Rabu, 17 Juli 2013

Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

Cover-nya sampai disensor karena 'ngeri'
Kalau kata 'Islam' ditambah 'liberal', menjadi bukan Islam lagi. Itu seperti kata ‘orang’, ditambah kata ‘hutan’. Jadinya ‘orang hutan’. Apa ‘orang hutan’ sama dengan ‘orang’?

Namanya Kemi, lengkapnya Ahmad Sukaimi. Dia adalah santri cerdas di Pesantren Minhajul Abidin di Jawa Timur. Suatu hari dia pamit pada Kyai Rois – pemimpin pesantren Minhajul Abidin – untuk kuliah di Jakarta. Ternyata dia mendapat beasiswa Institut Damai Sentosa, sebuah institut yang kental dengan nuansa ‘liberal’. Setelah kuliah di sana, pikiran Kemi pun mulai terpengaruh paham liberal.

Hingga setahun kemudian Kemi bertemu Rahmat, kawannya sewaktu di pesantren. Dalam obrolan mereka, muncullah perdebatan. Kemi mengkritisi pendapat umat Islam yang selalu menganggap agamanya paling benar. Bagi Kemi, pada dasarnya semua agama benar, semua menuju Tuhan yang satu, hanya saja nama Tuhannya berbeda-beda. Rahmat pun mempertanyakan pendapat Kemi tersebut. Kalau Tuhannya sama, apa mungkin di satu sisi Dia menyatakan bahwa Isa mati disalib dan di sisi lain Dia menyatakan bahwa Isa tidak mati disalib? Apa mungkin Tuhan yang sama di satu sisi mengharamkan babi dan di sisi lain menghalalkan babi? Kalau seorang muslim berpendapat bahwa semua agama lain benar, bukankah berarti dia bukan muslim lagi? Kalau dia memandang semua agama dalam posisi netral, tidak dalam posisi agama manapun, sama artinya dia tidak beragama.

Setelah perdebatan panjang, Kemi menantang Rahmat untuk masuk ke lingkungan Kemi untuk membuktikan apakah setelah itu Rahmat tetap dengan pemikirannya atau terpengaruh paham liberal seperti Kemi. Rahmat menyetujui tantangan tersebut. Setelah berkonsultasi dengan Kyai Rois, beliau pun merestui Rahmat dan bahkan memberinya tugas untuk bisa menyadarkan Kemi dan membawanya kembali ke pesantren.

Berhasilkah Rahmat menyadarkan Kemi? Atau jangan-jangan dia justru terpengaruh oleh Kemi?

Itu adalah sekilas cerita dalam novel Kemi (Cinta Kebebasan yang Tersesat) karya Adian Husaini. Novel ini sangat menarik karena tema yang diusung adalah Islam liberal. Banyak materi Islam liberal yang dibahas dalam novel ini, salah satunya pendapat yang menyamakan semua agama dan paham itu dibantah secara telak dan logis dalam dialog antara Kemi dan Rahmat. Salut untuk Adian Husaini yang berhasil membuat dialog-dialog yang menarik itu. Yah, meskipun kadang dialognya terlalu panjang dan bertele-tele.

Ada juga kalimat dalam dialog Rahmat-Kemi yang menurutku bagus. Ini dia,

Jadi, kemanusiaan dalam Islam harus berdasarkan tauhid. Kemanusiaan tanpa tauhid akan menjadi liar karena tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Misalnya, ada pezina yang dihukum cambuk, muncul rasa kemanusiaan, kasihan ia, akhirnya tidak jadi. Ada orang homo dan lesbi mau menikah, akhirnya dibolehkan dengan alasan demi kemanusiaan. Jadi, kemanusiaan itu juga harus dilandasi dengan landasan apa? Untuk itulah misi kenabian diturunkan oleh Allah kepada umat manusia.

Dari segi cerita dan nilai yang disampaikan, menurutku novel setebal 316 halaman ini oke. Sayangnya, sampul bukunya nggak banget. Untungnya aku sedang memegang prinsip “don’t jugde the book by its cover”. Jadi, aku tetap membeli dan membaca novel terbitan Gema Insani ini. Untungnya ceritanya bagus, jadi tidak menyesal sudah membeli.

