Selasa, 17 Juli 2012

Belajar Bijaksana Menyikapi Alay

Ketika melihat adikku membuat nama samaran TPCOAS yang ternyata singkatan dari nama-nama idolanya (Taufik Hidayat, Patton, dan entah siapa-siapa saja), aku cuma tertawa sekaligus menertawakan. Aku menertawakan dia karena menurutku itu sangat konyol. Beuh, sampe segitunyaaa... Dan aku tertawa karena... karena... karena... dulu aku pun begitu. Hihihihi... Dulu aku pernah membuat nama samaran MIYOZA, singkatan dari Millati Yosuke Zamani. Yosuke? Siapa itu? Yosuke Fuma, salah satu tokoh dalam anime Wedding Peach. Lalu, Zamani? Zamani Ibrahim, vokalis SLAM. Hohoho, dulu sewaktu SD dan awal-awal SMP aku masih keranjingan musik tetangga sebelah, yang sekarang justru menurutku lebay cengkoknya.

Ketika adikku heboh menonton SM#SH, aku pun tak berani mencela. Yah, aku tak mencela di depannya meskipun menurutku gesture mereka terlalu lenjeh, gaya berpakaian yang aneh, tatanan rambut yang seperti "orang yang tidak punya sisir" dan aneh karena cenderung menutupi mata, dan segenap alasan untuk berkata, "Apa bagusnya cemes itu?" Aku memilih tidak menyatakan semua hal itu. Lagipula, sudah ada kedua kakakku yang lebih mantap dalam menyampaikan celaan yang sadis, kejam, tapi efektif membuatku tertawa ngakak. Aku tidak berani mencela kesukaan adikku karena dulu pun aku begitu. Aku pernah begitu terobsesi pada F4. Aku bahkan sampai berlatih menulis nama Mandarinnya Vic Zhou.

Ketika melihat adikku berteriak menyemangati Taufik Hidayat saat bertanding di Thomas Cup, aku juga cuma bisa tersenyum. Kenapa? Karena dulu pun heboh menonton Ricky Subagja dan Chandra Wijaya. Aduh, aduh, aduh... Jadi malu... Ternyata aku pun pernah (seperti) alay. Kenapa masih memakai kata (seperti)? Yah, karena definisi alay pun sampai saat ini belum baku. Anggap saja tingkahku itu alay. Deal?


Jujur, aku tidak terlalu suka melihat tingkah alay-nya. Mungkin, itu juga yang dirasakan kakak-kakakku waktu melihatku alay. Tapi, aku tidak terlalu berani mencibirnya dan menunjuknya sambil berkata, "Dasar alay!" Aku tidak berani semena-mena menghakimi sikapnya seakan-akan sikapnya itu sangat hina. Rasanya aneh mencela tindakan seseorang sementara aku sendiri pernah melakukannya.

Toh, lagipula tindakan adikku itu menurutku belum berlebihan. Dia tidak sampai ngotot minta dibelikan album SM#SH dan Cherrybelle, tidak memasang posternya, dan tidak merengek untuk menonton konsernya. Dia juga tidak terpengaruh fans lain yang sampai mendirikan agama dua boyband-girlband itu. Dan kalau mengirim sms pun dia tidak menggunakan gado-gado huruf besar-kecil dan angka.

Apa berarti aku membiarkannya? Hmm... Tidak juga. Aku masih mengawasinya. Hanya saja, aku berusaha tidak terlalu mengaturnya. Mungkin aku terpengaruh sikap Abahku dalam menghadapiku. Abah tidak protes ketika melihat di bukuku tertulis "I Love You Chandra Wijaya". Abahku tidak berkomentar ketika aku rela begadang demi menonton Meteor Garden. Toh, pada akhirnya aku mengerti penting tidaknya melakukan hal-hal itu. Mungkin saat itu Abahku juga percaya, seiring dengan berjalannya waktu, aku bisa sedikit lebih dewasa dan bisa mengurangi sifat burukku, salah satunya berlebihan dalam mengidolakan seseorang. Jadi, aku pun membiarkan adikku seperti itu. Karena aku percaya, dia akan beranjak dewasa dan akan memahami mana yang baik dan buruk. Yang perlu dilakukan saat ini mengontrolnya agar tidak melenceng dari aturan agama.

