Senin, 09 Juli 2018

Wanseponetaim in Belitung: Pantai Tanjung Tinggi

Sabtu kemarin aku nunut rekan-rekan IPDS Babel jalan-jalan ke Pantai Tanjung Tinggi, Belitung. Pantai tersebut merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi.

Perjalanan dari Tanjung Pandan ke Tanjung Tinggi ternyata lumayan lama. Sekitar setengah jam atau satu jam, ya? Pokoknya lama. Jalannya juga berbelok-belok. Namun, tidak separah perjalanan Blangpidie-Medan. Bahkan sepertinya tidak separah jalan berkelok-kelok di Nagan Raya yang sering kulewati saat pergi ke Banda Aceh.


Sampai di sana pantai sudah ramai. Mungkin karena hari Sabtu jadi pengunjungnya ramai. Sulit sekali mengambil gambar pemandangan tanpa ada penampakan manusia. Yah, mau bagaimana lagi. Terpaksa hanya bisa pamer beberapa foto dari sudut yang tidak banyak orangnya. Selain itu, gambar yang kuambil juga tidak terlalu keren. Berhubung agenda awalku ke Belitung tidak mencakup jalan-jalan, aku tidak membawa kamera. Terpaksa mengandalkan kamera ponsel. Jadilah gambarnya ala kadarnya. Namun, karena objeknya menarik, gambarnya juga tetap kelihatan menarik meskipun tidak sekinclong kalau diambil dengan kamera. Ah, dasar fotografernya aja yang nggak keren. Yang lain moto pake kamera juga gambarnya keren. Huh. Baiklah.






Yang menarik dari Tanjung Tinggi ini adalah batu-batu besarnya. Selama ini aku lebih sering melihat karang di pantai barat Aceh, bukan batu-batu besar. Air lautnya juga tenang. Setelah mau menulis ini aku baru berpikir kalau sepertinya aku sama sekali tidak mendengar deburan ombak di Tanjung Tinggi ini. Mungkin air di situ tenang karena lokasinya di teluk kecil. Mungkiiin.

Aku sempat mencoba naik ke batu yang tinggi. Namun, karena harus melewati jalur yang mengerikan, aku memutuskan balik kanan. Maaf-maaf saja kalau harus melompat jauh dari satu batu ke batu lain. Badanku sudah terlalu berat untuk dibawa melompat. Apalagi harus menjaga keseimbangan. Namanya juga penakut, ada saja alasannya.

Kami duduk-duduk di atas batu sambil menunggu matahari terbenam. Entah karena aku tidak terlalu menganggap istimewa pemandangan matahari terbenam atau saat itu pikiranku sedang dihantui pekerjaan, yang jelas aku merasa bahwa melihat matahari terbenam itu biasa saja. Namun, aku tetap mengambil foto matahari terbenamnya. Eh, foto matahari HAMPIR terbenam, ding.


Gitu doang fotonya? Iya, gitu doang. Ceritanya juga gitu doang? Iya, gitu doang.

ARTIKEL TERKAIT



2 komentar:

  1. Tumben, ada yang biasa saja lihat matahari tenggelam :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, perasaan nggak istimewa gitu..

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!