Rabu, 04 April 2012

Dunia (Seakan) Cuma Selebar Daun Kelor

Semalam, aku tanpa ba bi bu, ujug-ujug berkomentar di posting-an Mbak Anazkia cuma karena di posting-an itu Mbak Anaz menyebut kalimat "Arif di Papua sana" (yang setelah kubaca ulang ternyata itu bukan kalimat Mbak Anazkia sendiri melainkan kutipan dari kalimat kawannya, bodohnya diriku :D). Aku pun bertanya, "Eh, Mbak Anaz, kok, bisa kenal Arif?" Padahal, kan, dalam tulisan itu yang kenal Arif, kawan lamaku, itu kawannya Mbak Anazkia. Untungnya Mbak Anazkia beneran kenal Arif. Kenapa aku tahu? Ya, karena jawaban si mbak atas pertanyaanku itu. Katanya mereka pernah satu buku. Sebenarnya, sebelum membaca posting-an si mbak yang semalam, aku sudah bertanya-tanya melihat si mbak berkomentar di foto kawan lamaku itu yang dipasang di Facebook. Rasanya takjub. Bertemu seseorang di dunia maya yang ternyata berteman dengan temanku. Mbulet, ya, bahasanya. Dan makin takjub karena kawanku yang satu ada di ujung timur Indonesia sana dan satunya lagi di Malaysia (eh, masih di sana, kan, ya?).

Itu bukan yang pertama aku mengalami hal seperti itu di dunia maya. Seorang kawan blogger yang mengaku beridentitas R10 meminta berteman denganku di Facebook (ternyata di Facebook namanya Ario). Tapi, kok, kami punya mutual friend? Padahal setahuku aku cuma mengenalnya di dunia maya khususnya blog. Setelah kulihat dia ternyata mutual friend kami adalah Mas Didik, kakak tingkatku di STIS yang sama-sama dari Karesidenan Pekalongan. Kok, bisa Ario berteman dengan Mas Didik? Entah. Belum sempat kutanyakan juga padanya.

Ada satu lagi. Aku punya teman Facebook, namanya Indah. Dia adalah teman SMA-nya teman SMP-ku. Bingung? Jadi, begini... Sewaktu SMP, salah dua temanku bernama Sigit dan Ayip. Nah, sewaktu SMA mereka berteman Indah. Berhubung aku sekolah di SMA yang berbeda, jadi aku tidak kenal Indah. Tapi, karena sama-sama sering menciptakan kerusuhan di status Facebook salah satu kawan kami, aku pun jadi berteman dengan Indah. Lalu, pada suatu ketika, Indah kaget melihat seorang kawan SMA-ku yang bernama Muflikh berkomentar di statusku. Ternyata Muflikh dan Indah ini mengajar di sekolah yang sama.

Satu lagi. Satu lagi. Aku pernah meminta berteman di Facebook dengan pemilik blog Belajar Bahasa Aceh. Lalu, ada kawan kuliahku yang mengomentari pertemanan kami. "Kok, Millati bisa kenal Nabil?" begitu tanyanya. Lalu kujelaskan bahwa aku melihat blog-nya lalu meng-add Facebook-nya. Ternyata Ina, kawan kuliahku tadi, adalah kawan Nabil sewaktu di MTs.

Ada lagi. Ada lagi. Ada lagi. Kenapa mesti tiga kali? Aku lupa kenapa aku bisa nyasar ke blog-nya Arif Chasan dan berkomentar di sana. Tapi, dari sana aku menemukan sesama komentator bernama Novi. Setelah berkunjung ke blog-nya, ada gambar wisuda dengan atribut yang kukenal. Roman-romannya anak STIS. Dan ternyata memang benar. Setelah kulihat nama para komentator di blog-nya, aku menemukan nama yang tidak asing bagiku, Elok, adik tingkatku yang sama-sama dari Karesidenan Pekalongan. Heu heu heu, kok, ketemunya orang-orang itu juga?

Beberapa kejadian ini membuatku berpikir bahwa pada dasarnya semua orang di dunia ini CONNECTED. Semuanya saling berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bisa jadi sepertinya tidak berhubungan, tapi kalau ditelusuri ternyata berhubungan juga, meskipun bisa jadi level mutual friend-nya (seperti yang di Friendster dulu itu, loh) sudah beberapa tingkat. Misal A kenal B, B kenal C, dan C kenal D. Sebenarnya A terhubung dengan D tapi tidak secara langsung.

