Selasa, 19 Juni 2012

Bahasa Pemersatu, Bahasa yang Sangat Indonesia

Waktu itu aku iseng membaca undangan buka puasa bersama KAJABA -- perkumpulan mahasiswa asal Jawa Barat di kampusku. Undangan tersebut ditulis dalam Bahasa Sunda. Aku mencoba mengartikannya dan 'memamerkannya' pada kawanku -- pemilik undangan tersebut. Saat aku menemukan kata 'dina' aku dengan percaya diri mengartikannya 'hari' sebagaimana arti kata 'dina' dalam Bahasa Jawa. Dia pun menjelaskan padaku bahwa dalam Bahasa Sunda kata 'dina' berarti 'di' sedangkan kata 'hari' itu Bahasa Sundanya 'dinten'. Hihihi, jadi malu... Jadi, teringat zaman masih kecil. Waktu itu kami sedang panen jambu air. Ketika Budhe-ku makan jambu air tersebut, dia berkomentar, "Amis." Kami pun bingung. Kok, bisa bau amis? Budhe makan jambu apa makan ikan, sih? Ternyata 'amis' itu dalam Bahasa Sunda artinya manis. Kemudian, aku membaca di majalah Bobo mengenai kosa kata yang sama dalam Bahasa Jawa dan Sunda tapi artinya beda, yaitu gedang. Kalau orang Jawa disuruh membawa gedang, yang akan dibawa adalah pisang. Sedangkan kalau orang Sunda, yang akan dibawa adalah pepaya.

Ada lagi. Aku dulu suka menceritakan lelucon ini pada kawanku.
A (orang Sunda):  *mengantri toilet* Atos? (Sudah?)
B (orang Jawa Pantura): *di dalam toilet* Atos apane!!! Wong mencret, ka! (Keras apanya!!! Orang mencret, kok!)
Iya, dalam Bahasa Sunda 'atos' berarti 'sudah' sedangkan dalam Bahasa Jawa berarti 'keras'. Masih ada yang lebih lucu lagi. Aku menemukan lelucon ini di blognya Kang Rawins. Lelaki Sunda menikah dengan perempuan Jawa. Sang suami berkata kepada istrinya, "Sayang, cokot baud (Sayang, ambil baut)" Dan apa yang dilakukan istrinya? Kalau dia patuh, dia akan menggigit baut seperti yang diminta suaminya. Kalau dia tipikal pemberontak, dia pasti sudah mencak-mencak. Kenapa? Karena dalam Bahasa Jawa 'cokot' itu artinya 'gigit'.


Kesalahpahaman karena beda bahasa daerah bukan cuma terjadi pada mereka yang berbeda suku. Sesama orang Jawa pun bisa jadi salah memahami perkataan sesama orang Jawa. Contohnya sewaktu aku mengobrol dengan kawanku yang dari Magelang. Dia berkata, "Aku kalo ada orang pake baju aneh nggak aruh-aruh." Aruh-aruh? Aku cuma melongo karena curiga kata 'aruh-aruh' yang dia maksud berbeda dengan yang kupahami selama ini. Benar saja. Ternyata, yang dia maksud dengan 'aruh-aruh' itu 'mengomentari' sedangkan dalam Bahasa Jawanya orang Pantura (khususnya Brebes, daerah lain aku tidak yakin sama) 'aruh-aruh' itu artinya 'menyapa'. Aku pun jadi teringat beberapa kosa kata lain yang berbeda arti. Kalau di Jogja, Solo, atau sekitarnya, kata 'jagong' artinya 'kondangan' sedangkan di daerah kami -- Brebes dan sekitarnya -- 'jagong' atau 'njagong' itu artinya duduk. Kalau di daerah Jogja, Solo, atau sekitarnya, kata 'pinarak' diartikan 'mampir', di daerah kami 'pinarak' itu duduk (untuk mempersilakan duduk).

