Senin, 02 Oktober 2017

Keluhan Apel Busuk

Tanggal 26 lalu aku galau lagi. Cuma gara-gara harus ke lapangan untuk task force. Bagi orang lain itu hal sepele. Namun, bagiku itu membuatku tertekan. Beberapa bulan terakhir aku makin malas bertemu dan berbicara dengan orang asing terutama untuk mencacah. Kalau bicara basa-basi sih masih bisa. Kalau harus bertemu responden bisa sampai seminggu galau memikirkannya. Dan minggu lalu sepertinya rasa tertekan itu ditambah dengan PMS. Rasanya ingin teriak sekerasnya. Akhirnya aku memutuskan tidak masuk selama tiga hari. Menyendiri di kamar, menenggelamkan diri dalam acara Arashi dan marathon nonton Falsify. Diselingi mewek saat teringat pekerjaan. Gitu doang kok nangis, mungkin begitu pikir orang. Sapa juga yang pengen nangis. Nggak ada untungnya juga. Rasa bingung dan galau itu datang tanpa diundang.

Dan siang tadi aku dipanggil TU. Rupanya aku sudah dilaporkan ke orang provinsi karena terlalu sering tidak masuk kantor tanpa keterangan. Dan itupun berimbas pada pemrosesan permintaan pindahku. Menurut TU, orang provinsi berkata bahwa kalau sikapku seperti itu (sering membolos) permintaan pindahku tidak akan diusahakan untuk dipercepat. Entah kenapa saat itu aku teringat omongan yang sering menyebutkan bahwa kantor kami seperti keluarga. Keluarga, my ass.

Namun, aku tahu diri. Aku memang bukan pegawai teladan yang rajin lembur dan memberikan banyak kontribusi pada instansi. Pada akhirnya, aku bukan anggota keluarga. Aku cuma buruh. Dan buruh hanya dinilai dari manfaatnya. Apa manfaatku di kantor? Mungkin tidak ada. Pekerjaan tidak pernah beres. Cuma apel busuk yang mengganggu dan berbahaya karena dapat membuat apel lain ikutan busuk. Apakah mereka peduli pada alasan kenapa pekerjaanku tidak kunjung selesai? Sepertinya tidak. Apakah mereka peduli kalau aku stress? Sepertinya tidak juga.

Berharap Abang Ohchan datang dan berkata, "Tenang, nanti Abang cariin psikiater paling hebat di dunia ini terus Abang anterin Eneng ke sana, biar cepet sembuh." Mimpi.

Orang-orang berasumsi aku sengaja mbalelo agar cepat dipindah. Padahal, alasan utamaku karena aku tidak tahan di kantor kalau sedang tertekan oleh beban pekerjaan. Namun, sepertinya tak ada yang percaya. Mungkin penampakanku terlalu waras, tidak mirip orang stress.

Ada yang bilang, "Resign aja. Uang TGR bisa dicari." Tidak sesederhana itu. Resign. Jadi pengangguran. Plus ditambah utang ganti rugi. Ditambah pulang kampung dan kembali jadi parasit di rumah orang tua. Jelas orang tua tidak akan setuju aku resign. Orang tua mana yang ingin anaknya jadi pengangguran dengan utang puluhan juta? Meskipun kalimat itu bisa diganti dengan "Orang tua mana yang ingin melihat anaknya stress?", aku tidak yakin. Aku tidak yakin orang tuaku akan mendukungku resign demi mencegah stressku makin parah. Ditambah lagi aku tak punya pengalaman mencari dan melamar pekerjaan. Sempurna.

Rezeki ada di tangan Tuhan. Kaya nggak percaya Tuhan aja, takut nggak punya uang. Iya, mungkin imanku memang terlalu lemah. Masih takut menganggur, takut tidak punya uang, takut tidak bisa makan.

God, I give up.

ARTIKEL TERKAIT



1 komentar:

  1. yah sabar mba... dimana pun pasti selalu ada hal yang bikin stress. cuekin aja, enjoy, jalani hidup day to day gak usah terllau dipikirin :p

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!