Senin, 10 November 2014

The Story Girl



Jika suara mempunyai warna, warna suaranya mirip seperti pelangi. Membuat kata-kata menjadi hidup.
– kata Beverly tentang Gadis Dongeng –


Beverly King – sebut saja Bev – dan Felix King harus meninggalkan Toronto untuk tinggal bersama paman dan bibi mereka di Carlisle, Pulau Prince Edward. Alan King, ayah mereka, harus pergi ke Rio de Janeiro dan tidak bisa membawa mereka bersamanya. Bev dan Felix sangat antusias pergi ke tempat di mana ayah mereka menghabiskan masa kecilnya. Setibanya di sana mereka merasa sudah mengenal tempat itu karena seringnya ayah mereka menceritakan tempat itu. Pohon-pohon willow, kebun keluarga King, sumur dengan atap China, hingga suara kodok di malam hari, mereka merasa sudah mengenalnya bertahun-tahun silam lewat cerita ayah mereka.

Di Carlisle mereka berdua tinggal bersama Paman Alec dan Bibi Janet serta anak-anak mereka: Dan, Felicity, dan Cecily. Ada juga sepupu mereka yang lain yaitu Sara Stanley yang tinggal bersama Bibi Olivia dan Paman Roger. Di sana mereka juga bertemu dengan Peter, anak lelaki yang bekerja untuk Paman Roger. Ada juga Sara Ray, teman Cecily. Tidak butuh waktu lama bagi Bev dan Felix untuk akrab dengan mereka berenam. Banyak kejadian yang mereka alami, yang menyenangkan, menyedihkan, juga menegangkan. Misalnya ketika mereka meminta sumbangan untuk membangun perpustakaan sekolah, ketika mereka berlomba mencatat mimpi mereka, ketika Peter sakit campak dan teman-temannya khawatir dia akan mati, ketika mereka membeli gambar Tuhan, dan ketika mereka ketakutan mendengar kabar akan datangnya hari kiamat.


Saat mereka berkumpul bersama, seringkali mereka mendengarkan cerita Sara Stanley. Dia sangat pandai bercerita sehingga orang-orang memanggilnya Gadis Dongeng. Saat dia bercerita, dia bisa membuat orang-orang seolah melihat apa yang terjadi dalam cerita dan bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh dalam ceritanya. Ketika dia bercerita tentang Wanita Ular, orang-orang yang mendengarkan ceritanya (termasuk orang-orang dewasa) sesaat “mempercayai” bahwa dia adalah seekor ular. Caranya menyampaikan cerita juga menarik. Bahkan tabel perkalian pun akan menarik bila dia yang membacakannya, begitu kata Mr. Campbell.

Gadis Dongeng menceritakan banyak cerita. Ada cerita tentang kerudung pengantin seorang putri yang sombong, hantu keluarga, tragedi peti biru, jembatan pelangi, juga cerita tentang Bimasakti yang katanya adalah jembatan cahaya yang dibangun dua malaikat yang saling jatuh cinta tapi dihukum dengan dipisahkan di dua bintang yang berjauhan.

Itulah sekilas cerita di novel karya Lucy M Montgomery yang berjudul The Story Girl. Sebelum membaca novel ini, aku lebih dulu membaca novel kelanjutannya yaitu The Golden Road. Aku membeli The Golden Road iseng-iseng saja. Ternyata, isinya menarik. Aku pun tergoda mencari novel pendahulunya: The Story Girl atau Gadis Dongeng (dalam novel The Golden Road yang kubaca, The Story Girl diterjemahkan menjadi Gadis Pendongeng). Beberapa kali mencari di toko buku tak kunjung kutemukan. Dan ketika iseng ke Gramedia Matraman dan ngubek-ngubek buku obralan, aku justru menemukan novel itu bersama novel Emily Climb. Sepertinya kalau ingin menemukan sesuatu tidak boleh terlalu menggebu-gebu. Iseng saja, nanti juga ketemu. Oke, ini ajaran sesat.

Sebagaimana The Golden Road, novel The Story Girl ini juga menarik. Novel setebal 360 halaman ini ditulis dari sudut pandang anak-anak, yaitu Beverly. Yah, lebih tepatnya Beverly dewasa yang sedang menceritakan kisah masa kecilnya. Ceritanya menjadi menarik dengan karakter tokoh-tokohnya yang beragam. Felicity yang cantik, pandai memasak, tapi bossy (dan sifat bossy ini yang justru membuat anak-anak lain cenderung membantahnya). Dan-lah yang sering kesal dengan sikap bossy Felicity dan sering bertengkar dengannya. Cecily yang cantik (tapi tak secantik Felicity), lembut, dan pintar serta yang paling bisa berpikir jernih di saat yang lain panik. Peter, si bocah pekerja upahan (begitu Felicity sering menyebutnya) yang punya daya ingat yang hebat dan menyukai Felicity. Felix yang gendut dan tidak suka bila disebut gendut. Gadis Dongeng yang pandai bercerita, pemberani, dan banyak ide. Sara Ray yang luar biasa cengeng dan takut pada ibunya. Bev? Ah, aku malah sulit membayangkan karakter Bev.

Cerita yang diangkat dalam novel terbitan Bentang Pustaka ini sebenarnya sederhana, tentang persaudaraan dan persahabatan. Bermain bersama, berbeda pendapat, bertengkar, saling diam, lalu berbaikan. Juga cerita tentang anak-anak yang kadang merasa orang dewasa tidak memahami mereka. Tapi, cerita-cerita itu dikemas dengan menarik. Misalnya pertengkaran antara Dan dan Felicity. Karena sudah tidak tahan dengan sikap bossy Felicity, Dan membantah salah satu larangan Felicity: makan beri beracun. Sebegitu inginnya Dan menunjukkan bahwa Felicity salah, bahwa beri itu sebenarnya tidak beracun. Gaya bercerita penulisnya juga menurutku tidak membosankan.

Ada satu lagi bagian yang menarik dari novel ini yaitu cerita bahwa Kakek (buyut) King menanam pohon untuk menandai pernikahannya dan setiap anaknya lahir dia akan menanam satu pohon. Bayangkan kalau hal itu kita terapkan. Satu bayi lahir berarti satu pohon ditanam. Pasti negara ini dipenuhi pohon. Ah, sudahlah. Malah melantur.

Yang jelas, novel ini menarik. Tidak menyesal sudah membelinya.

ARTIKEL TERKAIT



6 komentar:

  1. dari resensinya sepertinya cukup menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup. baca aja. bisa baca softcopy nya yg versi english di gutenberg kok.

      Hapus
  2. Aku suka dgn caramu menuliskan resensi, Mil.. menarik!

    Novelmu ini membuat aku jadi inget, aku juga suka bercerita ketika kecil.. dulu semasa SMP, pas pelajaran penjaskes yg hampir selalu jadi jam kosong, aku suka duduk direrumputan sambil bercerita ttg novel2 yg kubaca.. hampir semua temen2 cewek ngerubungi aku dan mendengar ceritaku dgn seksama.. Setiap minggu mereka selalu minta didongengin dan aku jg dgn senang hati melakukannya..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, ada bakat tuh jadi pendongeng, Rin.

      kalo aku bagian nyuruh orang cerita buku yang mereka baca :D

      Hapus
  3. iya Mil minimal buat ngedogengin anak sendiri nanti.. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah mikir jauh rin, ngedongengin anak :p

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!