Kamis, 08 Maret 2012

Tak Bisa Bercerita Banyak tentang Gempa Jepang dan Aceh


Sebentar lagi tepat satu tahun gempa Jepang. Sebenarnya aku juga tidak akan ingat bila tidak membaca posting-an di blog seorang kawan. Hmm... Jujur, aku tidak terlalu tahu mengenai gempa Jepang ini. Dulu, aku hanya mengikuti beritanya lewat detik.com dan okezone.com. Maklum, aku tidak punya televisi. Dan sebuah kebohongan besar bila aku mengatakan aku mengerti sepenuhnya perasaan para korban bencana itu. Yang bisa mengerti perasaan mereka tentunya juga orang yang pernah mengalami hal yang sama. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mengira-ngira apa yang mereka rasakan. Sedih, trenyuh, takut, itu yang kurasakan. Tapi, tentu itu belum seberapa dibandingkan perasaan mereka yang mengalami bencana itu sendiri, mereka yang kehilangan sanak keluarga, kehilangan tempat tinggal.

Sama seperti gempa dan tsunami Aceh. Ketika melihat foto-foto kondisi Aceh saat tsunami yang kulihat di Museum Tsunami rasanya hatiku benar-benar pilu. Tapi, ketika kawanku yang menjadi saksi hidup kejadian itu mulai bercerita, aku kehilangan kata-kata. Padahal, cuma sedikit yang dia katakan. Dia baru berkata, “Waktu itu udah kaya kiamat.” Kalimat yang pendek. Tapi, perasaan yang mengiringi ucapannya benar-benar membuatku tak bisa bicara banyak walau untuk sekadar menunjukkan empati. Lalu dia pun menggambarkan keadaan saat itu, ketika dia mengungsi di Kodam dan dari sana melihat jalan-jalan disapu tsunami. Dan lagi-lagi aku tak bisa membayangkannya. Terlalu mengerikan.


Selama tinggal di Aceh aku memang kerap mengalami gempa. Apalagi posisi tempat tinggalku di Kabupaten Aceh Barat Daya yang tidak terlalu jauh dari Kabupaten Simeulue. Apa hubungannya? Berdasarkan pengalaman selama ini, sebagian besar dari gempa yang kualami pusatnya di Simeulue atau perairan dekat kabupaten itu. Daerah itu memang sering dilanda gempa, sampai-sampai kalau kami yang tinggal di pesisir barat Aceh merasakan gempa, yang pertama kami tuduhkan adalah “pusatnya pasti di Simeulue”. Padahal belum tentu benar, hehehe... Berhubung kabupatenku lumayan dekat dengan Simeulue, gempa yang berpusat di sana pun terasa sampai tempat tinggalku. Gempa yang kualami biasanya kekuatannya sekitar 5 skala Richter dan berlangsung hanya dalam hitungan detik. Alhamdulillaah tanpa disertai tsunami, semoga saja tidak akan pernah mengalaminya, Aamiiin.. Biarpun skala kecil, tetap saja aku panik. Seperti beberapa hari yang lalu ketika ada gempa 5,5 skala Richter yang berpusat di Aceh Tengah. Guncangannya terasa kuat. Meja tempat aku sedang bekerja bergoyang kencang. Melihat kawan kantorku langsung lari keluar, aku pun ikut lari.

Bayangkan... Baru gempa 5,5 skala Richter saja rasanya sudah tak karuan. Panik. Takut. Lalu bagaimana dengan gempa Aceh dan Jepang yang berskala sekitar 9 skala Richter. Disertai tsunami pula. Sungguh tak terbayangkan betapa dahsyatnya. Aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian itu.

Tapi, musibah bukanlah alasan untuk terus larut dalam kesedihan. Bangkit adalah satu-satunya pilihan. Aah, lagi-lagi aku tak menemukan kata-kata yang tepat. Entah bagaimana memberi motivasi pada mereka yang mengalami musibah itu. Aku bukan Mario Teguh ataupun Andri Wongso yang ahli mencetuskan kalimat yang bisa memotivasi orang lain. Aku hanya bisa mengutip salah satu ayat dari surat Al Insyiroh: Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Percayalah! 

Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.

ARTIKEL TERKAIT



27 komentar:

  1. sy selalu kagum dg orang2 yang mampu bangkit dr apapun kesulitan yg pernah mereka hadapi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Ketabahan dan ketangguhan mereka benar-benar mengagumkan.

      Hapus
  2. Setuju sob, dibalik sesulitan pasti ada kemudahan :)

    BalasHapus
  3. wah..gempa kita juga ngalami pada tahun 2006.. di Jogja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, iya. Jadi ingat. Waktu itu teman saya yang dari Bantul langsung pulang kampung karna dengar berita gempa. Alhamdulillah keluarganya selamat.

      Hapus
  4. walaupun inyong belum pernah mengalami gempa besar tapi kalau dengar gempa rasanya merinding

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. cuma dengar berita saja kadang ngeri

      Hapus
  5. wow, dulu saja ngalamain gempa kecil perut langsung mual pengin muntah, apalagi sampe 5 keatas ya, haduuueeh .... :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak usah dibayangin, saja aja takut mbayanginnya

      Hapus
  6. Balasan
    1. Kunjungan balik sobat
      saya tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya mbak
      semua orang panik menyelamatkan diri
      pasti rasanya campur aduk gak karuan
      nice share mbak

      Hapus
    2. @ Nurmayanti Zain & rizki_ris: begitulah bencana

      Hapus
    3. semua terjadi untuk yang terbaik, InsyaAllah

      Hapus
  7. Sebuah bencana memang menyisakan luka yang tak akan pernah terlupakan, tetapi dengan bencana itulah Allah menguji kita untuk menjadi lebih baik :)

    nice post teman, sangat bermanfaat. moga menang ya GA-nya :D
    Salam..

    BalasHapus
  8. bencana ini juga yang membuat temanq hilang entah kemana, kasihan ortunya cpz dia anak tunggal. Semoga Allah menempatkannya di tempat terbaiknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang Mbak Yeyen itu yah? Aaamiiin... Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Alloh.

      Hapus
  9. Mbak, ngilang kemana? Mudik ya? Hehehe

    BalasHapus
  10. benar mb, sesudah kesulitan itu ada kemudahan..sesudah kesulitan ada kemudahan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Setelah kesulitan, ada kemudahan. Gak mungkin, kan, Tuhan cuma memberi kesulitan..

      Hapus
  11. Mba Milati... congrats atas kemenangan artikel ini yaaaa...... :)

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!