu, seperti hinaan Ajir selama ini. Dan kata Kie, bukan hanya "disingkirkan" dari search engine tapi juga ada konten yang hilang. Tapi, blog-ku bukan salah satu korban Google Panda. Kenapa aku yakin? Karena setahuku tidak ada posting yang hilang. Hanya tidak muncul di home, itu saja.

About Learning Foreign Language

It's been almost three months since I decided to learn Korean (again) seriously. When I was still in college I've bought some books about learning Korean. But, I couldn't understand it, especially the grammar. I think Korean grammar is so difficult, more difficult than Japanese grammar. Maybe I was not serious so I couldn't understand those books. Maybe I just like collecting book about foreign language, hehehe. Then, when I started to learn it (again) I could understand it a bit. Just a bit, but it's a good start. Now I know which particle that must be embedded in a word to make that word as subject, topic, or object.

But, when I tried to translate a Korean song word by word, I got some words that I couldn't find in my dictionary, such as: geudae (그대). I also found some particle that isn't explained in my book, such as myeo (), cheoreom (처럼), gateun (같은). Then, I asked my blogger friend who has a blog that explain about Korean grammar, Mr. Luke and Mr. Tazkiana (if you want to learn Korean, you can visit their blog). Mr Tazkiana explain that geudae means "you" but that word just used when we don't talk to second person directly (what's the right English word to say "lawan bicara" or "orang kedua"??? yeah, I know, I'm not smart enough). It's usually used in poems or songs. I also found explanation about particle cheoreom in Mr Tazkiana's blog. He wrote that it means "like". For example, geurimjacheoreom (그림자처럼). Geurimja means shadow. If we put particle cheoreom to that word (geurimja + cheoreom), it means like a shadow. I also found explanation about particle gateun. I thought it has the same meaning with cheoreom, but I was wrong. It has similar meaning, but still DIFFERENT. Gateun means "which is like". For example: paramgateun sarang, param = wind, gateun = which is like, sarang = love, so paramgateun sarang means "love which is like wind".

Senin, 16 Januari 2012

Berat, Beraaaaaaaaaat!!!

Sewaktu sakit pekan lalu, aku pergi berobat ke dokter bersama ibuku. Sambil menunggu Pak Dokter yang sedang mengurusi tukang renovasi tempat prakteknya, aku iseng mencoba timbangan di depan kamar periksa. Kupikir hasilnya akan sama seperti biasanya, berkisar antara angka 50 dan 51,5 kilogram. Tapiii... Ternyata kali ini berbeda. Turun, ya? Jangan harap! Aku termasuk tipe orang yang sulit menurunkan berat badan. Saat melihat angka yang ditunjuk jarum, aku benar-benar kaget, shocked istilah kerennya. Berapa, sih? LIMA PULUH ENAM!!! Jadi, selama beberapa bulan terakhir berat bandanku melonjak sampai lima kilogram. Waw! Pantas saja setiap selesai makan siang aku kerap merasa bahwa seragamku mengecil. Ternyata faktanya adalah badanku yang membesar sampai seragamku tidak kuasa menampungnya lagi. Padahal, sewaktu mengukur seragam, aku sengaja meminta dibuat yang agak besar. Tetap saja, sekarang rasanya agak seret.

Yah, harus kuakui, selama beberapa bulan terakhir selera makanku memang sedang bagus-bagusnya. Makan nasi, mieso, ngemil keripik, ngemil es krim, ngemil cokelat, semua dihajar. Maklum, beberapa bulan sebelumnya aku kehilangan selera makan sampai badanku kurus (meskipun faktanya berat badan tidak berkurang secara signifikan, hanya bentuk badan saja yang menipis). Hal itu sangat menyiksaku. Begitu selera makanku kembali, aku pun tidak menyia-nyiakannya. Mumpung doyan makan, begitu prinsipku. Dan akibatnya... Badanku jadi MELEMBUNG!

