Hari ini aku stres lagi. Lagi? Iya. Lagi. Semester lalu juga sudah stress karena tugas metodologi penelitian. Tugas lain cukup membuat stres juga tapi yang paling memberi andil dalam membuat otakku meucawoe alias berantakan adalah tugas mata kuliah metodologi penelitian. Kenapa? Karena aku paling sulit kalau mencari ide. Mau membuat penelitian tentang apa? Lebih-lebih kalau disuruh melakukan analisis masalah. Hellooow! Aku ini anak baik-baik. Mana suka mencari masalah. Dulu sewaktu mengerjakan skripsi juga sampai galau gara-gara tidak jelas masalahnya apa. Setelah ditanya dosen pembimbing "Masalah apa yang mau kamu atasi dengan hasil skripsi kamu?" aku langsung galau. Blank. Akhirnya mogok bimbingan. Aku malah mengurung diri di kamar dan menonton Princess Hours. Yang lain sibuk coding sampai lupa makan lupa tidur, aku sibuk ngekepin bantal. Iya, aku termasuk orang yang mudah tidur kalau sedang stress. Bagiku tidur adalah salah satu cara melarikan diri dari kenyataan. Lalu, terus-terusan mogok bimbingan? Untungnya aku punya teman satu bimbingan yang galak yang berhasil menyuruhku bimbingan.
Setiap hari baru, selalu ada harapan baru. Setiap hari baru, selalu ada pengalaman baru. Bila hidup adalah perjalanan, nikmatilah pemandangan yang ada di sekitarmu. Fokus pada tujuan perjalanan memang penting. Tapi, MENIKMATI PERJALANAN juga tak kalah penting. Enjoy your life, Dude!
Rabu, 26 Agustus 2015
Selasa, 25 Agustus 2015
Wanseponetaim in Semarang: Kondangan dan Sam Poo Kong
Setelah jalan-jalan di Lawang Sewu, aku dan teman-teman kondangan. Heyah! Sekarang sudah kembali terbiasa menyebut "kondangan" dan bukan "kenduri". Oke, kembali ke topik. Kondangan adalah salah satu momen di mana perempuan yang biasanya tanpa makeup pun mendadak memakai makeup. Yah, minimal memakai bedak dan lipstik. Dan aku? Berhubung masih trauma dengan bedak, aku pun cuma memakai pelembab. Untuk sedikit mendongkrak penampilan agar terlihat agak berbeda dengan penampilan saat main, aku pun mencoba memakai pashmina. Kali ini aku membawa pashmina pemberian Eny beberapa tahun yang lalu. Dililit, diputer, ah, masih belum kece. Aku pun minta tolong temanku untuk memakaikan jilbab. Setelah semuanya selesai berdandan, kami pun berangkat. Daaan ... dalam perjalanan salah satu jarum pentul yang kupakai jatuh. Jadilah jilbabku berantakan. Ketika yang lain foto-foto sebelum masuk gedung, aku heboh sendiri berusaha mengatur jilbab agar tetap rapi meskipun kurang satu jarum pentul. Berhasil? Yah, lumayan, lah. Lumayan hancur. Dalam perjalanan pulang kondangan, jilbabku sudah semakin berantakan. Sebodo. Sepertinya aku belum berjodoh dengan jilbab pashmina, seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya. Wahai para fashion blogger, hijab blogger, apapun sebutan kalian, buatlah trend untuk memakai bergo ke acara kondangan! Pliiis!
Senin, 24 Agustus 2015
Wanseponetaim in Semarang: Lawang Sewu
Tanggal 8 kemarin aku dan teman-temanku pergi ke Semarang. Tujuan utamaku adalah untuk jalan-jalan nostalgila di kota kenangan. Tujuan sampinganku (tapi ini tujuan utama teman-temanku) adalah kondangan ke acara pernikahan teman kuliah. Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen. Stasiunnya ruameee. Baru kali ini aku antre begitu panjang untuk masuk ke peron stasiun. Seperti antrean ketika hendak check in sebelum naik pesawat. Maklum, biasanya aku naik kereta dari Gambir atau Jatinegara yang lumayan lega.