Kalau diibaratkan dalam teori graph, setiap manusia diibaratkan satu titik. Tiap dua titik dihubungkan dengan satu garis dan kedua titik ini disebut bertetangga. Nah, dalam kasus ini tidak ada titik yang tidak bertetangga. Meskipun tidak berwujud graph sempurna di mana setiap dua titik dihubungkan dengan garis, tapi setiap titik memiliki tetangga, minimal satu. Di dunia ini, adakah seseorang yang tidak mengenal siapapun? Setahuku, sih, tidak ada. Minimal ada satu orang yang dia kenal. Misal, dalam contoh di atas, A cuma kenal B. Tapi, dengan dia mengenal B, itu bisa jadi awal bagi A untuk mengenal C kawan si B, kemudian mengenal D kawan si C.

contoh graph sempurna


Hmm, kok, sepertinya agak kurang nyambung, ya? Yah, intinya dalam dunia maya ini serasa dunia begitu sempit. Cuma selebar daun kelor.

ARTIKEL TERKAIT



60 komentar:

  1. Hehehehe...

    Aku kenal Arif sebelum di Papua, waktu pak Guru masih di Jogja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, Mbak Anaz sempat di Jogja juga toh?

      Hapus
  2. Xixixi.... bisa aja neh sobat. Tapi emang bener sih gak lebih lebar dari layar ponsel :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, ada istilah baru nih, gak lebih lebar dari layar ponsel :p

      Hapus
  3. :) dunia hanya selebar kelopak mawar~

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiah, terlalu puitis itu mah istilahnya :p

      Hapus
  4. waha, kok bisa ketemu gitu ya ..
    pasti ngerasa aneh,
    hmm. mungkin bener dunia cuma selebar daun kelor *mikir

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, antara aneh dan takjub, hehehe

      Hapus
  5. Katanya maksimal perantara orang itu tujuh orang. Ya maksudku gitu deh. Pernah baca di mana gitu. Yaaa, dunia itu benang ruwet yang lebarnya tak sampai lebih dari daun kelor @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, baru denger yang perantara itu maksimal tujuh orang. Diinget-inget dong baca di mana, biar aku bisa baca juga.

      Hapus
  6. Ada lg. Aku jg prnh kyk gtu. Mutual friendku sm tmn SMP-ku trnyata Ari Wahyu sm Riyanti. Gak taunya mereka satu SMA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ari Wahyu sama Riyanti angkatan kita?

      Hapus
    2. Yupz.. Dulu aku pernah skolah d SMP 3 Yogyakarta..^_^

      Hapus
    3. Oh, panteees! Jangan2 kita punya mutual friend yang belum ketahuan juga, Fer..

      Hapus
    4. Yups... jangan2 kita sodaraan..hehehe..

      Hapus
    5. Hihihi, sodara jauh banget mungkin ya :p

      Hapus
  7. Siapa tau mbak Mil adalah temen dari temen-temennya temen-temenku! Bhahaha, atau saudara dari saudara2nya saudara2ku! Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi tuh. Mari kita telusuri jejak saudara kita, sapa tau beneran kita saudara. Tapi emang udah jadi saudara, sih. Sama2 keturunan Adam dan Hawa :p

      Hapus
  8. hmmmm....... mikir sejenak
    Pernah alamin juga sih, tapi gag berkali- kali kayak mbak Millati
    Mungkin karena temanku yg gag terlalu banyak kayaknya :)

    #Aku tertari sekali ma "Teori Graph"
    Keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, teori graph itu cuma dipakai sebagai perumpamaan aja, lho, ya.. *takut ada yang salah tafsir*
      Kalo mau belajar teori graph, googling aja.

      Hapus
  9. gak pernah galamin...kayaknya seru juga ya^^

    BalasHapus
  10. Adam dan Hawa kan sodaraan juga? Mungkin iya! Mari kita telusuri di gugel! ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak lah. Masa Adam sama Hawa sodaraan.. Mereka kan suami istri. *serius*

      Hapus
  11. Kunjungan siang mbak
    memang pada dasarnya khan kita manusia dilahirkan dari satu rahim dari ibu hawa
    sangat wajar sebenarnya semua manusia itu terhubung meskipun kita gak kenal dengan semua orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya lahir dari rahim ibu saya, kok, bukan rahim Siti Hawa :p

      Hapus
  12. sebuah kejadian yang menarik ya, Mbak,
    dengan demikian, mari kita menyenangi bersilaturahim....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengennya, sih, gitu. Rajin silaturrahim.

