Rabu, 12 November 2014

Kekuatan yang Diperlukan Saat Naik TransJakarta



TransJakarta – atau lebih dikenal dengan sebutan busway (padahal busway itu jalur untuk kendaraan tersebut, kan?) – sekarang sudah jadi angkutan yang populer di Jakarta. Mungkin bagi orang luar Jakarta naik TransJakarta kelihatannya menyenangkan. Padahal seringkali untuk naik TransJakarta tidak semenyenangkan yang dibayangkan orang yang belum pernah atau jarang naik armada tersebut. Seringkali butuh perjuangan dan butuh kekuatan khusus. Iya, butuh kekuatan khusus. Berikut ini kekuatan yang harus dimiliki oleh penumpang TransJakarta:

Kekuatan tangan dan kaki
Buat apa kekuatan tangan dan kaki? Kedua kekuatan ini kita perlukan apabila kita tidak mendapatkan tempat duduk. Kalau berdiri, tentu saja kita perlu berpegangan, kan? Mungkin ada yang berpikir kalau untuk berpegangan tidak perlu tangan yang kuat. Ow ow ow, Anda salah besar! Laju bus tidak selalu mulus, kawan! Seringkali bus berhenti mendadak karena ada kendaraan yang lewat di depannya. Ini biasanya terjadi di jalur busway yang cuma ditandai cat jadi kendaraan lain kadang nyelonong tanpa permisi. Atau juga ketika sopir bus ngebut, sebentar bus miring ke kiri, sebentar miring ke kanan. Dalam kondisi-kondisi seperti itu, kita harus berpegangan erat-erat di pegangan busway. Kaki yang kuat juga diperlukan agar tetap bisa berdiri seimbang. Apalagi bila kita tidak kebagian pegangan. Kuda-kuda yang kuatlah yang jadi andalan agar tidak jatuh. Kekuatan kaki ini juga diperlukan ketika menunggu bus datang. Kadang, bus yang kita tunggu baru muncul setelah penantian yang begitu lama. Dan berdiri dalam waktu lama perlu kekuatan kaki (dan stamina yang kuat). Jadi, sebelum pergi ke halte TransJakarta, minum susu dulu. Halah, nggak nyambung! Kekuatan kaki ini juga diperlukan kalau sedang berdesakan ketika mau naik ke bus. Kalau berdirinya kurang kokoh, bisa-bisa sewaktu berdesakan kita terdorong dan jatuh.

Kekuatan hati
Hapah? Naik bus saja butuh kekuatan hati? Naik bus ini harus sabar menunggu, sabar ketika di-PHP. Iya, PHP. Yang sering terjadi adalah ketika sudah gembira melihat bus di kejauhan, setelah sampai ternyata itu bus jurusan Kampung Melayu padahal tujuanku adalah Ancol atau Harmoni. Dan kejadian yang kualami beberapa jam tadi sama dengan PHP yang sering kualami lima tahun lalu: sudah girang melihat bus, ternyata cuma numpang lewat sambil pamer tulisan BBG. Naik bus ini juga harus tabah ketika harus berdesak-desakan dan ketika menghadapi penumpang yang agresif. Kalau naik bus ini di jam berangkat atau pulang kantor, bersiaplah berdesak-desakan. Dan kalau naik dari atau transit lewat shelter besar, misalnya Kampung Melayu, Senen, Matraman, atau Harmoni, bersiaplah didorong-dorong saat mengantre untuk masuk ke bus. Setelah lima tahun absen dari jagad per-busway-an, aku lupa seperti apa rasanya mengantre di shelter besar. Dan ketika naik bus dari Harmoni dan merasakan didorong-dorong sewaktu mengantre, rasanya ... rasanya ... horor. Mungkin ini lebay. Tapi, yang kurasakan memang seperti itu. Oh, ya. Ada satu lagi: kesabaran untuk tidak mengomel apalagi mengumpat. Mengomel karena busnya tidak kunjung datang, mengomel karena penumpang sebelah yang sedang berpegangan (yang berarti mengangkat lengan) bau badannya luar biasa, mengomel karena penumpang di depanku (yang agak lebih tinggi dariku) rambutnya goyang-goyang dan beberapa kali kena mukaku, mengomel karena penumpang yang duduk di sebelah berukuran ekstra dan menghabiskan space lebih (alias bikin gue kegencet!), mengomel karena pasangan yang PDA (Public Display Affection) berlebihan (membuatku ingin berteriak, “Get a room!”) dan banyak alasan mengomel yang lain.

Itulah kekuatan yang diperlukan untuk naik TransJakarta. Ada yang mau menambahkan kekuatan lain?

ARTIKEL TERKAIT



19 komentar:

  1. inget dulu waktu lagi magang, ada mbak2 pindah ke pusat, dia dari kalimantan. terus dia tanya atau cerita gitu *lupa* kalau dia mau bayar ongkosnya di dalam bis (likes reguler bus). aku kemudian bengong sambil mbatin: kayak gitu ya kalau kelamaan di daerah, sampai kudet sama cara naik TJ. daaaannn...aku mengalaminya sekarang *kuwalaaaat*

    btw, contoh PDA kek mana sih mil? *lagi2 kudet bentuk2 pergaulan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sih masih inget cara naik busway dan bayarnya. yang lupa itu jurusan-jurusannya :D dan yang paling berasa setelah lama di daerah itu: gak bisa nyebrang!!! makanya sekarang lewat jembatan mulu.

      PDA itu ya contohnya mesra-mesraan di tempat umum. kalo yang kuliat waktu di busway pas mau hunting taco *detil banget* itu ada cowok cewek (kayaknya masih pacaran, belum nikah). si cewek pegangan lengan cowoknya trus nyium-nyium lengan cowoknya itu. bukan nyium nepsong sih, kaya kalo nyium anak kecil gitu. trus dia kaya gemes gitu pengen gigit lengan cowoknya. geliiii banget liatnya.

      Hapus
    2. iya betul mba ayum.. aku pas naik busway rasanya kaya gimana gitu.. kayak jd makhluk asing di keramaian.. apalagi liat org jkt yg rata2 cuek bebek ga peduliin org.. aku malah plirik sana plirik sini.. kayak baru keluar dr hutan.. jarang liat orang :D

      Hapus
    3. aku kok biasa-biasa aja ya naik busway. mungkin karna sama-sama cuek :D

      Hapus
  2. Naik busway emang ujian mental sekaligus fisik. Salut yang tiap hari naik busway.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum. Kalo jam rame, ujiannya luar biasa :D

      Hapus
  3. kekuatan pikiran Mil... biar tau hrs berdiri didekat org yang bakal turunnya cepet.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu butuh keahlian khusus, rin. ajarin dong!

      Hapus
  4. Kakinya harus siaga terus ya. Kayak ngerem gitu. Begitu juga dengan tangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngerem terus kayak naik tank aja

      Hapus
    2. @Idah Ceris: iyaaa, jaga-jaga kalo ngerem mendadak
      @zach flazz: emang naik tank pake ngerem terus?

      Hapus
  5. iya Mbak bener banget. harus sabar nunggu bis dateng kadang sampe satu jam. nggak tau ya pada kemana tuh para bis. kalo sekarang, jadinya menang KRL deh kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. lebih bisa diprediksi datengnya kalo KRL. mungkin karna kereta nggak pake lampu merah kali ya :D

      Hapus
  6. Kekuatan naik busway makin diuji kalau penumpang sebelah angkat ketek menampilkan lekukan basah dan melempar semerbak aroma khas tidak sedap :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak enak banget kalo penumpang sebelahnya kaya gitu -_-

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!