Kamis, 11 Juli 2013

Menjaring Angin (7)

“Yuk, kita cari novelnya,” Pawana menarik lengan jaket Wukir.
“Digandeng tangannya langsung aja, Mbak. Nggak usah narik jaketnya,” ledek Pukat.
Pawana melepaskan pegangannya pada jaket Wukir lantas berlalu menuju rak tempat novel-novel. Merengut. Wukir bergegas menyusulnya.

***

“Siapa tadi?” tanya Wukir sambil diam-diam membuka plastik yang membungkus sebuah novel. Eragon, judul novel itu. Matanya bergerak-gerak mengawasi siapa tahu ada penjaga yang melihatnya.

“Pukat. Anak baru di kantor,” jawab Pawana singkat. Wajahnya masih ditekuk, masih kesal dengan sindiran Pukat tadi.

“Kok, aku baru lihat, ya? Rasanya aku kenal semua karyawan di kantor provinsi DKI,” tanya Wukir sambil membolak-balik novel yang baru berhasil dia buka bungkusnya.

“Baru kerja dua bulanan. Fresh graduate. Dia di Bagian Analisis. Dia juga belum pernah pergi ke kantor pusat, makanya Mas Wukir nggak pernah lihat dia,” jawab Pawana.

“Kayaknya Siwi belum punya novel ini, deh. Beliin ini aja. Bagus ceritanya,” Pawana menyodorkan novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye.

“Oh, ini, kan, novel yang bikin kamu mewek itu. Kalau kamu sampai mewek, berarti ceritanya memang bagus,” Wukir tersenyum lebar sedangkan Pawana kembali merengut.

“Kalau orang kantor tahu kamu nangis cuma gara-gara baca novel, rusak image garangmu,” Wukir masih semangat menggoda Pawana, tak peduli biarpun Pawana terlihat makin murka.

“Sorry. Just kidding!” kata Wukir sambil mengacak rambut gadis yang sudah dikenalnya selama empat tahun itu.

“Oke. Aku ambil novel yang itu sesuai saran kamu. Kamu mau beli novel apa? Sesuai janji, aku traktir kamu satu buku,” kata Wukir. Pawana menunjukkan novel tebal di tangannya. The Lost Symbol. Lalu membaliknya, menunjukkan label harganya.

“Itu, kan, mahal, Na,” kata Wukir lemas. Pawana tersenyum lebar. Puas.

***

Pawana dan Wukir melanjutkan perburuan buku mereka ke rak buku-buku komputer. Wukir sibuk mencari buku-buku tentang bahasa pemrograman C# sedangkan Pawana mencari buku tentang Joomla.

“Oh, iya. Aku hampir lupa bilang ke kamu, Na. Tiga bulan lagi dibuka pendaftaran beasiswa ke Jepang. Kita udah bisa apply karena kita udah empat tahun kerja.”

“Syaratnya apa aja, Mas?”

“IPK minimal 3,00, TOEFL minimal 500, rekomendasi atasan. Ada satu syarat lagi tapi aku lupa, hehehe!” Wukir tertawa kecil.

“Eh, itu bukannya teman kamu yang tadi? Siapa namanya?” tiba-tiba Wukir menunjuk seorang laki-laki yang sedang mengobrol dengan beberapa gadis. Pawana refleks menoleh.

“Oh, iya. Itu Pukat,” jawab Pawana singkat.

“Kayanya dia cepat akrab sama cewek, ya?” tanya Wukir, memancing reaksi Pawana.

“Yuk, ah, pulang!” alih-alih menanggapi perkataan Wukir, Pawana malah mengajak pulang. Wukir hanya tersenyum melihat Pawana yang tak terpancing. Satu hal yang dia tahu sekarang, Pawana tidak nyaman membicarakan Pukat.


***

Lagi-lagi aku bertemu Pukat. Aku melihatnya dikelilingi beberapa wanita. Dan semuanya seperti terpesona pada Pukat. He’s just like his name. Pukat. Jaring. Tapi, yang dia jaring bukan ikan. Yang dia jaring hati wanita.

Tapi, wajar saja kalau banyak yang menyukainya. Sikapnya memang manis. Nyaman juga mengobrol dengannya. Eh, kenapa aku jadi memuji bocah tengil itu? Jangan sampai aku ikut terjebak di jaringnya! Amit-amit!

***

Dia tersenyum! Dia bahkan tertawa! Aneh sekali melihat Pawana tertawa riang. Seperti bukan dia. Aku merasa sikapnya ... hangat. Apa karena dia bersama teman lelakinya itu?



*bersambung

ARTIKEL TERKAIT



14 komentar:

  1. kalo suka, jangan mikirin mahal
    embat bae yu...

    BalasHapus
  2. wah selalu dikelilingi wanita-wanita ya

    BalasHapus
  3. wah, tadinya kupikir mbak Pawana pake jilbab lho.. haha
    :p

    emangnya the lost symbol harganya berapa mbak? ratusan ribu? aku bacanya dapet gratisan donk, baca lewat pdf. wekekekekeke. XD Kenapa gak sekalian minta dibeliin koleksi dan brown yg terbaru: judulnya Inferno, kalo gak salah ingat.

    btw jangan2 mbak Milo kalo lagi ke toko buku juga suka nyobek2 plastik pembungkusnya ya? Trus mbukanya pake acara sembunyi2, mirip yang dilakukan mas wukir?
    Ternyataaaa, huahahaha.

    Kalo aku mah, sukanya minta tolong temenku buat mbukain bungkus plastik pembungkus bukunya, takut2 sih. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak enak, lah, kalo kubikin Pawana pake jilbab. soalnya dia judes tingkat dewa :D

      gak tahu deh harganya, yang jelas di atas 80 rebuan kayaknya.
      aku juga punya softcopy-nya tapi males baca :D

      aku nggak suka buka plastik buku di tokbuk kok :p

      Hapus
    2. lha, berjilbab nggak boleh judes eaa? :v

      Mendingan baca versi pdf, daripada nggak baca sama sekali > itu prinsipku, huehehe. Tapi emang bacanya jd kurang greget deh. :(
      waktu baca angel & demon, digital fortress, 'n deception point lebih nendang daripada pas baca the da vinci code ama the lost symbol. Becoz yg kusebut tiga pertama itu aku bacanya lewat buku fisik, dua yg terakhir lewat pdf. :(
      #curhat

      nggak suka buka plastik di toko buku? yang bener nih? kog mas wukir kayak gitu? apa temennya mbak Milo ada yg suka begitu? :P

      Hapus
    3. umm, nggak gitu, sih. cuma... cuma... cuma... aku gak tega aja kalo tokoh berjilbab tapi digambarin bengis :D

      aku malah belum namatin the lost symbol, ya itu karna ga sanggup lagi baca ebook. padahal waktu baca da vinci code, angel demon, ama deception point sanggup baca ebook loh! aku paling suka deception point. beda gitu ama buku Dan Brown yang laen.

      temenku nggak ada yang suka buka plastik buku, enha. nuduh mulu deh :p

      Hapus
  4. endingnya masih lama ya.
    membuat makin penasaran aja. jangan sampai deh yang satu ke jepang, yang satu ditinggal. kayak long distance nantinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal mau dibikin LDR loh! *eh

      Hapus
  5. Akhirnya...... terbit juga lanjutannya ...:)

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!