Rabu, 14 Januari 2015

2014-ku


Tahun 2014 sudah berlalu. Banyak cerita di tahun 2014 yang ingin kubagikan lewat blog tapi selalu saja urung kutuliskan. Bukan. Alasanku bukan sibuk. Tahun-tahun sebelumnya juga aku sibuk tapi banyak juga yang bisa kuceritakan di blog ini. Tapi, di tahun 2014 terlalu banyak godaan. Setiap buka laptop aku bukannya membuat blogpost tapi malah nonton, browsing situs lucu, baca komik, dan segala hal tidak penting lainnya. Dan sebelum semuanya terlupakan, aku ingin mengabadikannya di sini, dalam satu tulisan.

Resolusi yang Gagal
Resolusiku di awal 2014 adalah: tidak bekerja lembur alias tidak ngantor setelah lewat pukul 16.30 dan tidak ngantor saat weekend. Temanku langsung mengatakan bahwa resolusiku itu hal yang mustahil. Dan memang benar. Tidak butuh waktu lama untuk menggagalkan resolusi itu. Masih ada pekerjaan yang membuatku ngantor di hari Sabtu dan Minggu. Entry Susenas lah, entry Podes lah, pelatihan SOUT lah. Macam-macam.

Ganti Bos
Sejak kali pertama bekerja di Aceh Barat Daya, yaitu tahun 2009, sampai tahun 2013, aku tidak pernah berganti pimpinan. Jadi, aku sudah terbiasa bekerja dengan bosku dan sudah terbiasa dengan gaya bekerjanya. Dan saat ada kabar bahwa bosku akan dipindah ke kabupaten lain, aku lumayan sedih. Tapi, aku teringat status Tere Liye yang sering mengatakan untuk melihat perpisahan dari sisi yang pergi. Aku pun berusaha melihat kepindahan bos dari sisi bosku sendiri. Kabupaten yang akan jadi tempat kerjanya adalah kampung halaman istrinya, jadi ia akan lebih dekat dengan keluarga. Bagus, kan? Pikiran itu membuatku tidak bersedih lagi. Ditambah lagi pikiran bahwa siapa tahu di tempat baru bosku akan lebih sukses dan berprestasi. Buat apa sedih kalau ternyata tempat yang baru lebih baik untuk bosku?
Tapi, ternyata adaptasi dengan bos baru tidak mudah. Sifat yang berbeda, cara kerja yang berbeda, membuatku tidak terlalu nyaman dengan bos baru ini. Well, aku termasuk orang yang butuh waktu lama untuk beradaptasi.

Tes TOEFL
Aku berniat mendaftar beasiswa, yang salah satu syaratnya adalah skor TOEFL minimal 450. Awalnya aku mencoba tes prediksi TOEFL pada awal 2014 bersama Rika dan teman-teman lainnya. Aku tidak berani langsung tes ITP karena mahal. Takut sudah bayar mahal-mahal tapi hasil tesnya jelek, hehehe.. Ternyata hasilnya lumayan. Karena aku mengira TOEFL yang disyaratkan adalah ITP, aku tes lagi untuk TOEFL ITP di Unsyiah pada bulan Maret. Karena tesnya diadakan pada hari kerja, yaitu hari Jumat, aku pun membolos. Seperti biasa aku menumpang di rumah Yuk Era di Banda Aceh. Awalnya aku bingung bagaimana cara ke tempat tes karena aku tidak paham lokasinya. Beruntung Yuk Era dan dua orang temanku ternyata ikut tes juga. Tes listening-nya lebih sulit dari tes yang prediksi. Hiks! Alhamdulillah saat hasil tes keluar, sekitar dua minggu setelah tes, aku juga sedang ada pelatihan di Banda Aceh, jadi bisa langsung tahu hasilnya. Hasilnya? Lumayan, tidak perlu tes ulang agar memenuhi syarat.

