Selasa, 29 Maret 2016

Wanseponetaim in Pulau Banyak: The Beginning

Kembali ke Blangpidie itu rasanya agak aneh. Meskipun pernah tinggal lebih dari lima tahun di sini dan baru kabur satu setengah tahun, saat kembali ternyata rasanya asing seperti baru kali pertama datang ke sini. Belum betah. Dan di hari libur kegalauan bertambah. Biasanya, saat weekend di Jakarta pun aku cuma tidur-tiduran di kos sambil menonton film di laptop. Namun, entah kenapa di sini aku juga belum nyaman di kos. Jadi, bermalas-malasan di kos pun belum jadi opsi yang menyenangkan. Ketika tahu tanggal 25 Maret tanggal merah bin long weekend, aku langsung galau, padahal itu masih seminggu sebelum long weekend. Awalnya berharap ada yang mengajakku jalan-jalan, misalnya ke Sabang. Dan akhirnya iseng-iseng bertanya ke page Traverious di Facebook kapan ada trip ke Pulau Nasi. Oiya, Pulau Nasi ini sudah jadi incaranku sejak kuliah kemarin. Sewaktu sibuk mengerjakan KA aku justru asyik membuat rencana kabur-kaburan ke Pulau Nasi kalau kembali ke Aceh. Dan ternyata aku belum berjodoh dengan Pulau Nasi. Trip ke Pulau Nasi katanya akan diadakan bulan April. Dan si admin pun memberitahukan bahwa long weekend tanggal 25-28 Maret ada trip ke Pulau Banyak. Sifat impulsifku pun muncul tak tertahankan. Aku langsung bertanya-tanya masih bisa mendaftar atau tidak, biayanya berapa, kapan berangkat dan kapan pulang. Setelah kepo-kepo, aku makin tergoda untuk ikut. Saat kutanyai pendapatnya, salah satu temanku mengompori, "Ikut aja. Kapan lagi? Mumpung masih single, masih bebas ke mana-mana." Oke, daftar!!!

Setelah mendaftar, aku mulai ragu. Ini travel (aku bingung menyebut profesi mereka, travel agent atau apa, hehehe) asli atau abal-abal? Jangan-jangan setelah membayar nanti si admin tidak bisa dihubungi. Aku pun bertanya pada Kak Eky yang kulihat me-like page Traverious apakah dia pernah ikut trip yang mereka adakan atau tidak. Dan jawabnya? Tidak. Ternyata dia hanya me-like page tersebut. Ada juga teman Facebook lain yang me-like page tersebut tapi aku tidak akrab dengannya jadi aku tidak bertanya padanya. Aku pun makin galau, jadi ikut tidak ya? Karena sudah terlanjur penasaran, aku pun memutuskan tetap ikut tetapi baru membayar DP sekitar sepertiga dari total biaya. Jaga-jaga kalau ternyata aku memutuskan batal ikut atau jaga-jaga kalau uangnya dibawa lari. Su'uzhon? Iya, memang su'uzhon, hehehe.

Saat yang ditunggu pun hampir tiba. Tanggal 27 Maret malam aku mengepak barang. Biasanya orang backpacking hanya membawa sedikit pakaian. Namun, mengingat aku akan pergi ke daerah pantai yang besar kemungkinan akan basah-basahan, aku membawa pakaian 4 stel. Jauh dari ukuran light traveling ya.. Pakaiannya pun kubawa dengan tas tenteng. Ransel cuma kupakai untuk membawa alat mandi, HP beserta charger, kamera dan charger-nya, permen Antang*n (ini bukan iklan dan post ini bukan post berbayar, yaaa!), minyak kayu putih, betadine, tisu basah, dan barang-barang kecil lainnya. Saat mengepak barang aku baru sadar kalau aku tidak punya stok Tol*k Ang*n cair, Antang*n, atau sebangsanya. Padahal, itu adalah andalanku untuk kuminum sebelum perjalanan jauh agar tidak mabuk. Akhirnya cuma bisa pasrah dan berharap permen Antang*n bisa memberi khasiat yang sama. Aku menggantung jaket kelas GCIO untuk kupakai saat berangkat. Dan malam itu aku susah tidur. Galau memikirkan yang tidak-tidak. Jangan-jangan nanti orang travel itu tidak menjemputku. Beberapa kali berusaha husnuzhon tapi perasaan khawatir masih muncul. Kemudian ada pemberitahuan bahwa mereka sudah berangkat dari Banda Aceh, aku sedikit lega. Namun, kemudian pikiran aneh muncul lagi. Jangan-jangan mereka bukan orang baik-baik, jangan-jangan nanti aku diculik. Bisa saja kan mereka itu sindikat human trafficking?

Dini hari ponselku berbunyi. Orang travel menelepon. Masih setengah tiga dan mereka sudah sampai di Blangpidie. Padahal perkiraan sampai pukul empat atau lebih cepat. Kupikir definisi lebih cepat itu paling tidak pukul tiga, ternyata malah setengah tiga. Dalam kondisi masih mengantuk dan kurang cerdas (siang hari saja aku tidak terlalu cerdas, apalagi dini hari seperti itu ketika aku baru bangun tidur?) aku ditanyai posisi kosku dari Bank BNI lah, Masjid Attaqwa lah, Hotel Grand Leuser lah. Jawabanku? Cuma "Hah? Heh? Nggak tahu." Dude, aku baru kembali dari Jakarta, belum hafal posisi persis kosku. Untungnya mereka berhasil menemukan kosku, sepertinya melihat dari lokasi yang kuberikan lewat Google Maps. Dan ndilalah-nya mati lampu. Makin panik lah diriku yang masih setengah sadar. Setelah bertemu mereka, ternyata tidak semengerikan yang kubayangkan. Malah terkesan sableng semua, hahaha. Bodor.

Aku pun langsung dikenalkan pada teman-teman seperjalanan. Kami semua berenam, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Dan kemudian aku sadar ada yang kurang: aku tidak memakai koyo di pusarku, padahal itu ampuh untuk mencegah mabuk. Saat merasakan dinginnya AC mobil dan melihat teman di sebelah merapatkan jaketnya aku sadar ada lagi yang kurang: jaket! Gagal sudah mejeng dengan jaket GCIO. Dan saat mengingat waktu sholat Subuh sudah dekat, lagi-lagi aku baru sadar ada yang kurang: mukena! Muslimah macam apa bepergian jauh tidak membawa mukena? Hadeuh.

-- bersambung --

ARTIKEL TERKAIT



4 komentar:

  1. Haduuuhhhhh ending di ujungnya tergantung mengesankan Mila.. :D Tapi asik ya bisa jalan-jalan.. Eh ini akhirnya benaran jadi jalan kan? Ditunggu kelanjutannya..

    BalasHapus
  2. duh mil lama kamu nggak nulis disini sampek kangen hehe
    enjoy jalan2nya ya :D

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!