Kalau kasus-kasus di atas terjadi dan masing-masing memahami sesuai arti dalam bahasa daerahnya masing-masing, apa yang terjadi? Minimal akan bingung. Yang parah kalau sampai terjadi salah paham dan ujung-ujungnya berantem, seperti pasangan suami istri Sunda - Jawa tadi. Itu baru interaksi sesama orang Jawa dan antara orang Jawa dan Sunda. Padahal ada lebih dari seribu suku bangsa di negeri ini. Bayangkan kalau masing-masing dari mereka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing untuk saling berkomunikasi satu sama lain? Akan sangat sulit untuk saling memahami. Untungnya ada Bahasa Indonesia. Dengan berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, kita bisa berkomunikasi dengan suku lainnya di negeri ini tanpa harus memahami bahasa daerah suku tersebut. Dengan Bahasa Indonesia, aku bisa berkomunikasi dengan kawanku yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Iya, kawan kuliahku dulu dari seluruh Indonesia dan tentunya dari berbagai suku. Ada yang dari Aceh, Palembang, Riau, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Bali, ada suku Jawa, Sunda, Batak, Mandailing, Melayu, Banjar, pokoknya bhinneka tunggal ika, deh. Nah, berkat Bahasa Indonesia, aku bisa berkomunikasi dengan mereka, mengobrol dengan mereka, bertanya mengenai tugas kuliah, bertukar pikiran, juga tentunya belajar bahasa daerah mereka. Yeah, Bahasa Indonesia itu memang Sangat Indonesia! Truly Indonesia. Bahasa pemersatu sekaligus ciri khas bangsa ini.

Namun, sayangnya banyak orang yang justru mulai melupakan bahasa nasional ini. Bukan melupakan dalam arti sebenarnya melainkan mulai "tidak menggunakannya dengan baik dan benar". Sesama orang Indonesia, sama-sama memahami Bahasa Indonesia, tapi lebih suka menggunakan bahasa asing. Kalau masih dalam konteks belajar dan meningkatkan kemampuan bahasa asing boleh-boleh saja. Namun, ketika sudah digunakan dalam perbincangan sehari-hari, sepertinya agak mengkhawatirkan. Salah satunya para korban K-Pop. Pernah ada seseorang yang menyapaku dengan kalimat 'Anyeonghaseyo', salam dalam Bahasa Korea. Aneh rasanya. Aku orang Indonesia, dia orang Indonesia, kenapa tidak menggunakan Bahasa Indonesia saja, sih? Ada juga yang memanggilku 'eonni', panggilan dari perempuan kepada perempuan yang lebih tua dalam Bahasa Korea. Padahal yang memanggil orang Indonesia. Apa anehnya kalau mereka memanggilku 'mbak' atau 'kakak'? Ada juga yang memanggilku 'chingu' yang artinya teman. Hadeuh! Silakan kalau mau belajar bahasa asing. Tapi, apa harus sampai "menggantikan" bahasa sendiri?

Selain mereka, masih ada lagi yang sepertinya tidak nyaman menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka lebih suka menggunakan bahasa ciptaan mereka sendiri yang menurut mereka keren. Misalnya, kata 'sayang' diganti 'chayank'. Ups, itu belum seberapa. Ada lagi yang mengganti kata 'sayang' dengan 'ch4y4nk'. Bukankah Bahasa Indonesia itu sudah mudah? Kenapa justru mempersulitnya dengan menggunakan huruf-huruf yang berlebihan? Kenapa juga harus mencampurkan angka dan huruf? Bukankah sudah ada aturan penulisan yang jelas? Sungguh sangat disayangkan bila kaidah penulisan kita diabaikan oleh bangsa kita sendiri sedangkan negara lain justru mengacu pada kaidah yang kita buat. Dulu, dosenku pernah mengatakan bahwa aturan EYD digunakan oleh Malaysia dan Brunei Darussalam. Kenapa kita justru tidak menerapkannya dalam berbahasa?

Sudah saatnya kita mulai mencintai belajar menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bukankah dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar kita lebih mudah untuk berkomunikasi dengan orang lain? Tidak semua orang bisa memahami perkataan atau tulisan kita yang menggunakan bahasa aneh-aneh seperti alay yang sedang tren sekarang ini. Kalau menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sepertinya orang yang pernah sekolah SD dari ujung Sumatera sampai ujung Papua bisa memahaminya. Jadi, mari kita bersama belajar menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.


ARTIKEL TERKAIT



33 komentar:

  1. Salam kenal sobat.. kunjungan pertamax nih.. alhamdulillah.. bahasa suda termasuk euy.. hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, setahu saya ini udah komen ketiga Didin Supriatna di blog saya.

      Hapus
  2. Aku pernah dengar katanya Indonesia itu satu-satunya negara yang punya bahasa pemersatu. Nak ra salah. India yang gede aja nggak punya. Malah pake Bahasa Inggris bahasa pemersatunya. Hebat emang Indonesia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pernah dengar gitu. Kita satu-satunya yang punya bahasa pemersatu. Tapi lupa dengar waktu pelajaran sekolah atau di mana.

      Hapus
    2. Ralat.... Bahasa India tetep jadi bahasa pemersatu kok. Bahasa Inggris hanya jadi bahasa pergaulannya aja. Sama kayak Malaysia.. Pemersatunya, melayu. Pergaulannya, Inggris....