Selasa, 10 Januari 2012

Liburankuuuu...

Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan rencana itu bisa terlaksana atau tidak. Kalimat itu sangat tepat dengan apa yang terjadi pada liburanku kemarin. Sewaktu masih di Aceh, aku dengan pede-nya berencana liburan bersama keluargaku ke pantai, entah Pantai Randusanga ataupun PAI (Pantai Alam Indah). Aku pun sudah berkali-kali berjanji pada keponakanku bahwa kalau aku pulang kampung nanti kami sekeluarga akan jalan-jalan ke pantai. Tapi, sayangnya, ketika aku pulang justru disambut penyakit yang kelihatannya sepele tapi sangat kejam: FLU.

Kuceritakan dari awal perjalanan pulang saja, ya...

28 Desember 2011, malam
Setelah dengan berat hati meninggalkan Susenas dan Statda, aku pulang. Perjalanan pertama adalah melalui jalan darat Blangpidie-Medan yang biasanya memakan waktu 10-12 jam. Nah, sepertinya malam itu aku dilimpah dari loket mobil yang kupesan ke loket lain. Kenapa aku berpikir begitu? Karena setelah menjemputku di kos, mobil itu berhenti di depan loket yang berbeda. Dan malangnya, sopir yang membawa mobil itu termasuk sopir yang tidak berperikemanusiaan. Cara mengemudinya amat sangat ugal-ugalan. Hal ini dibuktikan dengan suksesnya aku muntah sebanyak TIGA KALI. Tiga kali, Sodara-sodara!!! Padahal biasanya kalau kondisiku sedang tidak fit, paling banter aku muntah hanya sekali. Dan, parahnya, pada saat aku muntah kedua dan ketiga, sopir itu tidak mau berhenti. Alhasil, pada waktu muntah yang kedua aku mengeluarkan muntahanku lewat jendela (karena aku lupa kalau aku membawa kantung plastik). Pintu mobil pun berlumuran muntahku. Salahe sopire, ora gelem mandheg!!! begitu batinku. Dan ketika muntah yang ketiga, aku ingat aku membawa plastik jadi aku muntah di plastik. Saat itu aku benar-benar merasa lemas sekaligus gondok satu mati (bukan lagi setengah mati) pada si sopir. Kalau saja waktu itu aku bisa melaksanakan apa yang pernah dikatakan Ndaru, nguleg-uleg sambel di mukanya, mungkin sudah kulakukan. Rasanya pasti menyenangkan nguleg sambel di muka sopir alakazam itu. Sopir itu pun tidak mau mengambilkan tasku dengan alasan tasku ditaruh paling bawah. Hiks! Padahal jilbabku sudah kotor plus bau muntahan. Aku pun berinisiatif membersihkan dengan air sedikit pada kotoran di jilbabku. Tapi, jilbabku malah jatuh di kamar madi. Terpaksa harus kubersihkan total alias kuguyur dengan air sampai basah kuyup. Dan karena aku tak bisa mengambil jilbab ganti, aku terpaksa memakai jilbab basah sepanjang perjalanan. Benar-benar pusing, lemas, dan tentunya bete. Aku sampai khawatir itu adalah hari terakhirku bernapas di dunia ini (saking lemes dan pusingnya). Alhamdulillah, aku selamat sampai di Medan meskipun dengan baju berlumuran muntahan. Pelajaran yang bisa dipetik: selalu sediakan jilbab ganti di tas ransel yang kupegang.

Burlian yang Kunanti-nanti

Akhirnya, setelah menunggu sekian lama, kudapatkan juga novel Burlian yang membuatku penasaran. Setelah membaca Pukat dan Eliana, aku memang penasaran pada cerita Burlian. Maklum, Pukat dan Eliana berhasil membuatku tertawa dan menangis haru.