Lagipula, terlalu mengekang juga sepertinya bukan pilihan yang tepat. Dengan mengatakan "Kamu alay! Nggak boleh kaya gitu!", apakah dia akan berhenti bersikap alay? Tidak. Remaja sekarang justru cenderung menentang larangan yang diberikan. Makin dilarang malah makin menjadi. Ibarat main layang-layang. Tidak bisa terlalu keras menarik benang ketika banyak angin kencang. Bisa-bisa malah putus.

Ada yang mengatakan bahwa alay adalah proses pendewasaan diri. Ada yang tidak setuju dengan pendapat itu dengan mengatakan bahwa ada banyak orang yang bisa dewasa tanpa melewati fase alay.  Lalu, bagaimana menurutku? Yang jelas, bagiku bukan fase yang harus ada dalam proses pendewasaan diri seseorang. Tapi, alay juga bukan fase yang bisa dihilangkan dalam sekejap. Sometimes, it takes time. Setiap orang punya proses pendewasaan diri yang berbeda-beda. Ada yang melewati masa alay, ada yang tidak. Yang mengalami masa alay pun, berbeda-beda 'lama' melewatinya. Ada yang hanya perlu waktu sebentar menjadi seorang alay untuk kemudian menyadari tidak perlunya sikap-sikap itu. Ada juga yang perlu waktu lama untuk 'terlepas' dari sikap alay. Namanya juga manusia. Berbeda kecepatan dalam belajar, termasuk belajar menjadi dewasa.

Yang penting sekarang, bagaimana caranya kita mengontrol keluarga kita agar tidak alay atau setidaknya kadar alay-nya tidak berlebihan. Tentunya tanpa merendahkan dan mencibir mereka yang alay. Sebagai orang yang sering merasa sudah dewasa (dengan asumsi "tidak alay = dewasa"), mestinya kita juga lebih bijaksana dalam menghadapi sikap orang lain, kan?

*nasihat untuk diri sendiri agar tidak mudah men-judge orang lain*

ARTIKEL TERKAIT



26 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Yah, tereak kegirangan pas nonton bulutangkis mah belom ada apa-apanya. Lah saiah? Sampe dateng ke Pelatnas PBSI (deket sih dar rumah) buat minta tandatangan si Taufik Hidayat. Kabur pula dari sekolah. Pulang kena marah gara-gara saiah make saputangan saiah buat ditandatanganin. Trus dipajang di meja belajar. Kalo ada temen yang dateng dan liat, saiah pamer dong! :D

    BTW, kalo ini pasti pertamax! *yakin*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya... Saya... Saya... Takjub! Ada gitu yaaaaa yang ampe dibela-belain ke Pelatnas :D
      Untung saya nggak tinggal di Jakarta waktu itu. Bisa-bisa ikutan juga ke Pelatnas nguber Chandra Wijaya :D

      Kali ini belum pertamax. Tuh, ada Arif.
      Tapi, yang kemarin pertamax, kok. Dua kali kayanya. Jangan kecil hati, yaaaaa... *seolah-olah*

      Hapus
    2. Itu Om Arif komentarnya diapus. Berarti ini pertamax. *keukeuh*

      Hapus
    3. Kasiiiiih, daaaaaah! Pertamax, daaaaah :p

      Hapus
  3. setuju banget sama postingan mbak yang ini! bener banget tuh!
    tapi sayangnya aku gak punya adik, cuman punya kaka! jadi mungkin kakaku juga kewalahan melihat tingkah (yang seperti) alayku dimasa lalu -_-

    tapi semoga aku bisa menghindari diriku sendiri dari dari hal-hal yang berbau alay! soalnya kakaku sudah menikah, mana mungkin dia mengontrolku lagi, untuk urusan keluarganya saja sudah cukup extra dilakukannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, kayaknya kakaknya empet juga sama kaya kakakku :D

