Rabu, 25 Januari 2017

Melantur Gara-gara Arab

Masih ramaikah yang membahas perihal kearab-araban? Biasanya aku malas membahas topik sensitif seperti itu karena tidak ingin memperkeruh suasana. Perdebatan yang muncul pun tidak menyenangkan. Tidak semenyenangkan ketika melihat twitwar atau instawar para selebritis yang saling berseteru. Yang pro si pencuit yang menyindir perihal kearab-araban, membela membabi buta. Yang kontra, menghujatnya juga membabi buta. Nggak asik ditonton sambil makan popcorn (it rhymes!). Namun, berhubung saat ini aku sedang bosan, aku ingin ikut-ikutan membahasnya. Dan sepertinya tidak akan memperkeruh suasana karena pembaca blog ini cuma sedikit. The perks of being unpopular blogger: you don't need to be afraid of reader's reaction because you got no reader!

Jadi, beberapa hari yang lalu aku membaca berita mengenai salah satu selebritis yang membuat cuitan sebagai berikut: "Semua orang berpakaian seperti orang Arab, bendera dituliskan tulisan Arab, adat istiadat Arab, kenapa ngga pada pindah Arab aja ya?" Banyak pertanyaan yang bisa timbul setelah membaca cuitan tersebut. Salah satunya adalah: yang dimaksud Arab di sini apakah bangsa (etnis) Arab atau negara Arab Saudi? Kalau melihat kecenderungan orang-orang yang kukenal, sih, kebanyakan mengasosiasikan Arab dengan negara Arab Saudi. Entah selebritis yang tadi memiliki kecenderungan yang sama atau tidak. Dalam tulisan ini, sih, yang kumaksud dengan Arab adalah bangsa Arab, yang tersebar di berbagai negara, bukan cuma Arab Saudi.

Pertanyaan kedua: Memangnya pakaian seperti orang Arab itu bagaimana? Mungkin yang dimaksud si seleb ini adalah jilbab. Bisa jadi si seleb ini menganggap jilbab sebagai budaya bangsa Arab, bukan sebagai aturan Islam. Orang Arab yang tidak beragama Islam tentu tidak memakai jilbab seperti orang Islam. Sepertinya banyak yang keliru menyamakan Arab dengan Islam. Sampai-sampai di Wikipedia ada catatan "Not all Arabs are Muslims and not all Muslims are Arabs. An Arab can follow any religion or irreligion". Mungkin si seleb ini belum mendapat penjelasan bahwa Arab dan Islam itu berbeda, salah satunya penjelasan bahwa jilbab itu aturan Islam dan bukan budaya bangsa Arab. Kalau aturan Islam menyuruh wanita memakai kebaya, tentu mbak-mbak yang saat ini berjilbab akan taat dan memakai kebaya. Mereka berjilbab karena ingin menaati aturan Islam, bukan ikut-ikutan budaya Arab. Atau jangan-jangan si seleb ini sudah pernah mendapat penjelasan tetapi dia tetap mengimani bahwa jilbab itu bukan aturan Islam? Entahlah.

Eh, sebentar. Jangan-jangan yang dikomentari itu bukan jilbab melainkan baju-baju panjang dan longgar alias jubah yang dikenakan Pak Rizieq yang sering diolok-olok sebagai daster. Kalau itu, sih, memang mirip baju orang Arab, yang disebut thawb. Etapi ... beberapa bangsa lain juga menggunakan pakaian yang mirip, misalnya India-Pakistan-Bangladesh. Pemimpin agama Kristen maupun Katolik juga memakai pakaian longgar yang mirip thawb. Aku jadi ragu kalau pakaian seperti itu cuma budaya Arab. Tapi, terserahlah kalau mereka yang memakai jubah itu dianggap kearab-araban. Oh, iya. Kalau penutup kepala yang sering dikenakan Pak Rizieq, itu kearab-araban juga? Sepertinya bukan. Menurutku itu lebih mirip turban atau penutup kepala orang India, deh.