Kami naik kereta Gumarang. Di stasiun aku mendengar bahwa tujuan akhir kereta itu adalah Stasiun Pasar Turi Surabaya. Saat itu aku langsung sadar kenapa harga tiket Gumarang lebih mahal dari Tawang Jaya. Yaiyalaaah... Yang satu sampai Surabaya, yang satu cuma sampai Semarang. Jadi malu karena sebelumnya aku mengomel karena harga tiket kedua kereta tersebut beda jauh padahal sama-sama ekonomi. Ternyata tujuan akhirnya beda. Hihihi.
Karena tiba di Semarang sudah larut malam, kami baru jalan-jalan besok paginya. Kami jalan-jalan numpang lewat dan foto-foto di Simpang Lima lalu ke Tugu Muda dan Lawang Sewu, dan foto-foto lagi. Rencana nostalgilaku gagal karena semuanya benar-benar berbeda dengan kenanganku sepuluh tahun lalu. Jadinya seperti baru pertama kali datang ke Semarang.
Kamis, 06 Agustus 2015
Setengah Kopdar
Sampai saat ini aku belum pernah kopdar. Awal-awal ngeblog masih semangat ingin kopdar dengan teman-teman tapi karena tempat tinggalku jauh di ujung Sumatera sana jadi tidak pernah kopdar. Dan setelah tinggal di Jakarta dan punya kesempatan kopdar dengan teman-teman blogger di sini, aku malah aras-arasen. Awalnya semangat, kemudian berpikir, "Mau ketemuan di mana, ya? Nanti mau mengobrol apa? Aku kan tidak pandai memulai pembicaraan." Ujung-ujungnya malas mengajak dan diajak kopdar daripada nanti image-ku di blog tidak sesuai dengan image di dunia nyata. Ah, itu cuma alasan! Iya, sih. Itu cuma alasan. Nyebelin, ya? Iya, kadang aku memang menyebalkan. Kamu yang sabar, yaaa!
Kopdar yang berhasil kulakukan cuma setengah kopdar. Maksudnya? Kopdar dengan orang yang sudah pernah kutemui di dunia nyata, tapi tidak akrab. Kami baru akrab setelah saling komentar di blog dan media sosial. Itu mah bukan kopdar! Yah, anggap saja itu kopdar. Setengah kopdar, deh.
Rabu, 05 Agustus 2015
Tetangga Sendiri
Hari ini perpustakaan kampus sepi. Wajar, sih. Memang perkuliahan baru mulai bulan depan. Lha, terus situ ngapain ke kampus libur-libur gini? Niat sampingannya, sih, mau mencari inspirasi untuk topik karya akhir (di sini tesis disebut karya akhir). Niat utamanya? Numpang mengunduh dorama atau film, hahaha! Saking seringnya aku mengunduh memakai wifi kampus, temanku menggunakan iming-iming wifi gratis agar aku mau ke kampus.
Sabtu, 01 Agustus 2015
Dandan
Perempuan biasanya identik dengan berdandan. Kadang-kadang aku juga ingin berdandan. Bukan dandan heboh dengan makeup lengkap seperti blush on, eye shadow, maskara, dan kawan-kawannya. Paling banter ya bedak dan lipstik. Itu saja sudah membuat penampilanku yang biasanya kusam jadi kelihatan berbeda. Kapan aku merasa ingin berdandan? Waktunya tidak pasti, sih. Yang jelas mungkin cuma setahun sekali atau dua kali, hihihi. Selain hari ajaib itu, aku berpegang pada prinsip "yang penting mandi, nggak bau badan, dan nggak bau mulut". Dan karena tragedi jerawat yang bersemi luar biasa, aku jadi trauma memakai bedak.
Rabu, 17 Juni 2015
Random
Nggak ada istilah salah ngomong. Yang ada salah mikir. Karena salah mikir akibatnya omongannya juga salah.
Begitu kira-kira yang dikatakan oleh salah dua dosen (satu dosen tamu dan satu dosen tuan rumah *eh, dosen tuan rumah?). Sebagai orang yang sering salah ngomong, keseleo lidah, tidak fokus, ngobrol random dengan tema lompat-lompat dari tema A ke F lalu ke C pindah ke M dan ujug-ujug membahas Z, aku jadi berpikir, "Se-random dan seberantakan apakah isi pikiranku?" Jangan-jangan isi pikiranku sudah seperti benang kusut yang tidak bisa diuraikan lagi. Mungkin aku jarang mengobrol sehingga kemampuanku dalam berkomunikasi secara lisan memang bisa dibilang parah. Atau kemampuanku yang parah dalam berbicara yang menyebabkan aku jarang mengobrol? Ealah, malah jadi seperti ayam dan telur.
