Kamis, 21 Maret 2013

Bukan Resensi

Sampai saat ini aku tidak berani menyebut review buku di blog ini sebagai resensi. Kenapa? Karena menurutku review buku yang kutulis di blog ini belum memenuhi syarat sebagai resensi. Unsur pertama dalam penulisan resensi adalah data buku, yang terdiri atas judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit (dan cetakannya), tebal buku (atau jumlah halaman), dan kadang ada juga yang mencantumkan harga. Yang sering terlewatkan dalam review yang kubuat adalah tahun terbit. Misalnya di review buku Negeri van Oranje. Karena aku tidak menulis tahun terbitnya, ada yang menanyakan apakah buku yang kuceritakan itu buku baru atau buku lama. Aku juga beberapa kali tidak menyebutkan penerbit dari buku yang kuceritakan. Biasanya, sih, karena malas. Kalau harga? Hmmm, malas juga menyebutkan harga buku yang ku-review. Nanti orang-orang tahu betapa kayanya aku kalau melihat harga-harga buku yang ku-review. Nah, dari unsur pertama saja ada yang tidak kupenuhi. Jadi, review-ku belum bisa dikategorikan resensi.

Unsur resensi yang kedua adalah ulasan singkat mengenai isi buku. Kalau di review yang kubuat, sih, selalu ada. Tapi, kadang sulit membuat ringkasan yang benar-benar menggambarkan isi buku. Biasanya buku (fiksi) yang sulit dibuat ringkasannya adalah buku yang ceritanya kronologis, misalnya buku Balthasar's Odyssey. Dan yang sering terjadi adalah aku terjebak dengan pikiran "kayaknya penting semua, deh". Ujung-ujungnya yang mestinya ringkasan justru tidak ringkas sama sekali. Atau, kadang karena memaksakan diri untuk 'meringkas' ujung-ujungnya aku hanya menceritakan bagian awal dari isi buku. Ini yang kulakukan sewaktu me-review Balthasar's Odyssey dan Kisah Sang Penandai.

Unsur ketiga adalah kelebihan dan kekurangan buku. Kalau ini, sih, sering kusebutkan, terutama kekurangan. Entah kenapa aku peka terhadap kekurangan orang lain. Seringkali aku menemukan kesalahan ejaan dan cerita yang tidak logis. Pernah aku membaca satu buku yang banyak sekali kesalahan dalam ejaannya. Saking fatalnya, aku sampai tidak tega membuat review-nya daripada aku terlalu banyak mencela. Nambah dosa! Selain kekurangan dalam ejaan dan kelogisan cerita, kadang yang kutuliskan dalam review-ku adalah "kekurangan" suatu buku dalam versiku alias seleraku.

Kadang dalam resensi juga ditulis perbandingan buku yang diresensi dengan buku lain yang ditulis oleh penulis yang sama atau buku yang bertema senada. Nah, yang ini juga jarang kusebutkan dalam review-ku.

Dari semua unsur yang kusebutkan di atas, bisa disimpulkan bahwa tulisan (tentang buku) yang kubuat belum bisa dikategorikan sebagai resensi. yang jadi pertanyaan sekarang adalah "apakah tulisanku sudah bisa dikategorikan review atau belum?" Nah, makin pusing. Sudahlah. Tidak usah dipikirkan.

ARTIKEL TERKAIT



18 komentar:

  1. Kalau dari definisinya sendiri review kan menceritakan kembali, sedangkan seperti isbn, judul, tahun terbit lebih seperti komponen.

    Dulu sempat berpikir tentang unsur2 resensi setiap kali menulis komentar tentang buku, tapi ujung2nya malah jadi panjang tulisannya dan kadang bikin yang baca gak dapet poin pentingnya, yaitu pandangan kita terhadap bukunya.

    Nikmati saja menulis review, kecuali kalau ke depan ingin hasil resensinya tembus media, perlu tuh unsur2 tersebut dipertimbangkan ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya. Berhubung tulisan saya nggak diarahkan untuk dikirim ke media, jadi ya suka-suka aja :D

      Hapus
  2. idem. sya juga sukanya menyebutnya book review, bukan resensi.
    reviewnya asli subjektif, sesukanya saya. heheh..
    g mo ambil pusing ah, yg penting niatnya kan buat bagi2 inpoh buku doang. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, udah. Saya juga nggak ambil pusing deh :p

      Hapus
  3. review menceritakan kembali dengan bahasa si pembaca

    kalau resensi adalah penilain akan buku tersebut...begitu menurutku

    hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi begitu...
      Kalau resensi cenderung menilai gitu?

      Hapus
  4. yang penting tulisan mu tentang buku yg di baca itu membantu org memutuskan buat beli buku itu ato enggak, ato menarik ato enggak buku itu buat dibaca hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak yakin juga sih kalo tulisanku membantu :D

      Hapus
  5. aku harus belajar menulis review buku nih

    BalasHapus
  6. Aku malah jarang banget reviewww

    Eh, bener kata Sinta, tuh jadi aku ngaminin aja komennya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komen sinta nisfuana bukan doa deh kayaknya, napa diaminin :p

      Hapus
  7. gak bisa dengan review buku kenapa ya? :(

    BalasHapus
  8. ya tergantung pada individunya..apakah hasil ulasannya tentang buku disebut review atau resensi, saya sebagai pembaca sich nurut saja :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran ya, nurut. Awas kalo ntar protes :p

      Hapus
  9. kalo say asih lebih suka denga kata review soalnya kita kan mengulas tentang buku itu walopun tidak selengkap resensi.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga lebih sreg pake kata review.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!