Selasa, 10 Januari 2012

Liburankuuuu...

Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan rencana itu bisa terlaksana atau tidak. Kalimat itu sangat tepat dengan apa yang terjadi pada liburanku kemarin. Sewaktu masih di Aceh, aku dengan pede-nya berencana liburan bersama keluargaku ke pantai, entah Pantai Randusanga ataupun PAI (Pantai Alam Indah). Aku pun sudah berkali-kali berjanji pada keponakanku bahwa kalau aku pulang kampung nanti kami sekeluarga akan jalan-jalan ke pantai. Tapi, sayangnya, ketika aku pulang justru disambut penyakit yang kelihatannya sepele tapi sangat kejam: FLU.

Kuceritakan dari awal perjalanan pulang saja, ya...

28 Desember 2011, malam
Setelah dengan berat hati meninggalkan Susenas dan Statda, aku pulang. Perjalanan pertama adalah melalui jalan darat Blangpidie-Medan yang biasanya memakan waktu 10-12 jam. Nah, sepertinya malam itu aku dilimpah dari loket mobil yang kupesan ke loket lain. Kenapa aku berpikir begitu? Karena setelah menjemputku di kos, mobil itu berhenti di depan loket yang berbeda. Dan malangnya, sopir yang membawa mobil itu termasuk sopir yang tidak berperikemanusiaan. Cara mengemudinya amat sangat ugal-ugalan. Hal ini dibuktikan dengan suksesnya aku muntah sebanyak TIGA KALI. Tiga kali, Sodara-sodara!!! Padahal biasanya kalau kondisiku sedang tidak fit, paling banter aku muntah hanya sekali. Dan, parahnya, pada saat aku muntah kedua dan ketiga, sopir itu tidak mau berhenti. Alhasil, pada waktu muntah yang kedua aku mengeluarkan muntahanku lewat jendela (karena aku lupa kalau aku membawa kantung plastik). Pintu mobil pun berlumuran muntahku. Salahe sopire, ora gelem mandheg!!! begitu batinku. Dan ketika muntah yang ketiga, aku ingat aku membawa plastik jadi aku muntah di plastik. Saat itu aku benar-benar merasa lemas sekaligus gondok satu mati (bukan lagi setengah mati) pada si sopir. Kalau saja waktu itu aku bisa melaksanakan apa yang pernah dikatakan Ndaru, nguleg-uleg sambel di mukanya, mungkin sudah kulakukan. Rasanya pasti menyenangkan nguleg sambel di muka sopir alakazam itu. Sopir itu pun tidak mau mengambilkan tasku dengan alasan tasku ditaruh paling bawah. Hiks! Padahal jilbabku sudah kotor plus bau muntahan. Aku pun berinisiatif membersihkan dengan air sedikit pada kotoran di jilbabku. Tapi, jilbabku malah jatuh di kamar madi. Terpaksa harus kubersihkan total alias kuguyur dengan air sampai basah kuyup. Dan karena aku tak bisa mengambil jilbab ganti, aku terpaksa memakai jilbab basah sepanjang perjalanan. Benar-benar pusing, lemas, dan tentunya bete. Aku sampai khawatir itu adalah hari terakhirku bernapas di dunia ini (saking lemes dan pusingnya). Alhamdulillah, aku selamat sampai di Medan meskipun dengan baju berlumuran muntahan. Pelajaran yang bisa dipetik: selalu sediakan jilbab ganti di tas ransel yang kupegang.

29 Desember 2011, pagi, Medan
Sampai di Medan aku mampir kos Chacha untuk numpang mandi. Jelas tidak mungkin aku naik pesawat dengan baju kotor.

