Sabtu, 23 Maret 2013

Life of Pi, Novel tentang Perjuangan untuk Bertahan Hidup

Si sapi dan novel Life of Pi
Memang benar, orang-orang yang kita jumpai bisa mengubah kita, kadang-kadang begitu hebat perubahan itu, sehingga kita tidak lagi sama sesudahnya, termasuk nama kita.


Nama lengkapnya Piscine Molitor Patel. Sebenarnya nama panggilannya adalah Piscine. Namun, karena kata Piscine sering dipelesetkan menjadi pissing, dia mengubah nama panggilannya menjadi Pi, sebuah konstanta bernilai 3,14.

Ayah Pi, Santosh Patel, adalah pemilik Kebun Binatang Pondicherry. Di kebun binatang itulah Pi belajar mengenai tingkah laku binatang, jarak ‘aman’ mendekati masing-masing binatang, sampai teori makhluk super-alfa. Agar binatang patuh pada manusia, manusia harus menunjukkan kepada mereka bahwa manusia adalah makhluk super-alfa, makhluk yang paling kuat, sedangkan para binatang adalah makhluk beta, gamma, dan omega. Binatang tipe omega – binatang yang status sosialnya paling rendah di antara kelompoknya – inilah yang biasanya paling patuh pada manusia.

Sayang sekali, kebun binatang tempat Pi belajar dan bermain itu harus ditutup. Situasi politik yang buruk membuat ayah Pi memutuskan untuk membawa keluarganya pindah ke Canada. Kebun binatang mereka dijual. Binatang-binatang di sana juga dijual ke kebun-kebun binatang di Amerika. Keluarga Patel (Santosh Patel, istrinya, dan kedua putranya: Ravi dan Pi) – bersama binatang-binatang dari Kebun Binatang Pondicherry – meninggalkan Madras menuju Canada pada 21 Juni 1977 menumpang kapal Tsimtsum. Mereka berlayar menyeberangi Teluk Bengal, terus ke Selat Malaka, mengitari Singapura, terus ke Manila, hingga ke Samudra Pasifik. Di sinilah bencana datang. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam. Sebelum kapal tenggelam, beberapa awak kapal melemparkan Pi ke sekoci. Setelah itu seekor zebra melompat ke dalam sekoci tersebut.

‘Perjalanan’ Pi dengan sekoci itu tidak hanya ‘ditemani’ sang zebra, yang kakinya patah. Masih ada seekor hyena dan seekor orang utan betina dari Kalimantan yang dia panggil Orange Juice. Berada dalam satu sekoci bersama seekor binatang buas tentunya mengerikan. Pi harus menyaksikan sang zebra dan Orange Juice dimangsa oleh hyena. Hingga kemudian dia baru menyadari ada penumpang lain di sekoci itu: Richard Parker, seekor harimau Bengal. Richard Parker ini kemudian memangsa si hyena. Tinggallah dua makhluk hidup di dalam sekoci: Pi, anak lelaki India berumur 16 tahun, dan Richard Parker, harimau Bengal dengan bobot 225 kilogram. Apakah Pi akan menjadi mangsa Richard Parker sebagaimana si hyena? Ataukah keduanya sama-sama mati kelaparan di tengah samudera luas? Atau mereka tetap hidup dan bersama-sama mencapai daratan? Lalu, bagaimana usaha Pi untuk tetap bertahan hidup?

Itu adalah sekilas cerita dalam novel Life of Pi (Kisah Pi). Bagi yang pernah membaca novelnya mungkin akan menganggap ‘sekilas cerita’-ku itu terlalu spoiler. Hehehe, iya, memang spoiler.

Novel ini adalah pemberian Eny. Eh, pemberian atau hasil merampok, ya? Pokoknya aku beberapa kali menagih minta dibelikan novel oleh Eny. Sebenarnya, sih, aku hanya bercanda tapi dianggap serius oleh Eny. Alhamdulillaah, ya! Dari sekian banyak buku yang kuinginkan, inilah buku yang dipilih Eny untuk ‘disumbangkan’ padaku. Sayang sekali Eny tidak memilih Dunia Sofi atau Garis Batas. Hahaha, yaiyalah, itu kan muahaaal!

Edisi yang kumiliki ini adalah cetakan kelima yaitu cetakan November 2012, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Gambar sampulnya menggunakan gambar dari film yang diangkat dari novel ini. Biasanya aku tidak suka gambar sampul yang diangkat dari gambar film, misalnya novel Negeri 5 Menara. Aku lebih suka gambar sampul yang ‘asli’. Biasanya gambar sampul yang dari film membuat buku terlihat ganjil, entah kenapa. Tapi, untuk Life of Pi ini aku lumayan suka gambar sampul yang ‘baru’. Mungkin karena warnanya lebih eye-catching, perpaduan warna kuning dan oranye (atau jingga?).