Rabu, 13 Mei 2015
Tentang Sakit dan Sepi
Sudah beberapa bulan terakhir aku keranjingan menonton dorama. Sebagian besar yang kutonton adalah dorama detektif. Selama ini aku belum pernah bisa benar-benar merasakan apa yang dirasakan tokoh utama dalam dorama. Biasanya memang tersentuh, terharu, tapi tidak sampai merasa tertonjok.
Dorama Jepang memang banyak hikmahnya, tapi tidak ada yang sampai membuatku menyadari betapa fragile-nya aku. Dan saat menonton Border, aku merasa, "Oooh, ternyata gue juga begitu." Tokoh utama Border, yaitu Ishikawa Ango, digambarkan sebagai sosok yang menyimpan semua masalahnya sendiri dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Dia juga digambarkan sebagai sosok yang terus menahan, atau bahkan mengabaikan rasa sakit. Dan temannya menasihati, " If you keep persevering and get used to the pain, you won't realize when something really important starts to hurt." Kalimat itu benar-benar menampar. Kadang aku bersikap sok kuat, berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Tanpa disadari, rasa sakit itu perlahan-lahan menghancurkan hati. Aku merasa baik-baik saja, padahal sebenarnya di dalam hati sudah berdarah-darah. Seperti ketika aku merasa tidak punya siapa-siapa untuk berbagi. Aku merasa aku tidak kesepian. Tapi, setelah melihat adegan di Border itu, aku seperti dipaksa melihat lagi ke dalam hatiku. Apakah aku benar-benar baik-baik saja? Apakah aku benar-benar tidak kesepian? Sepertinya aku sudah terlalu sering merasakan kesepian jadi sudah tidak bisa membedakan ketika kesepian atau tidak. Seperti orang yang sudah sering merasakan sakit, lama-lama tidak menyadari ketika dia terluka.
Rabu, 06 Mei 2015
Malas Nge-blog
Sudah lebih dari tiga bulan tidak nge-blog. Rasanya aneh. Memang, sih, sudah dua tahun terakhir aku tidak terlalu sering nyampah di blogosphere. Tapi, tetap saja selama dua tahun itu tiap bulan selalu ada cerita tidak penting yang kutuliskan. Dan sekarang? Selama tiga bulan tidak ada cerita apapun. Padahal beberapa kali aku punya ide yang bisa kutuliskan. Namun, ide itu akhirnya terlupakan tanpa sempat kutuliskan. Ada juga beberapa buku yang ingin ku-review. Tapi, akhirnya sebelum sempat ku-review, buku-buku itu sudah kuungsikan ke rumah demi kamar kos yang lebih manusiawi berantakannya. Ada juga keinginan bercerita tentang dorama-dorama yang kutonton. Tapi, lagi-lagi semuanya batal kutulis dan akhirnya terlupakan.
Bukan. Bukan karena aku sibuk. Dulu, sesibuk apapun, aku tetap sempat bercerita di blog. Bahkan, aku rela melek hingga tengah malam untuk melantur macam-macam. Jadi, sibuk bukan alasan. Stres juga bukan alasan. Biasanya, aku justru nge-blog untuk mencurahkan emosi agar tidak semakin stres. Sekarang, meskipun stres, aku tidak tergoda untuk menceritakannya di blog. Aneh, kan?
Kamis, 29 Januari 2015
Kota Tua
Bulan November yang lalu aku jalan-jalan ke Kota Tua bersama beberapa temanku. Sayang waktunya kurang tepat. Kami ke sana pada akhir pekan jadi tempatnya terlalu ramai. Saat itu juga Museum Fatahillah sedang direnovasi jadi aku tidak bisa hunting foto di sana.