Daftar Beasiswa
Aku mencoba mendaftar beasiswa dari instansiku. Aku menyiapkan berkas-berkas seperti fotokopi ijasah, transkrip nilai, SK, hasil tes TOEFL, dan formulir. Tapi masih kurang satu berkas yaitu DP3 (semacam penilaian tahunan terhadap pegawai). Berkas DP3-ku masih di kantor provinsi. Beruntung bulan Maret-April aku bolak-balik ke Banda Aceh, jadi sempat mampir ke kantor provinsi. Saat temanku mengantar berkas pendaftaran beasiswa, aku ikut ke bagian kepegawaian dan menanyakan berkas DP3-ku. Ternyata berkasku itu sudah ditandatangani dan tinggal dikirim ke kabupaten. Sekalian saja kubawa ke kabupaten. Lengkap sudah berkas yang kubutuhkan. Tapi, kabar buruk datang dari salah satu temanku. Katanya ada dua senior yang mendaftar beasiswa di jurusan yang sama. Padahal, jatah yang diajukan untuk masing-masing jurusan dari satu provinsi cuma dua orang. Jadi, kalau aku mendaftar pun percuma. Yang akan diajukan ke pusat cuma dua seniorku itu. Aku nyaris putus asa selama beberapa hari dan menunda mengirimkan berkas. Tapi, kemudian aku tetap mengirimkan berkasku dengan modal “nothing to lose”. Kalau dikirim ke pusat, Alhamdulillaah. Kalaupun tidak, setidaknya aku sudah menunjukkan niatku mendaftar beasiswa, jadi kalau ada pendaftaran lagi tahun depan, bisa jadi aku akan lebih dipertimbangkan dibandingkan yang lain yang belum pernah mendaftar. Dan ternyata, kata temanku, dari Aceh yang mendaftar di jurusan yang sama denganku cuma satu orang. Ditambah aku, berarti pas dua orang. Jadi, berkasku positif dikirim ke pusat. Mendengar info itu aku jadi makin berharap. Sayangnya, ternyata dari masing-masing provinsi disaring lagi. Cuma satu orang yang lolos dari seleksi pusdiklat untuk kemudian mengikuti tes di universitas yang dituju. Dan satu orang itu bukan aku. Hiks..
Awalnya aku tidak terlalu sedih. Aku justru sombong, karena aku tidak lolos bukan karena aku tidak lolos tes. Aku tidak lolos bukan karena aku tidak berusaha maksimal. Aku bahkan tidak mendapat kesempatan memberikan usaha terbaikku. Jadi, aku tidak sedih. Awalnya seperti itu. Tapi, melihat salah satu teman yang bolak-balik update status tentang beasiswa itu, aku jadi sedih.
Aku juga sempat berpikir “Sia-sia dong aku tes TOEFL jauh-jauh ke Banda Aceh”. Tapi, kemudian aku berpikir “Tidak ada usaha yang sia-sia”. Termasuk usaha tes TOEFL itu. Aku masih bisa menggunakan hasil tes itu untuk mendaftar beasiswa yang lain.

Burnout
Kalau cerita soal burnout, memang sudah terasa gejalanya sejak ST2013. Sistem kerja yang tidak pas, lingkungan kerja yang makin tidak nyaman, ditambah beban kerja yang mungkin sudah terlalu lama kutahan, membuatku tidak lagi semangat kerja. Apalagi sudah tidak ada bos yang membuat lingkungan kerja sedikit nyaman. Rasaya benar-benar jenuh. Pekerjaan yang biasanya ringan pun lama-lama terasa berat dan membuat stress. Hal-hal kecil bisa membuatku uring-uringan sampai mengamuk. Biasanya setelah pulang kampung aku akan semangat lagi. Tapi, setahun terakhir, pulang kampung tidak berdampak apa-apa. Saat di kampung memang aku sedikit tenang, tidak emosi. Tapi, sampai di Abdya, emosiku mudah meledak lagi. Saat stress akibat PODES dan SOUT, aku pun bertekad untuk segera kuliah. Aku merasa aku bisa gila kalau tidak meninggalkan Abdya dan pekerjaan di sana segera. I know my limit.

