Senin, 25 April 2016

Drama dan Mimpi

Semalam aku galau setelah menonton drama Korea yang di akhir cerita si tokoh utama terkena alzheimer dan melupakan orang-orang terdekatnya. Ending-nya yang terlalu ngenes membuatku ikut merasakan kesedihannya. Membuatku ingin berteriak, "Nggak adiiil!" Ini bukan kali pertama aku tenggelam dalam cerita drama atau film yang kutonton. Aku termasuk orang yang mudah larut dalam cerita drama atau film yang kutonton. Kadang sampai geregetan melihat tokoh antagonis yang menyebalkan, kadang menghabiskan banyak tisu karena menangis melihat cerita yang mengharukan, kadang berteriak membego-begokan si tokoh utama, kadang heboh shipping pemeran utama pria dan wanita agar berpasangan sungguhan di dunia nyata. Kalau akting pemainnya bagus dan ceritanya membekas di hati aku memang bisa separah itu. Namun, yang sampai membuatku benar-benar galau karena ending-nya baru dua, pertama dorama Jepang yang dimainkan Oguri Shun yaitu Border, dan kedua drama Korea Remember yang dimainkan Yoo Seung Ho. Yang satu berakhir dengan kegagalan tokoh utama menangkap penjahat, yang satunya lagi berakhir dengan nasib tokoh utama yang terkena alzheimer.


Mengingat kesedihanku yang bisa dibilang lebay itu membuatku sadar bahwa sebenarnya aku menonton drama atau film untuk bermimpi. Bukan, yang kumaksud bukan mimpi tentang kisah seperti Cinderella di mana gadis miskin mendapat suami yang kaya raya, juga bukan mimpi tentang cowok ganteng, rapi, baik hati, yang mau menerima gadis selengekan dan kemproh, seperti di drama-drama. Aku juga tak bermimpi tentang kehidupan mewah seperti di drama atau film. Menonton drama atau film membuatku bermimpi tentang akhir yang bahagia, sesulit apapun cerita di episode 1 sampai 15, akan bahagia di episode 16. Melihat akhir drama yang bahagia membuatku ikut bahagia. Sebenarnya aku juga lumayan terbiasa dengan akhir yang sedih alias sad ending. Tapi, ada kadar sad ending yang keterlaluan. Ada yang sejak episode awal sampai akhir nasibnya selalu malang. Dan ending yang alzheimer itu ... entah kenapa menurutku lebih kejam dari ending yang mematikan tokoh utamanya. Lalu, ending yang tokoh utamanya gagal menangkap penjahat? Itu juga membuatku merasa devastated seperti tokoh utamanya. Iya, ini lebay. Tapi, cerita itu memang menghancurkan mimpi di mana pahlawan selalu menang melawan penjahat. Tapi, kenyataannya kadang memang begitu. Iya. Memang begitu. Tapi, aku ingin mimpi yang indah yang lebih baik dari kenyataan. Hidup ini sudah cukup menyedihkan, masa harus ditambah mimpi yang menyedihkan pula?

ARTIKEL TERKAIT



12 komentar:

  1. kalo lagi lihat film/drakor yang ternyata endingnya bikin errrrr...jadi bikin hati errrr juga hehehe..

    BalasHapus
  2. makanya gw males nonton film korea, bikin melankolis gak jelas apalagi kalo ada yang meninggal hadeeehhh.. nonton warkop dki ajalah yang hepi hepi

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak lucunya juga kok film korea. tergantung genre.

      Hapus
  3. belum nonton korea lagi sampai skr

    BalasHapus
  4. wakakak mil mil ini mah dilema penggemar tontonan ginian kan kan
    aku udah lama belum nonton drama lagi, habisnya suka kebawa baper terus ya kalo belum puas jadi penasaran ah jadi terbengkalai list kerjaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, iya suka kebawa baper. kalo penasaran, bisa begadang ampe pagi marathon nonton 16 episode :D

      Hapus
  5. descendants of the sun udah nonton Tante??

    BalasHapus
  6. Yaps, semelankolis apapun dramanya tetap ingin akhir kisahnya bahagia...wuah ending dengan alzheimer lebih kejam dari mematikan tokoh utamanya? berarti drama ini lebih kejam dari memories of Bali ya, Mbak? di mana ketiga tokoh utamanya meninggal semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku gak nonton memories of bali sih. tapi yang jelas lebih kezam dari endless love.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!