Rabu, 13 April 2016

Jangan Ganggu Jomblo

Sebenarnya aku sudah pernah membahas tentang pertanyaan yang sering dilontarkan para peneror jomblo: "Kapan nikah?" di post ini. Aku juga sudah jarang mendapat pertanyaan itu, dan semoga tidak ditanya-tanya lagi. Namun, membaca cerita teman-temanku, aku jadi ingin nyinyir lagi di sini. Entah kenapa orang-orang seperti risih melihat perempuan berumur di atas 25 tahun --apalagi sudah 30 tahun atau lebih-- yang belum menikah. Kalau situasinya seperti zaman dulu, di mana perempuan tidak bekerja dan harus ditanggung orang tua secara finansial, mungkin tidak aneh --meskipun kurang bisa dibenarkan-- kalau orang tua ingin anaknya segera menikah agar beban finansial mereka berkurang. Ini masih terjadi juga, sih, di daerah-daerah terbelakang. Akan tetapi, situasi sekarang sudah berbeda. Perempuan sekarang sudah banyak yang mandiri secara finansial. Kalaupun mereka tak kunjung menikah di usia yang sudah matang, itu tidak akan merugikan siapapun. Lah, mereka nggak minta makan sama situ, kok. Kalau memang belum menemukan jodoh yang cocok, ya mau bagaimana lagi, kan?


Kadang, para lajang perempuan ini juga mendapat komentar yang menyebalkan seperti, "Tunggu apa lagi, sih?" "Cari yang gimana lagi, sih?" "Jangan pilih-pilih!" Ada juga komentar, "Jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti susah lakunya!" "Jangan ngejar karir mulu!". Ih, cuma dikomentari gitu doang kok bete. Sensitif amat. Sensitif? Iye, guenya sensitif, elunya nggak sensitif, nggak peka sama perasaan orang lain. Komentarnya nggak pake saringan. Cih.

Tunggu apa lagi? Ini pertanyaan paling absurd. Mau tahu apa yang ditunggu? Ya, calonnya, lah. Kalau belum ada calon suami, bagaimana mau menikah? Bayangkan saja bila kita sedang di restoran dan makanan yang dipesan teman kita sudah datang sedangkan makanan pesanan kita belum datang. Si teman dengan hebohnya berkata, "Eh, buruan makan, tunggu apa lagi?" Ya nunggu makanan pesenan gue keleus. Makanan gue belum dateng, lu mau nyuruh gue makan apaan? Serbet? Taplak meja? Apa mau nyuruh gue makan hati? Kalau belum ada calon, mau menyuruhku menikah dengan apa? Tiang listrik? Pohon mangga? Oh, iya. Biasanya, teman yang baik akan menawarkan makanannya kepada kita apabila makanan kita lama datangnya. Atau, kalau sudah terlalu akrab, tanpa ditawari kita justru langsung meminta makanan mereka untuk mengganjal perut. Kalau ini diterapkan pada situasi teman yang sudah menikah dan kita yang belum menikah bagaimana? Kalian yang sudah menikah, siapkah kalau komentar "Buruan nikah. Tunggu apa lagi?" dijawab dengan kalimat, "Susah nih nyari jodoh. Gue nikah ama laki lu aja gimana?"? Siap? Hahaha. Pasti tidak siap. Jadi, jangan sembarangan berkomentar. Siapa tahu teman yang dikomentari itu punya pikiran sableng seperti yang kuutarakan.

Cari yang gimana lagi, sih? Jangan pilih-pilih. Wow, judgy! Tahu dari mana bahwa para lajang itu pilih-pilih? Ada banyak alasan seseorang masih melajang. Belum tentu dia melajang karena terlalu pilih-pilih pasangan, misalnya hanya mau menikah dengan pria setampan Lee Min Ho atau sekaya Bill Gates. Bisa jadi memang belum bertemu dengan yang pas di hati. Bisa jadi dia justru tidak pernah punya kesempatan untuk menerima atau menolak, apatah lagi mau pilih-pilih? Lagipula, wajar saja pilih-pilih. Namanya juga mencari pasangan untuk seumur hidup, tentu harus memilih dengan hati-hati, kan? Masa mau sembarangan, asal ada yang melamar langsung diterima?

