Kamis, 05 Juli 2012

Membawa 'Pesan'

Ketika kita ‘membaca’ suatu karya, entah itu novel atau film atau apapun, yang bisa kita dapatkan adalah pesan atau nilai moral. Lalu, bagaimana apabila posisinya dibalik? Bagaimana ketika kita hendak membuat suatu karya, entah menulis cerita atau membuat naskah film? Idealnya kita harus punya ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan melalui karya tersebut. Suatu karya bisa menjadi media komunikasi dengan orang lain. Suatu alat untuk ‘berbicara’ dengan orang lain. Ketika kita menulis tanpa membawa ‘pesan’, sama saja seperti orang ngomong ngalor ngidul tidak jelas juntrungannya.

Memang, ada sebagian orang – entah yang dikaruniai kebijaksanaan luar biasa atau malah orang yang dikaruniai sifat detail yang rese – yang bisa menemukan ‘hikmah’ dari perkataan yang ngalor ngidul. Tapi, orang semacam ini tidak banyak. Tidak banyak orang yang bisa belajar dari hal yang memang tujuannya bukan untuk dipelajari. Misalkan ada beberapa orang menonton film yang ceritanya cuma berkisar cinta laki-laki dan perempuan yang gitu-gitu doang. Bisa jadi memang ada orang yang cukup bijaksana yang setelah menonton film itu dia jadi berpikir tentang perbedaan cinta sejati dan cinta yang semu. Yah, bisa jadi dia menjadikan cinta dalam film tersebut sebagai contoh cinta yang semu. Dan aku tidak yakin orang spesies itu banyak jumlahnya. Atau misalnya ada beberapa orang menonton film horor tentang pocong yang beranak di dalam kubur (ada gitu pocong beranak dalam kubur?). Mungkin akan ada yang jadi terinspirasi untuk membuat film tentang perlunya bidan di alam kubur. Mungkin juga akan ada yang berpikir betapa tidak logisnya film tersebut dan betapa film tersebut tidak sesuai dengan ajaran agamanya. Dengan menonton film tersebut, dia pun jadi berpikir dan belajar memilah mana yang perlu dipercayai dan mana yang harus diingkari. Dan sekali lagi, aku tidak yakin orang seperti itu banyak.


Jangankan untuk suatu karya yang tidak membawa ‘pesan’. Sesuatu yang sebenarnya membawa ‘pesan’ pun tetap memiliki kemungkinan untuk disalahpahami yang berakibat ‘pesan’ itu tidak sampai. Apalagi kalau tidak punya ‘pesan’. Apa yang mau disampaikan? Apa yang bisa didapatkan dari karya tersebut? Hanya hiburan? Alangkah sayangnya. Padahal, suatu karya (khususnya seni) sangat efektif untuk dijadikan media penyebaran ide. Bahkan, suatu karya bisa dijadikan sebagai alat propaganda. Tentu sudah banyak ahli yang menyebutkan betapa efektifnya film Rambo untuk menciptakan ilusi dalam pikiran penontonnya tentang hebatnya Amerika. Padahal, kenyataannya tidak hebat-hebat amat. Atau betapa hebatnya efek film G30S yang berhasil membuat penontonnya anti pada ideologi tertentu. Atau lihat betapa berhasilnya seorang Tere Liye, lewat Serial Anak-Anak Mamak-nya,  menanamkan dalam benak pembacanya tentang besarnya kasih sayang seorang ibu. Suatu alat yang bisa berefek dahsyat, masa hanya digunakan untuk efek yang seuprit? Cuma menghibur?

Nah, begitu juga dengan blog. Lewat blog, seharusnya kita bisa membuat tulisan yang penuh dengan ‘pesan’. Seharusnya kita bisa membuat pembaca menangkap ‘pesan’ kita. Kalaupun kita tidak bertujuan membuat pembaca mengikuti kita, setuju dengan pendapat kita, setidaknya kita bisa membuat pembaca mendapatkan pemikiran alternatif yang bisa dipertimbangkan untuk diterima atau justru dibantah. Kalau tulisan diibaratkan kue, tulisan yang tidak membawa ‘pesan’ sama halnya dengan makanan tanpa gizi. Mungkin tampilannya indah, membuat orang yang melihatnya menjadi senang. Tapi, kalau tanpa gizi, buat apa? Dan sekarang pertanyaannya, sudahkah tulisan dalam blog “Hari Baru, Lembaran Baru” ini memiliki, membawa, dan menyampaikan ‘pesan’? Tidak usah dijawab. Aku akan sangat malu kalau jawabannya ternyata belum.


