Selasa, 12 April 2016

Ngenes

Ngenes itu ... ketika aku mendengar seseorang berkomentar "Keren!" sewaktu membicarakan seorang perempuan Aceh --yang orang tuanya kelihatannya Islam fanatik-- justru tidak berjilbab dan merokok. Aku bingung, di mana letak kerennya? Merokok? Berani tidak berjilbab di daerah yang katanya menerapkan syariat Islam? Aku gagal paham. Apakah dia menganggap merokok dan tidak memakai jilbab sebagai bentuk kebebasan? Apakah dua hal tersebut dianggap keberanian karena menentang sikap orang tuanya yang fanatik? Kalau memang seperti itu, sepertinya dia yang gagal paham. Berjilbab, kan, perintah agama, perintah Tuhan, bukan perintah orang tua. Menentangnya berarti menentang Tuhan, bukan sekadar menentang orang tua. Atau, jangan-jangan dia menyebutnya keren karena menganggap jilbab adalah aturan hasil konspirasi kaum Adam untuk membatasi kebebasan kaum Hawa? Padahal, kalau kaum lelaki diminta membuat aturan untuk wanita, mungkin mereka justru mewajibkan perempuan untuk memakai rok mini dan tanktop.

Dan aku merasa ngenes lagi ketika ada yang memutarbalikkan aturan agama dan mengatakan bahwa bir tidak haram. Orang-orang seperti inilah yang membuatku ngeri. Mereka diberi kecerdasan, kemampuan untuk bermain logika dan memainkan kata-kata, dan itu semua digunakan untuk membenarkan pendapat mereka yang sebenarnya salah. Mereka memilih-milih ayat Al-Qur'an atau hadits yang --kelihatannya-- membenarkan pendapat mereka dan kemudian menafsirkannya sesuka hati. Kalau yang dia sampaikan benar-benar yang dia yakini, mungkin dia korban "ilmu tanpa iman", atau korban "mencari ilmu tanpa guru --yang tepat--", atau bisa jadi korban "mendewakan logika". Kalau dia menyampaikan pendapat kontroversial tersebut hanya untuk mencari popularitas, alangkah menyedihkan. Dia berani mengutak-atik aturan agama dan menyesatkan orang-orang awam --yang mungkin terpesona dengan permainan "logika"-nya-- cuma demi popularitas.

Lalu, tindakanmu apa menghadapi makhluk-makhluk seperti itu? Tidak ada. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku --yang miskin ilmu dan kurang ibadah ini-- cuma bisa membantah dalam hati. Iya, aku tahu itu adalah selemah-lemahnya iman. Dan itu lebih ngenes.

ARTIKEL TERKAIT



6 komentar:

  1. Aku sedih banget bacanya ini mil huhu iyaaa aku juga sebel yang puterbalik alkohol haram kalau memabukkan
    kalau minumnya gak sampek mabuk ya nggak haram :(
    duh dikasih logika mau ngelawan yang ngasih logika

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, yang bikin nyebelin dia menyebarluaskan pemikirannya dan banyak yang dukung :'(

      Hapus
  2. Wah,di Aceh ada yang merokok ya? Aku pernah liat cewek merokok di daerah Bandung dan itu biasa banget. Yang ngeliat malah dipelototin balik. Jadi takut buat negur :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. palingan yang merokok yang nenek2 ya, buat ganti nyirih. kalo cewek yang anak mudanya sih aku belum pernah lihat dengan mata kepala sendiri.

      kalo di kota besar emang biasa ya cewek merokok, dan biasanya yang merokok (cowok atau cewek) lebih nyolot ya meskipun di tempat dilarang merokok :D

      Hapus
  3. paragraf kedua itu yang dimaksud kaum liberal kan ya?
    *asal nebak*

    kadang ada nemu yang berargumen sepertinya pake logic, tapi kalo ditelisik lebih mendalam -kata perkata- logicnya ada yang hamsyong. Pengen ngakak kalo nemu makhluk semacam ini. Gemes pengen nyubitin. :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak tahu deh orang apaan. nggak niat nyari tahu juga :D

      kadang emang kaya gitu. kesannya argumennya logis, padahal dia pake logical fallacy.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!