Jangan sekolah tinggi-tinggi nanti susah laku! Yang mengatakan hal ini sungguh sudah menyia-nyiakan perjuangan Kartini. Beliau sudah memperjuangkan agar kaum perempuan mendapatkan kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Setelah kesempatan itu ada, kaum perempuan malah dihalangi untuk meraih pendidikan tinggi dengan alasan "takut tidak laku". Memangnya ada apa dengan perempuan berpendidikan tinggi? Kenapa dianggap akan susah laku? Apa karena lelaki tidak mau memiliki istri yang gelar pendidikannya lebih tinggi? Insecure banget, sih! Kalau memang tidak mau kalah dengan istri, ya situ kuliah lagi. Apakah perempuan berpendidikan tinggi dikira akan berani menentang suami karena pendidikan suami lebih rendah? Kalau itu sih tergantung pribadi masing-masing. Ada, kok, yang berpendidikan tinggi tetapi masih patuh pada suami --selama suami tidak menyuruh berbuat yang melanggar hukum agama ataupun negara. Ada juga perempuan yang berpendidikan rendah dan berani membantah suami. Apa perempuan berpendidikan tinggi dianggap berpotensi meremehkan suami? Kalau benar begitu, mungkin akan ada perempuan yang bergosip, "Aduh, jeng, suami eykeh parah banget. Masa nggak tahu apa itu subnet mask." Atau mungkin akan ada perempuan yang berkata pada suaminya, "Udah, Mas, nggak usah ngatur-ngatur aku soal ngurus anak. Kamu itu, Lagrange multiplier aja nggak ngerti, sok-sokan mau nasihatin." Atau mungkin ada ibu yang akan berkata pada anaknya, "Jangan dengerin Papa kamu! Bedain sebaran Binomial sama Geometrik aja nggak bisa, mau ngajarin kamu." Apa mungkin terjadi hal-hal seperti itu? Menurutku peluangnya kecil. Sepanjang pengalamanku kepo di medsos, gosip ibu-ibu mengenai suaminya paling-paling tentang suami yang memberi uang belanja sedikit tapi maunya makan enak dan mewah setiap hari, suami yang malas membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak, dan sejenisnya. Namun, harus diakui, pendidikan tinggi mungkin mengajarkan perempuan untuk berpikir kritis dan berani berpendapat, jadi bisa saja istri yang berpendidikan tinggi lebih berkemungkinan untuk mempertanyakan keputusan atau sikap suami yang menurutnya salah (sebenarnya orang yang berpendidikan rendah tapi rajin membaca juga bisa begitu). Mungkin itu yang ditakutkan oleh kaum lelaki yang takut "kalah". Yasudahlah kalau memang sebegitu insecure-nya. Oh, iya. Katanya "Jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti tidak laku!!" Lalu, kalau sekolahnya tidak tinggi, beranikah kalian menjamin kami akan mendapatkan jodoh segera? Atau minimal sebelum berumur 30 tahun. Berani?

Jangan ngejar karir terus! Jangan mengejar karir? Seperti yang sebelumnya, kalau kami tidak mengejar karir, beranikah kalian menjamin kami akan segera bertemu jodoh? Kalau kalian tidak bisa menjamin, rugilah kami. Tidak melanjutkan kuliah, karir tidak meningkat, jodoh pun tak kunjung datang. Tidak semua orang yang mengejar karir itu mengesampingkan soal jodoh. Bisa jadi memang karirnya lebih lancar dibanding usahanya mencari jodoh. Kalau kesempatan berkarir datang terlebih dahulu sebelum jodoh datang, apa salahnya mengambil kesempatan itu?

Membahas hal ini memang tidak ada habisnya dan seringkali membuat gondok. Sayang sekali, kadang orang tidak peka dengan perasaan para lajang. Sudah susah mendapat jodoh, masih dituduh macam-macam, pilih-pilih lah, cuma mementingkan studi atau karir lah. Nasib.

