Senin, 23 Januari 2017

Bukan Bertemu Patrick Jane

Wah, sudah tahun 2017 dan aku belum membuat tulisan apapun di sini. Memang tidak membuat target untuk rajin mengisi blog, sih ... tapi setidaknya aku ingin ada satu tulisan setiap bulan. Dan Januari sudah hampir berakhir. Mau menulis apa? Hmm ... tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Bagaimana kalau aku menuliskan pengalaman ke psikiater? Baiklah. Kuceritakan saja.

Sudah lama aku ingin ke psikiater. Sudah beberapa tahun terakhir. Awalnya karena penasaran. Kemudian, keinginan itu menguat ketika masa-masa awal aku kuliah S2. Saat itu aku mudah sekali marah dan merasa butuh bantuan psikiater atau psikolog untuk mengatasi emosiku itu. Namun, aku tak kunjung memberanikan diri padahal saat itu untuk ke rumah sakit cukup ngesot dari kampus.

Dan bulan Oktober tahun lalu aku mengalami situasi yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Tertekan. Bingung dengan pekerjaan baru. Kepercayaan diri menurun jauh lebih rendah dari biasanya. Tidak ada teman berbagi. Awalnya ingin meminta bantuan pada kawan. Namun, tidak ada yang bisa kumintai bantuan. Yang senior terlalu menakutkan untuk ditanya-tanya. Entah kenapa hawa otoriter begitu terasa kalau berinteraksi dengan mereka. Teman seangkatan yang biasanya kuganggu sedang stres dengan masalahnya sendiri. Teman yang tadinya mengerjakan pekerjaanku sudah sibuk dengan pekerjaannya yang baru. Yang lain lagi tidak bisa ditanyai. Aku baru sadar sekarang. Sepertinya saat itu aku merasa ditinggalkan sendirian.

Aku bukan orang yang perfeksionis yang ingin semua pekerjaanku selesai dengan sempurna. Sejak akhir 2013 aku sudah tidak lagi mencintai pekerjaan ini dan tidak antusias mengerjakannya. Tidak ada motivasi untuk bekerja. Anehnya, ketika aku tidak memiliki motivasi, aku justru stres menghadapi pekerjaan. Seharusnya aku cuek-cuek saja, kan? Nyatanya tidak. Aku mengalami kecemasan yang parah. Tidak tahu harus mengerjakan apa. Ditambah notifikasi dari grup whatsapp yang terus-menerus menginformasikan absensi pekerjaan. Selera makan mendadak hilang kalau sedang di kantor. Hampir setiap pulang kantor, aku berjalan sambil menangis. Kadang merasa, "Duh, ngapain sih gue hidup." Kadang berpikir, "What should I do with my life." Berangkat ke kantor pun galau. Di jalan, kalau aku melihat bapak-bapak sedang bekerja di sawah, kadang berpikir, "Coba aku bisa meminjam setengah semangat hidupnya." Maybe, that's the scariest moment in my life. Dan saat-saat itulah aku merasa aku membutuhkan bantuan profesional. Dokter, psikiater, atau siapalah. Namun, ketika sudah pulang ke kos dan menonton acara-acara lucu, kecemasanku mereda. Aku pun berpikir mungkin aku melebih-lebihkan kondisi kejiwaanku. Besok paginya, sampai di kantor aku kembali merasa cemas. Begitu terus-menerus. Antara merasa perlu dan tidak perlu ke dokter.

Ketika masuk ke pekan ketiga bulan Oktober, aku semakin malas ke kantor. Buat apa ke kantor. Penuh siksaan batin. Di kantor pun aku tidak bisa mengerjakan apa-apa karena otakku buntu. Sudahlah dilanda stres, pekerjaan pun tidak ada yang kuselesaikan. Akhirnya aku memutuskan untuk ke psikiater. Aku bertanya pada kawanku tentang psikiater di kota sebelah. Kenapa bukan di Blangpidie? Aku sudah mencoba menelepon rumah sakit di Blangpidie tapi tidak ada yang mengangkat. Aku juga tidak tahu harus bertanya kepada siapa tentang ada tidaknya psikiater di rumah sakit tersebut. Dan temanku di Tapaktuan memberitahukan bahwa ada psikiater di sana setiap hari Kamis.

Hari Kamis, 13 Oktober 2016, aku memberanikan diri ke rumah sakit di kota sebelah yang perjalanannya memakan waktu lebih dari dua jam. Aku berangkat pagi-pagi sekitar pukul tujuh. Namun, masih menunggu lama karena sopirnya menunggu penumpang lain. Sampai di sana aku tidak bisa menggunakan BPJS karena aku belum membuat rujukan jadi aku mendaftar sebagai pasien umum. Sampai di poli jiwa, aku menyerahkan berkas dan duduk di ruang tunggu. Aku bertanya pada ibu-ibu di sebelahku tapi dia tidak merespon. Butuh waktu beberapa menit bagiku untuk menyadari bahwa aku sedang di ruang tunggu poli jiwa yang artinya beberapa orang di sekitarku mengalami gangguan jiwa dan ibu tadi sepertinya salah satu pasien. Pantas saja dia tidak merespon. Setelah namaku dipanggil, petugas menanyai keperluanku. Mereka mengira aku ingin membuat surat keterangan sehat (aku lupa apa namanya). Saat aku menjawab bahwa aku datang untuk konsultasi sepertinya mereka sedikit terkejut. Sepertinya begitu. Mungkin aku terlihat terlalu waras untuk konsultasi ke psikiater.

