Jumat, 27 Juli 2012

Sepatu Dahlan, Novel yang Sederhana tapi Menyentuh

Namanya Dahlan, lengkapnya Muhammad Dahlan. Seorang anak lelaki yang tinggal di sebuah desa bernama Kebon Dalem, Magetan. Hari itu adalah hari pembagian ijazah di SR Bukur, sekolah tempat Dahlan bersekolah. Di ijazahnya ada dua nilai merah yaitu untuk nilai pelajaran Berhitung dan Bahasa Daerah, sedangkan pelajaran lainnya ada yang bernilai enam, tujuh, delapan, dan sembilan. Sayangnya, nilai dua nilai merah tetap saja membuat bapaknya memarahinya.

Kemudian ibunya pun bertanya ke mana dia hendak melanjutkan sekolah. Dahlan pun menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke SMP Magetan. Sayangnya, bapaknya menentang. Dia menyuruh Dahlan untuk sekolah di Tsanawiyah Takeran. Satu keputusan yang tak bisa ditawar, kecuali dengan satu cara. Dan Dahlan berencana menggunakan cara itu. Pagi hari, setelah bangun tidur, dia menjalankan rencananya. “Aku mimpi bertemu Kiai Mursjid,” katanya. Demi mendengar nama seseorang yang sangat dihormatinya, Bapak pun langsung duduk bersila memandang Dahlan. “Apa pesan Kiai Mursjid, Le?” tanyanya. Dahlan pun menjawab bahwa kiai itu berpesan agar dia tidak berhenti sekolah. “Lalu kamu jawab apa?” tanya Bapak lagi. Dahlan yang semula berencana ‘menyalahgunakan’ nama Kiai Mursjid untuk membuat Bapak mengijinkan dia sekolah di SMP Magetan justru merasa bersalah. Dia tidak tega membohongi bapaknya. Pada akhirnya dia justru mengatakan bahwa dia akan sekolah di Pesantren Takeran karena Kiai Mursjid berpesan bahwa kewajiban utama keluarga mereka adalah menjaga kelangsungan Pesantren Takeran.

Dahlan dan Bapak pun pergi mendaftar ke Pesantren Takeran. Bapak pun membacakan kaligrafi yang ada di dinding salah satu bangunan pesantren. Tulisannya menggunakan huruf Arab tapi bahasanya menggunakan Bahasa Jawa.  Yang pertama, Ojo kepengin sugih, lan ojo wedi mlarat. Jangan berharap kaya, dan jangan takut miskin. Nasihat ini rupanya memiliki makna yang tidak seharfiah itu. Kelak, ketika Dahlan mendapat suatu amanah, Bapak menjelaskan bahwa kalimat “Ojo kepengin sugih” bukan hanya nasihat agar tidak terlalu memburu harta tapi juga juga berarti “jangan meminta-minta jabatan”. Yang kedua, Sumber bening ora bakal nggolek timbo. Sumur jernih tidak akan mencari timba. Kelak, ketika ada pemilihan pengurus santri bahwa itu adalah nasihat agar tidak menghabiskan waktu mencari jabatan, tetapi ketika mendapatkan amanah harus dilaksanakan. Yang ketiga, Pilih ngendi, sugih tanpo iman opo mlarat ananging iman. Pilih mana, kaya tapi tidak beriman, atau miskin tapi beriman.

Begitulah. Sejak itu Dahlan harus berjalan kaki sejauh enam kilometer, pergi dan pulang sekolah. Andai dia punya sepatu, perjalanan enam kilometer itu mungkin tidak akan membuat kakinya melepuh atau lecet-lecet, begitu lebih kurang yang ada di pikirannya.

Hari berlalu. Pagi itu, Dahlan menemukan ibunya sedang terbatuk-batuk lalu muntah darah. Bapak pun membawa Ibu ke rumah sakit. Dahlan ditinggal berdua dengan Zain, adiknya. Lalu adiknya mengeluh lapar. Tak tahan terus mendengar keluhan adiknya, Dahlan memutuskan mencuri tebu. Sayangnya, ia ketahuan. Ia pun dihukum mondok (kerja sukarela) minggu depan. Lalu Dahlan pun pulang membawa sebatang tebu untuk dia dan Zain. Sorenya, ketika mereka bingung mencari makanan untuk mengganjal perut mereka, Komariyah, kawan akrab Dahlan, datang membawa tiwul, ikan teri, dan sambal terasi.

Keesokan harinya, ketika pelajaran kosong, Dahlan bernyanyi dengan diiringi petikan gitar Kadir. Lagu dangdut berjudul “Beban Asmara”. Banyak teman yang menonton, salah satunya gadis bernama Aisha, yang kemudian memuji bahwa suara Dahlan bagus. Gadis inilah yang membuat Dahlan jatuh cinta. Sayangnya, Dahlan kemudian justru dihukum karena “mengganggu pelajaran” kelas lain. Dia dan Kadir dihukum untuk membersihkan sekolah besok.

