Senin, 26 November 2018

Wanseponetaim in Maluku: dari Pantai ke Pantai

Hari Selasa yang lalu aku mendapat tugas ke Ambon, Maluku dengan dua rekan kantor. Berhubung tugasnya berbicara di depan umum, kontribusiku sangat sedikit. Yang banyak berperan adalah dua rekan kantorku dan rekan-rekan kantor provinsi. Sepertinya peranku yang signifikan hanya membantu membawakan souvenir yang berat.


Selesai bertugas, kami bertiga ditemani oleh rekan-rekan dari kantor provinsi untuk berjalan-jalan berkeliling Pulau Ambon, dari pantai ke pantai. Tempat wisata yang pertama kami kunjungi hari itu adalah Pantai Batu Kapal atau Pantai Batu Lubang. Untuk sampai ke pantai, kami harus menuruni beberapa anak tangga terlebih dahulu. Tangganya kekinian, dicat warna-warni. Foto di bawah ini kuambil saat naik lagi untuk kembali ke jalan yang benar, eh jalan raya. Kok ada mozaiknya? Penampakan? Bukan. Itu rekan seperjalanan. Karena malas minta izin menampilkan foto mereka, ku-blur saja.



Kupikir setelah sampai di pantai itu ya sudah, duduk-duduk saja. Ternyata, kami diajak naik ke batu (atau tebing? gua?) dengan anak tangga yang curam. Sebenarnya aku malas naik. Bukan karena takut naiknya melainkan galau memikirkan bagaimana nanti turunnya. Menuruni anak tangga yang curam dan tanpa pegangan bukanlah hal yang mudah bagi orang yang takut ketinggian sepertiku. Namun, karena yang lain naik, aku pun ikut naik. Ternyata di balik batu tersebut ada bagian laut yang menjorok ke dalam. Mirip laut di dalam gua. Mungkin ini sebabnya pantai tersebut dinamai Pantai Batu Lubang. Ada batu bolongnya. Pemandangannya lumayan instagramable. Sayangnya aku tidak fotogenik jadi tidak pede untuk berfoto di sana. Percuma bergaya seperti apapun, hasil fotonya kemungkinan besar tetap jelek. Jadi, lebih baik aku memotret pemandangan saja.

Pemandangan dari dalam gua. Kiri atas, lubang tempat kami masuk gua

Pemandangan dari atas batu

Setelah puas foto-foto di atas batu, kami pun turun. Ternyata ada jalan turun yang lebih bersahabat bagi penakut sepertiku. Tangganya tidak terlalu curam. Ada pegangannya pula. Aman.



Aku ingin memotret tebing tempat kami masuk ke pantai sebelumnya. Ternyata agar tebingnya terlihat dari atas sampai bawah, aku harus memotret dari jauh alias sampai nyebur ke laut. Akhirnya basah-basahan deh. Gaya sok seperti fotografer tapi hasilnya tetap tidak keren. Apa mau dikata. Kemampuanku dalam memotret memang alakadarnya. Hiks!

Ini tebingnya


Pemandangan sisi lain Pantai Batu Kapal. Aku suka foto ini karena ombaknya terlihat bagus.

Oh, iya. Pantai Batu Kapal ini dipenuhi batu-batu kecil. Tidak kelihatan pasir pantainya. Ini mengingatkanku pada pantai di kecamatan Lembah Sabil yang pernah kukunjungi dulu. Entah letaknya di desa Ujung Tanah atau Ladang Tuha. Aku lupa.

Dari Pantai Batu Kapal, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Natsepa. Sepertinya dari ujung ke ujung. Di Natsepa ini banyak penjual rujak dan kelapa muda. Rujak yang kami beli tidak pedas dan banyak sekali kacang tanahnya. Es kelapanya diberi sirup dan susu. Biasanya kan cuma sirup, ya.... Pemandangannya bagus. Namun, karena sebelum ke Pantai Natsepa aku sudah ke Pantai Batu Lubang yang unik, pemandangan di Natsepa ini jadi tidak terasa menarik. Yah, seperti melihat orang ganteng tapi sebelumnya sudah melihat orang yang ganteng maksimal.

Terus, setelah makan rujak, main di pantai? Nggak. Langsung pulang.

Pemandangan di Natsepa


Besoknya, setelah berbelanja oleh-oleh, kami ke Pantai Namalatu. Pantai ini cantik juga. Gradasi warna birunya terlihat jelas. Airnya beniiiing. Karang-karangnya juga terlihat jelas. Anginnya sepoi-sepoi, seperti membujuk, "Sudah, tidur siang dulu sanah!"

Pemandangan di Pantai Namalatu
Di Pantai Namalatu aku kembali terobsesi memotret ombak. Sayangnya hari itu ombaknya tidak terlalu besar. Eh, atau kamera ponselnya yang kurang keren sehingga tidak bisa menangkap gambar ombak bergulung? Entah.

Oh iya, dari restoran hotel tempat kami menginap juga bisa melihat laut. Begini pemandangannya


Saat jalan-jalan ke pantai di Pulau Ambon ini, entah kenapa rasanya seperti pantai di Aceh Selatan. Perpaduan pantai dan bukit yang kulihat di perjalanan, mengingatkanku pada Aceh Selatan, Pulau Nasi, dan Geurutee. Kok sepertinya aku gagal move on dari Aceh ya?

ARTIKEL TERKAIT



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!