ARTIKEL TERKAIT



18 komentar:

  1. Aaaaaaaa...
    sangat mewakili. Speechless aku mbak. T^T

    Le tetangga: "Kamu kapan nikah? Jangan trauma! Yang udah nenek-nenek peyot aja laku, masa' kamu belum?"

    *jleebbb*

    BalasHapus
    Balasan
    1. jawab ke tetangganya, "nenek-nenek peyot itu maksudnya situ?"

      Hapus
    2. yang bilang gitu ke aku adalah bu RT. Maksudnya bu RT, bu Anu (tetangga yang lain) aja yang 50-an tahun udah hampir nikah lagi (tapi belum jadi), akunya kapan.

      Kapan mbak? Kapan?!

      Selak pacar'e adikku ngebet minta dinikahi. Ujung-ujungnya nanti aku pasti disuruh cepet2 nikah biar gak dilangkahi adik. -_-

      Aslinya sih aku woles aja yaa... Tapi Ibuku itu soooo drama~ (bloodtype A)

      Hapus
    3. Bilang ke bu RT "Eykeh kan bukan cewek gampangan" :p
      Etapi susah sih ngurusin orang kaya gitu. Dijawab apapun bakal dijawab macem2 lagi, dicecer lagi. Mending langsung nangis2 drama dan guling2, "Kok tega ibu nanya kaya gitu. Bikin saya makin sedih. Ibu tegaaaaaaaa! Bu RT jahaaat!" Nangis yang kenceng sampe se-RT denger, terus nyalahin bu RT.

      Kalo ke ibu jawab aja "Ya udah, adek aja yang nikah dulu. Sapa tahu habis adek nikah, langsung banyak cowok ngantre ngelamar enha"

      Hapus
  2. Hehe, dibikin santai aja pertanyaan kapan nikahnya, mba Mil. Ntar capek sendiri yang nanya, abis itu malah kita yang bingung kok ga ada yang nanya lagi. Tapi usia udah menjelang 30 uwuwu *ini pengalamanku sih* pas nyadar baru deh eh iya, dua tahun lagi mau 30. Jleb. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertanyaan "kapan nikah"-nya mungkin bisa dibawa santai. tapi statement yang nge-judge macem2 dan omongan nyelekit lainnya yang gak bisa dibawa santai -_-

      Hapus
  3. "Jangan sekolah tingi-tinggi nanti susah laku!"
    What? Statement macam apa itu?!
    Walau ujung2nya jadi ibu rumah tangga tapi anak2 berhak bangga punya Momy yg super duper kece baik secara fisik, mental, otak, bahkan finansial...
    Hidup Wanita Jomblo Berkualitas! Hidup!
    #pasangiketkepala

    BalasHapus
    Balasan
    1. INDEED

      biar anaknya pinter, ibunya mesti pinter juga kan?

      Hapus
  4. InsyaAllah jodoh dtg pd waktu yg tepat. Kpn itu? Serahkan pd ketetapanNya. Bukankah di Al Qur'an sdh sgt jelas dituliskan bahwa Allah menciptakan makhlukNya secara berpasang2an? So, keep positif thinking. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngomong gitu sama yang suka nanya2 "kapan nikah", gak usah sama jomblo.

      Hapus
    2. hehehehe.. mbak Milo sensitive euy XD

      Hapus
    3. iya, sensitif lah. aku kan berperasaan halus :p

      Hapus
  5. Jadi ingat postinganku kapan lalu tentang hal sama. Menurutku susah juga ya kalau sudah jadi kebiasaan, beda kalau di sini orang pada cuek dan nggak nanya macam macam apalagi nanya soal belum nikah dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, susah kalo kebiasaannya emang gitu. pedulinya keterlaluan :D

      Hapus
    2. Peduli atau ngurusi? :)

      Hapus
    3. nggak ngurusi kok mba, cuma ngrusuhi. kalo ngurusi kan langsung nyariin calon :D

      Hapus
  6. i feel you sis, i feel you

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!