Esoknya, Dahlan tidak (jadi) berangkat sekolah karena insiden sepeda bersama Maryati. Dia yang sudah setengah jalan pun memutuskan pulang ke rumah. Ternyata di rumahnya sudah banyak orang. Ibunya sudah dibawa pulang dari rumah sakit. Bukannya sudah sembuh, melainkan sudah meninggal.
Usai peristiwa menyedihkan itu, Dahlan tetap melanjutkan ‘hidup’nya. Dia tetap bersekolah. Dia pun masuk tim bola voli di sekolahnya. Tim mereka berhasil masuk ke babak final pertanding bola voli tingkat kabupaten. Sayangnya, untuk bertanding di final, semua pemain harus memakai sepatu. Dahlan tidak punya sepatu. Begitu juga Fadli, salah satu anggota tim mereka. Namun, ternyata kawan-kawan mereka sudah mengumpulkan dana untuk membeli sebuah sepatu bekas untuk mereka pakai. Mereka pun bisa bertanding. Sayangnya, sepatu itu kekecilan di kaki Dahlan maupun Fadli. Namun, semangat mereka tetap bisa membuat mereka memenangkan pertandingan. Dahlan pun melepaskan sepatu itu lalu mengalungkannya di lehernya.

Setelah mereka menerima piala, Pak Camat menghampiri Dahlan dan berkata, “Bisa kamu pakai lagi sepatumu? Bapak ingin merasakan lagi semangat juangmu.” Dahlan pun menurutinya. Dia memakai sepatu itu dan ternyata jempolnya melesak keluar. Teman-temannya tertawa. Tapi, Pak Camat sama sekali tidak tertawa. Dia menjabat tangan Dahlan dengan mata berkaca-kaca. Katanya, “Bapak dengar kamu pertama kali pakai sepatu?”

Well, itu adalah separuh ringkasan cerita Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara, novel hadiah dari Pakdhe Abdul Cholik. Sekali lagi, NOVEL. Aku tidak menganggap ini adalah biografi Dahlan Iskan meskipun sang penulis mengaku kisah ini terinspirasi masa kecil Dahlan Iskan. Salah sendiri menyebutnya novel, jadi aku menganggapnya totally fiksi, hehehe... Oh, ya. Kisah selanjutnya bagaimana? Baca sendiri, yak!

Menurutku ini novel yang sederhana tapi maknanya dalam. Sebuah kisah tentang seorang anak dengan cita-cita sederhana: sepatu dan sepeda. Bagi orang lain, mungkin itu hal remeh, tapi bagi Dahlan, itu sangat mewah. Novel ini juga mengajarkan tentang kemiskinan. Bahwa kemiskinan bukan alasan untuk mencuri atau melakukan hal tercela lainnya. Boleh miskin harta asal jangan miskin iman. Novel ini juga mengajarkan tentang kerja keras. Tokoh Dahlan ini bisa dibilang prigel. Rajin bekerja, meskipun usianya masih muda. Mulai dari angon domba, nguli nyeset, pokoknya apa saja. Saat aku seumuran dia mungkin kerjaku cuma baca majalah dan nonton televisi, hahaha!

Bagian paling menyedihkan adalah ketika ibu Dahlan meninggal. Sedangkan bagian paling mengharukan adalah dialog dengan Pak Camat di akhir ringkasanku tadi. Singkat. Tapi, entah kenapa sangat menyentuh.

Yang jelas, aku jatuh cinta pada novel ini. Dan semoga, ini bukan bagian dari pencitraan Dahlan Iskan, hehehe...

ARTIKEL TERKAIT



33 komentar:

  1. Saiah pernah mbaca bukunya Pak Dahlan ini yang "Ganti Hati". Di sana diceritakan juga sih tentang masa kecilnya, gak banyak tapi. Lebih banyak tentang pra dan paska operasi transplantasi hatinya. Pengen beli novel ini tapi gimana yaaaa? Saiah akhir-akhir ini beli novel cuman buat pajangan doang. Ada yang udah dibeli setahunan tapi baru dibaca beberapa lembar.... T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo pengen beli mah beli aja. Kalo ga dibaca pun tetep bisa jadi investasi (kalo bukunya bagus).
      Emang novel apaan yang belum kelar dibaca?

      Hapus
    2. gak papa dibeli aja mbak Octa, ntar kalau sudah bosan majang, bukunya diwariskan ke Rumah Bacaku aja, *ngarep


      Millati: suka sama postingan tentang buku, makasih ya, berasa udah baca satu buku jadinya.