![]() |
| Suasana di Lapangan Fatahillah. Banyak orang berkostum yang bisa diajak berfoto (apa sih nama pekerjaan seperti itu?) |
![]() |
| Masih di Lapangan Fatahillah, di depan kantor pos. |
Rabu, 14 Januari 2015
2014-ku
Tahun 2014 sudah berlalu. Banyak cerita di tahun 2014 yang ingin
kubagikan lewat blog tapi selalu saja urung kutuliskan. Bukan. Alasanku bukan
sibuk. Tahun-tahun sebelumnya juga aku sibuk tapi banyak juga yang bisa
kuceritakan di blog ini. Tapi, di tahun 2014 terlalu banyak godaan. Setiap buka
laptop aku bukannya membuat blogpost tapi malah nonton, browsing situs lucu,
baca komik, dan segala hal tidak penting lainnya. Dan sebelum semuanya
terlupakan, aku ingin mengabadikannya di sini, dalam satu tulisan.
Resolusi yang Gagal
Resolusiku di awal 2014 adalah: tidak bekerja lembur alias tidak
ngantor setelah lewat pukul 16.30 dan tidak ngantor saat weekend. Temanku
langsung mengatakan bahwa resolusiku itu hal yang mustahil. Dan memang benar.
Tidak butuh waktu lama untuk menggagalkan resolusi itu. Masih ada pekerjaan
yang membuatku ngantor di hari Sabtu dan Minggu. Entry Susenas lah, entry Podes
lah, pelatihan SOUT lah. Macam-macam.
Ganti Bos
Sejak kali pertama bekerja di Aceh Barat Daya, yaitu tahun 2009, sampai
tahun 2013, aku tidak pernah berganti pimpinan. Jadi, aku sudah terbiasa
bekerja dengan bosku dan sudah terbiasa dengan gaya bekerjanya. Dan saat ada kabar
bahwa bosku akan dipindah ke kabupaten lain, aku lumayan sedih. Tapi, aku
teringat status Tere Liye yang sering mengatakan untuk melihat perpisahan dari
sisi yang pergi. Aku pun berusaha melihat kepindahan bos dari sisi bosku
sendiri. Kabupaten yang akan jadi tempat kerjanya adalah kampung halaman
istrinya, jadi ia akan lebih dekat dengan keluarga. Bagus, kan? Pikiran itu
membuatku tidak bersedih lagi. Ditambah lagi pikiran bahwa siapa tahu di tempat
baru bosku akan lebih sukses dan berprestasi. Buat apa sedih kalau ternyata
tempat yang baru lebih baik untuk bosku?
Tapi, ternyata adaptasi dengan bos baru tidak mudah. Sifat yang
berbeda, cara kerja yang berbeda, membuatku tidak terlalu nyaman dengan bos
baru ini. Well, aku termasuk orang yang butuh waktu lama untuk beradaptasi.
Kamis, 08 Januari 2015
Sunyi
Mungkin sunyi ini memang harus dinikmati dan disyukuri
Bukankah dalam sunyi aku lebih jelas mendengar suara hatiku sendiri?
Tak ada lagi bising
Tak ada lagi suara mereka yang membuatku lupa
tentang inginku
tentang mimpiku
tentang diriku sendiri
Mungkin jarak ini memang harus dinikmati dan disyukuri
Karena jarak ini membuatku bisa melihat lebih jelas
melihatmu
melihat mereka
melihat dunia
melihat diriku sendiri
Mungkin rasa sendiri ini harus dinikmati dan disyukuri
Karena dengan rasa sendiri ini
aku tahu seberapa jauh aku bisa bertahan dengan kekuatanku sendiri
Mungkin..
Bukankah dalam sunyi aku lebih jelas mendengar suara hatiku sendiri?
Tak ada lagi bising
Tak ada lagi suara mereka yang membuatku lupa
tentang inginku
tentang mimpiku
tentang diriku sendiri
Mungkin jarak ini memang harus dinikmati dan disyukuri
Karena jarak ini membuatku bisa melihat lebih jelas
melihatmu
melihat mereka
melihat dunia
melihat diriku sendiri
Mungkin rasa sendiri ini harus dinikmati dan disyukuri
Karena dengan rasa sendiri ini
aku tahu seberapa jauh aku bisa bertahan dengan kekuatanku sendiri
Mungkin..
Sabtu, 29 November 2014
Jangan Menyerah
Apa kau merasa hidupmu begitu berat? Sebentar saja, keluarlah dari sarangmu. Keluar dari persembunyianmu. Berjalanlah sejenak, melihat sekelilingmu.
Mungkin kau akan bertemu penjual kembang tahu yang memanggul dagangannya keliling kampung. Dia tidak tahu apakah dagangannya akan laris atau tidak hari ini. Tapi, dia tidak menyerah. Dia tetap berusaha menjemput rezekinya. Memanggul dagangannya yang berat, berjalan di bawah terik matahari.
