Jumat, 24 November 2017

Semua Demi Mumon

Beberapa minggu lalu aku iri melihat orang-orang yang pamer di Twitter bahwa mereka sudah menonton film Mumon: The Land of Stealth (Shinobi no Kuni). Kemudian, tanggal 30 Oktober lalu, salah satu akun Twitter yang kuikuti membagikan tweet CGV yang menanyakan kota mana saja yang menantikan film Mumon. Aku pun langsung menjawab: Medan please! Saat itu aku hanya berpikir bahwa Medan adalah kota terdekat dari sini yang ada CGV-nya. Tidak mungkin, kan, aku ke Jakarta demi menonton Mumon? Aku lupa kalau sedekat-dekatnya Blangpidie-Medan, aku tetap harus menempuh perjalanan darat minimal dua belas jam dengan medan yang mendaki gunung lewati lembah. Parahnya perjalanan ke Medan sudah membuatku bertekad setelah kembali Blangpidie tahun lalu, aku tidak mau ke Medan lewat jalan darat lagi.

Kemudian, diumumkanlah bahwa Mumon akan tayang di CGV di beberapa kota, salah satunya di Focal Point Medan. Awalnya aku senang karena aku bisa menonton. Namun, aku teringat betapa tidak menyenangkannya perjalanan ke Medan. Galau. Ingin rasanya membatalkan rencana menonton tapi tidak enak pada pihak yang sudah memutuskan menayangkan film Mumon di Medan. Memang, sih, mereka memutuskan menayangkan di Medan atau tidak sepertinya tidak ada hubungannya denganku. Masa iya cuma gara-gara aku ikut komentar meminta mereka menayangkan di Medan lalu mereka memutuskan menayangkan di Medan. Namun, tetap saja aku merasa tidak enak. Udah nggaya minta-minta ditayangin di Medan, pas udah ditayangin kok nggak mau nonton? Maunya apa coba?

Akhirnya aku iseng memesan tiket lewat aplikasi CGV di android. Gagal terus. Sekalinya berhasil memesan, masih gagal sewaktu pembayaran. Sepertinya memang tidak boleh menonton. Eh, ndilalah kok ada yang membagikan tautan untuk memesan tiket di website CGV. Dan aku iseng mencoba memesan tiket menonton hari Sabtu tanggal 11 November. Sepertinya sewaktu memesan di aplikasi aku tidak berhasil memilih opsi pembayaran dengan transfer/ATM (semacam itulah) sehingga gagal sewaktu pembayaran. Saat memesan melalui website aku memilih opsi pembayaran tersebut dan berhasil membayar. Tiket sudah dibeli. Aku pun makin galau. Bagaimana ke Medannya? Naik travel seperti biasa dengan risiko mabuk perjalanan? Naik pesawat jelas tidak mungkin karena aku sedang berhemat. Rekan di kantor menyarankan naik bus. Katanya lebih nyaman dibandingkan naik travel. Temanku yang lain mengompori, "Pergi aja ke Medan. Mumpung belum pindah." Iya juga, sih. Tidak ada salahnya pergi. Lumayan menambah pengalaman solo travelling. Biasanya aku ke Medan hanya untuk singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan mudik dan balik, tidak sempat jalan-jalan. Akhirnya aku memesan tiket bus Sempati Star yang berangkat Jumat malam.

Jumat malam. Mendadak hujan deras tak kunjung henti. Apa ini pertanda aku tidak boleh berangkat? Meskipun galau, aku memutuskan tetap berangkat. Sekitar setengah delapan aku berangkat dari kos karena menurut orang loket bus berangkat pukul delapan. Aku berjalan kaki dari kos ke terminal, membawa satu tas ransel, satu tas selempang, dan payung. Semuanya berwarna ungu. Aku baru sadar kalo aku mudah tergoda oleh benda berwarna ungu. Sampai terminal rokku (yang warnanya agak ungu juga) sudah nyaris kuyup di bagian bawahnya. Memang sih aku memakai payung. Namun, tetap saja ada yang basah karena hujan deras. Setelah aku sampai terminal, bus belum datang. Akhirnya aku terpaksa menunggu. Kalau tidak salah menjelang pukul sembilan bus baru berangkat dari Blangpidie.

Aku berusaha tidur di perjalanan agar tidak mabuk. Namun, terbangun juga saat bus melewati jalan berkelok-kelok. Entah kenapa kepala bagian belakang atas yang terkena getaran membuat kepalaku makin pusing. Bentuk kursi yang sepertinya didesain untuk orang tinggi (bukan untuk orang pendek sepertiku) membuat posisi dudukku seperti menunduk dan membuat kepalaku makin pusing karena kepala bagian belakang atas makin keras terkena getaran kursi. Jangan tanya penjelasan ilmiahnya. Aku tidak tahu. Yang jelas aku pusing. Saking pusingnya sampai membuatku bertekad, "Pulangnya naik pesawat aja! Lupakan rencana berhemat!" Namun, aku masih bisa mengakalinya dengan menumpuk selimut dan menjadikannya alas kepala sehingga kepalaku tidak menekuk ke depan. Selamat.