Daftar Beasiswa (Lagi)
Setelah gagal saat mendaftar beasiswa di instansiku, teman-temanku menyemangatiku dan menyarankanku untuk mendaftar beasiswa lain. Aku pun mendaftar beasiswa dari Kementrian Kominfo. Aku mulai mengurus berkas sekitar dua minggu sebelum penutupan pendaftaran. Daaan timbul masalah. Ada surat yang harus ditandatangani eselon dua, yaitu kepala provinsi. Setelah surat kukirim ke provinsi, kepala provinsinya baru saja pulang kampung dan cuti untuk beberapa hari. Aku pun galau. Kemudian aku mengirim ulang surat tersebut, tapi nama yang menandatangani adalah bagian TU. Daaan ... setelah suratnya sampai, si bapak malah sedang dinas ke luar kota. Saat aku hampir putus asa, ternyata ada info bapak kepala provinsi sudah selesai cuti. dan suratku pun ditandatangani beliau. Legaaa! Aku pun segera mendaftar secara online. Sedangkan berkas pendaftaran kukirim lewat pos. Aku meminta Ndaru untuk mengecek apakah berkasku sudah sampai dengan selamat atau belum. Ternyata sudah sampai tapi kurang satu berkas. Aku pun mengirimnya lewat email dan dicetak oleh Ndaru. Ndaru memang bisa diandalkan, hehehe..
Aku pun ke Jakarta untuk mengikuti tes yang diadakan pada tanggal 22 Juni. Aku menumpang di kos Alfi di Otista. Dan saat harus ke Depok untuk tes, aku pun nunak-nunuk. Turun dari kereta, aku bingung. Di kampus seluas itu, mana aku tahu tempat tesku di mana? Aku pun bolak-balik bertanya pada orang. Alhamdulillaah, bisa sampai ke gedung yang kucari. Sampai di sana aku bertemu Yuk Era. Ternyata dia juga mendaftar beasiswa Kominfo tapi beda jurusan denganku. Dan kami sama-sama mendaftar diam-diam jadi terkejut ketika bertemu di sana. Maklum, aku sudah trauma dengan kasus daftar beasiswa yang pertama. Banyak yang tahu aku mendaftar, jadi banyak juga yang tahu kalau aku tidak lolos. Malu.
Selesai TPA aku mengobrol lagi dengan Yuk Era dan seorang temannya. Dan temannya itu nyeletuk bahwa tes yang kami ikuti itu perjuangan yang mahal. Hahaha. Memang! Karena kami dari luar Jawa, tes di Jakarta terasa mahal karena harus beli tiket pesawat. Yah, apa boleh buat. Jer basuki mawa beya.
Tes kedua adalah tes Bahasa Inggris. Dan setelah tes itu, banyak yang ribut “Untung tes Bahasa Inggris ini kalau salah nggak dikurangi nilainya kaya TPA tadi”. Deg! Aku langsung panik. Aku sempat menjawab asal-asalan saat TPA dan tidak tahu kalau jawaban salah akan mengurangi nilai. Dan ternyata bukan cuma aku yang tidak tahu aturan itu. Yuk Era dan beberapa peserta tes lain juga. Dan saat pengumuman hasil tes ... Alhamdulillaah lulus.

Perpisahan
Selama lima tahun di Abdya, sudah beberapa kali aku mengikuti acara perpisahan kepindahan rekan kantor ke kabupaten lain. Dan di bulan Agustus 2014 akhirnya ada acara perpisahan untuk kepindahanku. Well, sebenarnya bukan pindah. Aku cuma akan kuliah di Jakarta selama satu setengah tahun. Tapi, dari lubuk hati yang paling dalam aku memang berharap benar-benar pindah dari sana sih. Hehehe...
Awalnya aku berpikir aku tidak akan sedih karena banyak yang senang dengan kepergianku. Yah, aku sadar. Aku bukan orang yang menyenangkan. Jadi, wajar saja banyak yang senang aku pergi. Tapi, setelah melihat dua teman akrabku, Rika dan Meri, aku jadi sedih. Selama ini kami sering lembur bareng, jalan-jalan bareng, nongkrong, ngerumpi, masak, ngobrol absurd. Sedih juga berpisah dengan mereka. Dan jujur, aku senang. Karena, di antara banyak orang yang tidak menyukaiku, masih ada yang menganggapku teman. Aku terharuuuu..