Pertanyaan ketiga: Adat istiadat Arab itu seperti apa? Susah untuk menebak maksud si seleb ini karena aku sendiri kurang memahami batasan sesuatu disebut adat istiadat. Kalau menurut KBBI daring, adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Entah adat istiadat Arab mana yang menurut si seleb ini banyak ditiru orang Indonesia dewasa ini. Mitoni? Jelas bukan adat Arab. Tedhak siten atau turun tanah? Bukan adat Arab juga.

Gara-gara ribut kearab-araban ini aku jadi banyak mencari jawaban untuk beberapa pertanyaan di atas. Kepo banget yak. Aku juga jadi teringat hal yang kadang kupikirkan: Adakah budaya Indonesia yang benar-benar murni tanpa pengaruh budaya bangsa lain? Biar nggak dibilang kearab-araban, kecina-cinaan, keindia-indiaan, atau kebarat-baratan gitu. Sebagai bangsa yang berinteraksi dengan bangsa lain, tentu banyak pengaruh yang diperoleh dari bangsa lain. Mungkin yang bisa dibilang murni cuma sepuluh unsur budaya asli Indonesia sebelum masuknya Hindu-Budha menurut J. L. Brandes. Misalnya keahlian bersawah, keahlian membatik, susunan masyarakat macapat, dan sebagainya. Sisanya, sepertinya sudah terkena pengaruh dari bangsa lain. Kebaya, katanya berasal dari bahasa Arab yaitu abaya. Ada juga yang menyebutkan bahwa kebaya berasal dari China. Gambang keromong juga merupakan salah satu pengaruh budaya China. Keroncong? Itu asalnya dari Portugis. Jangan-jangan kalau aku menyanyi keroncong langsung dikomentari, "Ish, kamu keportugis-portugisan! Pindah ke Portugis aja sana!"

Dan otakku pun beralih ke pikiran lain: Orang Indonesia sering marah kalau ada negara lain yang mengklaim budayanya, misalnya batik. Kalau dibalik situasinya, misalnya suatu saat orang Portugis melarang orang Indonesia mengakui keroncong sebagai budaya Indonesia, bagaimana? Itu kan memang asalnya dari sana, meskipun sudah banyak dimodifikasi oleh orang Indonesia.

Satu lagi hal yang agak mengganggu pikiranku: Orang Indonesia senang sekali ketika ada orang asing yang menyukai budaya Indonesia dan marah ketika ada orang Indonesia yang menyukai budaya asing. Ada bule suka batik, langsung bangga. Ada orang Indonesia yang suka lagu Korea, langsung dihujat. Seakan-akan menyukai lagu negara lain adalah tindakan mengkhianati negara. Kalau begitu, orang asing yang menyukai budaya Indonesia bisa dianggap mengkhianati budaya bangsanya sendiri, dong? Dan situ seneng gitu kalo orang asing itu mengkhianati bangsanya? Ckckck. Setiap bangsa memiliki budaya positif yang tidak ada salahnya bila kita tiru. Yang negatif? Ya jangan ditiru. Misalnya budaya mabuk-mabukan. Ngapain ditiru? Mending ngebandrek atau nyekoteng. Tidak ada salahnya juga mengagumi budaya asing yang indah-indah, misalnya arsitektur di negara-negara Asia Timur, Eropa, atau Timur Tengah. Namanya manusia normal, pasti menyukai yang indah-indah.

Duh, Mil. Ngelanturnya kok jauh banget. Random pula. Dari kearab-araban sampai merembet ke masalah orang asing suka budaya Indonesia. Yah, abaikan saja lanturanku kali ini. Da aku mah apa atuh. Bukan ahli budaya. Modal googling doang.

ARTIKEL TERKAIT



2 komentar:

  1. Joss. Tulisan sepanjang ini cuma dikomen joss? Lagi capek aku mbak, mana dingin lagi.

    Oia, paragraf 8 kalimat ke 5, mungkin kurang satu kata 'asing'. Soalnya pas aku baca jadi loading maksudnya. Atau.. mungkin ini juga cuma efek capek dan kedinginan. Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi capek tapi nyempetin komen? Aku terharuuu..

      Udah diedit. Emang kurang pas kalo gak pake kata "asing".

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!