Selasa, 17 Juli 2012

Aku Benci Puisi

Dua anak lelaki berjalan telanjang kaki menapaki rerumputan. Sesekali mata mereka melihat ke bawah, khawatir menginjak kotoran kambing atau lembu yang sering ber’tamasya’ ke pantai Rindu Alam. Makin dekat ke pantai, rerumputan makin jarang. Yang tersentuh oleh kaki mereka kini hanya pasir putih.

Setelah berjalan sebentar, mereka pun sampai di dekat karang. Dengan tangkas mereka naik ke atas karang lalu duduk di atasnya. Lalu, ritual kebiasaan mereka pun dimulai. Menikmati suasana senja di pesisir barat Sumatera lalu menanti mentari terbenam di Samudera Hindia. Bila beruntung, mereka bisa melihat lumba-lumba.

pemandangan dari atas karang di Pantai Rindu Alam

“Pe-er dari Bu Suri sudah kaukerjakan?” tanya Salman tanpa mengalihkan pandangannya dari birunya laut, berharap akan ada lumba-lumba yang muncul.

“Belum. Aku malas. Kenapa pula Bu Suri memberi tugas membuat puisi? Aku, kan, benci puisi,” sahut Darwis sambil mengacak-acak rambut keritingnya. Sebal.

Refleks Salman pun menoleh. “Kenapa benci?”

“Puisi itu aneh. Bisa-bisanya wajah orang disamakan dengan rembulan. Rembulan itu tidak punya mata, tidak punya hidung,” kata Darwis berapi-api.
“Kau ingat pelajaran IPA kemarin? Bulan itu tidak bersinar. Bulan cuma memantulkan sinar matahari. Dan kaulihat puisi-puisi di buku pelajaran? Katanya bulan bersinar! Apa itu bukan bodoh namanya?”

Salman hanya terdiam dan menghela napas. Menyesali pertanyaannya yang membuatnya harus mendengarkan luapan kekesalan Darwis.

“Nah, satu lagi. Kau ingat minggu lalu? Kita diberi contoh puisi yang kata-katanya ‘ombak menari’. Kaulihat sana! Mana ombak menari?” lanjut Darwis sambil mengarahkan tangannya ke arah pantai.

Salman terdiam, tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak mau menjawab. Ia lebih suka memperhatikan perahu-perahu nelayan di tengah lautan, sambil menunggu munculnya lumba-lumba tentunya.

“Hei, kau ini dengar tidak apa yang kubilang tadi?” Darwis menyikut keras kawannya yang kurus itu. Untung saja Salman tidak sampai terjatuh dari atas karang.

Salman melirik malas. “Kau ini memperhatikan pelajaran Bu Suri tentang kiasan? Ya, yang kaubilang wajah seperti rembulan itu termasuk kiasan. Kita juga sudah belajar majas, kan? Ombak menari itu termasuk majas,” jelasnya.

“Tetap saja aneh. Kiasan dan majas itu aneh. Puisi itu ANEH!”

“Ya, sudah. Kaubuat puisi yang tidak pakai kiasan dan tidak pakai majas. Apa payahnya?” sahut Salman sambil merebahkan badan. Bosan menunggu lumba-lumba yang tak kunjung muncul.

“Memangnya boleh?” tanya Darwis.

“Memangnya tidak boleh? Memangnya Bu Suri bilang harus pakai kiasan?” Salman balik bertanya.
Darwis hanya menggeleng. Seingatnya memang hanya disuruh membuat puisi. Itu saja.

“Memang boleh?” Darwis masih ragu. Ditatapnya kawannya yang masih santai memandang langit. Yang ditanya malah membalikkan badan. Mengalihkan pandangannya ke sisi pantai yang menjorok ke laut. Darwis yang penasaran pun menggoyang-goyangkan badan kawannya itu. Bosan diusik, Salman pun kembali duduk.

Salah satu pemandangan di Pantai Rindu Alam

“Kalau tidak dilarang, berarti boleh. Macam orang disuruh buat lemang. Kalau tak diberitahu harus buat lemang pakai ketan atau ubi, berarti terserah dia. Mau pakai ketan boleh, pakai ubi pun boleh. Yang penting lemang. Pe-er kita pun sama. Cuma disuruh buat puisi, tidak ada aturan pakai kiasan atau tidak. Artinya, pakai kiasan boleh, tidak pun boleh. Yang penting puisi,” jawab Salman panjang lebar.

