Senin, 25 Juni 2012

"Cinta Sejati"-nya Tetangga Sebelah

Gambar pinjam di sini
“Zarif, kau sibuk ke sekarang ni?”
Zarif yang sibuk menulis di mejanya segera mendongak. Wajah Baharin yang tersembul dari balik pintu dipandang sekilas. Dia mendengus kecil sebelum mengurut dadanya perlahan-lahan.
“Kalau iya pun Baha, bagilah salam dulu. Terkejut aku,” ujar Zarif, menggeleng beberapa kali. Kemudian dia tunduk semula menyambung kerjanya yang terhenti.

Membaca halaman awal novel ini membuatku bingung. Sepertinya ada yang tidak normal. Kuteruskan membacanya. Kemudian aku menemukan kata ‘kat’ yang menguatkan kecurigaanku. Beuh! Ini, sih, bukan novel Indonesia! Langsung kuperiksa halaman keterangan buku. Heuheuheu... Ternyata novel tetangga. Itu, tuh... Malaysia.

Aku pun memutuskan untuk melanjutkan membaca novel hadiah giveaway-nya Eksak ini. Dengan satu pesan untuk diri sendiri: SIAP-SIAP ROAMING! Maklum, selama membaca tulisan blogger Malaysia, selalu berujung pertanyaan, “Ini ngomongin apaan, sih?”. Atau pertanyaan, “Eh, kosakata ini artinya apa?” Tapi, ternyata bahasa dalam novel ini tidak terlalu roaming. Yeah, tolong dicatat: tidak terlalu. Jadi, masih ada roaming-nya, hehehe... Setidaknya memahami novel ini tidak sesulit memahami tulisan blogger Malaysia. Mungkin karena dalam blog orang cenderung menggunakan bahasa gaul atau prokem atau slang yang tentunya berbeda antarnegara.


Novel ini bercerita tentang kisah cinta beberapa anak manusia. Ya, iyalaaah! Judulnya saja Cinta Sejati. Yah, siapa tahu ada anak Rohis yang terkecoh dan mengira ini cerita tentang cinta sejati kepada Alloh dan Rosul-Nya. Bukan tentang itu, ya...

Tokoh utama dalam novel ini ada empat, Zarif, Zara, Yashmaan, dan Mia (Sarah). Zarif dan Mia adalah seorang dokter (di novel ini disebut doktor). Zara (sepertinya) seorang arsitek. Sedangkan Yashmaan adalah seorang pengusaha. Zarif dan Zara merupakan sahabat sejak kecil. Mereka bersama-sama kuliah di London. Dan sepulang mereka dari London, mereka dinikahkan. Padahal Zarif sudah berniat melamar gadis lain. Tapi, dia tetap menuruti orang tuanya. Mereka pun menikah. Tapi, setelah mereka menikah, mereka tidak bersikap sebagaimana lazimnya suami istri. Tahu, kan, maksudnya? Setelah beberapa bulan kemudian, terbongkarlah rahasia bahwa mereka tidak berbuat sebagaimana mestinya sepasang suami istri. Orang tua mereka marah. Mereka pun diusir (dalam novel disebutkan ‘dihalau’ dan aku menduga kata ‘dihalau’ itu artinya diusir). Kemudian Zarif dan Zara memutuskan berpisah. Bukan bercerai, hanya berpisah untuk memikirkan jalan keluar yang terbaik. Mereka berpisah selama tujuh tahun. Dan selama itu ternyata mereka sudah saling jatuh cinta tapi tidak saling tahu perasaan pasangannya jadi semacam khawatir cinta mereka bertepuk sebelah tangan.

Lalu, bagaimana dengan Yashmaan dan Mia? Yashmaan dan Mia ini sama-sama kuliah di California. Yashmaan berpacaran dengan Mia, lalu saat badai salju mereka melakukan tindakan terlarang hingga kemudian Mia berbadan dua. Please, jangan berpikir bahwa berbadan dua itu berarti Mia membelah diri seperti amoeba. Bukan itu! Yashmaan tidak mau bertanggung jawab. Akhirnya Mia menikah dengan Adam. Ternyata, Yashmaan yang sebelumnya cuma pura-pura mencintai Mia, kemudian justru sungguh-sungguh jatuh cinta pada Mia. Sayangnya, Mia sudah menikah dengan orang lain. Terus? Bagaimana kelanjutannya? Baca sendiri, hehehe...