Tibalah giliranku. Psikiater menanyaiku macam-macam. Asalnya dari mana, kerja di mana, sudah berapa lama, dan sebagainya. Saat menanyakan tempat tinggal dia sempat menanyakan apakah kampungku di Jawa Utara. Aku berasumsi bahwa yang dia maksud adalah Jawa bagian utara, jadi aku pun mengiyakan. Si psikiater langsung menyanggah dan mengatakan bahwa tidak ada Jawa Utara. Emosiku terpancing dan aku langsung menjelaskan pemahamanku. Dia juga sempat menanyakan, "Anak berapa?" Lebih kurang begitu pertanyaannya. Aku ragu untuk menjawab. Akhirnya aku menanyakan apakah maksud pertanyaannya itu "aku anak nomor berapa?" meskipun aku curiga maksud pertanyaannya adalah berapa jumlah anakku. Ternyata kecurigaanku benar. Dia pun kemudian bertanya, "Sudah menikah, kan?" Tentu saja kujawab "belum". "Ada niat menikah?" "Nggak". Entah kenapa aku cepat sekali menjawab seperti itu. Mungkin karena waktu itu aku sudah kebingungan mencari motivasi hidup sehingga aku tidak punya cukup energi untuk mencari motivasi menikah. Ngapain coba nyari teman hidup kalau masih malas untuk melanjutkan hidup? Aku lupa bagaimana tepatnya yang dikatakan psikiater tersebut, yang jelas dia sepertinya menganggap kalau penyebab stresku adalah masalah jodoh. Aku pun langsung sebal. Beberapa pertanyaan berikutnya juga ada yang membuatku sebal. Misalnya dia ngotot bahwa BPS cuma ada di provinsi, tidak ada di kabupaten. Dia juga ngotot kalau di kabupaten itu adanya cuma Dinas Kependudukan. Entah dia memang menyebalkan, atau itu salah satu tes yang dia berikan untuk mengetahui reaksiku. Yang jelas aku sebal. Meskipun menyebalkan, dia lumayan bisa memancing orang untuk terbuka. Aku menceritakan masalahku sampai menangis. Aku tidak yakin sih, apakah dia yang pandai membuat orang terbuka, atau aku yang sejak awal berniat untuk terbuka karena aku merasa butuh bantuan.

Dia pun menyebutkan diagnosis penyakitku: Mixed Anxiety and Depression. Dia juga menjelaskan tentang hormon-hormon yang memengaruhi kondisi psikologiku tersebut tapi aku lupa. Dopamin? Serotonin? Semacam itulah. Dia memberiku resep. Katanya, untuk bisa sembuh aku perlu mengonsumsi obat selama sekitar tiga bulan. Dia juga mengingatkanku untuk tidak bergantung pada obat. Saat aku bertanya bagaimana kalau aku tidak bisa menghindari penyebab stres, dia menjawab, "Memang nggak bisa dihindari. Itu harus dihadapi." Jawaban pun berubah menjadi ceramah panjang lebar yang tidak kuingat. Aku cuma ingat kalau dia membahas mengenai vulnerable kid. Bagaimana peran orang tua membentuk kepribadian anak agar tidak menjadi generasi yang vulnerable. Well, I guess it's too late for me. Sudah terlanjur tua dan sudah terlanjur vulnerable. Dan lagi-lagi dia mengungkit masalah jodoh. Menyebalkan. Aku juga sempat menanyakan mengenai "bosan hidup" yang kurasakan selama beberapa bulan terakhir. Bahaya nggak? Dia balik bertanya apakah aku pernah melakukan usaha untuk mengakhiri hidup. Nope. Aku mah cuma capek hidup tapi masih takut mati. Dan lagi-lagi aku lupa apa penjelasannya. Yang kuingat cuma perasaan suicidal ideation itu salah satu tanda depresi. Kamu kok keminggris, Milo? Si bapak psikiater itu memang banyak menggunakan istilah Bahasa Inggris. Beberapa kali aku tidak paham dengan pelafalannya dan baru paham setelah dia menjelaskan dalam Bahasa Indonesia. Sebagian juga baru benar-benar kupahami setelah aku mencari tahu tentang Mixed Anxiety and Depression lewat Google setelah pulang dari rumah sakit. Saat mendengarkan penjelasan si bapak, dalam hati aku beberapa kali mengkritik pelafalannya. Duh, keminter kamu!

