Minggu, 07 Oktober 2012

Balthasar's Odyssey (Nama Tuhan yang Keseratus)

Siapa Balthasar (Baldassare)? Nama lengkapnya Balthasar Effendi. Dia adalah seorang pedagang di Gibelet keturunan Genoa. Dalam novel ini diceritakan perjalanan Balthasar dalam mencari buku “Nama yang Keseratus” karya Abu-Maher al-Mazandarani. Untuk apa dia mencari buku tersebut? Jadi, begini ceritanya... Pada abad ke-17, tepatnya tahun 1665, orang-orang – khususnya orang Kristen – tengah ketakutan “menunggu” datangnya tahun Dajal, yaitu tahun 1666. Banyak yang meyakini bahwa pada tahun 1666 akan terjadi kiamat. Lalu apa hubungannya dengan buku Nama yang Keseratus? Sebagaimana kita ketahui, dalam agama Islam ada 99 nama (tepatnya sebutan) untuk Alloh. Ternyata ada banyak yang mempercayai bahwa selain 99 ‘nama’ tersebut, masih ada satu ‘nama’ lagi. ‘Nama’ itu katanya pernah diucapkan Nuh ketika menyelamatkan diri dari banjir besar. Dan di buku tersebut disebutkan nama Tuhan yang keseratus tersebut. Orang-orang pun mencarinya untuk menyelamatkan diri dengan ‘nama’ itu ketika kiamat terjadi.

Kalau Balthasar mencari buku tersebut, berarti dia termasuk yang percaya akan ada kiamat pada tahun 1666 dan percaya kekuatan Nama yang Keseratus? Tidak. Dia sama sekali tidak percaya. Bahkan, dia awalnya menganggap bahwa buku tersebut tidak pernah ada. Berbeda dengan Jaber, keponakannya yang membantunya di toko. Jaber (atau lebih sering dipanggil Boumeh) sangat percaya terhadap ramalan kiamat tersebut. Dia sering membaca buku-buku yang berkaitan dengan hal itu. Hingga Idriss datang padanya menjual buku pada Balthasar – lebih tepatnya meminta Balthasar menjual buku itu di tokonya. Setelah buku itu terjual – atau tepatnya diberikan secara cuma-cuma oleh Balthasar pada pelanggannya yang sedang menawar harga – Balthasar pun datang ke rumah Idriss untuk memberikan ‘hasil penjualan’ bukunya. Idriss pun kemudian memberikan buku terakhir yang dimilikinya pada Balthasar. Sebuah buku yang sebelumnya dianggap tidak pernah ada oleh Balthasar, yaitu buku berjudul Nama yang Keseratus. Idriss berkata bahwa dia ingin Balthasar yang memiliki buku itu, bukan orang lain. Balthasar kemudian justru menjual buku tersebut kepada Chevalier Hugues de Marmontel, seorang utusan istana Prancis. Ketika dia datang ke rumah Idriss untuk menyerahkan uang hasil penjualan buku tersebut, dia mendapati kenyataan yang mengejutkan: Idriss meninggal. Boumeh pun menyalahkan pamannya yang – menurutnya – sudah mengabaikan pertanda dari Tuhan. Menurutnya, Balthasar seharusnya tetap menyimpan buku itu, bukan menjualnya. Boumeh juga menganggap kematian Idriss sebagai pertanda untuk pamannya bahwa waktu itu sangat singkat dan hari kiamat itu sudah dekat.

Atas desakan Boumeh dan Habib – adik Boumeh – Balthasar memutuskan untuk menyusul Chevalier dan mencegatnya di Konstantinopel. Balthasar, Boumeh, dan Habib pun pergi ke Konstantinopel. Mereka melewati Anfe, kemudian sampai di Tripoli. Di Tripoli ini rombongan mereka bertambah satu, yaitu Marta. Ternyata dia sudah bersekongkol dengan Habib untuk bisa ikut rombongan mereka. Marta sendiri pergi ke Konstantinopel untuk mendapat surat dari pemerintah yang menyatakan bahwa suaminya – yang selama enam tahun entah di mana rimbanya – sudah meninggal.

Ternyata, perjalanan itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Perjalanan Balthasar tidak berhenti di Konstantinopel. Kejadian demi kejadian membuat dia sampai ke beberapa tempat, seperti Inggris, Chios, sampai Genoa, kota asal leluhurnya. Lalu, apakah dia mendapatkan buku Nama yang Keseratus?

