Rabu, 12 Juli 2017

Komentar Lebaran

Lebaran harusnya jadi momen yang menyenangkan. Namun, kadang ada hal yang membuat lebaran jadi momen yang menyebalkan. Salah satunya adalah hal yang sudah kita ketahui bersama: komentar dan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Contohnya? Apa lagi kalau bukan soal pasangan dan berat badan?

Beberapa waktu sebelum lebaran aku membaca tweet yang menyebutkan kalau "Orang yang menanyakan 'Kapan nikah?' justru biasanya orang yang tidak akan kuundang ke pernikahanku kelak." Semacam itulah. Aku lupa kalimat tepatnya karena ditulis dalam Bahasa Inggris. Dan sewaktu lebaran aku mengalami hal yang membuatku setuju dengan tweet tersebut. Aku bertemu dengan sepupu bapakku yang bertanya, "Udah punya calon di Aceh?" Aku cuma tersenyum menggeleng. Namun, dia sepertinya tidak puas dengan jawaban 'diam'-ku dan menanyakan entah-apa-lagi yang tidak kudengarkan sama sekali. Aku langsung berbalik dan mengobrol dengan ibuku dan menganggap orang tadi tidak ada. Aku tidak ingat namanya. Setelah kejadian itu, aku jadi merasa tidak perlu tahu namanya. Dan orang yang tidak perlu kuketahui namanya itu tentu tidak perlu kuundang ke pernikahanku kelak.

Beberapa hari setelah lebaran, ada sepupu yang datang ke rumah. Saat berpamitan, dia berkomentar, "Iin gemuk, ya!" Rasanya menyesal sudah keluar untuk menemuinya. Bagaimana perasaanmu, setelah diet menahan diri tidak makan kue-kue dan jajanan kesukaanmu selama beberapa bulan demi menurunkan berat badan, lalu ada orang yang dengan teganya masih mengataimu gemuk? Njelehi. Aku tahu aku gemuk. Tidak perlu diberitahu seperti itu. Kalau tidak ikhlas berkomentar, "Kamu tambah cakep!" ya setidaknya cukup diam, mingkem cep klakep. Tidak perlu berkomentar, "Kamu gemukan!" Ibuku yang tahu kalau aku paling sensi dengan komentar "gemuk" langsung menimpali, "Ini sudah kurusan, kok!"

Komentar-komentar njelehi seperti itu membuatku berpikir kalau lebih baik tidak usah bertemu untuk bermaaf-maafan. Selama setahun (atau mungkin malah bertahun-tahun) tidak pernah bertemu, kecil kemungkinan berbuat salah dan menyakiti hati. Kecuali kalau sering menggunjing atau ngrasani. Sewaktu tidak bertemu, tidak menyakiti hati. Begitu bertemu, bermaaf-maafan, setelah itu berkomentar nyelekit dan membuat sakit hati. Kebalik, kan? Setelah minta maaf, malah berbuat dosa. Plus menyebabkan orang lain berbuat dosa juga. Maksudnya? Orang yang mendapatkan pertanyaan dan komentar yang tidak menyenangkan bisa saja langsung nggrundhel atau misuh-misuh. Ikut dosa, kan?

Selain bermaaf-maafan, alasan orang bertemu saat lebaran adalah untuk silaturrahim (menyambung kekeluargaan, menyambung kasih sayang). Namun, kalau dibumbui komentar dan pertanyaan menyebalkan, bukan kasih sayang yang muncul melainkan rasa sebal. Masih bisa disebut silaturrahim?

ARTIKEL TERKAIT



4 komentar:

  1. Paling tepat emang dicuekin aja pertanyaan kayak gini. Toh nggak bakal ada habisnya juga. Udah nikah udah punya anak juga masih tetap ditanya, "Kapan nambah anak?" (-_-")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak abis-abis yak pertanyaannya..

      Hapus
  2. Biasanya kalau ada komen yang bikin gak enak, saya suka pura-pura gak denger aja :D

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!