Setelah mendapat resep, aku menyerahkan resep pada perawat. Aku lupa apakah dia menanyakan mengenai BPJS sebelum atau setelah konsultasi. Yang jelas, dia memberitahuku bahwa harga obat untuk pasien penyakit jiwa itu mahal. Kalau menggunakan BPJS aku bisa mendapat obat gratis. Kalau selain BPJS harus membeli obat di luar. Sebenarnya aku sudah menyiapkan uang untuk beli obat yang dari awal sudah kuduga mahal. Demi kewarasan. Dia pun menyarankan untuk membeli obat untuk seminggu dulu. Setelah itu, aku diminta membuat rujukan untuk ke RS agar bisa mendapat obat gratis. Baiklah.

Aku pun ke apotek di depan RS. Setelah kutunjukkan obatku, ternyata tidak ada di sana. Kuputuskan untuk membeli obat di Blangpidie saja. Pulang saja. Sambil menunggu mobil L300 lewat, aku makan bakso di warung sebelah apotek. Sampai aku selesai makan, masih belum ada mobil yang lewat. Aku terpaksa menunggu di depan apotek. Untung ada tempat duduk. Agak lama kemudian, ada L300 yang lewat. Aku pun langsung naik. Sampai di Blangpidie, aku ke apotek. Apotek pertama: obat yang diresepkan tidak ada. Pelayannya sempat kelihatan bingung membaca resepnya dan mengira itu obat untuk penyakit yang jauh berbeda (aku lupa apa penyakit yang dia sebutkan). Apotek kedua: dua obat tersedia dan satu obat yang diresepkan tidak terbaca. Aku ragu apakah boleh hanya mengonsumsi dua obat atau harus ketiganya. Akhirnya aku tidak jadi membeli obat. Aku pun memotret resep tersebut dan mengirimkannya ke kawanku siapa tahu dia atau kawannya yang lain yang psikiater bisa membacanya. Butuh waktu lama untuk menunggu jawabannya. Sepertinya resepnya benar-benar sulit dibaca. Setelah ada yang bisa membaca resep tersebut, mereka malah menyarankan untuk ke psikiater lain untuk mencari second opinion. Aku lupa alasan pastinya dan aku juga tidak bisa melihat pembicaraan yang membahas itu karena aplikasi whatsapp di ponselku rusak.

Second opinion? Berarti ke rumah sakit lagi? Harus ke kota sebelah yang satunya lagi? Perjalanan ke sana bisa lebih dari tiga jam. Mobil paling pagi dari Blangpidie sekitar pukul sembilan, berarti paling cepat sampai di sana pukul dua belas siang? Dengan hitung-hitungan waktu seperti itu, aku memutuskan untuk tidak mencari second opinion. Aku juga tidak menebus resep obatku. Agak takut juga kalau tidak diobati dan suatu saat tiba-tiba aku mengalami kecemasan parah. Tapi, lagi-lagi kemalasanku yang menang.

Aku pun mengatakan pada bosku bahwa aku tidak mau lagi memegang jabatanku yang sekarang. I became a jerk, an unresponsible colleague, and a stubborn subordinate. Biarlah.

Huwaaah! Panjang juga ceritaku. Sebenarnya selama ini aku ragu mau menuliskannya atau tidak. Di satu sisi aku ingin menuliskannya karena salah satu tujuan blog ini adalah mendokumentasikan kejadian-kejadian dalam hidupku. Di sisi lain, aku tidak ingin dianggap mencari perhatian dengan menceritakan kesedihan-kesedihanku di sini. Aku juga tidak siap mendengar komentar seperti "You're exaggerating! Lebay banget, sih! Cuma masalah gitu doang!" Salah satu alasan aku tidak mau menceritakan masalah ini ke orang lain adalah komentar semacam itu. Sejak awal aku mengeluh mengenai pekerjaan, sudah banyak yang berkomentar menganggap masalahku sepele. Mereka menganggap kecemasanku berlebihan. Lah, siapa juga sih yang kepengen cemas? Akhirnya aku pun jadi berburuk sangka pada semua orang dan menganggap semua orang akan bereaksi serupa ketika aku menceritakan masalahku. Jadilah semuanya kupendam sendiri.

Dan satu yang kusadari saat bertemu psikiater: dia jauh berbeda dengan psikiater-psikiater yang ada di drama-drama barat yang biasanya digambarkan lembut dan tidak judgy. Psikiater yang satu ini tidak seperti Patrick Jane yang di The Mentalist. Eh, Patrick Jane kan bukan psikiater. Ah, sudahlah.

ARTIKEL TERKAIT



2 komentar:

  1. Miloooooo, aku senang akhirnya kamu tulis cerita ini di sini. Milo, aku pun juga pernah merasakan hal yang sama, semacaaaam "yaaaah gitu deh ya". Cuma aku gak sampe ke psikiater, :).

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!