Jumat, 23 September 2011

Pukat

Pukat. Nama itu terdengar aneh di telingaku. Dan ternyata, memang aneh orangnya, hehehe.. Itulah pendapatku mengenai tokoh utama dalam novel Pukat, salah satu buku Serial Anak-anak Mamak karya Tere Liye. Novel ini mengisahkan masa kanak-kanak Pukat, anak kedua dari empat bersaudara. Novel ini termasuk novel campur aduk dan mengaduk-aduk emosi. Di satu bab, novel ini membuatku tertawa ngakak seperti orang gila, di bab lain novel ini membuatku menangis terharu.

Novel ini dibuka dengan kisah pengalaman Pukat dan adiknya Burlian ketika pertama kali naik kereta api. Dalam kisah itu digambarkan kecerdasan Pukat untuk menandai kawanan perampok yang beraksi ketika kereta melewati terowongan yan gelap gulita. Ia menaburkan bubuk kopi yang ia bawa ke sepatu sang perampok yang sedang merampas barang-barang milik bapaknya. Dan dengan mencari penumpang kereta dengan sepatu bernoda kopi, mudahlah menangkap kawanan perampok tersebut.

Ada juga kisah lucu dalam novel ini yang tak lepas dari andil Raju, kawan akrab Pukat. Mulai dari kisah Raju yang menjatuhkan cinta monyetnya pada Saleha, si murid baru anak bu bidan. Raju yang awalnya malas ke sekolah mendadak berubah menjadi rajin, bahkan datang paling pagi ke sekolah. Dia pun membuat puisi untuk Saleha. Dan malangnya, Pukat mengetahui hal itu. Kebetulan hari itu kelas juga diberi tugas oleh Pak Bin untuk membuat puisi. Ketika Pukat diminta mengumpulkan tugas teman-temannya, dia pun menyelipkan puisi Raju untuk Saleha. Puisi itu ternyata menarik perhatian Pak Bin, dan kemudian dibacakan di depan kelas. Lalu, bagaimana reaksi Raju? Baca saja sendiri, hehehe... Aku lebih tertarik menceritakan bagaimana kisah akhir cinta monyet Raju dan Saleha. Pada suatu hari, ada noda merah di rok Saleha. Para perempuan tentunya tahu apa itu. Yap, haid. Di mata anak-anak laki-laki yang belum paham tentunya hal itu aneh dan langsung menjadi buah bibir. Apalagi, di masa itu membicarakan masalah haid dan kawan-kawannya adalah hal yang tabu. Kemudian, Raju pun memutuskan hubungan kasihnya dengan Saleha dengan alasan: perempuan itu makhluk yang mengerikan, sakit parah sampai-sampai setiap bulan mengeluarkan darah dari pantatnya. Alangkah polosnya... Atau, alangkah bodohnya?

Ada juga cerita tentang Raju yang iri pada Pukat yang selalu disebut-sebut oleh Pak Bin, guru mereka, sebagai contoh di kelas. Selain itu, ada satu kisah tentang Pukat yang ngambek pada Mamak, ibunya, setelah dihukum tidur di luar rumah semalaman. Dalam hal ini, aku tidak setuju dengan sikap Mamak. Mungkin banyak yang setuju pada sikap Mamak yang mendidik anak-anaknya untuk disiplin. Tapi, aku kurang setuju pada sikap Mamak yang membuat anak-anaknya berpikir bahwa ia membenci mereka. Bagaimanapun, perasaan dibenci oleh orang tua sendiri adalah hal yang menyedihkan. Dan semoga kelak aku bisa membuat anak-anakku selalu merasa dicintai oleh ayah ibunya. Aaamiiin... Lho, kok malah jadi membahas ini?

Yah, demikianlah sedikit yang bisa kuceritakan dari novel berjudul Pukat ini. Novel ini, dan novel lanjutannya, Eliana, membuatku penasaran pada novel yang lebih dulu terbit: Burlian. Sepertinya Burlian ini lebih absurd dari Pukat. Semoga aku punya rezeki yang cukup untuk membeli novel ini.

ARTIKEL TERKAIT



2 komentar:

  1. @chika_rei: recomended, bagus loh bukunya..@chika_rei: recomended, bagus loh bukunya..

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!