Sabtu, 28 Juli 2012

Cerita Anak SMA: Pembantaian

Gambar pinjam di sini
Orang-orang bilang masa SMA adalah masa yang paling indah. Tapi, bagiku tidak. Meskipun bukan masa paling indah, aku tetap saja punya kenangan tak terlupakan di masa SMA. Tokoh utama dalam kenangan itu adalah guru Matematika bernama Bu A (nama disamarkan demi keselamatan, halah!). Aku mulai mengenal ibu yang satu itu di kelas 2 SMA (sekarang, sih, namanya kelas XI). Keberadaan Bu A ini membuat masa SMA-ku sangat ‘indah’ (ingat, ya, ‘indah’, bukan indah). Setiap kali Bu A mengajar, kami serasa berolah raga, tapi yang berolah raga cuma jantung, alias dag dig dug dhuer! Mengikuti pelajarannya berarti harus berkonsentrasi penuh. Setiap selesai menjelaskan satu materi, Bu A langsung menuliskan beberapa soal di papan tulis lalu menunjuk beberapa murid SECARA ACAK untuk mengerjakannya. Ini dia yang membuat kami sport jantung. Dan Bu A ini termasuk adil. Maksud adil di sini adalah semua murid di kelas bisa dipastikan mendapat giliran untuk maju. Kalau hari ini selamat dari ‘penunjukan’, tetap harus bersiap untuk ditunjuk besok atau lusa. Pernah suatu kali aku sedang malas jadi merebahkan kepalaku di meja tapi tidak tidur. Dan tanpa kusadari si ibu sudah berdiri di samping mejaku sambil meletakkan kapur di mejaku. Itu artinya aku disuruh mengerjakan salah satu soal di papan tulis. Mungkin dikiranya aku tidur, jadi aku disuruh maju agar tidak mengantuk lagi. Untung saja aku bisa mengerjakannya.

Selain disuruh mengerjakan soal di papan tulis, kami juga mendapat PR. Setiap pertemuan hampir selalu disuruh mengerjakan soal di LKS lalu dikumpulkan seminggu kemudian. Jadi, dalam seminggu bisa jadi kami harus mengerjakan lima puluh soal. Mantap! Tapi, kami lebih cerdas dari si ibu. Bisa dibilang mengerjakan PR adalah fardhu kifayah, alias kalau satu orang sudah mengerjakan, yang lain tidak wajib mengerjakan. Jadi, biasanya ada dua murid di kelas sebelah yang rajin mengerjakan PR dan kami cukup memfotokopi hasilnya lalu menyalinnya di buku PR kami. Hihihi, nakal sekali... Dan si ibu ternyata sangat teliti. PR kami dinilai. Kalau ada tulisan yang penuh coret-coretan atau bekas correction pen (type-X maksudnya), nilainya akan dikurangi. Sewaktu ada kawanku yang korupsi jumlah soal pun ketahuan dan mendapat catatan di buku PR-nya. Hadeuh! Masalah pengurangan nilai karena coret-coretan dan type-X ini pun berlaku sewaktu ulangan. Kalau tidak salah pernah ada kawanku yang ulangannya salah semua. Mestinya nilainya nol. Tapi, karena banyak coretan atau type-X, nilainya pun jadi minus. Kata Bu A, “Jadi kamu utang nilai sama saya, ya!” Gubrak!

Selain mengajar kelas 2, ibu itu pun mengajar kelas 3. Dan ternyata murid-murid kelas 3 pun jadi korban. Pernah aku mendengar kakak kelas di perpustakaan berbincang dengan kawannya, “Habis ini pelajaran Bu A. Pembantaian.” Hahaha, emang iya. Kami seperti dibantai oleh soal-soalnya. Dan sepertinya murid kelas 3 lebih parah nasibnya. Awalnya aku menertawakan kakak-kakak kelas itu. Tapi, Alloh menakdirkan aku senasib dengan mereka. Di kelas 3 aku diajar Bu A lagi. Dan di hari pertama Bu A mengajar kami (setelah naik kelas 3), beliau langsung menuliskan di papan tulis tugas semester ganjil dan genap. Untuk tugas semester ganjil, kami disuruh mencari soal EBTANAS/UAN (kalau tidak salah) tujuh tahun terakhir, memfotokopinya, lalu mengerjakannya. Seperti biasa, dalam mengerjakan soal, langkah-langkah kami harus lengkap, runut, tidak boleh ujug-ujug muncul hasilnya. Sedangkan untuk tugas semester genap, kami harus mencari soal UMPTN/SPMB (apa namanya sekarang?) lima tahun terakhir, dan tentunya mengerjakannya. Mampuuus...

Meskipun kelihatannya berat, akhirnya aku bisa juga mengerjakannya. Dan tanpa mencontek. Yah, ada beberapa soal, sih, yang aku tidak bisa mengerjakannya jadi terpaksa melihat punya teman. Lebih kurang tiga soal yang jawabannya mencontek dari teman. Di akhir semester genap, kami pun jadi merasa hebat. Murid SMA seumuran kami sudah membuat dua buah buku, pembahasan soal EBTANAS/UAN dan pembahasan soal UMPTN/SPMB. Hanya saja buku kami dijilid sederhana dan tidak punya ISBN.