Novel Kemi ini juga ada sekuelnya, yaitu Kemi 2. Namun, menurutku Kemi 2 tidak seseru Kemi. Dan kalau melihat ending cerita Kemi 2 yang agak menggantung, sepertinya akan ada Kemi 3. Eh, atau jangan-jangan sudah ada Kemi 3? Apa ceritanya seseru Kemi? Semoga.

ARTIKEL TERKAIT



27 komentar:

  1. Suka dengan paragraf pertama tentang perumpamaan orang dan orang hutan itu. Share kalimat itu ya :D

    BalasHapus
  2. kalau kata 'Islam' ditambah 'liberal', menjadi bukan Islam lagi..

    saya suka kalimat openingnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga suka. Kalimat itu ada di bagian-bagian awal novel.

      Hapus
    2. berarti laka artine, kang :p

      Hapus
  3. Oyen penggemar buku-bukunya Adian Husaini, beliau memang pakar di bidang pemikiran orientalis, Kemi adalah satu2nya karya dalam bentuk novel, yang tidak meninggalkan idealismenya untuk membongkar kesesatan paham Liberal. Buku2nya Adian memang isinya tentang pemikiran semua, namun kemasannya yang rasional dan intelek, dengan bahasa yang enak diikuti (maklum mantan jurnalis), membuat kita bisa belajar banyak hal dari karya-karyanya. buku Wajah Peradaban Barat bahkan memenangi buku terbaik dalam Book Fair Nasional beberapa tahun yg lalu. Kalau mau baca ulasan mingguannya bisa buka di hidayatullah.com di kanal Catatan Akhir Pekan.

    Selamat berpuasa. Salam. Oyen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, di halaman tentang penulis juga disebutkan buku0buku Adian Husaini dan prestasinya. Sepertinya memang sudah mumpuni dalam membongkar paham Islam liberal.

      Hapus
  4. Baru tau ada novel seperti ini, kayaknya harus beli nih :D . Nice post. Izin share quote nya ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bukan quote saya, lho. Itu quote di novel :)

      Hapus
  5. Keren bahasan tentang novel KEMI ini, jadi pengen baca bukunya.Btw sebaiknya menuliskannya begini: "Don't judge THE book by itS cover." Maapkeun udah kasih koreksi, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. okesip, udah dibenerin, Bu :)

      Hapus
    2. berarti judulnya dilarang nabok pake buku apalagi koper...

      Hapus
    3. berarti basa inggrise nabok "judge" ya? hmmm...

      Hapus
  6. saya sudah baca Kemi 1 dan Kemi 2.
    Benar, kemi 2 terkesan kurang seru. Rahmat-pun tidak menonjol, padahal di Kemi 1, Rahmat berperan sangat penting.

    Menanti Kemi 3 ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Kemi 2 juga dialognya aneh, nggak senatural Kemi 1. Pokoknya nggak puas baca Kemi 2. Jadi ragu sama Kemi 3 -_-

      Hapus
  7. Kelihatannya bisa menambah wawasan keislaman.

    BalasHapus
  8. dakwah dikemas via novel ya mbak? Keknya bagus. Pinjem donk. Udah lama aku nggak baca novel.
    :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. semacam itulah. semacam 'perang ideologi' lewat novel. halah, bahasanya.

      sini, sini, ke Aceh, ntar tak pinjemin :p

      Hapus
    2. aku juga mau pinjem
      *tapi ongkosi ya..

      Hapus
    3. wislah mbok rika mumet
      haha

      Hapus
    4. Teteup jadi minjam, perang ideologi emang bagus. Huaaah.
      Buku2 berat buat yg suka mikir, buku2 berat dikemas ala novel buat ababil macam akuu. ~,~
      #hash, ra sadar umur kie, ngaku isih enom wae.

      Btw, setuju ama om Rawins, ke Acehnya diongkosin ya. XD

      Hapus
  9. Udah lah minjem, minta diongkosin pula -_-

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!