      Hapus
  4. wah bahaya tuh, memang kita harus mengontrol tontonan adik2 kita, apalagi dari sikap-sikap alay yang kurang pantas dilihat yang diajarkan tontonan tadi.

    kata temenku, tontonan yang kurang pantas biasanya diberi tanda bintang (*) agar tidak terlalu frontal bacanya seperti f*ck, sh*t, atau semisalnya SM*SH << loh loh yang terakhir bener gak ne, haha.... :P

    BalasHapus
  5. Lagi jamannya kali ya mbak, jadi anak sekarang rata2 mengalamu fase alay itu.

    BalasHapus
  6. gak berani nyela karena beda umur mungkin ya hehehe, coba kalau kita masih ABG mungkin alay juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan karena beda umur. Cuma nggak mau merasa sok paling benar sendiri. Toh, dulu saya pernah kaya gitu, dan kalau dulu saya dicela, pasti sakit hati dan ujung-ujungnya malah jadi antipati.

      Hapus
  7. Waktu dulu masih remaja, aku juga suka 'Alay'. Aku bikin nama 'Isabell'. Kurasa namaku kurang bagus, makanya kupakai nama itu. Tapi tidak kuproklamirkan sih. Cuma sempat kutulis saja dalam buku catatanku. Intinya, mau gaya aja.
    Tapi lama-lama ku mikir, ngapain aku mau gaya, lha wong namaku aja udah keren kook *pletak :D*
    Eniwe, zaman udah berubah ya. Alay-nya anak zaman sekarang bikin abege zaman baheula kaya geleng-geleng kepala :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan-jangan karena lagunya Search yang Isabella? :D

      Iya, anak sekarang ada yang alay-nya terlalu parah.

      Hapus
  8. adekku juga gitu Mil, tapi tak biarin aja dia masang poster2 gaul artis idolanya. Soale dulu aku juga ngefans berat beberapa artis dan suka lagu2 luar. memang ada masanya nanti juga gak alay lagi,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Biarkan dia berproses secara alami. Ntar lama-lama nggak alay lagi (semoga).

      Hapus
  9. saya kok melihat alay itu sebagai proses pendewasaan saja sih... ini memang lagi trend saja..
    nanti kalau sudah umurnya juga malu sendiri... biarkan saja kalau menurut saya sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Kalau sudah dewasa, lazimnya malu sendiri dengan tingkah alay nya.

      Hapus
  10. miiillll...aku buat contekanceritamu di blog akuuuhhh...gpp yaah :)

    BalasHapus
  11. miiiilll...akuh buat contekan cerita ini di MPkuuhh...gpp yaaah ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boyeh, tapi pasang link ke tulisan ini, yak. Biar daku tambah eksis :p

      Hapus
  12. baru nyadar ternyata saiah dulu alay *nonton meteor garden, nyari posternya dan beritanya*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sampe dibeliin piring (plastik) yang gambarnya F4 sama ibuku :D

      Hapus
  13. Sebetulnya alay itu sampai sekarang gak jelas sih maknanya. Apalagi itu bukan bahasa baku, kan? Yah oleh karna itu, siap2 aja kalao ada tindak tanduk kita yang dibilang alay sekarang. :D

    Kalau soal ceritanya kamu, aku juga pernah. Dulu waktu telenovela Amigos masih tayang, aku sempet ngefens sama artisnya yang jadi si Ana. Saking ngefensnya, fotonya yang ada di Fantasi, kucium2 dan ampe punya hasrat pengen pacaran sama dia suatu hari nanti. Hahaha.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nueeeeel! Fotonya si Ana ampe dicium-cium gitu? Horror!
      Aku mah cuma bikin semacam scrapbook fotonya Pedro sama Ana doang. Gak pake cium-cium. Tapi, sempet imajinasi juga punya suami kaya Martin Ricca (Pedro).

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!