Kalau diingat-ingat, Bu A adalah guru paling keren. Dalam menerangkan materi, Bu A sangat jelas. Bukan cuma memberi rumus tapi juga menjelaskan konsepnya, dari rumus A diturunkan jadi rumus B, dan sebagainya. Pembantaian yang beliau lakukan lewat PR dan tugas, termasuk usahanya untuk ‘memaksa’ murid-muridnya berlatih. Untuk menguasai Matematika, tentu saja butuh berlatih, kan? Juga ketika menyuruh murid-muridnya mengerjakan soal di depan kelas. Dengan cara itu, beliau bisa mengetahui bila ada yang tidak paham dan bingung dalam mengerjakan soal. Bu A juga termasuk guru yang bertanggung jawab. Bu A pernah tidak mengajar untuk beberapa hari karena pergi umroh. Hal ini tentu saja menyenangkan bagi kami. Jam kosong gitu, loh! Bebaaaas! Tapi, ternyata beliau justru merasa berhutang. Dan setelah kembali, Bu A ‘membayar’ hutang tersebut dengan memberi kami pelajaran tambahan sepulang sekolah. Mestinya kami bersyukur karena materi yang tadinya kami pelajari sendiri bisa diperdalam melalui penjelasan dari masternya. Tapi, namanya juga anak sekolah. Mendapat tembahan pelajaran adalah hal yang menyebalkan, hehehe... Bu A juga perhatian, terutama pada murid yang nilainya mengkhawatirkan. Kami pernah mengadakan uji coba UAN. Dan ternyata ada beberapa anak yang nilainya di bawah target. Bu A pun dengan sukarela memberi ‘les’ pada mereka sepulang sekolah. Dan setiap bertemu salah satu temanku – yang nilainya mengkhawatirkan itu – Bu A akan menyapa dan berkata, “Belajar yang rajin, ya!”

Sebenarnya masih banyak cerita kami bersama Bu A. Tapi, tak usah diceritakan saja, lah. Yang jelas, aku beruntung diajar oleh guru senior dan penuh dedikasi seperti Bu A dan guru lain yang satu spesies dengannya. Semoga semakin banyak guru yang berkualitas dan berdedikasi di negeri ini.

ARTIKEL TERKAIT



20 komentar:

  1. wakakakakak ini tenan bu guru A, eeh dlu juga ada lho guru bahasa indonesia ku kalau kasih tugas ada setipoan gitu nilainya jelek,lha parah guru A pake nilai minus kayak mata minus ae, wakakakak :p

    Cerita SMA itu menyenangkan walaupun dag dig dug dueer :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Embeeer! Fenomenal itu kejadian nilai minus. Bikin sejarah, ada murid utang nilai sama guru.
      Kalo guru Bahasa Indonesia-ku malah ga terlalu ngurusin tip ex2 an.

      Hapus
  2. ee.. judulnya sepertinya kurang hot gitu.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu diganti judulnya jadi "Kawah Merapi" biar hot?

      Hapus
  3. wah, matematika ya? kalo guru matematikaku ganteng ey, jadi lumayan ada sedikit hawa segar saat belajar matematika :D Cara ngajarnya enak lagi, :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuh, kalo gitu mah malah jadi merhatiin gurunya, bukan pelajarannya :p

      Hapus
  4. tapi ga ada guru yg akan tega ngasih nilai muridnya minus di raport :D

    *kalau nilai minus di ulangan sih iya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuh, kalo sampe nilai di rapor minus, sadisnya udah level alakazam ibu itu -__-"

      Hapus
  5. sadiiisss guru nya hahaha...
    tapi murid2 nya jantungnya pasti pd kuat semua, kan udah biasa olahraga jantung :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berhubung olah raganya udah bertahun2 yang lalu, sekarang udah gak sesehat dulu jantungnya :D

      Hapus
  6. Sebetulnya maksudnya dikurangi nilai anak yang sering banyak nyoret/tip ex itu apa ya? Karna curiga hanya nyalin atau karna apa? Kalau karna curiga, kasihan juga anak yang ngerjain PR di rumah, tapi banyak coretan... :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya karena nggak rapi Nuel jadi nilainya dikurangi.

      Hapus
  7. baca ini jadi inget deg degkahn kalau disuruh mau tapi ga bisa mengerjakannya.... apalagi tidak belajar.. khan malu ya.... hehehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nggak bisa juga ujung-ujungnya diajarin gurunya :D

      Hapus
  8. Sama banget ini kayak guru Fisika SMA aku, bu D.
    Tiap mau quiz, anak2 udah langsung heboh ngetem nomor soal yang bakal dikerjain, dan kalo ada yg ga kebagian, langsung minta ke 1 anak pinter di kelas yang udah ngerjain semua soal quiznya. Hahaha

    Salam kenal yaah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuh, SMA udah pake quiz2an, yah? Ckckck!

      Yah, begitulah. Anak pinter dan rajin memang bisa diandalkan :D

      Hapus
  9. Bu A itu guru teladan. Dia memastikan seluruh muridnya mengerti dengan materi yang diberikannya. Beruntung dirimu Mbak punya guru seperti ini di SMA. Semoga beliau sekarang masih sehat ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener-bener guru teladan.
      Aamiin, semoga beliau masih sehat.

      Hapus
  10. Ish, keren kali gurunya. Karena dulu suka banget Matematika jadi pengen diajar Ibu A. Pastinya ujin gak lagi jadi momok ya..

    Salut buat Bu A.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teteeeeep, ujian momok buat kami. Lha, wong kami generasi kedua yang kena UN yang pake nilai minimal buat lulus -__-'

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!