Mungkin kau akan bertemu bapak tua yang berjualan kue semprong di halte bus. Mungkin ketika hujan kau akan melihatnya kerepotan melindungi dagangannya agar tidak basah. Di usianya yang senja dia masih tetap bekerja.
Mungkin kau akan bertemu penjual tahu aci di terminal yang tak bosan menawarkan dagangannya kepada para penumpang bus. Meskipun kadang jualannya tidak laku sampai malam, mereka masih mencoba berjualan lagi keesokan harinya.
Mungkin kau akan melihat para sopir angkot yang menunggu penumpang. Mereka tidak tahu hasil narik mereka akan cukup untuk membayar setoran atau hanya cukup untuk membayar bensin atau justru harus nombok. Tapi, mereka tetap bekerja.
Saat kau merasa hidupmu berat, ingatlah mereka. Tidak. Aku tidak bermaksud mengecilkan kesulitan yang kauhadapi dibandingkan kesulitan mereka. Semua orang punya masalah masing-masing. Dan bukan hakku mengatakan masalahmu tak seberapa dibanding masalah mereka. Aku tahu, menunjukkan padamu bahwa orang lain juga punya masalah tidak akan membuat masalahmu menjadi lebih ringan. Aku juga tidak akan mengatakan kau jauh beruntung dari mereka dan memaksamu mensyukuri keadaanmu saat ini. Tidak. Aku hanya ingin kau mengingat semangat mereka untuk tetap bertahan hidup. Aku hanya ingin kau percaya bahwa selalu ada harapan. Jangan menyerah.
*self reminder*
Rabu, 19 November 2014
Where the Mountain Meets the Moon
Dahulu kala, tidak ada sungai di muka bumi. Naga Gioklah
yang bertugas menjaga awan, menentukan di mana akan hujan dan kapan reda.
Hingga suatu hari ia mendengar beberapa penduduk suatu desa berkata, “Aku sudah
muak pada hujan. Aku senang karena awan telah pergi dan matahari akhirnya
bersinar.” Kalimat itu membuat Naga Giok marah. Ia pun berhenti menurunkan
hujan. Kekeringan di mana-mana. Keempat anaknya – Mutiara, Kuning, Panjang, dan
Hitam – merasa kasihan pada penduduk bumi. Mereka memutuskan turun ke bumi dan
mengubah diri menjadi empat larik sungai. Ketika menyadari perbuatan anaknya
Naga Giok menyesali kesombongannya. Karena kesedihannya, ia jatuh dari langit
dan menjadi Sungai Giok. Hatinya menjadi Gunung Nirbuah. Tidak ada yang bisa
tumbuh dan hidup di gunung itu, kecuali bila Naga Giok sudah bersatu kembali
setidaknya dengan salah satu anaknya. Itu adalah kisah yang sering didengarkan Minli dari Ba, ayahnya. Dan saat Minli bertanya
bagaimana Gunung Nirbuah bisa menghijau, Ba menjawab, “Itu pertanyaan yang
harus kauajukan pada Kakek Rembulan.” Setiap dia mengajukan pertanyaan penting,
jawabannya selalu seperti itu.
Rabu, 12 November 2014
Kekuatan yang Diperlukan Saat Naik TransJakarta
TransJakarta
– atau lebih dikenal dengan sebutan busway (padahal busway itu jalur untuk
kendaraan tersebut, kan?) – sekarang sudah jadi angkutan yang populer di
Jakarta. Mungkin bagi orang luar Jakarta naik TransJakarta kelihatannya
menyenangkan. Padahal seringkali untuk naik TransJakarta tidak semenyenangkan yang dibayangkan orang yang belum pernah atau jarang naik armada tersebut. Seringkali butuh perjuangan dan
butuh kekuatan khusus. Iya, butuh kekuatan khusus. Berikut ini kekuatan yang
harus dimiliki oleh penumpang TransJakarta:
Senin, 10 November 2014
The Story Girl
Jika suara mempunyai warna, warna
suaranya mirip seperti pelangi. Membuat kata-kata menjadi hidup.