      Hapus
  13. LOh, ini mbak millati indah, pemilik blog catatan-millati. blogspot kan ?? #eeaa

    hehe...

    BalasHapus
  14. iya ya... mbulet dunia ni, eh tau tau teman sendiri. ya begitulah. jadi selebar daun kelor emang, semua terasa dekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga, semua terasa dekat meskipun faktanya terpisah ribuan kilo.

      Hapus
    2. itu dia, kita tau nya. ya tau tau jadi teman aja. padahal ud kesana kemari, kadang ud akrab tapi cuma tau inisialnya aja, eh teman lama ternyata. hahah.

      Hapus
  15. hahah, itu juga sering terjadi sama saya. tau tau, he teman sendiri. padahal mah sudah mutar muter kesana kemari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata banyak juga yang mengalami hal serupa.

      Hapus
    2. iya, sama juga ternyata ya..

      Hapus
  16. kan sama-sama anak cucu nabi Adam, jadi wajar kalau akhirnya saling terhubung (mutual.connect)

    *aku juga reply di fb untuk entri ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, malah dijawab via pesbuk :p

      Hapus
  17. hmmm... bikin pohon pertemananan aja. Diruntut sapa aja teman kita baik di dunia nyata/maya. Sapa tau ada yang connect :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha, bakalan capek kalo bikin pohon pertemanan gitu. Tapi boleh juga idenya.

      Hapus
  18. Ya...
    Pada dasarnya kalo ngeliat cyrcle dunia internet ini kan tak jauh dengan siklus himpunan n irisan saat belajar Matematika dulu ta mBak...

    Btw, makasih atas kunjungannya ya mBak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Himpunan yah? *mikir lama* Masa sih? *masih belum ngeh*

      Hapus
  19. hihihi, itu kalau ketemuan pasti seru ya, tapi mungin karena dunia ini bulat kaliya, jadinya pada muter2 terus mbulet dan eh ketemu deh, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, teori baru. Mungkin juga. Karna bumi bulat, kemana2 ujung2nya ketemu juga. Selalu ada peluang ketemu teman baru (yang ternyata temannya teman lama kita).

      Hapus
  20. dhe juga pernah gitu mbak.. kami sama-sama punya mutual friend, dan ternyata mutual friend kami itu bukan blogger seperti kami.. setelah diseledik, simutual friend itu temen maya dhe juga yang kebetulan temen dari cowoknya si blogger itu.. hahahaha, jadi mbulet juga kan??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, lucu juga pengalamanmu, dhe..

      Hapus
  21. wah kalau menurut aku kagak sempit mba,soalnya aku sering dapat Project kerjaan dari perusahaan dari dunia maya jadi dunia maya dunia tanpa batas ruang & waktu yg begitu sangat luas seluas samudra

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo 'luas' yang itu mungkin daya jangkaunya. Nah semakin luas daya jangkau seseorang di dunia maya, kan jarak makin berkurang, dunia jadi serasa sempit.

      Hapus
  22. waaah aku masih mau mendalaminya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan didalami sampai sedalam samudra :p

      Hapus
  23. saya berkomantar malah bukan karena kenal dari sodara dan teman .... Dan mungkin dunia juga selebar kolom komentar kwkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, nambah istilah lagi, selebar kolom komentar :D

      Hapus
  24. what a small world ya mba.... aku juga sering mengalami hal seperti itu... bahkan pernah posting kisah nyata (http://www.alaikaabdullah.com/2012/02/kopdar.html) yang membuat takjub dan bikin kita yakin bener bahwa dunia ini memang begitu keciiiiil..... hanya (DL)2 & DLD (dia lagi dia lagi & dia lagi deh). hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang posting tentang kopdar-an sama Una dan Om Stumon ya :p

      Hapus
  25. iya mbak bener.. aku juga pernah ngalaminnya juga... pernah ketemu si B di kampus yang rupanya temen smpnuya si C yang merupakan temenku di SMA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar kalo udah kerja, ketemunya temen SMA-nya temen kuliahmu jangan-jangan :p

      Hapus
  26. iya,,betul2...dunia nyata pun kadang hanya selebar daun kelor,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, saya belum balas komen ini ya?
      Dunia nyata emang kadang bener2 sempit, ketemunya ujung2nya temennya temen sendiri :p

      Hapus
  27. Seakan-akan seperti kecil saja dunia ini :D

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!