      Hapus
    3. Tetep lebih seru baca satu buku, lah :p

      Hapus
    4. @Nurin: Banyak tuh buku yang udah selesai baca tapi gak mau dikoleksi kalau Nurin mau. Tapi kebanyakan teenlit sama chicklit. :D

      @Milo: Banyak. Ada novelnya Dee (Perahu Kertas), Jonathan Strange and Mrs. Norrel, setumpukan teenlit (ada kali 15 biji), 5 Menara (2 tahun dipinjem baru balik, pas udah balik lecek-kumel gitu), sama novel bahasa Inggris. Akhir-akhir ini aku lebih suka mbaca non fiksi tentang sejarah kuliner, sejarah rempah, atau ilmiah populer. Udah ganti selera mungkin. :D

      Hapus
    5. Beuh, hobi bener baca teenlit.

      Saya, dong! Udah tamat baca Perahu Kertas, tapi yang softcopy alias bajakan :D

      Saya lagi berencana baca nonfiksi (lagi), tapi masih cari2 buku nonfiksi yang menarik dan gak ngebosenin.

      Hapus
  2. aku juga salah satu penggemar pak dahlan. cerita hidupnya menginspiratif dan patut untuk kita contohi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, saya malah bukan penggemar Dahlan Iskan. Saya cuma suka novel ini. Itu saja.

      Hapus
  3. jadi pengen baca novel ini mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok, beli. Kalo nggak, cari temen yang punya trus pinjem. *mengingat jaman dulu, kerjaanku minjem novel temen*

      Hapus
  4. saya sudah baca bukunya, memang inspiratif sangat
    terharu saya membaca bagaimana perjuangan hidupnya
    yang saya yakin takkan sanggup menapak tilas perjalanan hidupnya yang miris itu
    tapi tak membuatnya lupa diri ketika berkesempatan mengendalikan milyaran uang
    diberkatilah Pak Dahlan, semoga selamanya amanah, sampai jejaknya menjadi RI-1 dikabulkan Allah :D *ngarep*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga terharu baca buku ini.
      Tapi, saya bukan salah satu pendukung Dahlan untuk jadi RI-1.

      Hapus
  5. pengaen bli tp pas ke tokbuk, bukunya kosong, andai ada yg ngasih #beueuh... maunya gratisan,, he...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, saya juga dapetnya gratisan :D

      Hapus
  6. Pengeeeeen punya buku ini. Mudaha-mudahan pas balik ke Aceh bisa beli deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nitip dibeliin suami aja, jadi pulang nanti tinggal baca :p

      Hapus
  7. wow bukunya pantes dibeli nih.... saya terinspirasi dengan kata kata :jangan berharap kaya dan jangan takut miskin... .. sinosisnya bagus... pak dhe tuh kalau ngasih buku bagus bagus ya... mantap...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ceritanya menarik dan menginspirasi.

      Hapus
  8. wah reviewnya ngena banget.. meski belum membaca novelnya, tapi maknanya hampir bisa kudapat @@

    wah menang kontes blogcamp lagi mbak, wow....

    wah, hebat banget mbak, bisa fast khatamin novel2 ya @@ minat bacanya tinggi sekali..

    bismillahirrohmanirrohim, ok, aku coba dua nasihat awal diatas :P

    Let's do our best.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan menang lagi, tapi ini hadiah yang dulu, baru nyampe dua hari yang lalu :p

      Hapus
  9. loh, bukannya cuma dapat blus batik @@
    #apakah ditambahi pakdhe dengan hadiah novel itu??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hadiahnya batik sama buku kok. Emang udah disebutin waktu kontes. Bukan ditambahin :p

      Hapus
  10. sy punya 1 bukunya ttg pa Dahlan.. dpt dr pakde juga.. Emang mengagumkan sosok pak DI ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, menang kontes di Blogcamp, ya?

      Hapus
  11. Ceritanya sangat menginspirasi ya.. Pengen baca novelnya jg nih.. Tp mau pinjem aja ah, ato nunggu ada yg ngasih gratisan.. Hihihi.. *ngarep*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo mau gratis, numpang baca aja di Gramed, sapa tau ada yang plastiknya udah dibuka :D

      Hapus
  12. Saya belum sempat membaca bukunya. Sejauh ini memang sangat ketinggalan. Saya baru membaca satu buku saja dari Pak Dahlan yang berisi dan berjudul "Ganti Hati".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya malah belum baca yang Ganti Hati.

      Hapus
  13. Aku penasaran sama Novel ini :)

    Baca ulasan singkatnya disini, jadi tahu, tfs yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi ini masih terlalu singkat. Lebih lengkapnya baca bukunya aja :p

      Hapus
  14. Aku penasaran sama tulisannya arab tapi bahasanya jawa itu... Emang bisa yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa, Nuel. Kitab-kitab jaman dulu banyak yang pake huruf Arab tapi bahasanya Jawa, Melayu, bahkan bahasa Aceh. Sama kaya huruf latin, bisa dipake buat nulis macem-macem bahasa, kan?

      Hapus
    2. luar biasa...perjalanan hidup yang patut diajungin jempol..

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!