– kata Beverly tentang Gadis Dongeng –
Beverly King – sebut saja Bev – dan Felix King harus meninggalkan Toronto untuk
tinggal bersama paman dan bibi mereka di Carlisle, Pulau Prince Edward. Alan
King, ayah mereka, harus pergi ke Rio de Janeiro dan tidak bisa membawa mereka
bersamanya. Bev dan Felix sangat antusias pergi ke tempat di mana ayah mereka
menghabiskan masa kecilnya. Setibanya di sana mereka merasa sudah mengenal
tempat itu karena seringnya ayah mereka menceritakan tempat itu. Pohon-pohon
willow, kebun keluarga King, sumur dengan atap China, hingga suara kodok di
malam hari, mereka merasa sudah mengenalnya bertahun-tahun silam lewat cerita
ayah mereka.
Di Carlisle mereka berdua tinggal bersama Paman Alec dan Bibi Janet serta
anak-anak mereka: Dan, Felicity, dan Cecily. Ada juga sepupu mereka yang lain
yaitu Sara Stanley yang tinggal bersama Bibi Olivia dan Paman Roger. Di sana
mereka juga bertemu dengan Peter, anak lelaki yang bekerja untuk Paman Roger.
Ada juga Sara Ray, teman Cecily. Tidak butuh waktu lama bagi Bev dan Felix
untuk akrab dengan mereka berenam. Banyak kejadian yang mereka alami, yang menyenangkan,
menyedihkan, juga menegangkan. Misalnya ketika mereka meminta sumbangan untuk
membangun perpustakaan sekolah, ketika mereka berlomba mencatat mimpi mereka,
ketika Peter sakit campak dan teman-temannya khawatir dia akan mati, ketika
mereka membeli gambar Tuhan, dan ketika mereka ketakutan mendengar kabar akan
datangnya hari kiamat.
Sabtu, 01 November 2014
Nonton Lagi!
Hari ini aku menonton film Rurouni Kenshin: The Legend
Ends di Blitz Grand Indonesia. Dengan siapa? Sendirian, dooong! Aku berangkat
dari Otista dengan bus TransJakarta ke Harmoni. Seperti biasa, bus jurusan
PGC-Harmoni kalau sedang ditunggu-tunggu malah tidak muncul-muncul. Begitu
muncul, penuh. Aku pun tidak bisa naik. Saking senewennya, aku pun ngomel di
Twitter sambil mention Twitter @BLUTransJakarta. Eh, baru saja nge-twit,
muncullah bus PGC-Harmoni yang gandeng dan lega, meskipun tetap saja aku tidak dapat
tempat duduk. Sepertinya kali lain aku perlu nge-twit untuk summon bus
TransJakarta.
Setelah sampai di Harmoni aku lanjut naik bis jurusan
Blok M. Sebelumnya aku pernah turun di halte Tosari dan kali ini aku ingin
iseng turun di halte Sarinah. Dan ternyata ... jauuuh! Aku harus berjalan kaki
jauh untuk ke GI. Tapi ada hikmahnya jalan kaki jauh. Aku jadi bisa melihat
orang demonstrasi. Ada yang konvoi yang diikuti beberapa mobil polisi. Seru euy! Maklum,
aku termasuk anak baik-baik (pencitraan) yang tidak pernah ikutan demo
besar-besaran, jadi penasaran melihat demo.
Kamis, 30 Oktober 2014
Mendekatkan yang Jauh
Gadget mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Kalimat ini muncul karena banyak orang yang lebih suka bersosialisasi dengan orang yang jauh dengannya -- dengan menggunakan gadget -- dibandingkan dengan orang yang ada di dekatnya. Bahkan ada yang duduk berhadapan tapi masing-masing asyik dengan gadget-nya. Aku termasuk yang seperti itu, sibuk main ponsel atau laptop dan jarang mengobrol dengan orang. Harus kuakui, ponsel bisa jadi pelarian sempurna saat aku berada di keramaian tapi aku merasa seperti alien. Saat berkumpul dengan teman-teman di ruang makan, aku lebih suka main sudoku di ponsel karena aku memang bukan orang yang biasa mengobrol panjang lebar dengan orang yang tidak terlalu akrab denganku. Aku bukan orang yang pandai membuka pembicaraan. Kalaupun lawan bicara sudah membuka pembicaraan, kadang aku juga tidak tahu harus merespon bagaimana. Ujung-ujungnya paling yang responku, "Oh, gitu."