Cerita dalam novel karya Yann Martel ini lumayan menarik. Seru, meskipun di beberapa bagian terlalu deskriptif sehingga ada beberapa paragraf yang kulewati. Dari novel ini aku jadi tahu sedikit tentang dunia binatang, teritori, dan ‘kebebasan’ mereka. Aku juga jadi tahu kalau ada daerah di India yang pernah ‘dikuasai’ Perancis. Kupikir semua daerah di India adalah bekas jajahan Inggris. Aku paling menikmati cerita ketika Pi menemukan ‘pulau’ dari ganggang yang ternyata bersifat karnivora. Aku juga suka kalimat Pi berikut, “Dunia ini bukanlah seperti yang kelihatan. Tapi sesuai cara kita memahaminya, bukan begitu? Dan dalam memahami sesuatu, kita memasukkan sesuatu ke dalamnya, bukan begitu? Dengan demikian, hidup ini juga suatu cerita,  bukan?” Tapi, ada bagian yang tidak kusukai dalam novel setebal 448 halaman ini, yaitu bagian di mana Pi terkesan ‘menyamakan’ agama Hindu, Kristen, dan Islam. Bagaimanapun, menurutku Wisnu, Yesus, dan Alloh itu berbeda. Aku juga masih bingung dengan kemunculan orang Perancis buta. Sepertinya aku perlu membaca ulang bagian itu.

Overall (hmm, aku terlalu sering menggunakan kata ‘overall’ dalam review-ku), novel ini menarik. Jadi penasaran ingin menonton filmnya. Bagi yang sudah menonton filmnya dilarang pamer!

ARTIKEL TERKAIT



28 komentar:

  1. Filmna..KEREN abis mbk
    **sumpah,g pamer mbk :)

    BalasHapus
  2. pengen banget bisa punya novel ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar kalo pulang ke Aceh beli aja :p

      Hapus
  3. ini dah ada bukunya dah ada film juga, tenar pula tapi kok saya belum tergerak buat deket2 yak..

    BalasHapus
  4. ternyata bagus ya isi bukunya, kemarin aku ragu-ragu pilih buku ini tapi akhirnya pilih cerita dibalik noda karena pingin ikut kontes hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ckckck, demi kontes rela beli buku :p

      Hapus
  5. Penulis India rata-rata memang menyamakan kesemua agama dalam novel mereka, Mil. IMHO, ya. Atau penulisnya penganut sekularisme? Hehehe..
    Dan kebanyakan memang seneng banget dengan deskripsi, detail, tapi keren sih menurutku :)
    Filmnya lebih ringkes, Mil :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi Mbak Della udah banyak baca tulisan penulis India, ya?

      Hapus
    2. Enggak juga sih, baru kumcer dan kumpulan puisinya Rabindranath Tagore sama waktu itu dua kumcer penulis India yang beda, lupa namanya :D
      Sama Midnight's Children-nya Salman Rushdie. Walaupun dia orang Pakistan, tapi novelnya kental banget sama budaya India. Dan kental banget juga akan kebenciannya pada Islam, hehehe..

      Hapus
    3. Wuih, bacannya berat euy!
      Jadi penasaran sama novelnya Salman Rushdie. Bakal emosi gak ya bacanya...

      Hapus
    4. Enggak kok, Mil. Nulisnya tuh pinter banget, beneran. Keren.
      Ah, kalo aja kamu deket, aku pinjemin deh. Kalo jauh, susah nagihnya, wkwkwkwk..

      Hapus
    5. Hihihi, kalo deket mah saya nggak minjem tapi minta :p

      Hapus
  6. aku baru baca belum ada sepertiganya udah brenti, blm sempet lagi mau lanjutin...:D

    BalasHapus
  7. Aku udah nonton filmnya, ibuku baca dan nonton filmnya.
    Aku ki ra pamer lho yo, mung pengumuman.
    Katanya ada bedanya, part di film dia cerita ama bule gak ada di buku...

    BalasHapus
  8. howalah
    kirain tentang rumus matematika
    phi r kuadrat... :D

    BalasHapus
  9. aku blm nonton, blm baca bukunya jg.. pinjemin donk.. hehehe

    BalasHapus
  10. aku udah nonton filmnyaaa...
    klo novelnya malah udah baca lama bangeth hihihii... bagus tp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, jadi makin pengen nonton :'(

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!