Rabu, 14 September 2011

Campur Aduk tentang Perbedaan

Teringat sebuah dialog dalam novel Q & A karya Vikas Swarup. Ada pertanyaan yang saya tahu jawabannya dan Anda tidak tahu. Ada pertanyaan yang Anda tahu jawabannya dan saya tidak tahu. Begitu lebih kurang kalimatnya. Aku mungkin tahu sedikit tentang matematika dan statistik deskriptif. Tapi aku sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai kedokteran dan farmasi. Tidak ada manusia yang menguasai semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Ilmu manusia itu terbatas. Dengan terbatasnya ilmu yang dimiliki, semestinya terbuka pada ilmu pengetahuan lain yang belum kita kuasai, selama tidak bertentangan dengan aqidah.

Namun, aku tidak yakin kita semua bisa menerima pengetahuan lain. Dalam sinetron Demi Masa ada satu adegan menarik. Salah satu tokoh, yang diperankan Dedi Mizwar, menyuruh tokoh lain, yang diperankan Teddy Syach, menuangkan air dari dalam teko ke cangkir yang dipegangnya. Dedi Mizwar meletakkan cangkir lebih tinggi dari teko. Tentu saja air tersebut tidak bisa masuk ke cangkir. Setelah itu, dia menjelaskan bahwa (kalau aku tidak salah ingat) salah satu yang menghalangi masuknya ilmu adalah kesombongan, tinggi hati. Bagaimana kita bisa menerima sebuah kebenaran sedangkan kita menutup hati untuk mengakuinya sebagai sesuatu yang benar?

Dulu, ketika kuliah, aku pernah diajari urutan Data - Information - Knowledge - Wisdom. Aku ingin menyoroti Knowledge dan Wisdom. Dengan knowledge (pengetahuan) yang kita miliki, kita dapat mencapai wisdom (kebijaksanaan). Namun, apabila kita hanya terpaku pada knowledge yang kita miliki lalu menutup hati, mata, dan telinga dari knowledge lain, bagaimana kita akan mencapai wisdom???

Ketika terjadi perbedaan pendapat, bukankah sebaiknya terbuka pada pendapat yang lain selama memiliki dasar pemikiran yang benar? Kalau memang pendapat yang berbeda dengan pendapat kita tidak bisa diterima, mungkin karena terlalu bertentangan, apa salahnya menghormati pendapat yang lain? Bila pendapat itu sesuatu yang benar-benar bathil, itu pun kalau kita memiliki ilmu yang memadai untuk menilainya haq atau bathil, memang dianjurkan meluruskan. Namun, ketika kita tidak punya cukup alasan, baik dalil aqli maupun naqli, bahwa pendapat itu seratus persen salah, kenapa kita dengan begitu percaya diri menyalahkan pendapat itu?

ARTIKEL TERKAIT



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!