      Btw bahasa indonesia itu sebetulnya bahasa baru lho.... Dibentuk dari berbagai macam bahasa... Banyak kata Indonesia merupakan serapan dari bahasa lain...

      Hapus
    3. Iya, Bahasa Indonesia emang dibentuk dari bahasa-bahasa lain, tapi awalnya dari Bahasa Melayu, baru kemudian ditambah kosa kata dari Bahasa Jawa, Belanda, Portugis, dll

      Hapus
  3. mungkin kalau anak jaman sekarang udah jarang pake bahasa daerah kali ya, justru ga tahu bahasa daerah, seperti diriku yang ga bisa ngomong jawa, jadi kalau nenekku lagi ngomong aku cuma bengong :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak, kok, yang pake bahasa daerah. Tapi, lebih banyak yang pake Bahasa Indonesia :D Ponakan saya aja yang umur 2 tahun kalo ditanya pake Bahasa Jawa jawabnya pake Bahasa Indonesia -___-"

      Hapus
  4. Yup, Bahasa Indonesia memang paling Indonesia! Bahasa pemersatu bangsa yang bhinneka tunggal ika. Setuju banget Mil. Keren deh opininya, sukses yaaa!! :)

    BalasHapus
  5. suka pusing kalau baca kalimat yang dibuat buat dan ditambahi angka angka itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi herannya yang nulis nggak pusing, ya :D

      Hapus
  6. wekeke... susah ini kalau katanya sama artinya berbeda.. @@ pada salah paham.

    itu yang cayang-cayangan, balas aja mbak, "4l4y, gunakan kbbi pliss.."

    wah kadang aku juga suka gitu mbak, terpengaruh budaya luar, lewat nonton media apapun. -_-", tapi bukan berarti orang tersebut gak cinta bahasa indo lho.

    iya, beruntung banget ada bahasa indonesia, bisa ngobrol dengan teman-teman dari daerah lain di indonesia ^_^ haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kowe mesti seneng nganggo boso jepun. Kalo masih sebatas belajar, sih, gapapa. Aku sebelnya kalo ada yang sampe ke perbincangan sehari-hari pake bahasa asing. Mumeti.

      Hapus
  7. makin semangat deh sy berbahasa Indonesia ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya, sih, semangat berbahasa Indonesia dan berbahasa daerah, hehehe...

      Hapus
  8. Hahahahaha,,,, lucu di 'Atos' itu, beda persepsi, :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lucu tapi berbahaya kalo beneran kejadian :D

      Hapus
  9. bahasa menunjukkan identitas bangsa :)

    BalasHapus
  10. Walau aku tidak faham EYD tapi aku mngerti Bahasa Indonesia, hehe :)


    Salam hangat dari Banjarmasin y Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan pernah diajarkan waktu di sekolah..

      Hapus
  11. lhawong sama-sama jawa timur aja kadang sama kata beda makna juga kok...

    di sisi barat kata "waras" artinya "enggak gila", di sisi timur "waras" artinya "sehat"...

    makanya pas saya awal di Malang pernah ditanya setelah sembuh dari sakit: "koen wes waras ta?", saya jawab aja "emange aku edan po piye?" :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kaya kata 'mari'. Di tempat kami 'mari' itu sembuh, tapi di tempat lain artinya 'selesai'.

      Hapus
  12. wah bagus tulisan'a pasti menang ntar :D

    BalasHapus
  13. hahhaa... gara2 cokot bise jadi ribut kali ye..

    aye bangga jadi orang indonesia dan pake bahasa indonesia sehari2.. #eaa :)

    BalasHapus
  14. ha ha... aku ketawa baca percakapan orang sunda dengan orang jawa di toilet.

    tapi aku pernah lho ketemu sama orang di angkot, trus yang satu ngomong sunda dan yang satunya lagi ngomong jawa. Eh ajaibnya adalah mereka berdua nyambung ngomongnya... wkwkw..

    BalasHapus
  15. Memang bner sich, biasanya anak mda kya sya menggunakan bahasa prokem ....

    Komentar balik gan

    BalasHapus
  16. kalau sudah pernah berkumpul dengan orang orang dari luar daerah sendiri... bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu.. ini saya rasakan sendiri ketika masih sma sampai kuliah... dimana isinya orang orang dari seluruh indonesia berkumpul... bahasa indonesilah pemersatu komunikasi kami... top artikelnya..

    BalasHapus
  17. eh, ada banyak yang komentarnya belum saya balas. maaf, yaaa :)

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!