Paginya kami sampai di daerah Dairi kalau aku tidak salah ingat. Pokoknya di daerah gunung. Bus berhenti. Katanya ada longsor dan ada batu besar di jalan (lagi-lagi kalau tidak salah ingat). Bus berhenti lumayan lama. Saking lamanya sampai aku tidak bisa menahan hasrat ke toilet. Untungnya ada toilet di bus. Sedang khusyuk di toilet, bus seperti diguncang. Mungkin ada batu yang jatuh menimpa bus tetapi aku lupa menanyakan pada orang-orang di bus apa benar ada batu yang jatuh. Ibu yang duduk tak jauh di belakangnya ribut bertanya pada kernet apakah ada warung di sekitar situ. Ternyata tidak ada. Ternyata posisi kami jauh dari mana-mana. Aku teringat sebungkus pisang sale di tas. Kutawarkan atau tidak ya? Aku bingung kalau menawarkan makanan. Akhirnya aku diam saja sampai ibu itu dan kernet mengobrol macam-macam. Kemudian, setelah ibu itu membahas masalah lapar untuk kesekian kalinya, aku mengeluarkan bungkusanku. Kernet bus langsung berkata padaku, "Kasih ibu itu kuenya!" Akhirnya aku tidak perlu menawari karena ibu itu sudah mengambil sendiri.

Obrolan si ibu dan kernet berlanjut. Kata abang kernet bisa jadi kami sampai di Medan malam hari. Aku langsung ber-"Yaaaaah!" kecewa. Saat ditanya kernet alasannya, aku cuma bisa bilang acara yang kudatangi di Medan sore hari. Kalau malam baru sampai sana berarti sudah terlambat. Film yang mau kutonton itu tayang pukul 16.45. "Acara apa?" tanyanya lagi. Aku cuma bisa menjawab, "Janjian sama teman." Anggap saja Ohno Satoshi yang mau kutonton itu temanku, hahaha! Malu kalau mengaku aku tidak mau terlambat sampai di Medan cuma karena tidak mau gagal menonton film sedangkan orang-orang lain yang naik bus itu punya alasan yang lebih normal. Abang kernet pun mengira teman yang kumaksud adalah pacar karena kami janjian bertemu malam Minggu. Aku memutuskan tidak membantah daripada repot menjelaskan yang sebenarnya.

Sekitar pukul 09.50 akhirnya bus kembali melaju. Berarti bus kami terhenti sekitar nyaris empat jam. Perjalanan pun masih tersendat karena bus harus berpapasan dengan antrian panjang sedangkan jalanan sempit dan berkelok. Inilah salah satu kekurangan naik bus. Dengan badan bus yang besar, susah untuk bergerak cepat di jalanan sempit. Membayangkan perjalanan pulang ke Blangpidie yang sama lamanya, aku makin mantap untuk naik pesawat saat pulang nanti. Kalau memang tidak ada pesawat hari Minggu, pulang hari Senin pun tak apalah.

Sampai di Medan pukul berapa ya? Lagi-lagi aku lupa. Otakku memang susah diajak mengingat. Sepertinya pukul tiga lewat. Kami turun di pangkalan Sempati Star Pondok Kelapa. Aku bertanya ke sopir bus apakah ada penginapan murah di sekitar situ. Ternyata sopir bus kurang tahu. Dia pun menyarankan penginapan di seberang pangkalan. Namun, aku tidak yakin ada kamar murah di sana. Akhirnya ketika ada yang menawariku becak, aku sekalian menanyakan penginapan murah. Si tukang becak pun mengantarkanku ke Wisma Famili Syariah. Sampai di sana aku langsung menge-charge ponsel lalu memesan tiket pesawat untuk pulang. Ternyata penerbangan Medan-Meulaboh/Nagan Raya ada setiap hari.

Setelah istirahat sebentar, aku pun bersiap-siap ke Focal Point. Aku memesan ojek dengan aplikasi Grab. Kalau di Banda Aceh aku sedikit-sedikit naik Grab Car, di Medan aku sedikit-sedikit naik Grab Bike. Siapa sih yang tidak senang dimudahkan fasilitas begitu? Cukup pencet-pencet ponsel pintar tanpa harus ngawe-awe kendaraan di jalan dan melakukan negosiasi tawar-menawar. Karena namaku di aplikasi cuma Milo, para driver pun memanggilku "abang" saat mengirimiku pesan. Udah di depan, bang. Abang di mana? Setelah bertemu, langsung sapaan mereka berubah jadi "kak".

Sampai di Focal Point aku memilih naik eskalator untuk menuju bioskop. Sekalian lihat-lihat. Saat melihat Gramedia aku langsung, "Woaaah!" Meskipun minat bacaku sudah jauh berkurang, ternyata aku tetap heboh melihat toko buku. Sampai di CGV, aku menanyakan tentang tiket yang dibeli online. Si mbak CGV langsung mengarahkanku pada Self Ticketing Machine. Ternyata bisa cetak tiket sendiri. Sedang asyik mengambil gambar mesinnya, abang satpam menanyai apakah aku perlu bantuan. Jadi kurang fokus deh fotonya. Takut ketahuan norak.