Begitulah sekilas cerita di bagian awal novel Balthasar’s Odyssey. Novel karya Amin Maalouf ini merupakan salah satu novel yang tidak bisa membuatku bertahan untuk membacanya. Waktu membaca beberapa halaman pertama novel ini aku sudah merasa “capek” sehingga berhenti. Butuh waktu sekitar setahun bagiku untuk kembali tertarik membacanya. Karya Amin Maalouf ini menurutku terlalu ‘gemuk’. Bukan dari sisi ketebalan tentunya. Buku ini totalnya ‘cuma’ 620 halaman (ceritanya sendiri 610 halaman). Yang membuatnya terasa gemuk adalah banyaknya tokoh dan kejadian dalam ceritanya. Bagi pembaca dengan daya ingat yang lemah seperti aku, sulit sekali mengingat jalan ceritanya. Baru selesai, sudah lupa detail cerita. Yang diingat hanya awal dan akhir cerita saja. Mungkin kalau dibagi menjadi dua buku bisa lebih mudah ‘diserap’. Buku ini juga agak kurang konsisten dalam penyebutan nama tokoh utama, Balthasar ataukah Baldassare. Kalau memang penulisannya ada dua jenis seperti itu, mestinya disebutkan bahwa Balthasar dalam bahasa Genoa disebut Baldassare, misalnya seperti itu.

Meskipun terlalu ‘gemuk’ dan agak membosankan, novel ini tetap menarik. Setting yang mengambil daerah Mediterania hingga Eropa pada abad ke-17 membuat ceritanya khas. Sepertinya Amin Maalouf sudah melakukan riset mendalam mengenai kejadian-kejadian di abad ke-17. Salah satu kejadian nyata yang dijadikan bahan cerita adalah kebakaran di Inggris. Selain menarik, novel ini membuatku tahu kota-kota di wilayah Mediterania, seperti Gibelet, Aleppo, Smyrna, dan lainnya. Gibelet ini merupakan sebutan bagi kota Byblos di Libanon pada masa Perang Salib. Aleppo merupakan salah satu kota di Suriah. Sedangkan untuk Smyrna, entah sekarang masuk daerah mana. Kota-kota tersebut digambarkan dalam peta yang ada di halaman awal novel ini. Overall, buku ini lumayan menarik (bagi yang tidak mudah bosan).

Peta di halaman awal novel

ARTIKEL TERKAIT



16 komentar:

  1. he..he..., betul Mil medki menarik aku juga tak sanggup baca sampai selesai ..
    sudah 2 tahun terlupa...., nanya endingnya aja deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Endingnya ketemu bukunya, tapi... tapi... tapi... baca sendiri deh :D

      Hapus
  2. Wah, kalau yang rajin baca saja merasa susah menyelesaikan bacanya, gimana saya yg agak nggak rajin baca ini ya?
    Tanya2 endingnya juga ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, siapa yang rajin baca, Pak Mars?

      Nggak seru, dong, kalau saya cerita ending-nya di sini :p

      Hapus
  3. Hehe....pantesan Mil.... ternyata kamu sendiri lelah ya membacanya...hihi...aq jg kok baca reviewnya jd ga ingin membaca keseluruhannya... ayo summarynya aja dunk....bikin excusive summary Mil.... :D

    Ternyata Milo itu kamu ya Mil? Hihi... aku kira siapa... hbs drtd cm bc notif komen via gmail di BB, jd ga keliatan linkmu....:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya seru, kok, kalau SABAR baca sampai akhir. Jadi nggak enak, nih, kalau review ini bikin orang malas baca bukunya. Nanti dikira black campaign :D

      Iya, sekarang sering pakai nickname Milo, biar singkat :D

      Hapus
  4. kalau baca novel tema begini harus nunggu mood nih mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Kalau sedang nggak mood, cepat bosannya.

      Hapus
  5. mungkin akan lebih menarik kalau dibuat jadi komik kali yah? :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasian yang bikin komiknya, Nuel. Panjang ceritanya :D

      Hapus
  6. Balasan
    1. Ah, tipis ini, mah. Masih tebelan Harpot :p

      Hapus
  7. Novel berat ya mbak? Terus setelah bukunya ketemu diapain mbak? beneran kiamat nggak sh? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak tahu deh berat ato nggak. Belum pernah saya timbang :D

      Yah, dia mancing biar spoiler nih. Nggak enak dong kalo diceritain di sini :D

      Hapus
  8. jadi pengen baca langsung novelnya nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak tuh softcopy-nya :p *malah ngasih tahu ada bajakannya*

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!