Jumat, 22 Juni 2012

Adil dalam Kasih Sayang

Seorang adik sedang bersama kakak tertuanya, sebuat saja Mbak A. Setelah obrolan panjang lebar, tiba-tiba sang kakak berkata, "Si I, tuh, enak. Anak kesayangan ibu." Di lain waktu, sang adik bersama dengan kakak keduanya, Mbak I. Saat sedang bersama-sama mengeluh, Mbak I berkata, "Bapak, mah, lebih sayang sama Mbak A. Kalo dia salah, nggak pernah dimarahin. Marahnya malah sama kita." Sang adik pun diam. Yang ada di kepalanya sama dengan kedua kakaknya. Namun, dia punya keluhan yang lebih parah dari kedua kakaknya. Mbak A anak kesayangan Bapak, Mbak I anak kesayangan Ibu, Dek F anak kesayangan Bapak dan Ibu, dan aku bukan anak kesayangan Bapak ataupun Ibu, begitu pikirnya.

Kejadian di atas benar-benar ada. Dan kejadian di atas terlintas setelah membaca tulisan Pakdhe Abdul Cholik tentang bersikap adil kepada anak-anak. Dalam tulisan itu disebutkan hadits mengenai bersikap adil. Berikut ini hadits-nya:
Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir r.a, ia berkata, “Ayahku memberikan sebagian hartanya kepadaku, lalu ibuku Amrah binti Rahawah berkata, “Saya tidak rela sehingga kau persaksikan kepada Rasulullah Saw. Lalu ayahku dan aku pergi kepada Nabi Saw untuk mempersaksikan pemberian kepadaku tersebut, kemudian Rasullulah Saw bertanya kepada ayahku: ”Apakah kau lakukan pemberian itu kepada semua anakmu?”.
Ayahku menjawab: ”Tidak“. Rasulullah Saw bersabda: ”Jangan lakukan! Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah dengan adil terhadap anak-anakmu!” Kemudian ayahku pulang lalu menarik kembali pemberian tersebut. (HR. Muslim).

Lalu, apa hubungannya dengan cerita tiga bersaudara di awal tulisan ini tadi? Hubungannya? Keadilan dalam memberikan kasih sayang. Dalam mencintai anak, suatu hal yang wajar bila orang tua mencintai salah satu anak dibandingkan yang lain. Itu satu hal yang tidak bisa dihindari. Sebagai contoh adalah Nabi Ya'qub yang lebih mencintai Nabi Yusuf dibandingkan anak-anaknya yang lain. Namun, dalam mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak harus tetap sama. Jangan sampai seperti cerita di atas. Ketika satu anak bersalah, orang tua tidak tega memarahi, bahkan ketika kesalahannya sangat fatal sekalipun. Tapi, ketika anak yang lain bersalah -- meskipun kesalahannya kecil -- orang tua langsung memarahinya. Atau ketika anak-anak sudah merantau lalu pulang kampung. Ketika anak yang paling disayang pulang, sang ayah langsung menyambutnya di pintu masuk. Sedangkan ketika anak yang lain pulang, sang ayah tetap tidur di kamar menunggu anak masuk untuk salim (cium tangan).

Perasaan disayangi itu sangat penting terutama bagi anak-anak. Bila anak merasa dicintai dan disayangi, mereka akan lebih menghargai diri sendiri dan lebih percaya diri. Sedangkan bila anak merasa tidak disayang -- atau setidaknya merasa saudaranya lebih disayang dibandingkan dia -- bisa jadi anak akan merasa tidak berharga lalu menarik diri. Perasaan seperti ini bisa terbawa sampai dewasa. Bila perlakuan tidak adil ini terus terjadi sampai mereka dewasa, jangan kaget bila pada saat orang tua sakit sang anak akan berkata, "Mbak A aja yang merawat Bapak. Mbak, kan, anak kesayangan Bapak. Minta apa-apa sama Bapak selalu dituruti." Na'udubillaahi min dzaalik.

Semoga, bila kelak aku ditakdirkan menikah dan menjadi ibu, aku bisa menjadi ibu yang baik, penyayang, dan adil.

Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Bersikap Adil kepada Anak-anak tanggal 22 Juni 2012

ARTIKEL TERKAIT



7 komentar:

  1. adil memang susah.... tapi ada baiknya kita tetap berusaha... perhatian kadang kadang bisa diteriam kurang oleh orang lain...

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang susah, sih. pinter-pinternya orang tua aja.

      Hapus
  2. Sahabat tercinta,
    Saya telah membaca artikel anda dengan cermat.
    Artikel anda segera didaftar.
    Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam hangat dari Blangpidie :) Dimenangin, ya, Pakdhe :)

      Hapus
  3. tulisan yang sangat menarik Mil.... bener banget, berlaku adil terhadap anak-anak adalah suatu keharusan, dan semoga kita mampu menjadi orang tua yang mampu berlaku adil nanti yaaa.... Insyaallah... amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wehehehe, ada komentar dari seorang ibu, nih. Yup, semoga kita bisa jadi orang tua yang adil.

      Hapus
  4. mantap muda''han ada manfaatnya buat kita smua. AMIIN

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!