Tiket sudah di tangan. Aku langsung memfotonya dengan latar belakang poster Mumon.


Setelah menunggu sambil jajan dan duduk di samping orang pacaran, akhirnya pintu Audi 3 dibuka. Awalnya aku duduk di kursi sesuai pesanan, barisan paling atas. Namun, melihat tak ada orang di beberapa baris di depanku, aku pun maju satu baris. Sampai film dimulai, cuma ada tiga penonton: aku dan sepasang cowok-cewek. Serasa menyewa bioskop.

Filmnya? Di bawah harapanku. Gerakan dalam adegan pertarungannya lebih lambat dari yang kubayangkan. Akhir ceritanya juga tidak sesuai harapanku. Aku mengharapkan Mumon secara membabi buta membunuh para shinobi yang sudah menyerang Okuni. Namun, itu masih bisa dimaklumi. Mungkin karena dalam cerita tersebut Mumon digambarkan sudah menjadi "manusia" jadi dia tidak digambarkan bertindak monstrous. Yang lebih menggangguku adalah adegan di mana salah satu karakter mengatakan bahwa shinobi sudah tidak ada lagi dan karakter lainnya mengatakan bahwa meskipun sudah tidak ada shinobi, sifat para shinobi itu (yang digambarkan seperti monster yang hanya memikirkan diri sendiri) akan mengalir pada darah keturunan mereka dan kemudian digambarkan orang-orang dengan pakaian ala shinobi perlahan-lahan berubah menjadi orang-orang di era modern. Entah kenapa seperti memaksakan ada pesan moral yang eksplisit.

Setelah film selesai, sebenarnya aku ingin menonton sampai lagu penutupnya (Tsunagu) habis. Namun, karena dua penonton lain sudah beranjak, aku pun ikut beranjak. Si cewek yang menonton tadi bertanya padaku, "Seru kan, Bu, filmnya?" Aku cuma menjawab, "Iya." Sepertinya teman-temannya tidak mau diajak menonton Mumon. Mungkin promosinya kurang gencar.
Dan ... Sepertinya aku harus berdamai dengan kenyataan kalau aku sudah tua dan layak dipanggil ibu. Aku tua. Hiks!
Dari Focal Point aku memesan ojek ke Lotte Wholemart. Entah kenapa aku iseng mau belanja di sana. Ternyata ... masih baru. Lantainya masih plesteran. Mirip gudang. Kirain kaya emol.

Besoknya aku pulang ke Blangpidie. Naik ojek ke stasiun, dilanjutkan naik kereta ke Kualanamu. Sampai di Kualanamu, numpang sarapan dan beli oleh-oleh Medan Napoleon. Benar-benar tidak jadi berhemat. Namun, aku tidak menyesal. Medan Napoleon yang rasa durian enak ternyata.

Sambil menunggu pesawat, aku iseng membeli cokelat hangat di salah satu kafe. Saat sedang duduk, ada bule bertanya pada mas-mas pelayan yang ternyata kurang mengerti Bahasa Inggris. Salah satu kebiasaan burukku adalah langsung menengok ketika ada percakapan menarik. Melihatku sedang memerhatikan mereka, si bule pun berkata padaku, "Do you speak English?" Mampus. Aku cuma bengong. Melihatku bengong si bule langsung berbalik seakan-akan berkata, "Alah buang-buang waktu nanya sama tante bego itu." Hahaha! Ternyata, sesering apapun aku menonton acara dalam Bahasa Inggris, tetap bego kalau harus praktik berbicara pada penutur aslinya alias native speaker.

Aku kembali ke ruang tunggu sampai pesawat berangkat. Entah kenapa tidak diumumkan lewat speaker kalau penumpang pesawat ke Meulaboh/Nagan Raya sudah bisa boarding. Untung aku melihat orang-orang mulai antre di gate dan langsung mendekat dan mendengar petugas menyebutkan nomor penerbangan kami. Aku langsung ikut antre.

Huru-hara belum selesai. Sampai bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya, entah kenapa kepalaku sangat pusing. Menunggu travel di bandara dan di warung bakso tidak membantu menghilangkan rasa pusingku. Setelah dijemput, masih ada huru-hara lagi. Saat di jalan berkelok, mobil yang kutumpangi hampir bertabrakan karena dari arah lawan ada mobil yang menyalip tanpa melihat mobil kami. Nggapleki. Mbok ya kalau mau menyalip itu lihat-lihat ada mobil dari arah berlawanan atau tidak. Sudah tahu jalan sempit dan berkelok-kelok, masih nggaya mau nyalip. Kalau situ doang yang mati sih nggak papa. Lah, kalau kami ikutan mati karena keteledoran situ kan nggak banget.

Sudahlah. Cukup nggrundhel-nya.

Jadi? Menyesal menonton Mumon? NOPE. Tetep sukak dong yaaa nonton Abang Ohchan. Terlepas dari beberapa kekurangan dalam film tersebut, Mumon tetap menghibur. Sampai beberapa hari aku masih belum bisa move on dari bayangan adegan ketika Okuni mati. Syedih.

ARTIKEL TERKAIT



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!