Bagaimana aku bisa mendapatkan Burlian? Beberapa bulan yang lalu adik tingkatku, Asri, pergi ke bookfair di Jakarta. Iseng-iseng kukatakan padanya untuk mencarikan Burlian. Ternyata ada. Ya, sudah. Sekalian kuminta dia membelikan. Dan sewaktu pulang kampung kemarin, aku mengambilnya.

Lalu, bagaimana isinya? Mmm, bagus. Buku ini merupakan buku pertama dari Serial Anak-Anak Mamak. Buku kedua dan ketiganya, yaitu Pukat dan Eliana, juga tak kalah bagus. Dalam  buku ini dijelaskan beberapa istilah yang mungkin kurang familiar di mata pembaca, seperti pal yang ternyata satuan ukuran panjang peninggalan Belanda. Juga diartikan beberapa panggilan dalam Bahasa Belanda yang diucapkan Wak Yati pada keponakan-keponakannya (Burlian, Pukat, Eliana, dan Amelia), misalnya schat yang artinya sayang. Di buku-buku berikutnya (pada cetakan yang kubaca), kata-kata tersebut tidak dijelaskan.

Ada beberapa cerita lucu dalam buku ini. Salah beberapanya (bukan salah satunya) yaitu cerita ketika orang-orang di kampung Burlian heboh SDSB. Para penggila SDSB di kampung menanyakan nomor yang akan keluar pada Samsurat yang notabene mengalami gangguan kejiwaan. Sungguh sindiran yang sangat telak bagi para penjudi yang kerap kali bertindak tidak logis. Ada juga cerita ketika Burlian dan Pukat bolos sekolah demi mencari belalang. Mamak (ibu mereka), alih-alih memarahi mereka, justru pura-pura tidak tahu kalau mereka membolos dan bersikap biasa-biasa saja. Dan keesokan harinya Mamak mengajak Burlian dan Pukat mencari kayu bakar. Kedua anak tersebut tentu saja senang karena punya alasan tidak sekolah. Tapi, ternyata itu adalah cara Mamak menghukum mereka. Dari pagi hingga petang mereka harus bolak-balik mengangkut kayu bakar dari hutan (atau dari mana, ya?) ke rumah. Dan besoknya, ketika hendak diajak mencari kayu bakar lagi, Burlian langsung tidak mau. Ya, iya, lah... Jauh lebih enak sekolah. Duduk manis, mendengarkan guru, kalau istirahat bisa bermain-main. Pulang pun tinggal makan. Cerita lucu lainnya yaitu ketika Burlian dan Pukat memasang paku di rel kereta api agar pakunya menjadi pipih dan bisa dijadikan pisau. Tapi, ternyata mereka berdua tertangkap hingga harus menginap semalaman di stasiun (sebenarnya mereka menginap karena tak kunjung dijemput orangtua mereka). Dan ternyataaaaa... Kesalahan fatal mereka bukanlah karena mereka meletakkan paku di rel melainkan karena mereka ketahuan! Yah, kata Bapak (ayah mereka), hampir semua orang di kampung mereka melakukan hal yang sama dengan mereka, tapi tak ada yang sampai tertangkap. Tidak lucu? Yah, aku memang agak sulit menceritakan kembali cerita itu. Baca saja bukunya.
Ada juga cerita sedihnya. Misalnya ketika Ahmad, teman Burlian, meninggal karena digigit ular berbisa. Burlian benar-benar sedih karena merasa "Ahmad sudah meminjamkan hidupnya pada Burlian". Maksudnya? Waktu itu, Burlian, Ahmad, dan kawan-kawan lainnya sedang bermain sepak bola. Bolanya keluar jauh dari lapangan. Burlian hendak mengambilnya tapi Ahmad melarang Burlian dan dia sendiri yang kemudian mengambil bola itu. Saat mengambil bola itulah Ahmad digigit ular berbisa. Kalau saja Burlian yang mengambil bola itu, bisa jadi Burlian yang digigit ular dan meninggal. Itu sebabnya Burlian merasa Ahmad sudah meminjamkan hidupnya untuk Burlian.