*harap diingat, aku bukan penulis novel, bukan penulis skenario film, bukan sutradara, jadi tulisan ini hanya pendapat seorang pengamat dan penikmat karya (khususnya seni)*

ARTIKEL TERKAIT



31 komentar:

  1. pesan akan sampai jika kita menyampaikannya dari hati ya, mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Yang diucapkan dari hati akan sampai ke hati.

      Hapus
  2. bener juga sih setiap karya baik berupa tulisan, suara maupun gambar pasti ada pesannya
    tapi ada juga sih yang tujuannya untuk mencari keuntungan saja hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iya, ada yang cuma mencari keuntungan. semoga nggak banyak yang seperti itu.

      Hapus
  3. pada intinya, semua menyampaikan pesan ya
    menyanyi, menulis lagu, menulis cerita, menulis film... menulis blog juga

    BalasHapus
  4. kayanya tulisanku diblog jauh dari pesan deh selama ini :)

    BalasHapus
  5. wDuhh...klo blog mimi cuma crita biasa aja. mlh ga prnh ada pesan yg bisa diambil d dlmnya. ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita biasa belum tentu tidak membawa pesan, kan?

      Hapus
  6. kesan yang membawa pesan
    semoga tulisan kita bisa bermanfaat untuk orang lain ya mbak

    BalasHapus
  7. Mudah-mudahan pembacanya tidak salah menangkap 'pesan' yang ingin disampaikan.. :)

    BalasHapus
  8. tugas kita sebagai blogger adalah menyampaikan... dengan harapan pesan dapat diterima dengan baik... selebihnya yang membalikan hati adalah Yang Kuasa

    BalasHapus
  9. rajin amet ngeblogna...ngiriiii....hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maklum, Mbak. Saya setres kalo nggak nge-blog :D

      Hapus
  10. Ga mesti membawa pesan menurut saya, yang penting ada inti nya, mau pesan ato hanya sekadar info.

    yang pasti jangan ampe blogging nya hiatus, takutnya kalo ditargetkan kudu punya pesan di tiap postingannya malah ribet bikin postingannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaelah, yang namanya pesan, kan, bisa banyak bentuknya.

      Hapus
  11. Saya juga mau bawa pesan... persahabatan
    Masih marah ya Ndah, atas koment nyolotku kemaren2 ? Haha... maaf maaf kan cuman contoh itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sorry, aku wis terlanjur gak respek karo kowe.

      Hapus
  12. Karena blog saya adalah jurnal pribadi, yang mana isinya semua adalah cerita2 seputar saya jadinya yah gak sarat dg "pesan" karena semua mengalir apa adanya, layaknya sedang menyampaikan isi hati. toh jika dalam catatan itu ada org yg bisa mengambil pengajaran, Alhamdulillah. yg penting isi blog gak sesuafu yg menyesatkan. itu aja sih kl sy :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang, cerita kehidupan sehari-hari pun bisa jadi 'media' menyampaikan pesan.

      Hapus
  13. Betul Millati, saya setuju denganmu bahwa selayakanyalah sebuah karya sepeti film dan buku membawa pesan yang positif, bukan asal menghibur. Tapi gimana juga ya, kenyataannya memang banyak koq orang yang suka karya yang hanya menghibur, yang "gitu2 doang"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, karena banyak yang suka, jadi merajalela, ya?

      Hapus
  14. Setuju! \(^.^)/

    Cuman pesan yang berat entuh gak kudu disampein pake bahasa berat juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahasa di blog saya nggak berat, kan, yah?

      Hapus
    2. Kagak kok. Ngapaaaak.... *disetrum*

      Hapus
  15. Hm.... memang seyogyanya sih, setiap tulisan/karya harus mampu menyampaikan pesan moral bagi penikmat/pembacanya... #jadi mikir-mikir sambil ngetuk2kan jari di keyboard, blogku bermuatan pesan moral yang layak tidak yaaa? :)

    Aku sih, intinya menulis apa yang aku rasakan, yang aku fikirkan, mengalir saja dulu, karena blogku adalah tempat/pojokku untuk saling berbagi. Syukur-syukur ada hal positif yang bisa dipetik dari penuturan2ku disana....

    trims atas postingannya Mil, jadi mikir dan menilik ke blogku sendiri nih, apa yang telah aku hasilkan selama ini... hehe.

    Sengaja tidak menjawab pertanyaanmu, kan kamu minta tidak menjawabkan? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, kayanya blog kakak banyak pesan moralnya, kok :)

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!