Senin, 20 Oktober 2014
Oleh-oleh Liliefors
Hari Minggu kemarin aku
mengikuti acara LILIEFORS di kampus STIS. Liliefors ini singkatan
dari Klinik Penulisan Desain Grafis Fotografi STIS. Singkatan yang
agak maksa, demi mendapatkan singkatan yang berbau statistik, hihihi.
Ini kali pertama aku mengikuti Liliefors. Sewaktu kuliah aku tidak
pernah mengikuti dengan alasan tidak punya uang untuk membayar tiket.
Setelah lulus, aku juga tidak mengikuti karena tempat kerjaku nun
jauh di sana.
![]() |
| Bukti ikut Liliefors |
Sewaktu melihat posternya
di Facebook aku langsung tertarik. Yah, meskipun aku tidak tertarik
menjadi fotografer, desainer grafis, atau penulis profesional, tiga
hal tersebut lumayan menarik minatku. Apalagi hobiku yang suka
sok-sokan memotret pemandangan dan pekerjaanku yang menuntut
kreativitasku dalam membuat cover publikasi. Dan setelah melihat
narasumbernya, aku langsung heboh dan buru-buru mendaftar. Siapakah
narasumbernya? Untuk klinik desain grafis narasumbernya Faza Meonk,
komikus Si Juki – komik yang menurutku lumayan menarik (kecuali
komik yang tentang upil dan kawan-kawannya). Narasumber untuk klinik
penulisan adalah A Fuadi, penulis novel Negeri Lima Menara – novel
yang membuatku mulai kecanduan membeli novel. Dua makhluk itulah yang
membuatku makin semangat mengikuti acara tersebut.
Rabu, 08 Oktober 2014
Nggak Ada Kerjaan, Katanya
Ada hal yang menyebalkan saat kuliah malam ini. Awalnya, sih, biasa-biasa saja. Tapi, semakin kupikirkan jadi terasa menyebalkan. Saat itu temanku (yang sesama pegawai BPS) menjelaskan kendala yang dia alami saat mengumpulkan data dari instansi lain. Kemudian ada temanku yang lain (bukan pegawai BPS) berkata lebih kurang begini, "Kalau pekerjaan BPS cuma mengumpulkan data dari instansi lain, BPS nggak ada kerjaan, dong? Buat apa ada BPS?" Berhubung dosennya juga sepertinya tidak tahu mengenai pekerjaan-pekerjaan BPS, dia juga seolah mengamini komentar tadi. Salah satu komentarnya mengenai pekerjaan BPS yang "hanya" mengumpulkan data dari instansi lain lebih kurang begini, "Mending BPS dihapus saja. Atau semua pekerjaan itu dikerjakan sama BPS saja, tidak usah dikerjakan instansi lain." Dan sayangnya waktu kuliah sudah hampir habis jadi tidak sempat ada yang membantah komentar tersebut.
Awalnya aku menganggap itu wajar karena dia tidak bekerja di BPS. Dan aku cuma berpikir kalau dia mengatakan hal itu di depan KSK (Koordinator Statistik Kecamatan), dia pasti sudah jadi dendeng. Tapi, setelah dipikir-pikir, rasanya tidak etis menjatuhkan instansi di depan umum (di depan kelas termasuk umum, kan?). Apalagi dia langsung berkata seperti itu tanpa konfirmasi ke orang-orang yang bekerja di BPS apakah benar mereka tidak ada pekerjaan seperti yang dia asumsikan. Kalau mengingat hal itu, rasanya sebal. Di saat teman-temanku senewen karena beban pekerjaan yang makin berat, ada orang yang mengatakan mereka tidak ada pekerjaan. Kalau komentar dosen, sih, aku tidak terlalu peduli. BPS dihapus? Terserah. Itu urusan para petinggi.
Tapi, gara-gara kejadian itu aku jadi tahu rasanya kalau ada orang yang menghakimi kita tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Istilah kerennya tanpa tabayyun. Jadi, harus hati-hati jangan sampai menghakimi seseorang dan berkata, "Alah, instansi ini mah nggak ada kerjaan. Cih, dinas itu mah kerja enggak korupsi banyak. Bah, orang-orang di kantor itu kerjanya cuma ngerumpi." Jangan gitu, ya, Milo! Kita tidak tahu apakah seseorang bekerja keras atau tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)





