Rabu, 13 Mei 2015

Tentang Sakit dan Sepi

Sudah beberapa bulan terakhir aku keranjingan menonton dorama. Sebagian besar yang kutonton adalah dorama detektif. Selama ini aku belum pernah bisa benar-benar merasakan apa yang dirasakan tokoh utama dalam dorama. Biasanya memang tersentuh, terharu, tapi tidak sampai merasa tertonjok.

Dorama Jepang memang banyak hikmahnya, tapi tidak ada yang sampai membuatku menyadari betapa fragile-nya aku. Dan saat menonton Border, aku merasa, "Oooh, ternyata gue juga begitu." Tokoh utama Border, yaitu Ishikawa Ango, digambarkan sebagai sosok yang menyimpan semua masalahnya sendiri dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Dia juga digambarkan sebagai sosok yang terus menahan, atau bahkan mengabaikan rasa sakit. Dan temannya menasihati, " If you keep persevering and get used to the pain, you won't realize when something really important starts to hurt." Kalimat itu benar-benar menampar. Kadang aku bersikap sok kuat, berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Tanpa disadari, rasa sakit itu perlahan-lahan menghancurkan hati. Aku merasa baik-baik saja, padahal sebenarnya di dalam hati sudah berdarah-darah. Seperti ketika aku merasa tidak punya siapa-siapa untuk berbagi. Aku merasa aku tidak kesepian. Tapi, setelah melihat adegan di Border itu, aku seperti dipaksa melihat lagi ke dalam hatiku. Apakah aku benar-benar baik-baik saja? Apakah aku benar-benar tidak kesepian? Sepertinya aku sudah terlalu sering merasakan kesepian jadi sudah tidak bisa membedakan ketika kesepian atau tidak. Seperti orang yang sudah sering merasakan sakit, lama-lama tidak menyadari ketika dia terluka.


Saat menonton Border ini aku beberapa kali menyalahkan Ishikawa yang tidak mau menceritakan masalahnya kepada temannya. Ask for help! Tapi ... lama-lama aku pun sadar. Ternyata selama beberapa tahun terakhir aku juga seperti itu, tidak mau menceritakan masalahku pada teman-temanku. Kalaupun bercerita, pasti hanya kulitnya. Aku tidak tahu alasan Ishikawa menyembunyikan semau masalahnya. Satu hal yang mungkin bisa menjadi alasan adalah kepercayaan. Aku sendiri tidak menceritakan masalahku karena tidak terlalu percaya pada orang lain.  Bukan. Bukan karena masalahku itu rahasia. Aku hanya tidak percaya orang yang mendengarkan ceritaku akan bereaksi seperti yang kuharapkan. Aku sulit percaya bahwa orang itu tidak akan memberikan reaksi yang negatif dan cenderung menghakimi.

Dan karena memikirkan hal itu, aku jadi mengambil kesimpulan bahwa kadang seseorang kesepian bukan karena dia tidak memiliki teman di sekitarnya. Bisa jadi dia kesepian karena dia tidak bisa percaya kepada orang lain. Akibatnya, dia tidak bisa membuka hati untuk orang lain dan tidak membagi suka dukanya dengan orang lain. Dan karena terlalu sering "menyepi", dia tidak sadar bahwa di dalam hatinya dia merasa kesepian.

ARTIKEL TERKAIT



9 komentar:

  1. Takut responnya ngga sama dg apa yg diharapkan ya. Alias datar. :D

    Tapi, katanya trlalu sering merasakan kesedihan sndiri, ngga baik buat psikologi. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan takut responnya datar. takut malah diceramahin dan diomelin. males banget lagi badmood plus lagi down malah diomelin :D

      Hapus
  2. ya mnrt aku mah tiap org beda2 karakternya, ada seneng sendirian / menyendiri ada yang lbh nyaman di tempat ramai dan jadi pusat perhatian, yang kayak gitu ga bisa dipaksain. kita gak harus sama kayak semua orang ;p

    BalasHapus
  3. "Have you ever felt some kind of emptiness inside?
    You will never measure up to those people, you must be strong. Can't show them that you're weak

    Have you ever told someone, something that's far from the truth? Let them know that you're okay. Just to make them stop all the wondering, and questions they may have.

    I'm okay, I really am now. Just needed some time to figure things out. Not telling lies, I'll be honest with you. Still we don't know what's yet to come...

    Have you ever seen your face in a mirror? There's a smile but inside you're just a mess. You feel far from good. Need to hide, 'cause they'd never understand.

    Have you ever had this wish? Being somewhere else to let go of your disguise. All your worries too. And from that moment then you see things clear.

    Are you waiting for the day, when your pain will disappear? When you know that it's not true.
    What they say about you?

    You couldn't care less about the things surrounding you, ignoring all the voices from the walls... "

    Ngutip dari lagunya Lene Marlin yg judulna Disguise. Lagu yang sering kunyanyiin pas lagi ada masalah, dan emang kalo lagi ada masalah absurdnya suka kumat :v

    Jangan pendem masalah sendirian mbak. Cuma orang2 AB yg boleh gitu. Halah.

    Sini-sini, ceritain di blog aja. Di blog kan, ada banyak beragam manusia. Nanti bakalan didapat beragam macam pendapat yg bisa dijadikan solusi buat masalah mbak Milo. *kompor*

    Atau, curhat secara anonymous aja di blogna mbak Ely, mbak. Etapikan mbak Ely lagi hiatus ya kekna. :(
    Atau curhat sama aku ajadeh. :v

    n then, mungkin mbk Milo dalam hati ngomong, "Yeeee, siapa elu. Dasar bocah absurd"
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan ngamen di sini dong enha :p

      makanya kasih tau twitter mu, biar aku bisa curhat :p

      Hapus
  4. njaaahhh, curhat 140 karakter? Mana asyik mbak?! :v

    *Mana sawerannya? Udah capek2 nyanyi, masa' gak dikasih? Gak disawer gak mo pergi*
    preman mode: on

    BalasHapus
    Balasan
    1. bikin kultwit khusus curhat, biar bisa lebih dari 140 karakter :p

      hari ini ngamen gratis :p

      Hapus
    2. nikin mbak, bikin! ntar tak bacanya via stalking.
      komen balesannya di sini ajah gitu? ya ya ya?

      okedeh, hari ini ngamen gratis. Besok bayar tapi ya.
      :v

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!