Jumat, 29 April 2016

Belajar Bahasa Inggris dari Sherlock (5): The Abominable Bride


Hai hai haaaiii! Sudah lama sekali tidak ada post tentang belajar bahasa, ya! Kali terakhir aku membuat post belajar bahasa bulan September 2014, yaitu post ini. Kali ini aku akan mencatat kosa kata dan idiom yang digunakan dalam Sherlock: The Abominable Bride. Namun, edisi kali ini sepertinya akan lebih ngasal dari sebelumnya karena kemampuan Bahasa Inggrisku sudah semakin payah.



I returned to England with my health irretrievably ruined and my future bleak (John)

irretrievably = difficult or impossible to retrieve or recover

bleak = gloomy and somber; providing no encouragement; depressing

Kalimat di atas menggambarkan kondisi John saat kembali Inggris: kesehatan yang rusak sampai pada tahap tidak bisa diperbaiki lagi. Eh, masa diperbaiki?  Maksudnya tidak bisa sehat seperti sedia kala. Di samping itu, masa depannya juga gelap bin muram, madesu lah.

Senin, 25 April 2016

Drama dan Mimpi

Semalam aku galau setelah menonton drama Korea yang di akhir cerita si tokoh utama terkena alzheimer dan melupakan orang-orang terdekatnya. Ending-nya yang terlalu ngenes membuatku ikut merasakan kesedihannya. Membuatku ingin berteriak, "Nggak adiiil!" Ini bukan kali pertama aku tenggelam dalam cerita drama atau film yang kutonton. Aku termasuk orang yang mudah larut dalam cerita drama atau film yang kutonton. Kadang sampai geregetan melihat tokoh antagonis yang menyebalkan, kadang menghabiskan banyak tisu karena menangis melihat cerita yang mengharukan, kadang berteriak membego-begokan si tokoh utama, kadang heboh shipping pemeran utama pria dan wanita agar berpasangan sungguhan di dunia nyata. Kalau akting pemainnya bagus dan ceritanya membekas di hati aku memang bisa separah itu. Namun, yang sampai membuatku benar-benar galau karena ending-nya baru dua, pertama dorama Jepang yang dimainkan Oguri Shun yaitu Border, dan kedua drama Korea Remember yang dimainkan Yoo Seung Ho. Yang satu berakhir dengan kegagalan tokoh utama menangkap penjahat, yang satunya lagi berakhir dengan nasib tokoh utama yang terkena alzheimer.

Rabu, 13 April 2016

Jangan Ganggu Jomblo

Sebenarnya aku sudah pernah membahas tentang pertanyaan yang sering dilontarkan para peneror jomblo: "Kapan nikah?" di post ini. Aku juga sudah jarang mendapat pertanyaan itu, dan semoga tidak ditanya-tanya lagi. Namun, membaca cerita teman-temanku, aku jadi ingin nyinyir lagi di sini. Entah kenapa orang-orang seperti risih melihat perempuan berumur di atas 25 tahun --apalagi sudah 30 tahun atau lebih-- yang belum menikah. Kalau situasinya seperti zaman dulu, di mana perempuan tidak bekerja dan harus ditanggung orang tua secara finansial, mungkin tidak aneh --meskipun kurang bisa dibenarkan-- kalau orang tua ingin anaknya segera menikah agar beban finansial mereka berkurang. Ini masih terjadi juga, sih, di daerah-daerah terbelakang. Akan tetapi, situasi sekarang sudah berbeda. Perempuan sekarang sudah banyak yang mandiri secara finansial. Kalaupun mereka tak kunjung menikah di usia yang sudah matang, itu tidak akan merugikan siapapun. Lah, mereka nggak minta makan sama situ, kok. Kalau memang belum menemukan jodoh yang cocok, ya mau bagaimana lagi, kan?

Selasa, 12 April 2016

Ngenes

Ngenes itu ... ketika aku mendengar seseorang berkomentar "Keren!" sewaktu membicarakan seorang perempuan Aceh --yang orang tuanya kelihatannya Islam fanatik-- justru tidak berjilbab dan merokok. Aku bingung, di mana letak kerennya? Merokok? Berani tidak berjilbab di daerah yang katanya menerapkan syariat Islam? Aku gagal paham. Apakah dia menganggap merokok dan tidak memakai jilbab sebagai bentuk kebebasan? Apakah dua hal tersebut dianggap keberanian karena menentang sikap orang tuanya yang fanatik? Kalau memang seperti itu, sepertinya dia yang gagal paham. Berjilbab, kan, perintah agama, perintah Tuhan, bukan perintah orang tua. Menentangnya berarti menentang Tuhan, bukan sekadar menentang orang tua. Atau, jangan-jangan dia menyebutnya keren karena menganggap jilbab adalah aturan hasil konspirasi kaum Adam untuk membatasi kebebasan kaum Hawa? Padahal, kalau kaum lelaki diminta membuat aturan untuk wanita, mungkin mereka justru mewajibkan perempuan untuk memakai rok mini dan tanktop.

Minggu, 03 April 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: Dari Pulau Ke Pulau

Lanjutan dari sini

Setelah melepas lelah semalaman di Pulau Balai, paginya kami memulai acara inti yaitu makan-makan. Eh, bukan. Paginya kami mulai mengelilingi pulau-pulau di Kepulauan Banyak dengan menggunakan kapal. Tujuan pertama adalah "Pulau" Malelo. Kenapa menggunakan tanda petik? Karena Malelo ini menurutku bukan pulau karena terlalu kecil, hehehe. Malelo ini berupa daratan berpasir putih tanpa ada tanaman sama sekali. Cuma ada sisa-sisa batang pohon dan bebatuan. Begitu melihat Malelo ini aku langsung terpikir untuk berfoto di sana dengan bola voli yang sudah digambari wajah seperti Wilson. Sayangnya kami tidak membawa bola voli jadi tidak bisa berpose sok dramatis bin tragis seperti Tom Hanks yang terdampar di pulau. Akhirnya cuma mengambil foto-foto di sana. Namun, gambarnya kurang cantik karena langitnya berawan. Kalau langitnya bersih sepertinya gambarnya akan ciamik. Eh, itu tergantung fotografernya juga sih. Kalau memang dasarnya amatir, cuaca sebagus apapun gambarnya tetap biasa-biasa saja. *nangis di pojokan*