Adaptasi
Setelah meninggalkan Jakarta lebih dari lima tahun, kembali ke Jakarta benar-benar mengejutkan. Selain makin panas, polusi juga makin parah. Aku terbiasa menghirup udara kampung di Abdya. Saat menghirup udara Jakarta yang sudah bercampur asap knalpot, hidungku langsung sakit. Aneh. Selain adaptasi dengan udara, aku harus adaptasi dengan jalanan yang ramai. Aku harus belajar menyeberang jalan lagi. Udik sekaliii..
Aku juga harus adaptasi, beralih dari lingkungan kerja ke lingkungan kuliah. Kukira kuliah akan santai. Ternyata sama saja sibuknya. Sama saja pulang malam. Sama saja tidak sempat tidur siang. Hahaha!
Di kampus aku bertemu teman-teman baru. Tapi, belum ada yang akrab. Yah, aku memang benar-benar susah mendapatkan teman akrab. Mungkin harusnya langsung dapat suami saja, bukan teman. Hahaha!

ARTIKEL TERKAIT



31 komentar:

  1. Semoga segera dapat suami ya Miiil. Karena itulah teman sejati kita sebagai perempuan, hahaa... eh tapi betol lho, aku gak punya teman akrab selain suamiku sendiri, kalo sekadar teman biasa atau kenalan mah, bejibun kali ya. Tapi teman sejati, no, cuma suamiku teman akrabku sekaligus teman sejatiku
    Ealaah...malah curcol, ahahahaaaaaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. YasSalaam, Kak Eky.. Tulisan panjang-panjang begitu fokusnya cuma ke ending-nya doang :D :D :D

      Tapi diaminin aja deh. Aamiiin

      Hapus
  2. Milati, kayaknya elo lupa ama gue! :(

    BalasHapus
  3. Mudha-mudahan di tahun ini bisa mendapatkan beasiswa ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga dapet beasiswa (lagi) :)

      Hapus
  4. Wacchhh kuliah lagi ya, selamat berjuang :)

    BalasHapus
  5. nggak tahu kenapa, aku sudah lupa apa aja yang terjadi di tahun 2014. masih inget sih kalau gagal lulus beasiswa. tapi yang lain-lainnya, lupaaaa... oh iya, inget kalau ibu opname sampai seminggu di RS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga 2015 ibunya sehat2 terus :)

      Hapus
  6. Ayo Mbak kapan maen sama akuuu
    Rumahku nggak jauh dari Otista
    Rumah jaman kecilku di Otista malah =))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Woooh, emang rumahmu di mana?
      Yuk, kapan2 jalan :)

      Hapus
  7. masih mending lah punya resolusi. ga masalah banyak yang ga tercapai toh resolusinya juga banyak. kalo ga mau banyak kegagalan, resolusinya dikit aja yu, heheh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mending nggak bikin resolusi sekalian :p

      Hapus
  8. resolusinya unik a.k.a ga penasaran. hhehhe
    semoga deh ya mba bisa tercapai suatu saat nanti
    anyway salam kenal^^

    BalasHapus
  9. selama yang namanya BEASISWA masih diadakan oleh berbagai institusi..tak ada salahnya untuk selalu mencoba mendaftarkan diri...meskipun berulangkali gagal..siapa tau suatu waktu kan berhasil dan lolos mendapatkan beasiswa..., kata orang bijak sich,...kegagalan adalah sukses yang tertunda...
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  10. baca yang daftar beasiswa lagi .. ya ampun ngurus nya ribet sekali ya kurang ini itu tanda tangan ini itu :D :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, emang kalo daftar beasiswa syaratnya banyak :D

      Hapus
  11. Semoga tahun 2015 menjadi lebih baik, ya :)

    BalasHapus
  12. aku gak pernah bikin resolusi apa2.. gak pernah punya target apa2.. #janganditiru hehehe

    semoga segera dapat jodoh, Mil... aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga jarang bikin resolusi sih. Males membebani diri sendiri dengan target :D

      Aamiiin

      Hapus
  13. kuliah yang rajin, jangan males, kalau males, gue tabokkkkkk....ama obrak abrik kamar mu

    BalasHapus
  14. Setahuku, toefl itu batasnya setahun. Hehehe. Semangat ya. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo yang sering kudenger sih bisa buat 2 tahun hasil tes TOEFL itu.

      Hapus
  15. kopdar yuk. e-mail aku di djamila.said@gmail.com :D

    BalasHapus
  16. semangat ya semoga tahun ini bisa gol beasiswanya, aku juga lagi berburu beasiswa untuk S3 nih.. kita saling mendoakan ya :)

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!