“Kalau dimarahi karena tidak pakai kiasan?”

“Belum apa-apa sudah takut dimarahi. Yang penting kerjakan dulu sesuai perintah. Kalau nanti dimarahi, ya, jawab saja seperti yang kubilang tadi. Tidak dijelaskan harus pakai kiasan atau tidak,” kali ini gantian Salman yang sebal.

“Kau yakin aku tidak akan dimarahi?” tanya Darwis lagi. Salman benar-benar sebal. Alih-alih menjawab pertanyaan Darwis, dia justru berteriak, “Lumba-lumba!” Darwis pun menoleh. Benar. Ada beberapa lumba-lumba yang melompat-lompat. Perbincangan tentang puisi pun terlupakan.


Tulisan ini diikutsertakan pada Hajatan Anak Pertama yang diadakan oleh Sulung Lahitani

ARTIKEL TERKAIT



24 komentar:

  1. lohsama dong aku juga gakbisa mengartikan puisi tapi tidak benci loh semoga sukses ya ngontesnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tokoh ini benci bukan karena nggak bisa mengartikan. Cuma nggak suka sama diksi-nya yang aneh.

      Hapus
  2. kalo aku suka bikin puisi tapi yang suaranya aneh2, kayak yang ditulis Sutardjo C. Bashri (Namanya mungkin salah tuls).

    Semoga menang fiksinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sutardji calzoum bachri *sok ngeralat*

      Hapus
  3. saya juga kalau bikin puisi punya masalah yang sama.... dengan kata kata kiasan seperti ini.... tapi kalau dibuatnya bagus jadi indah ya,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting makna puisinya, bukan keindahannya :p

      Hapus
  4. Ikutan lomba terus nih mbak mill, semoga menang kontesnya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, penasaran saya kalo ada lomba/kontes/GA :D

      Hapus
  5. aku juga benci puisi... eeee sebenarnya sih ga benci cuma entah kenapa agak sulit mengartikan yang tersirat dibalik untaian kata kiasan tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya, sih, cuma sebel kalo ada yang sok-sokan pake kata yang susah.

      Hapus
  6. aahh, meskipun saya suka baca puisi, tapi jujur, saya ga terlalu pandai nulis puisi. lebih sering nulis cerpen. hihi

    Sudah terdaftar sebagai peserta Hajatan Anak Pertama ya, mbak
    Terima kasih atas partisipasinya.
    Ditunggu ya pengumumannya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, saya tunggu hadiahnya. menang gak menang, tetep kirim hadiah, yaaaaa! *ini mah ngrampok*

      Hapus
  7. hahahaha asyik sekali nih. Yah namanya juga Selera, dan yang namanya selera memang tidak dapat diperdebatkan. Dari Brebes ya. Saya ada teman juga dari Brebes dan sekantor sama saya. katanya Brebes ngetop sama Telur Asin. Benarkah?

    Salam dari Blogger Pontianak. Numpang Follow ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Brebes terkenal dengan telur asinnya.

      Hapus
  8. Kalau pas menjumpai puisi yg bisa aku pahami bahasa dan maksudnya, aku suka2 saja. tapi, kalo pas ketemu puisi yg bahasanya super indah sampai susah memahaminya, ya terpaksa tepok jidat lalu mendengus panjang terus lempar ke tong sampah deh itu puisi. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, iya. sebel saya kalo bahasanya sok indah tapi malah akhirnya pesannya nggak sampai.

      Hapus
  9. Aku juga sebal sama tugas puisi...
    Yang banyak kiasan seringnya dinilai lebih apik dibanding yang nggak pakai kiasan... padahal kan belum tentu T.T
    Wajahmu kayak rembulan,
    grenjel-grenjel sih akeh kukule... -____-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Unaaaaaaa! Itu dia yang sering diomongin aku sama temen-temenku. Kalo muka kaya bulan, malah gak halus, gak mulus, jerawatan. Kan, bulan permukaannya nggak rata. Kata temenku jeglag jeglug.

      Banyak, kok, puisi yang nggak pake kiasan tapi bagus.

      Hapus
  10. Keren, pemilihan kalimatnya bagus :D

    Mohon difollowback, terimakasih :}

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak janji, ya. Kalo saya mood ntar saya folbek. Kalo nggak mood ya, maaf :)

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!