Menurutku buku ini lumayan. Yah, meskipun kurang sesuai seleraku. Aku kurang suka cerita cinta. Tapi, dengan buku ini aku bisa belajar beberapa kosakata Melayu Malaysia. Aku jadi tahu mereka menyebut tempat tidur dengan kata ‘katil’. Padahal, di Indonesia, khususnya Jawa, katil itu artinya keranda. Horror ketika diceritakan tokoh dalam novel ini merebahkan diri di atas katil. Wew! Aku juga tahu mereka menyebut kursi dengan kata ‘kerusi’. Mereka juga menyebut jenis kelamin dengan kata ‘jantina’. Mungkin itu singkatan dari jantan atau betina. Mungkin... Dan kata jemput itu artinya ‘silakan’. Jadi, dalam novel ini ada kalimat “jemput minum” dan “jemput duduk”. Heuheu...

Oh, ya. Ada yang aneh dalam cerita ini. Sepertinya Azra Aryriesa – penulis novel ini – terobsesi dengan huruf ‘Z’. Sebagian besar tokoh dalam novel ini mengandung huruf ‘Z’, seperti Zarif, Zara, Mahfeez, Azrina, Zulkifli, Fazilah, Zarina, Faizal, dan lainnya. Apa dia sebegitu terobsesinya pada huruf ‘Z’? Dan nama panggilan beberapa tokohnya pun agak janggal, cuma satu suku kata. Seperti Zarif yang dipanggil “Rif”, Zara yang dipanggil “Za”, dan Yashmaan yang dipanggil “Yash”. Aneh rasanya ketika Zarif berkata, “Panggil saja saya Rif.” Pokoknya ganjil. Satu lagi. Ada, ya, orang yang tahan dengan hubungan ‘menggantung’ selama tujuh tahun? Hmm... Entahlah. Yang jelas di cerita ini tokohnya tahan, tuh, ‘menggantungkan’ hubungan selama tujuh tahun.

Yah, meskipun ada beberapa keganjilan, novel ini lumayan manis. Ending-nya juga lumayan manis.

ARTIKEL TERKAIT



14 komentar:

  1. :). Betul juga. Blogger Malaysia selalu guna bahasa rojak dalam blog mereka. Kat sini panggil bahasa pasar. Baguskan? Kamu dpt mendalami kosa kata Malaysia dengan membaca novel itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, jadi di sana bahasa slang disebut bahasa pasar. Hmm...

      Hapus
  2. Ulasan yang keren, meski dirimu tak suka jalan ceritanya :)
    Koq bisa ya melalapnya? Apa penasaran dengan bahasanya yang aneh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya, sih, sayang kalo ada buku gak dibaca :p Selama bukan buku yang bikin eneg sewaktu baca (udah kategori parah isinya), saya mah tahan2 aja. Apalagi cuma fiksi.

      Hapus
  3. waduh klo aku udah pusing duluan tuh baca bhs malaynya.. hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, pusing di awal aja, kok. Lama-lama kebal sama keanehan kosa katanya.

      Hapus
  4. way novel malaysia ya... susah tuh bacanya... kita akan punya kesulitan untuk mengikutinya... tapi reviewnya ok juga nih... jadi tertarik mau coba baca juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau novel ini, sih, nggak terlalu susah diikuti jalan ceritanya.

      Hapus
  5. tapi bahasa di sana, kalo di telinga saya terdengar lebih lembut sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apapun bahasanya, lembut atau tidaknya, mah, tergantung penuturnya.

      Hapus
  6. Kurang suka novel Malaysia :(

    BalasHapus
  7. Kalau novel gak sulit ta bahasanya...
    Aku pernah beli buku katanya sih kocak... bahasa Malaysia... tentang pramugari gitu... mbasan tak woco, ora dong... apa karena bahasa gaulnya sono ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin emang mereka pake bahasa gaulnya sana. Biasanya kalo yang lucu-lucu, kan, bahasanya 'lokal' banggets!

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!