29 Desember 2011, siang, Jakarta
Akhirnya aku sampai dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Tanpa muntah. Alhamdulillaaaaah... Dari bandara aku langsung naik DAMRI ke Gambir. Di Gambir aku menukarkan struk pembelian tiket kereta Cirebon Ekspress via ATM dengan tiket asli. Sebenarnya kata mbak yang melayani ketika aku memesan via telepon aku harus membawa fotokopi KTP. Tapi, ketika di Gambir, yang kutunjukkan cuma struk ATM, dan tidak diminta fotokopi KTP. Benar-benar beruntung, Alhamdulillaaah...
Dari Gambir aku naik ojek ke Otista. Awalnya aku ingin naik bajaj. Kenapa bukan taksi? Karena aku pusing kalau naik taksi. Mending naik bajaj, isis, hehehe... Kampungan? Memang... Tapi, berhubung tukang bajaj-nya tidak bisa ditawar, akhirnya aku malah naik ojek yang harganya pas.  Berapa? Lupa, hehehe. Dan ternyataaaaaa, si tukang ojek ini ingin bunuh diri. Itu terbukti dengan cara mengemudi yang ngebut, selonong sana selonong sini, pokoknya benar-benar membahayakan nyawa. Sampai di Kampung Melayu si abang ojek ini justru mengambil jalur busway. Lah, kan niatku mau belok di Jalan Haji Yahya. Kalau masuk jalur busway begini, mana bisa belok. Jalanan sedang macet pula! Hedeuh... Akhirnya aku turun di depan Alfamidi samping Kas Negara, masih di jalur busway tentunya. Akibatnya si tukang ojek gila itu menyuruhku buru-buru membayar. Saat aku sibuk membuka dompet, dia rempong meminta helm yang masih menempel di kepalaku. Dan saat aku sibuk melepas helm, dia berteriak, "Hapenya jatuh, buruan ambil!". Ternyata ponselku yang tadi di dompet sudah melompat ke jalanan dengan suksesnya. Dan kalau aku terlambat beberapa detik saja, ponselku sudah digilas mobil. Kemudian aku pun berjalan kaki ke kos Ndaru.

29 Desember 2011, sore sampai malam
Aku dan Ndaru menggelandang di Atrium, makan ramen di Gokkana Teppan lalu usai sholat Maghrib kami nonton Hafalan Sholat Delisa. Bagaimana cerita film itu? Kapan-kapan saja, lah, kuceritakan.

30 Desember 2011, pagi sekitar pukul 9 lewat
Aku berangkat ke Gambir, kali ini terpaksa naik taksi karena trauma dengan ojek. Sampai di Gambir seperti anak hilang, Yah, biasanya aku naik kereta api dari Jatinegara. Baru kali itu naik di Gambir. Berhubung kereta belum datang, aku menunggu di ruang tunggu. Di sebelahku ada bapak-bapak yang mau pulang ke Tegal. Kalau tidak salah dia pulang karena anaknya meninggal. Tapi, mukanya kelihatan tetap tegar. Saluuut...

30 Desember 2011, sekitar pukul sebelas
Kereta datang. Saatnya melanjutkan perjalanan.

30 Desember 2011, sore, sekitar pukul 15.40
Kereta sampai di Stasiun Brebes. Ternyata Abah sudah menunggu. Kami pun pulang naik becak ke Kaligangsa.

31 Desember 2011, di rumah
Sebenarnya hari itu aku baik-baik saja. Aku malah sempat mencuci baju kotorku. Tapi, siangnya aku merasa tidak enak badan. Aku sampai dikeroki ibuku.

1 Januari 2012, di rumah
Aku menyambut tahun baru dengan terbaring di tempat tidur. Sakit. Sorenya aku dibekam oleh kakakku.

Yah, akhirnya rencana jalan-jalan BATAL karena aku sakit selama di rumah. So saaaaaad... Tapi, setidaknya aku bisa bermanja-manja dengan ibuku karena sakit. Hehehe... Tapi, ya, itu... Aku jadi mengecewakan keponakanku yang sudah terlalu berharap. Pelajaran yang bisa diambil: jangan sembarang berjanji pada anak kecil.

ARTIKEL TERKAIT



6 komentar:

  1. wah~
    itu sakitnya karena kelamaan perjalanan kali yah =="

    BalasHapus
  2. Maaf mbak, mau nanya neh,. Ongkos dari blangpidie ke medan berapa ya? Terus tiket pesawat medan ke jakarta waktu itu berapaan? Terimakasih banyak.,

    BalasHapus
  3. waah...,serunya pas diperjalanan tuh...,tetap semangat ya...,^_^

    BalasHapus
  4. @ jiah al jafara:
    bisa jadi sih..

    @ evans:
    mau jalan-jalan yah?
    Blangpidie-Medan kalo naik kijang 150ribu. Medan-Jakarta kalo dapet promo bisa 300ribuan, kalo normal 500ribuan, kalo pas rame misal lebaran bisa 700ribuan.

    @ niccaniez:
    hehehe, pengennya sih semangat

    BalasHapus
  5. Bkn jalan2 mbak, ada perlu mau ketempat sodara., tp iya jg sih sambil jalan2..hehe.. Makasih bnyak ya mbak infonya.. :) salam ukhuwah.,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh... Ada sodara toh di Jakarta...

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!